{"id":4105,"date":"2026-08-06T16:17:34","date_gmt":"2026-08-06T16:17:34","guid":{"rendered":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105"},"modified":"2026-08-06T16:18:43","modified_gmt":"2026-08-06T16:18:43","slug":"saparan-di-desa-kedakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105","title":{"rendered":"Saparan di Desa Kedakan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-<em>scriptoria<\/em> ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_4109\" aria-describedby=\"caption-attachment-4109\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4109 size-large\" src=\"http:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_4_2026-08-05_02-54-02-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_4_2026-08-05_02-54-02-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_4_2026-08-05_02-54-02-300x225.jpg 300w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_4_2026-08-05_02-54-02-768x576.jpg 768w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_4_2026-08-05_02-54-02.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4109\" class=\"wp-caption-text\">Kawan-kawan Sraddha Institut, BRIN, dan Pemkab Magelang di Pelataran Bekas Padepokan Ki Ajar Doko<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desa ini bernama Kedakan, dekat Kopeng masuk kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Berketinggian 1800-an mdpl, dengan lanskap tepat berada di punggungan bukit dikelilingi ladang dan hutan. Kedakan juga merupakan desa terakhir menuju pendakian Merbabu via Wekas. Jalur ini merupakan jalur lama, setidaknya sejak berbagai ekspedisi kolonial masuk ke pegunungan Jawa, Merbabu menjadi penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada bulan Sapar, desa-desa di lereng utara Merbabu ini mengadakan semacam<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ruwatan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">desa, mereka menamainya dengan istilah <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saparan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Tiap-tiap desa selama tiga puluh lima hari penuh bergantian mengadakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Siapa yang melintas boleh mampir, wajib mencicipi kudapan tuan rumah. Peristiwa ini tidak sekedar jamuan, tradisi ini juga berbanding lurus dengan berlangsungnya tali silaturahmi antar keluarga di kampung, yang beda desa, bahkan lintas wilayah. Ritus kemudian berkembang dari yang semula sebatas tradisi, kini sekaligus sebagai upaya menjaga sebuah kohesi sosial. Wujudnya memang makan bersama, namun dialog, tanya kabar, curhat, dan suasana yang terbangun menjadi daya dorong penting penjagaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Kisah Lontar Budo<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedakan menjadi spesial, selain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> desa juga mengadakan pagelaran wayang jimat<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Pagelaran wayang ini dilakukan setelah matahari lewat tengah hari, hingga jelang tenggelam. Tahun ini adalah pementasan ketiga dari Mbah Poyo, dalang ruwat yang baru saja terpilih setelah bertahun-tahun mengalami kekosongan dalang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">23 Mei 2005, Majalah Tempo sempat merekam dalang sebelumnya, ialah Mbah Mitro. Beliau inilah yang ditemui seorang Romo Katolik sekaligus pengajar Sastra Jawa, Ignatius Kuntara Wiryamartana atau yang biasa kami panggil dengan nama Rama Kun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal Mei 2005 dalam sebuah simposium di Perpustakaan Nasional, Rama Kun mengingatkan kembali pada peneliti soal ekspedisi Belanda pada tahun 1885.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspedisi itu menyusuri lereng barat daya gunung Merbabu hingga ke sebuah desa bernama Windusabrang lalu menemui seorang bernama Ki Ajar Windusana, yang menyimpan lontar-lontar berisi pelbagai pengajaran. Lontar-lontar itu kemudian diambil oleh tim ekspedisi dan dijadikan koleksi di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Koninklijk Bataviaasch Genootschap (<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Perpusnas sekarang). Dan ada satu lontar lagi yang masih ditinggal di Merbabu, naskah inilah yang direkam oleh Majalah Tempo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naskah itu masih ada dan diwariskan turun-temurun dari dalang ke dalang berikutnya. Karena muatan spiritualitas dan segala perbendaharaan ilmu di dalamnya, maka, tidak semua orang diperbolehkan melihat isi dari naskah tersebut. Hanya kepada yang Mbah Dalang berkenan, pada bulan Sapar seperti ini bisa beruntung melihat naskah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini menurutku penting, kita harus selalu menghormati kepercayaan Masyarakat setempat atas apa yang disakralkan sekaligus jika ditelisik lebih dalam ini adalah metode pengarsipan yang baik. Karena usia, serta lontar yang bahannya mudah rapuh memang baiknya tak semua orang boleh melihat apalagi memegang. Spiritualitas juga berdampak terhadap pelestarian naskah-naskah kuna ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini senada dengan Rama Kuntara, di akhir hidupnya, Ia bercita-cita kalau pension ingin kembali ke Merbabu untuk mengajar penduduk desa setempat supaya naskah-naskah itu juga dipelajari oleh Masyarakat di tempat dimana naskah itu ditemukan. Hal inilah yang membuat kami selalu senang kembali ke Merbabu.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Saparan Wayang Jimat<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah sarapan dan menembus tol Solo-Salatiga, mulailah memasuki jalan berkelok Kopeng-Wekas. Bersama beberapa peneliti dari BRIN pada pukul 10.00 WIB lebih sedikit kami sampai di Kedakan. Cuaca sangat cerah dan mulai berdebu di sekitar ladang, maklum, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saparan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kali ini terjadi di bulan Juli tepat di puncak musim kemarau dan gelombang El-Nino. Langit sangat biru dan matahari terasa sangat terik ketika kami sampai di padukuhan. Umbul-umbul sudah terpasang berjajar di sepanjang jalan tanda bahwa hari itu memang puncak perhelatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rombongan kami langsung menuju ke rumah Mbah Poyo, dalang wayang jimat, namun beliau tidak ada, sedang mempersiapkan pagelaran kata istrinya. Kami melangkahkan kaki ke atas, berjarak berapa rumah dari kediaman beliau. Karena sudah purna saparan kali ini tidak digelar di rumah pak Kadus seperti tahun kemarin. Begitu kami sampai lokasi Mbah dalang langsung mempersilakan kami untuk mendekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di depan wayang-wayang yang telah dijajar, beliau tengah membenahi satu sambungan tangan wayang yang putus. Beliau menggamitku untuk lebih mendekat, salim, bertanya kabar dan saling memberi warta lalu beliau bercerita beberapa hal yang terjadi selama setahun ini. Aku harus sedikit menunduk karena volume bicara beliau sangat lirih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dialek khas \u2018gunung\u2019 terdengar sangat kental, ada beberapa kata yang terdengar lesap tapi maknanya tetap terpahami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah membenahi wayang jimat yang rusak, dan siap dipentaskan, Mbah Poyo kemudian mengajak kami semua untuk ke rumahnya. Seperti pada umumnya saparan, ruang tamu tengah penuh aneka macam camilan. Kami dipersilakan duduk, hingga orang terakhir duduk Mbah Poyo baru turut duduk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada peran lain yang kutangkap pagi itu, di dapur istrinya telah menyiapkan makan dan menjerang air. Tak menunggu lama akhirnya sajian teh hangat itu diedarkan, semua kebagian. Dialog dibuka lagi, kali ini Pak Marno dari BRIN dan Pak Agus dari Manassa yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kulanuwun.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Hal yang bagi orang modern mungkin terasa seperti basa-basi tetapi pagi ini kurasa khidmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Poyo menyapa satu-satu, dan bertanya asal kami. Aku sangat kagum dengan daya ingat beliau, sembari berjabat tangan beliau mengingat satu demi satu wajah, ia tahu persis mana yang pernah ke rumahnya mana yang belum. Dan ia juga bertanya jika ada kawan-kawan kami yang dulu pernah ikut saparan, tetapi kali ini berhalangan hadir. Suasananya makin hangat ketika masakan sudah matang dan kami dipaksa untuk makan. \u201c<em>Ngge syarat<\/em>\u201d kata Mbah Poyo. Semua wajib makan meskipun hanya sedikit. Hal ini bukan semata kewajiban, melainkan juga memberi arti dan menghargai tuan rumah yang telah menyiapkan segalanya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nglegani,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> paling tidak.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_4111\" aria-describedby=\"caption-attachment-4111\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4111 size-large\" src=\"http:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02-1024x688.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"688\" srcset=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02-1024x688.jpg 1024w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02-300x202.jpg 300w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02-768x516.jpg 768w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4111\" class=\"wp-caption-text\">Pergelaran Wayang Jimat oleh Ki Dalang Mbah Poyo<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tengah hari perhelatan wayang jimat pun dimulai. Lakonnya tentu saja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">carangan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tidak ada yang baku dalam pementasan di Kedakan. Ada satu hal yang terus saya temui dari waktu ke waktu, pementasannya terus menjadi sarana pengajaran, kerap untuk memperkuat daya hidup, peringatan, saran dan segalanya yang berujung untuk kebaikan bersama di desa, dan alam sekitarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah pementasan, kami bergeser naik ke atas, ke Basecamp Pendakian milik Kang Lasin. Basecamp hari itu berubah menjadi rumah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open house<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sama seperti rumah-rumah lain di desa ini. Kami mampir barang sebentar untuk beristirahat sekaligus bertegur sapa karena lama tak ketemu. Aku sendiri bertanya tentang pendakian Merbabu secara spesifik mengingat bulan-bulan ini adalah musim yang baik untuk melakukan pendakian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di rumah Kang Lasin kami melihat tamu silih berganti, salaman, ngobrol sebentar lalu bergeser ke rumah lainnya dan disusul rombongan berikutnya. Ada perasaan menyenangkan, hawanya mirip Idul Fitri di desa-desa agraris. Tuan rumah tetap tersenyum, berkali-kali memaksa kami untuk makan berat dst. Setelah sekitar satu jam-an, dan langit sudah tak begitu terik kami mulai naik ke atas.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><b>Makam Mbah Ajar Daka<\/b><\/h3>\n<figure id=\"attachment_4110\" aria-describedby=\"caption-attachment-4110\" style=\"width: 768px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4110 size-large\" src=\"http:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_5_2026-08-05_02-54-02-768x1024.jpg\" alt=\"\" width=\"768\" height=\"1024\" srcset=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_5_2026-08-05_02-54-02-768x1024.jpg 768w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_5_2026-08-05_02-54-02-225x300.jpg 225w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_5_2026-08-05_02-54-02.jpg 960w\" sizes=\"auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4110\" class=\"wp-caption-text\">Makam Ki Ajar Daka<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jaraknya memang tak jauh, sekitar satu kilometer dari desa, tapi karena fisik yang mulai menua dan tanjakan yang gak habis-habis rasanya pengap juga di dada. Kurang lebih 20 menit kami sampai di sebuah petilasan yang dulu konon ditemukannya lontar-lontar yang dibawa ke Batavia. Cerita ini memang menjadi tutur lisan yang diwarisan turun-temurun. Naik beberapa ratus jengkal sampailah kami di makam Mbah Daka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdapat dua makam yang dicungkup. Satu milik Mbah Daka atau Ajar Daka, yang satunya dipercaya sebagai makam Ajar Windusana. Tak hanya itu, satu teras di bawah makam ini, ada kumpulan makam yang nampaknya berusia lebih muda, terlihat dari langgam nisannya. Karena ruangannya sempit, kami tidak bisa sekali jalan masuk ke cungkup tersebut.\u00a0 Satu persatu dengan kusyuk melangitkan doa, setelah itu kami ngobrol sejenak dan berfoto bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku turun paling akhir setelah beberapa peneliti yang lebih sepuh turun. Setelah sekali lagi mengutarakan salam lalu ikut turun. Suasana sejenak jadi melankolis, lanskap bentang alam yang indah membuat saya termenung. Teringat ekspedisi Belanda itu, Romo Kun dan para peneliti yang lebih dulu menginjakkan kaki di tempat ini, dan, tentu saja adalah soal lontar-lontar itu. Bagaimana ia ditulis di tempat sesunyi ini, yang tentu saja ratusan tahun lalu bentang alamnya lebih sukar dan lebat. Apakah justru dari kesunyian itu kebijaksanaan bisa lebih mudah ditulis\/disalin, atau memang ada sebuah situasi tertentu\u00a0 yang mengakibatkan para penganut \u201cagama budo\u201d ini bertahan di pinggir gunung. Sejenak kami menghabiskan waktu di tempat yang kini dinamai \u201cMERBABU PASS\u201d itu sebelum akhirnya turun untuk kembali menonton wayang jimat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dirasa cukup kami akhirnya turun, ada pemandangan yang jarang kutemui, ada anjing penjaga di dekat ladang. Tidak ingat kapan ladang ditunggui sekaligus ada anjing yang menginap di situ. Apakah ada ancaman satwa lain yang turun ke <em>pategalan<\/em>? Seperti di lereng Merbabu sisi timur yang kerap ada serangan monyet sampai\u00a0 ke desa, entahlah tapi cukup menyimpan misteri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami mampir lagi ke kediaman Kang Lasin, bercakap sebentar lalu pamit turun untuk nonton wayang ruwat sekaligus pamit ke Kang Lasin karena kami akan bablas pulang setelah itu. Beliau mempersilakan kami sekal lagi untuk makan besar, meski sudah ditampik berkali-kali. Satu dua kami makan dan memakan camilan lalu turun. Angin gunung berangsur dingin seiring senja datang. Beberapa peneliti mulai masuk ke ruangan di samping pementasan wayang jimat, aku sendiri memilih menggunakan jaket dan terus menonton pementasan itu sampai selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Dalang menutup <em>pakeliran<\/em>\u00a0dengan mantra dan doa-doa keselamatan. Tidak begitu jelas terdengar detailnya, tetapi ia\u00a0 mendoakan semua yang hadir, yang terlibat dan siapapun yang mendengar cerita tentang pagelaran ini diberikan banyak kekuatan dan keberkahan dalam hidup. Gunungan lalu ditancapkan tanda perhelatan itu selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbah Poyo sempat diwawancarai oleh beberapa orang, saya memilih menjauh meski beliau terus menggamit agar tetap di sampingnya. Lalu kami ke rumah beliau bersama semua rombongan peneliti. Sebelum pamitan, kami mendengar pengajaran dari beliau. Tidak lama, tapi ada beberapa poin yang penting menurutku. Seperti tali persaudaraannya jangan terputus, tahun depan ke sini lagi, serta semoga kami semua diberkahi lantaran Ajar Daka dan Ajar Windusana. Segala niatan baik pasti berbuah baik, begitu pula sebaliknya. Lalu kami mengajak beliau untuk foto bersama, sebagai rekam kenang. Isteri beliau enggan diajak swafoto, malu katanya meski Mbah Poyo mengajaknya ke ruang tamu.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-4108\" src=\"http:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_3_2026-08-05_02-54-02-1024x768.jpg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"768\" srcset=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_3_2026-08-05_02-54-02-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_3_2026-08-05_02-54-02-300x225.jpg 300w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_3_2026-08-05_02-54-02-768x576.jpg 768w, https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_3_2026-08-05_02-54-02.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mengulur waktu cukup lama, dan obrolan tak habis-habis, akhirnya kami diijinkan untuk pulang. Satu persatu sungkem dan disalami, Aku melihat beliau memandangi satu persatu mata yang datang malam itu. Mata tua yang kenyang akan banyak hal, dan yang muncul hanyalah kebijaksanaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku sengaja terakhir pamit, barangkali ada hal-hal penting yang ingin dibicarakan empat mata. Firasatku benar, beliau menyampaikan beberapa hal lagi. Menjulurkan tangan, dan beliau memeluk dan menepuk-nepuk punggungku. Perpisahan selalu berat, meskipun itu sering terjadi. Kepada Mbah Poyo, Aku hanya bilang untuk menyampaikan salamku kepada lontar-lontar itu, bahwa kami telah berkunjung saparan kali ini, dan semoga tahun depan bisa berkunjung lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segera menyusul ke mobil dan turun kembali ke Solo. Kota-kota di bawah sana, sekali lagi saya teringat Rama Kuntara, Romo Petruk itu. Benar, ada kedamaian yang khas di lereng-lereng pegunungan. Bau kabut, debu dan tanah berembun, rumput, pinus. Sesuatu yang terus cintai sejak SMP, hingga bertahun-tahun kemudian, hingga hari ini ketika tenaga jauh surut dan rambut mulai beruban.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sala, 19 Sapar 1960 be<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indra Agusta, Cantrik di Sraddha Sala\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4111,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[47],"tags":[206,212,160,13,211,10,213],"class_list":["post-4105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-aksara-jawa","tag-dakan","tag-epigrafi","tag-filologi","tag-merbabu","tag-sraddha","tag-wekas"],"aioseo_notices":[],"aioseo_head":"\n\t\t<!-- All in One SEO 4.9.10 - aioseo.com -->\n\t<meta name=\"description\" content=\"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini\" \/>\n\t<meta name=\"robots\" content=\"max-image-preview:large\" \/>\n\t<meta name=\"author\" content=\"sraddha\"\/>\n\t<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105\" \/>\n\t<meta name=\"generator\" content=\"All in One SEO (AIOSEO) 4.9.10\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:site_name\" content=\"\u015araddh\u0101 Sala - Ayo Sinau Maneh\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:title\" content=\"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:description\" content=\"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:image:secure_url\" content=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"860\" \/>\n\t\t<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-06T16:17:34+00:00\" \/>\n\t\t<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-06T16:18:43+00:00\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:title\" content=\"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:description\" content=\"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:image\" content=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg\" \/>\n\t\t<script type=\"application\/ld+json\" class=\"aioseo-schema\">\n\t\t\t{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#blogposting\",\"name\":\"Saparan di Desa Kedakan - \\u015araddh\\u0101 Sala\",\"headline\":\"Saparan di Desa Kedakan\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?author=1#author\"},\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg\",\"width\":1280,\"height\":860},\"datePublished\":\"2026-08-06T16:17:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-06T16:18:43+00:00\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#webpage\"},\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#webpage\"},\"articleSection\":\"Artikel, aksara jawa, dakan, epigrafi, filologi, merbabu, sraddha, wekas\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#breadcrumblist\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id#listItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\",\"nextItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?cat=47#listItem\",\"name\":\"Artikel\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?cat=47#listItem\",\"position\":2,\"name\":\"Artikel\",\"item\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?cat=47\",\"nextItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#listItem\",\"name\":\"Saparan di Desa Kedakan\"},\"previousItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id#listItem\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#listItem\",\"position\":3,\"name\":\"Saparan di Desa Kedakan\",\"previousItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?cat=47#listItem\",\"name\":\"Artikel\"}}]},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/#organization\",\"name\":\"Sraddha Sala\",\"description\":\"Ayo Sinau Maneh\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?author=1#author\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?author=1\",\"name\":\"sraddha\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#authorImage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/b9dd097fbbc1940293b75712e7afe79f5c0c5237c3d8f734ec72c89837a314cf?s=96&d=mm&r=g\",\"width\":96,\"height\":96,\"caption\":\"sraddha\"}},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#webpage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105\",\"name\":\"Saparan di Desa Kedakan - \\u015araddh\\u0101 Sala\",\"description\":\"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/#website\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#breadcrumblist\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?author=1#author\"},\"creator\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?author=1#author\"},\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/08\\\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105\\\/#mainImage\",\"width\":1280,\"height\":860},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/?p=4105#mainImage\"},\"datePublished\":\"2026-08-06T16:17:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-06T16:18:43+00:00\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/\",\"name\":\"Sraddha Sala\",\"description\":\"Ayo Sinau Maneh\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/sraddhasala.or.id\\\/#organization\"}}]}\n\t\t<\/script>\n\t\t<!-- All in One SEO -->\n\n","aioseo_head_json":{"title":"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala","description":"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini","canonical_url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105","robots":"max-image-preview:large","keywords":"","webmasterTools":{"miscellaneous":""},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"BlogPosting","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#blogposting","name":"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala","headline":"Saparan di Desa Kedakan","author":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?author=1#author"},"publisher":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/#organization"},"image":{"@type":"ImageObject","url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg","width":1280,"height":860},"datePublished":"2026-08-06T16:17:34+00:00","dateModified":"2026-08-06T16:18:43+00:00","inLanguage":"en-US","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#webpage"},"isPartOf":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#webpage"},"articleSection":"Artikel, aksara jawa, dakan, epigrafi, filologi, merbabu, sraddha, wekas"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#breadcrumblist","itemListElement":[{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id#listItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/sraddhasala.or.id","nextItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?cat=47#listItem","name":"Artikel"}},{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?cat=47#listItem","position":2,"name":"Artikel","item":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?cat=47","nextItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#listItem","name":"Saparan di Desa Kedakan"},"previousItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id#listItem","name":"Home"}},{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#listItem","position":3,"name":"Saparan di Desa Kedakan","previousItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?cat=47#listItem","name":"Artikel"}}]},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/#organization","name":"Sraddha Sala","description":"Ayo Sinau Maneh","url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?author=1#author","url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?author=1","name":"sraddha","image":{"@type":"ImageObject","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#authorImage","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b9dd097fbbc1940293b75712e7afe79f5c0c5237c3d8f734ec72c89837a314cf?s=96&d=mm&r=g","width":96,"height":96,"caption":"sraddha"}},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#webpage","url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105","name":"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala","description":"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini","inLanguage":"en-US","isPartOf":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/#website"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#breadcrumblist"},"author":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?author=1#author"},"creator":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?author=1#author"},"image":{"@type":"ImageObject","url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105\/#mainImage","width":1280,"height":860},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105#mainImage"},"datePublished":"2026-08-06T16:17:34+00:00","dateModified":"2026-08-06T16:18:43+00:00"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/#website","url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/","name":"Sraddha Sala","description":"Ayo Sinau Maneh","inLanguage":"en-US","publisher":{"@id":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/#organization"}}]},"og:locale":"en_US","og:site_name":"\u015araddh\u0101 Sala - Ayo Sinau Maneh","og:type":"article","og:title":"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala","og:description":"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini","og:url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105","og:image":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg","og:image:secure_url":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg","og:image:width":1280,"og:image:height":860,"article:published_time":"2026-08-06T16:17:34+00:00","article:modified_time":"2026-08-06T16:18:43+00:00","twitter:card":"summary_large_image","twitter:title":"Saparan di Desa Kedakan - \u015araddh\u0101 Sala","twitter:description":"Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya. Desa ini","twitter:image":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/photo_6_2026-08-05_02-54-02.jpg"},"aioseo_meta_data":{"post_id":"4105","title":null,"description":null,"keywords":null,"keyphrases":{"focus":{"keyphrase":"","score":0,"analysis":{"keyphraseInTitle":{"score":0,"maxScore":9,"error":1}}},"additional":[]},"primary_term":null,"canonical_url":null,"og_title":null,"og_description":null,"og_object_type":"default","og_image_type":"default","og_image_url":null,"og_image_width":null,"og_image_height":null,"og_image_custom_url":null,"og_image_custom_fields":null,"og_video":"","og_custom_url":null,"og_article_section":null,"og_article_tags":null,"twitter_use_og":false,"twitter_card":"default","twitter_image_type":"default","twitter_image_url":null,"twitter_image_custom_url":null,"twitter_image_custom_fields":null,"twitter_title":null,"twitter_description":null,"schema":{"blockGraphs":[],"customGraphs":[],"default":{"data":{"Article":[],"Course":[],"Dataset":[],"FAQPage":[],"Movie":[],"Person":[],"Product":[],"ProductReview":[],"Car":[],"Recipe":[],"Service":[],"SoftwareApplication":[],"WebPage":[]},"graphName":"BlogPosting","isEnabled":true},"graphs":[]},"schema_type":"default","schema_type_options":null,"pillar_content":false,"robots_default":true,"robots_noindex":false,"robots_noarchive":false,"robots_nosnippet":false,"robots_nofollow":false,"robots_noimageindex":false,"robots_noodp":false,"robots_notranslate":false,"robots_max_snippet":"-1","robots_max_videopreview":"-1","robots_max_imagepreview":"large","priority":null,"frequency":"default","local_seo":null,"limit_modified_date":false,"created":"2026-08-04 20:35:36","updated":"2026-08-06 16:20:04","ai":{"faqs":[],"keyPoints":[],"schemas":[],"titles":[],"descriptions":[],"socialPosts":{"email":{"subject":"","preview":"","content":""},"linkedin":[],"twitter":[],"facebook":[],"instagram":[]}},"breadcrumb_settings":null,"seo_analyzer_scan_date":null},"aioseo_breadcrumb":"<div class=\"aioseo-breadcrumbs\"><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\t<a href=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\" title=\"Home\">Home<\/a>\n\t\t<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb-separator\">&raquo;<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\t<a href=\"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?cat=47\" title=\"Artikel\">Artikel<\/a>\n\t\t<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb-separator\">&raquo;<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\tSaparan di Desa Kedakan\n\t\t<\/span><\/div>","aioseo_breadcrumb_json":[{"label":"Home","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id"},{"label":"Artikel","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?cat=47"},{"label":"Saparan di Desa Kedakan","link":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/?p=4105"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4105"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4128,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4105\/revisions\/4128"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sraddhasala.or.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}