Ruang Publik ke Kandang Alogaritma

Written by

in

Segenap informasi adalah data, ia bergerak melintasi jaman, rantai jalin penghubung data ini kita kenal dengan istilah komunikasi, hasilnya kemudian disebut konsensus.

Demikian Roni K Pratama, Kawan yang kini jadi dosen di UNS memberikan pengantar di bukunya. Dari lambaran tersebut arenanya diwedar satu-satu.

Jaman yang berubah dari pra sejarah hingga sejarah. Batu, logam hingga era aksara, dan berlanjut di abad pencerahan, revolusi Industri berjilid2, hingga internet. Internet inilah yang kemudian memicu perubahan lebih besar setelah penemuan mesin cetak Guttenberg di 1450.

Jika dulu injil dicetak disebarluaskan ke seluruh bumi, menyusul koran, dan zine. Kini, internet memberikan keleluasaan publik untuk menyebarkan informasinya sendiri melalui blog, website, sosial media.

Informasinya sama, teknologi dan teknokrasinya berubah. Medannya berubah.

Lesapan teknologi ini yang kemudian membawa manusia pada apa yang disebut Datakrasi. Sebuah tatanan dimana Mahadata akan menjadi “emas baru” yang dapat membuat preferensi, solusi, dan mengatur asumsi secara bawah sadar. Pada level lain alogaritma juga memberikan revolusi seperti yang terjadi pada Nepal dan Arab Spring.

Kuasa media sosial yang bising ini juga membuat kecenderungan takut untuk memposisikan diri di media sosial, beberapa mulai membuat akun nol postingan atau anonim. Geliat bermedia tanpa identitas ini juga jadi daya resistensi terhadap iming2 media, sekalipun naifnya bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan ngosak asik publik.

Ruangan berubah, dari fisik ke maya. Dari kopisop revolusi di Prancis ke Discord, bisnis, wisata, dan pendidikan juga turut berubah.

Yang paling masif kini adalah AI atau kecerdasan buatan, penggunaannya jika benar memang akan menjadi asisten personal yang baik untuk tiap individu, tapi seperti pisau dua sisi, kemalasan akan membuat manusia menyerahkan seutuhnya hidup pada saran alogaritma. Pencarian sang liyan, ruang dan medan seni baru, jua ekstrimnya mungkin akan jadi berhala.

Jika milenial kenal “Tuhan Google”, Gen-Z akan kenal “Tuhan Ai”, ia mengaitkan dan memproses banyak hal lebih cepat, namun juga mengandung bahaya.

Penulis: Indra Agusta

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *