{"id":140,"date":"2020-06-20T15:26:43","date_gmt":"2020-06-20T15:26:43","guid":{"rendered":"http:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=140"},"modified":"2022-07-20T15:08:20","modified_gmt":"2022-07-20T15:08:20","slug":"senja-candi-dan-bayangmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=140","title":{"rendered":"Senja, Candi, dan Bayangmu"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Senja, Candi, dan Bayangmu: <br><\/strong>Sebuah Catatan \u201cRemah Roti dan Jalan sunyi\u201d Filoarkeologi<a href=\"#_edn1\">[i]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Oleh <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Rendra Agusta<a href=\"#_edn2\">[ii]<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u2026 <em>sande jabu\u1e45, sampun surup praba\u1e45kara amasa\u1e45 sanda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Senja kemerahan, sudah petang, sang Pelukis memasang lentera.<br> (Pararaton XV:20)<\/p>\n\n\n\n<p>           Senja, kopi, dan musik <em>indie<\/em>, adalah salah satu algoritma paling banyak ditangkap oleh generasi milenial. Sebuah generasi yang disebut William Strauss dan Neil dalam bukunya yang berjudul <em>Millennials Rising: The Next Great Generation<\/em> (2000). Mereka menciptakan istilah ini tahun 1987, yaitu pada saat anak-anak yang lahir pada tahun 1982 masuk pra-sekolah. Saat itu media mulai menyebut sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA di tahun 2000. Pendapat lain menurut Elwood Carlson dalam bukunya yang berjudul <em>The Lucky Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom<\/em> (2008), generasi milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1983 sampai dengan 2001. Jika didasarkan pada Generation Theory yang dicetuskan oleh Karl Mannheim pada tahun 1923, generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai dengan 2000.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ruang dan waktu tentunya secara alamiah akan membuat\njarak terhadap minat, sudah barang tentu bakat yang akan memicu hasrat\nkecintaan para pengetahuan pada masa lampau. Sebagai contoh, jika larik pertama\nteks tentang senja pada kutipan di atas tidak ada keterangan artinya, mungkin\ngenerasi milenial tidak akan paham isi dari kalimat tersebut. Padahal jika kita\npaham dan tahu bahasa Jawa Kuna, maka teks-teks lama juga sama indahnya dengan\npuisi \u201cDukamu Abadi\u201d karya pak Sapardi atau syair lagu <em>The Rain of Castamere<\/em> dalam novel <em>Game of Thrones.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jarak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cApa yang harus kamu risaukan dengan Jarak? Ah, itu cuma nama\npohon\u201d- Pidi Baiq<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Jarak dalam dunia\nkebudayaan tentu bukan hanya nama pohon seperti yang ditulis Pidi Baiq, seorang\npenulis yang terkenal dengan Dilan 1990- 1991. Dunia kebudayaan tentu sangat\nlentur dan memiliki perkembangan yang sukar diprediksi. Secara khusus di\nkebudayaan tradisional, yang lebih sempit lagi dalam hal ini kebudayaan Jawa,\ntak sulit untuk menemukan fakta-fakta salah cetak kebudayaan. Sebagai contoh,\nlagu <em>lingsir wengi <\/em>oleh beberapa\ngenerasi milenial dipahami sebagai mantra yang mendatangkan makhluk halus. Padahal\njelas sekali bahwa lirik lagu tersebut hanya dibuat untuk kepentingan film,\ntidak ada sangkut pautnya dengan mantra. Jarak ini tentu juga kita temukan di\ndunia arkeologi dan filologi. Candi dan dan beberapa bangunan cagar budaya yang\nusianya lebih dari lima puluh tahun akan terkesan angker dan horor. Tentu itu\npandangan yang kurang tepat, candi adalah artefak kebudayaan masa lampau yang\nmenyimpan pengetahuan mendalam akan peradaban luhur leluhur kita. Pengetahuan\nini menjadi bias ketika ada beberapa buku yang monumental lahir tanpa riset\nyang mendalam, misal buku yang Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman dan\nKesultanan Majapahit. Hal ini tentu ditambah rumit ketika arus informasi\nmelalui media begitu mudah dicari dengan telepon genggam. Tidak ada yang\nmembatasi bergeraknya arus, tentu hal ini juga berkelindan dengan pertarungan\nwacana-wacana yang lain seperti agama, politik, ekonomi, dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cara Mencintai<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <\/strong>Mencintai dunia masa\nlampau tentu bukan hal yang mudah, ada jarak masa yang harus kita perpendek\ndengan pengetahuan bahasa, sastra, sejarah, dan berbagai unsur yang\nmenyertainya. Urusan ini tentu tidak semudah mencintai kembali mantan pacar\ndengan seonggok kenangan yang menyertainya. Tetapi, mencintai masa lalu\ntentunya mencintai kenangan. <strong>Menyurat\nyang hilang \u2013 menyulam masa sekarang \u2013 menggurat yang menjelang<\/strong>, dibutuhkan\ncara pandang baru bagi generasi milenial untuk memahami budayanya. Pro-kontra,\ntentang cara pandang generasi milenial tentu sangat berbeda dengan generasi\nberikutnya. Ketika saya mengetik tagar #candibadut dalam media sosial\nInstagram, saya menemukan 1.981 kiriman. Ribuan kiriman foto itu tentu jauh\nlebih menarik daripada sisa tindakan vandal di Lingga bertulis \u201cPramuka\nTjelaket\u201d. Banyak generasi milenial bangga berfoto dengan berbagai gaya, ada\npula yang disisipi puisi dan paparan tentang senja. Tentu tindakan sederhana\nini tidak luput dari cibiran dan <em>ghibah <\/em>generasi\nyang lain, ada yang bilang hanya penikmat permukaan sampai dikatai <em>sok-sokan.<\/em> Apalagi di sebuah media yang\nberlogo burung biru \u201cTwitter\u201d.Saling\nsahut tanpa pemikiran yang panjang, dibatasi 140 karakter. Tetapi semua media\nitu bagi generasi milenial juga menjadi cara tersendiri mencintai kebudayaan\nmasa lampaunya, seperti persembunyian abadi mengenang mantan. Bukankah <em>sahur manuk <\/em>juga sudah cukup kita kenal\ndalam tradisi tutur lisan kita?<\/p>\n\n\n\n<p><em>Manuk\nasukha-sukhan mungwi\u1e45 pa\u1e45 r\u0101mya masahuran <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kadi papupul i\nsa\u1e45 wri\u1e45 tatwadhy\u0101tmika mac\u0115nil<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Birds amused\nthemselves among the branches, <strong>happily\ntwittering<\/strong> to each other,<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Like a meeting\nof experts in esoteric <strong>truth debating<\/strong>\ntogether.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>(<\/em>Siwar\u00e4trikalpa\n6:1)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Remah\nRoti dan Jalan Sunyi Filoarkeologi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di sela-sela perdebatan\nmaka saya akan beralih ke ruang yang agak serius dan teoritis. Studi Jawa Kuna\nselalu terpumpun dengan ilmu-ilmu serumpun. Studi ini terkait dengan berbagai\nilmu pendukungnya baik sejarah, linguistik, sastra, filologi, arkeologi, dll.\nUtamanya dalam studi paleografi, penelitian epigrafi dan filologi pasti akan\nselalu berkorelasi. Perkembangan aksara di Indonesia melampaui beberapa zaman,\nmulai dari era kerajaan Tarumanegara hingga masa kini. Aksara sebagai wujud\nkebudayaan, tentunya tidak bisa dikaji melalui satu sudut pandang keilmuan. Hal\nini memungkinkan adanya persinggungan antara studi arkeologi utamanya epigrafi\ndengan filologi. Pendekatan komperehensif antara epigrafi dengan obyek kajian\nprasasti dan filologi dengan teks, ini disebut dengan Filoarkeologi&nbsp;(Dwiyanto, 2018, hal. 35). Pandangan tersebut\ndidahului oleh Kempers yang menyatakan bahwa perbedaan kajian epigrafi dan\nfilologi hanya terletak pada objek kajian. Objek kajian arkeologi pada umumnya\nterletak di dalam tanah, sedangkan kajian filologi berada di atas tanah (Kempers, 1941). Keduanya bertujuan\nuntuk merekontruksi (baik teks maupun bangunan) agar diketahui segala fungsinya\ndalam bingkai kebudayaan\ndi masa lampau. Maka dengan demikian kajian epigrafi dan filologi sangat dekat\nhubungannya, sebagai ilmu bantu\nuntuk ilmu lainnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Ada\nbeberapa kajian yang membuktikan relasi antara kajian arkeologi dan filologi\nsaling berdampingan antara lain: dalam\npembangunan Candi Prambanan, relief Ramayana yang berangkat dari kisah\nBhatti-kavya&nbsp;(Zoetmulder, 1994, hal. 290); kisah Tantri (Marijke J. Klokke, 1993 ); cerita Panji&nbsp;(Kieven, 2017), dan beberapa kisah\nyang lain yang semua diabadikan dalam relief candi-candi di Jawa. Filoarkeologi\nadalah penelitian dengan perspektif arkeologi terhadap artefak dan naskah,\nberusaha memperlakukan, mendekripsikan dan menginterpretasikan sebagai teks\nyang merefleksikan kebudayaan pendukungnya. Hal ini sejalan dengan Pidato\nPengukuhan Sulastin Sutrisno (1981) sebagai Guru Besar\ndalam Ilmu Sastra dan Fakultas Sastra dan Kebudayaan dengan judul \u201cRelevansi\nStudi Filologi\u201d. Menurutnya, salah satu bidang ilmu yang relevan dengan\nfilologi adalah arkeologi, terutama karena salah satu pengertian ahli filologi\n(filolog) adalah ahli purbakala teks melalui huruf, kata-kata, dan kalimat yang\nditemukannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ruang\nfilologi dan epigrafi merupakan silangan kebudayaan klasik yang jarak disentuh\noleh generasi muda. Hal ini saya buktikan ketika saya berkenalan, saya\nmenyampaikan pekerjaan saya Filolog, mungkin sebagian besar generasi muda tidak\ntahu akkan pekerjaan tersebut. Sebuah pekerjaan yang sehari-harinya akan\nmengulik naskah-naskah lama. Pekerjaan sunyi seperti remah-remah roti dan jarang\ndiimpikan oleh generasi muda. Tentu saya masih ingat ketika mengambil jurusan\nS1 Sastra Jawa, banyak sekali ciutan menghujani saya dengan pertanyaan,\nutamanya pertanyaan tentang karir di masa depan. Ketika mendekati skripsi,\ntidak lebih dari 10% saja yang mengambil konsentrasi filologi, selain mahal\nkonsentrasi ini juga terkenal lulus tidak tepat waktu (8 semester). Saat ini,\nsaya sudah meninggalkan dunia kampus selama lima tahun, dan terbukti benar,\nmemang lowongan pekerjaan (apalagi ASN) di dunia filologi tidak begitu banyak. Tetapi\nbukan berarti tidak ada pekerjaan yang terkait dengan manuskrip dan prasasti.\nBanyak sektor swasta yang juga terkait dengan dunia pernaskahan dan arkeologi.\nRuang sunyi ini sebenarnya makin didukung oleh negara melalui beberapa program\ndari perpustakaan Nasional. Kita bisa mengakses banyak data melalui laman\ndaring <a href=\"http:\/\/pernaskahan.perpusnas.go.id\/public\">http:\/\/pernaskahan.perpusnas.go.id\/public<\/a>\nmaupun menginstal aplikasi <em>Ipusnas<\/em> di\ntelepon genggam. Secara khusus untuk mengetahui informasi candi kita bisa\nmengakses <a href=\"https:\/\/candi.perpusnas.go.id\">https:\/\/candi.perpusnas.go.id<\/a>.\nBerbagai data ini bisa menjadi modal awal yang menarik, karena tidak semua\nbangsa memiliki khazanah manuskrip dan peninggalan arkeologis yang luar biasa.\nTranformasi nilai, alih wahana, dan konten kreatif adalah ruang baru yang\ndimiliki generasi milenial untuk ambil peran dalam pertarungan wacana\nkebudayaan di masa depan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Epilog<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bak\nanak panah, untuk melesat jauh ke depan maka dibutuhkan tarikan kuat ke\nbelakang. Salah satu relasi teks filologi dan kajian arkeologis adalah sebagai\ndata yang saling melengkapi. Sebagai contoh pelengkap sederhana data terkait\ncandi-candi di Malang, tentu saya tidak akan menyajikan data kunjungan Raffles\ntahun 1811 yang termuat dalam <em>History of\nJava volume II<\/em> &nbsp;dalam sub <em>Ruins at Singa Sari &amp;etc In the District\nof Malang. <\/em>Di tahun yang sama, putra mahkota kraton Surakarta,\nAmangkunegara III (yang kemudian menjadi Sunan Pakubuwono V) juga menuliskan\ntentang isi dari tanah Jawa, dalam sebuah naskah berjudul <em>Suluk Tambang Raras<\/em> atau yang lebih dikenal dengan judul <em>Serat Centhini Kadipaten<\/em> pada pupuh VI\nbermetrum Sinom. Naskah ini sekarang juga tersimpan lengkap di Perpustakaan\nNasioanal, BPNB Yogyakata, dan perpustakaan Sanapustaka. Berikut sekilas nukilan\nnaskah itu, mari kita tembangkan bersama-sama:<\/p>\n\n\n\n<p><em>25. Wusira miyat grojogan | laju d\u00e8nnira\nlumaris | ratri sip\u00eang padhusunan | bakda Subuh mangkat malih | prapta <strong>ing Singasari<\/strong> | Radyan k\u00e8nd\u00eal\nlampahipun | umiyat candhi pelag | sela c\u00eam\u00eang wangun masjid | rinar\u00eangga\ningukir \u00ealung pinatra ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>26. Mub\u00eang pinag\u00earan sela | supit urang gapura\ndi | kiwa t\u00eang\u00eanning gapura | <strong>gupala\nkakalih sami | ag\u00eang amb\u00eakta bindi<\/strong> | kadi jegang d\u00e8nnya lungguh | maripat\nsakalapa | malolo siyungnya ngisis | ilat m\u00e8l\u00e8t tumumpang ing untu nyrangas ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>27. Sela w\u00eatah tan samb\u00eatan | wau Nik\u00e8n\nRancangkapti | kagyat kalanira miyat | tanya mring raka sang p\u00eakik | kakang\ndene m\u00ead\u00e8ni | kuwi uwong apa dudu | kalawan omah apa | kab\u00e8h watu kaya masjid |\nJay\u00e8ngsari m\u00e8s\u00eam sarwi angandika ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>28. Iku yayi r\u00eaca sela | kang lir masjid aran\ncandhi | ayo kakang padha miyat | aku dh\u00eam\u00ean aningali | kaya mant\u00e8nan b\u00eacik\n|sapa kang akarya iku | sawusira umiyat | m\u00eadal saking ing c\u00eapuri | gya umentar\nkalangkung r\u00eakas\u00e8ng marga ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>29. Sang dyah ginendhong Ki Buras | prapt\u00e8ng\ntlatah dhusun Sisir | k\u00e8nd\u00eal rahadyan umiyat <strong>| sumb\u00ear aran Sanggariti<\/strong> | we m\u00eadal saking candhi | sela ingukir\npinatut | kang sisih mijil toya | tawa asr\u00eapnya nglangkungi | sisih m\u00eadal toya\nang\u00eat sawatara ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>30. Sang dyah siram gantya-gantya | kalamun\nkaraos atis | marang toya ingkang panas | wus siram umentar malih | kasaput\nratri mampir | mring dhukuh sip\u00eang sadalu | byar enjang nulya bidhal | ing\nlampah mangkya wus prapti | dhusun Tumpang anon <strong>candhi alit<\/strong> endah ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>31. Kadi cungkup wawangunan | inggilira\nsawatawis | ngandhap kering lin\u00eab\u00eatan | ing ngl\u00eab\u00eat kalimis gasik | tilas\nasram\u00e8ng r\u00easi | gandanira amrik arum | sang dyah tanya amring raka |kakang omah\napa kuwi | kaya \u00earong ambune arum angambar ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>32. Apa panti pangratusan | (ng)gone (n)d\u00e8l\u00e8h\njarik ng\u00eandi | iku yayi candhi uga | pangiraku duking nguni | tilas patapan\nr\u00easi | kang amambu amrik arum | lab\u00eat kukusing dupa | nalika muja samadi | sang\ndyah angling kakang age kongkonnana ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>33. Buras gawanana arta | t\u00ealung dhuwit punjul\ns\u00eadhit | sangonana t\u00ealung gobang | kon\u00ean tuku ratus wangi | benjing y\u00e8n prapta\npanti | dak (ng)go ol\u00e8h-ol\u00e8h sibu | kalawan kanj\u00eang rama | [&#8230;] |&nbsp;sru\nsum\u00eadhot kagagas wardayanira ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>34. K\u00e8ng\u00eatan ing ibu-rama | miwah kadang kang\nlunga nis | mbar\u00eab\u00eal luh marawayan | Nik\u00e8n Rancang angusapi | ngandika kakang\nnangis | apa ta luwe w\u00eat\u00eangmu | dhuh rara nora lapa | kalilip\u00ean godhong jati |\nmata kiwa t\u00eang\u00ean padha damonana ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>35. Gupuh kalih dinamonan | kakang n\u00eangaa\nmanginggil | kangj\u00eang rama nungang&nbsp;gajah | k\u00earise wilah sanyari | saiki\nuwis mari | katara pamp\u00eat \u00ealuhmu | Buras ge lum\u00eabuwa | wus lum\u00eab\u00eat sorring\ncandhi | tan pantara dangu m\u00eadal bubutulan ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>36. Apa ta wis ol\u00e8h Buras | dene g\u00ealis banjur\nbali | o (n)dara uninganana | ing ngl\u00eab\u00eat kapanggih s\u00eapi | kang wont\u00ean amung\nmimik | ag\u00eangipun sajun\u00eajun&nbsp;| sang dyah malih ngandika | apa tan nyakot\nsir\u00e8ki | inggih (n)dara kang nyakot amung sasanga ||<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>37. Wis Buras ywa bali sira | (ng)gih b\u00eandara\nkula ajrih | tamat d\u00e8nnira mariksa | laju lampahira kampir | <strong>ing dhusun Kidhal<\/strong> n\u00eanggih | anon candhi\nalit bagus | ingukir gagambaran | wayang wanara mawarni | Rancangkapti p\u00eagat\nd\u00e8nnira mariksa ||<a href=\"#_edn3\"><strong>[iii]<\/strong><\/a><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kali\nini tidak saya beri terjemahan, sekedar untuk menikmati isinya tanpa mengubah\nbahasanya. Akar yang kuat tentang pengetahuan Candi-candi di Malang dapat kita\nlacak melalui berbagai macam cara, tidak berhenti pada buku-buku sajian, tetapi\njuga seni literasi di Jawa. Literasi tentunya berkembang pada ruang yang lebih\nluas, seperti membaca tanda-tanda alam, gerak masyarakat, dll. Arus balik\nsedang terjadi seperti arus kebudayaan yang dibangun di suasana novel Arus\nBalik karya Pramodya Ananta Toer. Kita kadang-kadang hanya terbius pada\nromantisme keagungan masa lampau. Dibutuhkan pemuda-pemuda pemberani seperti\nWiranggaleng untuk mengubah wajah peradaban, menuju sesuatu yang lebih baik.\nSelamat membaca, selamat berkaca, di ujung-ujung pembacaan maka akan melahirkan\nbacaan yang sudah tentu mengerucut pada otokritik diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Salam dan Bahagia. <\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Daftar Pustaka<br><\/h4>\n\n\n\n<p>Dwiyanto,\n  D. (2018). <em>Refleksi Penelitian Epigrafi dan Prospek Pengembangannya.<\/em>\n  Yogyakarta: Kepel Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Kempers, B.\n  (1941). Wat is Archaeologie. In <em>Tijdschrift voor Indische Tall-, Land-, en\n  Volkenkunde<\/em> (Vol. LXXXI). Batavia: Koninklijk Bataviaasch Genootschap van\n  K\u00fcnsten en Wetenschappen.<\/p>\n\n\n\n<p>Kieven, L.\n  (2017). <em>Menelusuri Panji di Candi-Candi: Relief Fgur Bertopi di\n  Candi-candi Zaman Majapahit.<\/em> Jakarta: KPG-EFEO.<\/p>\n\n\n\n<p>Marijke J.\n  Klokke. (1993 ). <em>The Tantri reliefs on ancient Javanese candi.<\/em> Leiden:\n  KITLV Press.<\/p>\n\n\n\n<p>Sutrisno, S.\n  (1981). Relevansi Studi Filologi. <em>Pidato Pengukuhan Guru Besar<\/em>.\n  Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.<\/p>\n\n\n\n<p>Zoetmulder, P.\n  (1994). <em>Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang<\/em> (Vol. III).\n  Jakarta: Jambatan.<br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref1\">[i]<\/a>\nDisampaikan dalam acara Pameran dan Seminar \u201cLiterasi Candi dan Perspektif\nGenerasi Milenial\u201d yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik\nIndonesia di kompleks Candi Badut Malang pada tanggal 16 November 2019. <\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref2\">[ii]<\/a>\nAlumni Sastra Jawa UNS, Sedang merintis program amatir pengkajian Jawa Kuna dan\nKlasik untuk generasi muda melalui Komunitas Sraddha. Dapat dihubungi melalui\nlaman surat elektronik kangrendraagusta@gmail atau pesan langsung Instagram @kangrendra.\n<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ednref3\">[iii]<\/a>\nTeks diambil dari alih wahan teks centhini yang diunggah dalam sastra.org, yang\ndikelola Yayasan Sastra Lestari Surakarta. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senja, Candi, dan Bayangmu: Sebuah Catatan \u201cRemah Roti dan Jalan sunyi\u201d Filoarkeologi[i] Oleh Rendra Agusta[ii] \u2026 sande jabu\u1e45, sampun surup praba\u1e45kara amasa\u1e45 sanda. Senja kemerahan, sudah petang, sang Pelukis memasang lentera. (Pararaton XV:20) Senja, kopi, dan musik indie, adalah salah<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":141,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[47],"tags":[],"class_list":["post-140","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=140"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":146,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/140\/revisions\/146"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}