{"id":310,"date":"2021-04-14T09:13:42","date_gmt":"2021-04-14T09:13:42","guid":{"rendered":"http:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=310"},"modified":"2021-04-14T09:21:51","modified_gmt":"2021-04-14T09:21:51","slug":"meretas-jarak-otokritik-lima-tahun-sraddha-sala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=310","title":{"rendered":"Meretas Jarak: Otokritik Lima Tahun Sraddha Sala"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Meretas Jarak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>(Otokritik <em>Limangtahunan<\/em> Sraddha Sala)<\/strong><a href=\"#_ftn1\"><strong>[1]<\/strong><\/a><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Oleh<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\">Rendra\nAgusta<br>\n<br>\n<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selamat malam kawan-kawan,<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Malam ini agaknya saya tidak perlu\nmenyampaikan salam dengan banyak versi, selain <em>bikin <\/em>repot pastinya juga memperpanjang renungan malam ini. Maka\ndari itu, sebaiknya saya menyampaikan \u201cselamat malam\u201d saja, semoga semesta dan\nsesama masih mencintai raga yang didiami jiwa ini. Malam ini ijinkan saya\nmembaca tulisan ini, mengingat saya adalah orang yang imajinatif, agaknya\nmerasa perlu saya membaca tulisan saja, agar renungan menjadi lebih terarah dan\nterukur. Semoga bisa menjadi bahan perenungan kita bersama, atau setidaknya\nmenjadi dongeng pengantar tidur kawan-kawan yang hadir malam ini. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Paparan ini saya buat persis pada\ntanggal 2 April, tepat lima tahun yang lalu peringatan seribu hari guru saya,\ndan agaknya menjadi guru kita semua, Romo I. Kuntara Wiryamartana, S.J. Pada\nperingatan seribu hari itulah kami membuat komunitas ini. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Saya sering menyebut beliau Romo\nKun, beberapa senior dan guru-guru saya menyebut beliau dengan Romo Petruk. Seorang\nRomo yang membawa Petruk selama menjalani sidang disertasi \u201cArjunawiwaha\u201d-nya\ndi Leiden. Disertasi yang menjadi jembatan bagi peneliti berikutnya, disertasi\nyang menjembatani karya sastra pegunungan dan kraton, tentu juga disertasi yang\nmenjembatani kehidupan kita hari ini dengan kehidupan para Ajar di pegunungan\ndi masa lampau. <\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Romo Kun adalah sosok yang mengubah\npandangan akademik saya yang \u201csangat menara gading\u201d menjadi \u201cpengetahuan untuk\nmasyarakat\u201d. Sebagai murid dari seberang kali Oya, yang harus melewati sungai\nGajah Wong untuk sampai di Peguron Sastra tertua di Indonesia (tempat Mas Zaki\nmenjadi guru saat ini), saya menempuh <strong>jarak<\/strong>\nlimapuluh kilometer, begitu juga jauhnya jarak pengetahuan saya saat itu\ntentang Sastra Jawa Kuna. Mungkin jika kami tidak bertemu beliau, saya akan\nmenjadi peneliti sangkar ayam, hidup di dalam kuil-kuil sastra tanpa peduli\nkanan-kiri dan terus berjarak dengan masyarakat pamengku kebudayaan itu. <\/p>\n\n\n\n<p>Sering\nsaya berceloteh kepada kawan-kawan di kereta Jakarta-Bandung, tentang ucapan\nPidi Baiq (Novelis Dilan yang terkenal itu).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>\u201cJangan takut pada jarak, karena jarak hanya nama pohon\u201d<\/strong> &#8211; Pidi Baiq<\/h2>\n\n\n\n<p>Saya\nsepakat dengan kata-kata Pidi Baiq ini, tetapi ketakutan pada jarak juga tidak\nbisa dianggap hal yang remeh begitu saja. Untuk hal-hal sederhana, jarak bisa\nmembuat rindu rindu yang mendalam bagi sepasang sejoli. Tetapi jarak jugalah\nberpeluang untuk seseorang \u201cmangrwa\u201d &#8211; mendua, tumbuh kebosanan, hingga\nkandasnya sebuah hubungan percintaan. Tentunya malam ini kita tidak hanya akan\nmembincang soal roman picisan dan problematika remaja di era informatika, lebih\ndari itu kita akan sedikit demi sedikit masuk dalam perbincangan kebudayaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak\njauh dari dunia roman picisan anak muda, saya pernah mengalami peristiwa\nmenarik&nbsp; ketika saya jatuh cinta dengan\nseorang perempuan dari tatar sunda. Sebagai seorang keturunan Jawa yang nomaden\nbanyak juga yang menasehati saya. \u201cJangan nikah dengan orang sunda, nanti <em>bla bla bla\u201d <\/em>inti nasehat dari teman\nsaya yang orang Jawa adalah menjelekkan orang Sunda. Hal serupa juga terjadi\nsebaliknya, ketika saya berteman dengan orang Sunda, tak sedikit yang bilang\norang Jawa munafik, banyak perbuatan yang berbeda dengan ucapan <em>bla bla bla. <\/em>Hal yang mencengangkan\nterjadi ketika saya mengenal beberapa orang dari kedua belah pihak, Jawa dan\nSunda, yang mengkukuhkan permusuhan berbasis pengetahuan masa tentang peristiwa\nBubat. <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><em>&#8220;&#8230; Tumuli\nPasunda Bubat. Bhre Prabhu ayun ing Putri ring Su\u1e47\u1e0da. Patih Ma\u1e0du ingutus angu\u1e47\u1e0dangeng\nwong Su\u1e47\u1e0da, ahid\u011bp wong Su\u1e47\u1e0da yan <strong>awawarangana\n<\/strong>\u2026&#8221;<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p><em>&#8220;&#8230; The start\n(cause) of Pasunda Bubat. Bhre Prabu who desires the Princess of Sunda sent\nPatih Madhu, a senior mantri (minister), to invite the Sundanese. Did not mind\nbeing a besan (in-law),[iv] came (Prabu Maharaja King of) Sunda (to Majapahit).\nInstead of being welcomed with a welcoming party, they face the harsh attitude\nof Mahapatih Gajah Mada who demands the Princess of Sunda as an offering.\nSundanese parties disagree and are <strong>determined\nto war<\/strong>.\u201d \u2013 Pararaton<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Jarak\nyang jauh antara masyarakat umum dan pengetahuan ini membuat mitos\nberkepanjangan tentang cerita Bubat. Jarak yang jauh ini akhirnya membuat produksi\nulang bacaan-bacaan rakyat dengan berbagai wahana. Hal ini yang menjadi\nmasalah-masalah baru dikemudian hari bahkan masih bisa dirasakan sampai hari\nini seperti kisah cinta saya tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Populisme tentang Pa-sunda Bubat\nmungkin satu fragmen kecil dari masalah bangsa yang tidak tuntas. Di kemudian\nhari kita masih menemukan Pa-Giyanti, pertarungan budaya yang tidak kunjung\nselesai sejak 1755. Sambung menyambung tentang narasi nasionalisme yang sempit,\ndengan ditandai narasi sejarah pada puncak-puncak revolusi hingga isu\nmiliteristik dan rasial? Apakah benar ini kebudayaan kita? Jawabannya pasti\niya, intrik politik adalah bagian kecil dari kebudayaan kita. Tetapi kalau kita\nbertanya? Apakah ini peradaban Jawa? Jika peradaban digunakan untuk menata adab\nmanusia agar lebih manusiawi, jawabannya tidak. Kita punya ruang-ruang cinta-cita\nyang lebih menyejukkan dari sekedar mengurus chauvinisme berbasis teks dan\nkonteks. <\/p>\n\n\n\n<p>Dua tahun yang lalu, saya berkala\nberkunjung bulanan ke wilayah Kedu sampai Wonosobo untuk mencatat\nparikan-parikan dalam <em>Lenggeran<\/em> dan <em>Bundengan<\/em>. Salah satu lirik yang saya\ntemukan adalah teks Sularsih-Sulanjana. Sebuah anomali, di wilayah Jawa Tengah\nsaya menemukan konteks Sularsih-Sulanjana lebih dikenal daripada Sri-Sadana,\nlebih dekat dengan kebudayaan tatar Sunda Cirebonan. Tentu saja kisah kelindan\nkebudayaan antara Sunda-Jawa ini mendasar dan historis dalam teks-teks Jawa\nPertengahan, semisal teks Bujangga Manik. <\/p>\n\n\n\n<p>Bujangga Manik merupakan karya sastra\nberaksara dan berbahasa Sunda Kuna, hibah Thomas James yang disimpan di Bodlean\nLibrary UK sejak tahun 1627 Masehi. Setidaknya dalam naskah tersebut perjalanan\nBujangga Manik ke Merbabu berhenti di dua tempat yakni Pajaran (Pamrihan,\nMriyan?) dan Pantaran (tempat kita duduk bersama malam ini). Bujangga Manik\nbelajar bahasa, aksara, ajaran Jawa dengan mengunjungi Ajar-Ajar pegunungan\nJawa. <em><br>\n<\/em><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Kakara cunduk ti gunung, kakara datang ti wetan, <\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>cunduk di gunung Damalung, datangna ti Pamrihan, datang ti lurah pajaran.<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Aku baru datang dari gunung, aku baru saja tiba dari timur, <\/p>\n\n\n\n<p>tiba dari gunung Damalung, datang dari Pamrihan, datang dari wilayah aliran agama. <\/p>\n\n\n\n<p>(BM 593-597)<br><em><br> <\/em><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>Asak beunang ngajar warah,\u00a0 <\/em><\/p><p><em>asak meunang maca siksa\u00a0 <\/em><\/p><p><em>pageuh beunang maleh pateh\u00a0 <\/em><\/p><p><em>tuhu beunang nu mitutur\u00a0 <\/em><\/p><p><em>asak beunang pangguruan\u00a0 <\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Matang\nsetelah digembleng,<\/p>\n\n\n\n<p>matang\nsetelah membaca pegangan,<\/p>\n\n\n\n<p>kuat\nsetelah (?) aturan,<\/p>\n\n\n\n<p>setia terhadap apa yang dinasihatkan,<\/p>\n\n\n\n<p>matang\nsetelah mendapat ajaran.<br><em><br>\n<\/em><\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p><em>ti kidul gunung Damalung<\/em><\/p><p><em>inya na lurah Pantaran<\/em><\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>di\nselatan adalah Gunung Damalung,<\/p>\n\n\n\n<p>termasuk\nke daerah Pantaran,<\/p>\n\n\n\n<p>(BJ\n770) <br><\/p>\n\n\n\n<p>Petikan\nini memberi narasi lain tentang hubungan Sunda-Jawa yang lebih harmonis. Begitu\njuga malam ini, komunitas memilih Pantaran sebagai ruang renung untuk mengenang\nkeberadaan gunung di depan kita ini. Malam ini kita sangat dekat dengan\nMerbabu, tetapi apakah benar kita benar-benar mengenal Merbabu sebagai Puja\nMandala? Sebagai Sastra Mandala? <\/p>\n\n\n\n<p>Relasi\nantar Pangajaran antar gunung juga bisa ditemukan dalam Suluk Tambang Raras.\nJayengresmi melakukan pengembaraan ke ujung Jawa bagian Barat, berguru pada\norang-orang suci di pegunungan, sampai menetap di gunung Karang. Ia mendalami\nilmu keislaman bersama Syaikh Karang, setelah dianggap cukup, ia berganti nama\nmenjadi Syaikh Amongraga. Pengembaraaan orang-orang antar pengajaran abad\nXV-XVII menjadi salah satu prototype yang menginspirasi komunitas ini sejak\ndari pendiriannya. Pertanyaannya apakah kita dari semua yang hadir ini,\nmengenal dengan baik masyarakat pegunungan? Kebudayaan yang lahir di dalamnya?\nAtau ruang-ruang esoteris dalam Wanasrama yang ditinggalkan? Bahkan perubahan\nkebudayaan dan keagamaan di pegunungan yang lekat dengan hal-hal sosio-ekonomi\nkadang kita tidak tahu menahu?<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nbabad pasranggrahan Madusita, satu dari belasan Pasanggrahan yang didirikan\nkraton Surakarta. Di balik cerita kemegahan kunjungan Sunan, tentu yang tidak\ntercatat adalah kehidupan masyarakat desa sehari-hari. Kehidupan masyarakat\nyang harmonis di dalam tekanan \u201cculture stelsel\u201d. Faktanya memang benar wilayah\nVorstenlanden ini tidak ada tanam paksa, tetapi para pangeran menyewakan tanah\nkepada expatriate untuk penanaman tanaman komoditi sejenis, memberi gaji kepada\nmasyarakatnya. Tentu perlu kita renungkan kembali definisi \u201cculture stelsel\u201d,\ntidak sesederhana tanam paksa, tetapi dengan melihat apa yang ditanam, sistem\nkerja, sistem penggajian, akan berdampak kepada masyarakat, lagi lagi\nmemunculkan kebudayaan baru. Yang menyesuaikan diri, dia akan selamat,\nsedangkan yang lainnya akan hilang tergilas arus zaman. <\/p>\n\n\n\n<p>Sesungguhnya\nhari ini pun kita mengalami hal yang sama. Sebelum pandemi ruang-ruang gerak\nmasyarakat teratur dan diatur dalam sistem kebudayaan besar. Kebudayaan ini\nbermuara kepada hal-hal besar juga, pada bidang material praktis kita berpacu\ndalam sosio-ekonomi, sedangkan bidang i-material kita berpacu pada bidang\nreligio-mistika. Dua hal yang agaknya hari-hari ini menjadi jalur besar, dan\nkadang-kadang mewarnai bidang-bidang lain seperti politik, pangan, kesenian,\ndan pendidikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Pendidikan\nIndonesia sejak dilengserkannya Ki Hajar Dewantara dari Menteri Pendidikan,\nsebenernya kita mengacu pada sistem pendidikan gaya Landa. Berseragam, penuh\ndoktrin, diarahkan pada hal-hal material, dll. Hal ini juga merambah ke dunia\nperguruan tinggi, keberadaan AI, sistem-sistem penangkap plagiasi seperti\nRatmin dan kawan-kawannya. Saya masih teringat pidato Mas Pujo Semedi beberapa\nwaktu lalu saat peringatan Dies Natalies Fakultas Ilmu Budaya UGM, \u201cMari\nkembalikan kecerdasan akademik kepada akademisinya, bukan pada kecerdasan\nbuatan.\u201d Jika hal ini tetap berlangsung mungkin ilmu budaya tetap ada, ilmu\nhumaniora tetap ada, tetapi sarjana humaniora ini akan semakin jauh dari\nkemanusiaan itu sendiri. <\/p>\n\n\n\n<p>Secara\nkhusus, dalam bidang pendidikan yang kami geluti, Filologi berkembang begitu\npesat, mulai dari digitalisasi naskah, dating karbon, pengembangan font aksara\nnusantara, tampilan-tampilan tiga dimensi yang serba canggih. Komunitas ini\nhanya mengambil peran kecil dari perkembangan digital itu, yakni membawa pulang\npengetahuan naskah-naskah kepada masyarakat pamengkunya. Secara luas membawa\n\u201cilmu humaniora\u201d kembali kepada masyarakat pamengkunya. Mungkin ini dianggap\nkegiatan yang jadul dan kuno, tetapi jalan ini memiliki arti penting untuk\nmeretas jarak pengetahuan. Sekolah formal kini bersaing ketat dengan \u201cKyai\nHologram\u201d, kadang-kadang yang terlupa adalah kesadaran diri akan bijak\nberdijital. Hal-hal itu yang perlu kita renungkan bersama. Mengapa narasi yang\nharmonis ini tidak mencapai puncak-puncak peradaban kita? Peradaban yang kita\nsebut 4.0?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Limatahunan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sraddha\nitu berarti keyakinan. <\/p>\n\n\n\n<p>Kira-kira\nbegitulah kata yang paling sederhana untuk menerangkan kelahiran dari komunitas\nini. Komunitas Sraddha tidak terlepas dari lalu lalang kawan-kawan yang pernah\nbertemu Rama Kuntara, ikut diskusi-kelasnya, dan sampai pembacaan karya-karya\nuntuk mengenang kematiannya. Kumpulan geguritan berjudul <em>panglocita <\/em>merupakan sisi lain dari Romo Kun yang juga memberikan\ngambaran kehidupan kita. Salah satu geguritan yang sangat menginspirasi saya\nsaat itu adalah Brajangan. Saya dan kawan-kawan seperti Branjangan yang\nberteduh mencecap air, lalu sekelebat melanjutkan perjalanannya. Saya merasa\nbegitu cepatnya waktu, hingga sekejap saja mencecap ilmu, lalu sekejap itu pula\nkita akan kembali kepada Hyang, lengkap bersama ilmu yang kita cecap. <\/p>\n\n\n\n<p>Awal-awal\nperjalanan sunyi ini dilapaskan perpustakaan Kolose Saint Ignasius Yogyakarta\ndan Pustaka Artati perpustakaan Sanata Dharma. Dua tempat yang menjadi titik\ntemu kawan-kawan yang sempat dan pernah belajar Jawa Kuna di Yogyakarta,\nditempat itulah saya bertemu Romo Kun. Di dua tempat itu pula saya mendapatkan\nistilah ilmu <em>pecothotan, <\/em>mungkin\nsejenis <em>jiwa katon <\/em>&nbsp;yang lahir dalam banyak karya-karya besar,\nsecara khusus Sastra Jawa. Romo Kun dan Ibu Kartika pun seperti Branjangan,\nsekejap menjadi guru saya, lalu keduanya <em>kapundhut\n<\/em>disaat saya baru saja mencecap ilmu dari beliau berdua. <\/p>\n\n\n\n<p>Sepeninggal\nmereka berdua, saya seperti Ekalawya, lalu timbulah hasrat untuk menghidupkan\nkembali mereka dalam pembelajaran-pembelajaran alternatif. Tentunya hal ini\nberlanjut ketika saya bertemu Mbah Mitro, penunggu lontar terakhir Dakan, yang\njuga menjadi informan banyak peneliti Merapi-Merbabu. Sejak saat itu saya sering\nbermain ke desa-desa di lereng-lereng gunung, alih-alih lelah dengan dunia\nperkotaan dan akademis, sebenarnya saya berguru pada orang-orang bijak di\npegunungan. Lebih-lebih saat <em>ruwah <\/em>&nbsp;seperti saat ini, desa-desa di kaki pegunungan\nmasih menyelenggarakan <em>Nyadran <\/em>untuk\nmengenang leluhur. Dari perjalanan itu membukakan mata saya tentang jarak\npengetahuan ketika lontar-lontar itu dibawa ke Batavia. Masyarakat\nMerapi-Merbabu tidak banyak lagi yang tahu tentang keberadaan lontar\nlebih-lebih isi di dalamnya. Jarak masyarakat sangat jauh dengan museum-museum\nyang ada di <em>Kuthanagara.<\/em> Dengan\nketerbatasan pengetahuan saya, sedikit \u201ckeyakinan\u201d saya, &nbsp;maka saya nekat membuat ruang mungil ini di\nSala.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun-tahun\nawal tentunya tidak mudah, pertama saya mengucapkan terima kasih kepada\nVolunteer yang dengan suka-duka tetap meluangkan waktu demi keberlangsungan\nkomunitas ini. Saya tentu tidak bisa untuk tidak menyebut Universitas Sebelas\nMaret dan Taman Budaya Jawa Tengah yang mengijinkan pemakaian ruangan untuk\ndiskusi rutin. Setelah itu pastinya Museum Radya Pustaka yang hingga saat ini\nmenjadi ruang tetap diskusi Sraddha Sala. Lima tahun banyak kenangan yang tak\nbisa dilupakan, mulai antusiasime peserta dari seluruh Jawa, bahkan dari semua\nkampus yang memiki prodi sastra Jawa dan Jawa Kuna (UNS, UGM, UI, UNNES,\nUDAYANA, dll). Ada seorang perangkat desa dari Pati yang setiap minggu datang\nke Solo, ada pula mahasiswa dari Surabaya yang juga demikian. Rasanya, saya\nharus menaruh hormat kepada kawan-kawan yang berkenan menjadi bagian dari\nkomunitas ini. Selain antusiasisme peserta, tentujuga dukungan baik moral dan\nmaterial. Saat komunitas berkunjung ke Wonosobo, ada orang bijak yang tiba-tiba\nmembelikan segerobak Mie Ongklok. Begitu juga ketika kami ke Tulungagung,\ntiba-tiba ada seorang guru yang memberikan kami satu keranjang Jeruk utuh, luar\nbiasa. Tentunya kami tidak bisa menyebut satu demi satu kawan-kawan (baik\nsecara pribadi, kelompok, maupun instansi) yang pernah dan akan mengambil peran\ndalam program amatir ini. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kawan-kawan\nyang berbahagia semoga belum didera kantuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekedar\nuntuk mengakhiri paparan saya, tentu saya juga tidak hanya akan mengajak\nkawan-kawan untuk mengenang yang indah-indah dalam kerja budaya amatir ini. Di\nluar sana, di luar lingkaran kecil kita malam ini, jarak ilmu pengetahuan\nbegitu jauh, dan agaknya kita bersama perlu bergerak bersama-sama.Bekerja sama\npribadi lintas pribadi, komunitas, hingga instansi Negara. Kita perlu\nmengenalkan kembali perangai ilmiah dalam bentuk yang sesederhana mungkin\nkepada masyarakat, sehingga pseudosains dan populisme tidak makin menggelapkan\nmata kita. <\/p>\n\n\n\n<p>Fakta\ndari sejarah kebudayaan harus kita terima dengan hati terbuka. Tentu kita tidak\nakan mempelajari Majapahit atau Sriwijaya karena kejayaannya saja, tetapi juga\nmempelajari mengapa kerajaan sebesar itu bisa hancur? Tentu kita juga masih\ningat kekuatan Mataram Islam yang menguasai hamper seluruh Jawa, dibalik itu kita\njuga harus belajar tentang kehancuran-kehancuran yang ada. Secara khusus, kita\npunya Pangajaran yang hebat sejak abad VII-XVII. Tetapi kita juga perlu\nberpikir sejenak akan keberadaan sekolah dan universitas di masa kini. Benarkah\npendidikan ini adalah hak segala bangsa? Benarkah pendidikan ini memerdekakan?\nBukankah kita juga perlu duduk diam sejenak dan terjaga sembari merenungkan\nbentuk transformasi pengetahuan yang pas untuk segala bangsa. Sudahkah kita\nberupaya meretas jarak ilmu pengetahuan untuk kemashlatan umat manusia? <\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Memang jalan ini adalah jalan yang sunyi, jalan iman yang sunyi, jalan sraddha yang sunyi, semoga kita semua diteguhkan. <\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Bukan tidak mungkin paparan singkat ini hanya akan menjadi tutur lisan bagi setiap yang ada di sini, lalu dituturkan ke sesama kawan dari angkringan ke restoran-restoran. Paparan ini mungkin juga hanya akan disimpan di awan yang diciptakan raksasa-raksasa, yang bisa dibaca oleh setiap makhluk sebelum katastrofi dimulai. Dari itu semua saya masih berharap paparan ini disimpan dalam Rahim Semesta yang energinya bisa dinikmati oleh siapapun nantinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga\ndengan Wungon Lima Tahunan Sraddha Sala ini kita bisa saling asah, asih, dan\nasih sebagai manusia di Bumi Allah sekaligus Bumi Manusia ini. Akhir kata,\nmewakili semua Volunteer, saya mohon maaf jika program amatiran ini tidak mampu\nmemuaskan ingin dan angan kawan-kawan semua.<\/p>\n\n\n\n<p>Selamat malam, selamat merenung, selamat berenang dalam renung. <\/p>\n\n\n\n<p>#ayosinaumaneh Matur nuwun. <br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> Disampaikan pada Wungon Sraddha Sala pada 3 April 2021 di Pantaran, Gladhagsari, Boyolali. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meretas Jarak (Otokritik Limangtahunan Sraddha Sala)[1] Oleh Rendra Agusta &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Selamat malam kawan-kawan, &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Malam ini agaknya saya tidak perlu menyampaikan salam dengan banyak versi, selain bikin repot pastinya juga memperpanjang renungan malam ini. Maka dari itu, sebaiknya saya menyampaikan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":311,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[13,8,7,11,15,14,10,12,9],"class_list":["post-310","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kegiatan","tag-filologi","tag-jawakuno","tag-kelas","tag-komunitassraddha","tag-rendraagusta","tag-sastrajawa","tag-sraddha","tag-sraddhainstitute","tag-sraddhasala"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/310","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=310"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/310\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":314,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/310\/revisions\/314"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=310"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=310"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=310"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}