{"id":248,"date":"2021-02-04T04:01:28","date_gmt":"2021-02-04T04:01:28","guid":{"rendered":"http:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=248"},"modified":"2021-02-04T04:03:05","modified_gmt":"2021-02-04T04:03:05","slug":"putra-kajentaka-mitos-kucing-hitam-dalam-kebudayaan-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=248","title":{"rendered":"Putra Kajentaka: Mitos Kucing Hitam dalam Kebudayaan Jawa"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">oleh  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Frengki Nur F.P<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">(Cantrik Komunitas Sraddha, Mahasiswa S2 Ilmu Sastra UNDIP)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Kucing hitam sangatlah identik\ndengan hal-hal yang berbau mitos. Di Cina, Jepang, Normandia dan Amerika\nSerikat kucing hitam dihubungkan dengan pertanda akan datangnnya keburukan atau\nkesialan. Bahkan kucing hitam pun dihubungkan dengan penjelmaan dari iblis. Hitam?\nPernahkah memikiran warna apa yang dilihat penyandang Tuna Netra? Bukankah\ngelap itu juga hitam? Secara dikotomis, bukankah hitam atau gelap itu\nberlebihnya terang yang terpandang mata? <\/p>\n\n\n\n<p>Begitu pula dalam memandang mitos\nkucing hitam. Di belahan dunia lain (sebut saja Inggris, Rusia dan Latvia) kucing\nhitam pun ada yang memandang sebagai pertanda akan datangnya kebaikan. Bahkan\ndi Mesir Kucing hitam dianggap sebagai perwujudan Dewi Bast, Sang Dewa\nMatahari. Lalu, bagaimana Kebudayaan Jawa memandang kucing sebagai pertanda datangnya\nnasib baik atau buruk?<\/p>\n\n\n\n<p>Khazanah historis budaya Jawa merekam\nkucing dalam relief beberapa candi diantaranya Candi Pawon, Candi Mendut dan\nCandi Prambanan. Dalam Kasusastraan Jawa abad XIX awal pun dapat ditemukan\nbeberapa manuskrip yang membahas prihal berbagai pertanda dari Kucing. Beberapa\nkorpus manuskrip yang dapat ditemukan antara lain: <em>Serat Wani-Warni<\/em> No\nRP 366 tahun 1847 dan <em>Katurangganing Kucing<\/em> Van Dorp tahun 1871 M\nkoleksi Museum Radya Pustaka, <em>Serat Ngalamating Kucing<\/em> koleksi Kraton\nYogyakarta dan <em>Carcan Meyong<\/em> koleksi Gedong Kirtya Bali. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertanda-pertanda itu sering\ndisebut sebagai <em>katuranggan <\/em>dalam bahasa Jawa. Meskipun benak kita\nterkadang tergiring mengartikan <em>turangga <\/em>sebagai <em>Jaran <\/em>(Kuda).\nNamun istilah <em>katuranggan <\/em>diilhami oleh para penulis Jawa sebagai makna\npengistilahan pragmatis untuk membincang tanda-tanda. Seperti halnya ditemukan\ndalam manuskrip <em>Katurangganing Wanita, Katurangganing Perkutut,\nKaturangganing Jaran, Katurangganing Gagak lan<\/em> <em>Prenjak <\/em>dan manuskrip\nJawa lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Membincang <em>Serat\nKaturangganing Kucing <\/em>Van Dorp yang dicetak di percetakan GCT Van Dorp\n&amp; Co di Semarang tahun 1871 M dapat ditemukan rentangan pemaknaan tanda\ndari kucing Jawa yang sering dipelihara.Entah ada angin apa, Di waktu\nsore hari menuju jam 4 Dyan Palguna seorang pria muda &nbsp;Kudus itu menulis <a href=\"https:\/\/id.wikisource.org\/wiki\/Serat_katuranggan_kucing\"><em>Serat\nKaturangganing Kucing<\/em><\/a> ini. Perihal pertanda kucing dari polah tingkah\ndan warna bulu itu dituliskan sebagai sebuah peringatan. <\/p>\n\n\n\n<p>Ada 18 ciri dan pertanda kucing\nyang dituliskan.&nbsp; Ada 1) Kembang Asem 2)\nBerkaki pa\u00f1ca 3) Putra Kaj\u0115ntaka 4) Wulan Krahina 5) \u1e0ca\u1e0dang Sungkawa 6) Wulan\nPurnama 7) Durjana Kak\u0115\u1e6du 8) Bujangga Ham\u0115ngku 9) Wisa Tumama 10) Satriya\nWibawa 11) Tampar Taliwangsul 12) Pa\u1e47\u1e0dita L\u0115laku 13) Kala Ngumbara 14) Songga\nBuwana 15) Baya Ngangsar 16) Wisnu Atonda 17) Lintang Kumukus 18) Candra Mawa. Sebagai\nkonsensus, Putra Kaj\u0115ntaka hadir dari kebudayaan Jawa dalam konteks pembahasan\nmitos Kucing hitam di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Putra Kaj\u0115ntaka (Kucing hitam)\ndalam <em>Serat Katurangganing Kucing <\/em>disebutkan \u201c<em>aja sira ngingu kucing\n| ireng mulus buntut panjang| iya ala ing lamat\u00e9 | aran <strong>Putra Kajentaka<\/strong>\n| utah ludira nira | lamun bu\u1e47\u1e0del buntut ipun | ala nira sawetara||\u201d <\/em>Bisa\nmuntah darah! Sedikit berkurang jika\u2014ekornya bundel (pendek).Ternyata\ndalam Budaya Jawa Kucing hitam pun dianggap sebagai Kucing yang pantang\ndipelihara.<em>&nbsp;&nbsp; <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Itu semua hanyalah persepsi dari\nDyan Palguna yang didasarkan falsafah kebudayaan Jawa. Di zaman ini, zaman biasnya\nkebudayaan dan globalnya arus kebudayaan, setiap individu bebas memilih dan\nmempercayai apa yang ingin dipercayai. Sejauh bermanfaat dan tidak merugikan\ndiri sendiri, terlebih merugikan orang lain. Yang jelas, ada resepsi dan\npenyesuaian dengan dengan diri dan lingkungan atas pengetahuan yang\ndiperolehanya. Jangan sampai <em>sak klek<\/em>!Tiru-tiru dengan apa yang dipahami\ntanpa komparasi pemikiran lainnya. Ujung-ujungnya pasti tidak akan menjadi\ndirinya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Ilustrasinya, coba lihat <em>pupuh <\/em>Durma <em>pada <\/em>12 <a href=\"https:\/\/id.wikisource.org\/wiki\/Serat_katuranggan_kucing\"><em>Serat Katurangganing Kucing<\/em><\/a>ini \u201c<em>Lamun ana kucing turuk lambin ira| pak\u00e9nak pangorok n\u00e9ki| temah ana wong teka| agawa raroba| marang sira iki| sukurra ing Allah| ingkang sipat rahmanni||<\/em>\u201d Gampangnya, jika ada Kucing tidur di bajumu dengan nyenyak, pertanda akan ada orang datang membawa perubahan bagi dirimu. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaannya, jika menghendaki ada perubahan besar dalam hidupmu, apa hanya sekedar menunggu dan mengamati sampai ada Kucing tidur di bajumu? Mungkin? &nbsp;Dengan demikian Serat Katurangganing Kucing menjadi otokritik kebudayaan terhadap masyarakat Jawa itu sendiri. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh Frengki Nur F.P (Cantrik Komunitas Sraddha, Mahasiswa S2 Ilmu Sastra UNDIP) Kucing hitam sangatlah identik dengan hal-hal yang berbau mitos. Di Cina, Jepang, Normandia dan Amerika Serikat kucing hitam dihubungkan dengan pertanda akan datangnnya keburukan atau kesialan. Bahkan kucing<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":249,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kegiatan"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=248"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/248\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":251,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/248\/revisions\/251"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}