Membaca Saduran Sutasoma

Sebuah karya sadur dari cantrik Sraddhasala Ki Indra Agusta Karya ini bersumber dari Kakawin populer di nusantara, Sutasoma. Naskah yang juga telah menjadi bagian dari ingatan dunia.
Berkisah tentang seorang yang pangeran melarikan diri dari istana, namanya Jinamurti dari kerajaan Astina.Kelahirannya yang ajaib, ramalan akan masa depannya yang gemilang justru menempatkan dasar kediriannya untuk menolak itu segala kemewahan istana. Pangeran justru ingin hidup bertapa dan mengikuti jalan para yogi. Namun, siapa sangka perjalanannya menuju Mahameru justru mengantarnya pada tokoh-tokoh, khazanah serta refleksi dari pencarian diri ditemui oleh Jinamurti. Kuasa ramalan bekerja berbalut pengajaran-pengajaran suci, teror, goda dan pertemuan tak terduga. Menemukan memang tak selalu dimulai dari mencari, tapi menjalani.
Sila baca di web SiPena Perpusnas RI atau unduh via https://press.perpusnas.go.id/ProdukDetail.aspx?id=1437.

Radiocarbon, Teks Pangeran Benang dan Sumber Primer Walisongo

Sejak semula, teks-teks primer tentang Walisanga dan masa Demak yang sezaman selalu dipertanyakan. Apakah memang ada naskah yang sezaman dari internal masyarakat Jawa sendiri selain teks-teks pelawat dari Eropa. Tulisan ini dengan ringkas akan menjawab pertanyaan kawan-kawan menyoal sumber primer ini.

Radiocarbon, Teks Pangeran Benang dan Sumber Primer Walisongo

Malam minggu ini Mindha mendapat pertanyaan, lagi-lagi soal data tulis keberadaan Wali Songo. Terus terang, selalu Mindha terangkan bahwa:

“semua ilmu itu terbatas dan ada batasannya masing-masing, termasuk Filologi” —

 Filologi terbatas dan keras berpegang pada material kultur, jika data sezaman tak ada maka data lain akan dipandang lemah dalam posisi kritik sumber historiografi yang menggunakan ilmu filologi sebagai alat bantu. Pertanyaan yang muncul? Apakah ada teks Walisongo yang sezaman kita miliki?

1. Salah satu teks yang selalu disematkan kepada Walisongo terutama Sunan Bonang adalah naskah dengan kode Or.1928 koleksi Leiden ini. Drewes telah cukup lama merisetnya, ia juga menyebutnya dengan “The Admonitions Seh Bahri”. Cek https://drive.google.com/file/d/1aqP2_fyTp5kSpHd8xrI960wDG0n2DP5g/view.

2. Jika kawan-kawan tak percaya Drewes, silahkan baca naskah aslinya. Beraksara Jawa Baru dan Bahasa Jawa Baru awal. Aksara-aksara yang digunakan mirip sekali dengan inskripsi di Kategan, teks Panji Angreni awal dan prasasti Peter Everbeld di Jakarta.  Cek naskah aslinya https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/1576531#page/1/mode/1up

3. Teks awal bertulis “caritanira sekhulbariṅ\\”.Teks akhir yang bertulis “kaṅpakṛti paŋeran] niṅ benaṅ. Lalu mengapa teks “baring” dijadikan “bari[ṅ] atau “pangeran ing benang” dianggap “Pangeran ing Bonang atau Sunan Bonang, itu adalah usulan Drewes. Mengapa ia mengusulkan begitu? Cek di tesis Drewes.

4. Apakah teks ini sezaman dengan Demak?

Jawabnya: Naskah ini menjadi koleksi perpustakaan pribadi navigator Belanda terkemuka Bonaventura Vulcanius yang hidup sebelum tahun 1600. 
Lalu tahun 1614 naskah ini diakusisi dan disimpan di perpustakaan Leiden (UBL) sampai sekarang. Cek https://collectionguides.universiteitleiden.nl/resources/ubl015#

5. Kapan ditulis? sepanjang teks tak ditemukan kolofon penanda tahun. Drewes memperkirakan bahasa dan aksara yang digunakan pada masa Jawa Tengahan atau peralihan.

6. Tahun 2025, Ibu Annabel T. Gallop menerbitkan uji radio karbon atas material naskah ini. Hasilnya, ada dua kemungkinan. Pertama, dluwang ini diproduksi kemungkinan 58% dibuat pada 1456-1523 Masehi. Kedua, kemungkinan 37% dibuat tahun 1574-1626 M. Cek https://journals.sub.uni-hamburg.de/hup4/mc/article/view/9

7. Kenapa tahun penanggalan radiocarbon tidak presisi? Ada banyak hal variabelnya. Perlu kawan-kawan belajar dari kawan-kawan periset arkeometri.

8. Kapan dluwangnya mulai ditulisi teks ini? Tidak tahu.

9. Teks zaman yang memuat orang-orang suci di Demak bisa mulai baca teks lawatan Tom Pires (1512-1515), Fransisco Rodrigues (1515) dan sederet teks lain yang menyelinap di arsip-arsip Portugis dan Spanyol. Jika tak percaya dengan terbitan yg ada, bisa mulai belajar kedua bahasa itu dan baca teks aslinya, sekarang sudah mudah diakses. Cek https://archive.org/details/McGillLibrary-136385-182

10. Dalam poin sembilan nanti ada istilah “Tapas” dan “Moor”. Dua leksikon yang mengacu pada orang-orang suci di Demak. Apakah ada istilah walisongo di sana? Belum ditemukan.

11. Kembali ke naskah Pangeran Benang. — sampai saat ini ada dua mahzab, yang lunak menyamakannya dengan Pangeran/Sunan Bonang atau Seh Bakhul Baring sama dengan Bari. — ada pula peneliti yang tetap keras pada teks yang ada tertulis.

12. JIKA, kita memilih mahzab lunak (poin 11), dan keterangan umum riwayat Sunan Bonang dari teks-teks yang lebih muda (Abad XVIII-XIX) yang mengisahkan beliau hidup antara tahun 1465-1525, berdasarkan data hasil radiokarbon maka tahun ini mendekati kemungkinan masa diproduksinya kertas dluwang naskah Or.1928 itu. Lihat poin 6.

13. JIKA, anda mahzab keras, dan tetap keukeuh pada teks yang ada. Ya teks itu karya Pangeran Benang bukan Pangeran Bonang atau Sunan Bonang.

Kurang lebih begitulah keterbatasan ilmu filologi. Ilmu yang Mindha dan secuil kawan-kawan tekuni. Mindha tak ahli penerawangan yang bisa berkomunikasi dengan jim atau kembali ke masa lalu untuk mempertanyakan fakta-fakta sesungguh. Mindha dan kawan-kawan demikian terbatas.

Demikian ulasan Malming dibuat, semoga menjadi ajang perdebatan akademik berikutnyah.rdr

#ayosinaumaneh

Sawan Sawah, Smarabumi, dan Ekomistisisme Centhini

Nukilan Pembacaan dari buku Pada Akhirnya: Ekomistisiesme dalam Serat Centhini dan Alusi lainnya karya Frengki N.F.P.

Sawan Sawah, Smarabumi,
dan Ekomistisime Centhini

Nama saya Angga Nala,

Angga berarti tubuh,

sedangkan Nala berarti Hati,

seluruh hidup saya, 

saya abdikan sepenuh hati sebagai petani di desa Saba ini.

 

Saya sedang dilanda kesedihan, nandang giris.

Sudah empat musim sawah saya gabuk,

pategalan, sayuran, tanaman jarak dan kapas, semuanya hancur diserang hama.

 

Hidup saya mlarat keliwat, ternak kami juga habis,

Harta benda saya juga ikut habis untuk tambal-sulam sawah yang gagal,

Tumpes, tanpa daya kuasa.

 

Berbalut lagu Giris, saya ngili,

Mengikuti hati dan tubuh saya, hati dan tubuh Angganala,

Sampailah saya di sini, di tepi telaga ini Ki Sanak,

Ngalap berkah kepada danyang Smara-Bumi penjaga telaga ini,

Barangkali, ada ketenangan di hati saya,

Ada keteguhan tubuh yang mampu melangkah lagi.

 

Panjenengan sinten Ki Sanak?

 

Aku Amongraga.

 

Di Tengah pembicaraan itu, kemudian Amongraga mengutus Jamal-Jamil, kedua abdi santri, untuk memberi syarat supaya selamatlah sawah Angganala.

 

“Agampil yèn mêkatêna, mangke kula amitêdah sarat sêlamêting sawah. Pan buntuting walang kapa apan linandheyan carang, inggih caranging pring krêsna” begitu jawab Jamal.

 

Lalu berburulah Walangkapa, disembelih, ditancapkan ke tombak dari pohon bambu Wulung. “sarana” itu kemudian ditancapkan di setiap pojok sawah Angganala.

 

Surup datang, dunia menjadi gelap, Angganala mengitari sawahnya, searah jarum jam, tepuk gelang kata orang-orang suci masa lalu. Lalu samar-samar Angganala merapal mantra:

 

Menghadap timur:

 

“ama sulak balak-balak, yèn si ama nora balak, tan balak mati sun-tumbak.

ilang nora na pa-apa, kêtulak tumbak lan kapa.”

 

Menghadap Selatan:

 

“ama sulak balak-balak, yèn si ama nora balak, tan balak mati sun-tumbak.

ilang nora na pa-apa, kêtulak tumbak lan kapa.”

 

 

Menghadap Barat:

 

“ama sulak balak-balak, yèn si ama nora balak, tan balak mati sun-tumbak.

ilang nora na pa-apa, kêtulak tumbak lan kapa.”

 

Menghadap Utara:

 

“ama sulak balak-balak, yèn si ama nora balak, tan balak mati sun-tumbak.

ilang nora na pa-apa, kêtulak tumbak lan kapa.”

 

Sedulur papat, Kanda Pat, Lima Pancer, Aku Angganala si pancer.

 

Sawah itu kembali pulih, panen berlipat kali.

 

Nama saya Angga Nala,

Angga berarti tubuh,

sedangkan Nala berarti Hati,

seluruh hidup saya, saya abdikan sepenuh hati sebagai petani di desa Saba ini.

 

Note:

Pembacaan ini dari buku Pada Akhirnya:  Ekomistisisme dalam Serat Centhini dan Alusi lainnya karya Frengki N.F.P, selamat menyimak. 

Buku ini bisa didapatkan di Rusa Menjana Publishing. rdr

 

 

 

Simpang Masa: Sebuah Catatan Kebahasaan

Abad ke-19 adalah abad yang sulit bagi pulau Jawa khususnya orang Jawa. Abad yang penuh gejolak, terutama bagi penduduk Jawa yang baru saja selamat dari konflik dahsyat yang dikenal sebagai Perang Jawa (1825-1830). Setelah Perang Jawa berakhir, Jawa memasuki tatanan baru, kekuasaan kolonial Hindia Belanda mengontrol wilayah Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta) dengan lebih leluasa. Dengan kondisi seperti itu hadirlah sosok Ronggowarsito, Mangkunegara IV, dan Raden Saleh .

Catatan-Catatan Bahasa Film Simpang Masa

oleh Subiyanto – Sutradara dan Penulis Skenario SM

Untuk teman-teman Sraddha Sala, saya ingin bercerita bagaimana penggunaan Bahasa Jawa dalam film ‘Simpang Masa’ mempengaruhi bagaimana seni peran, bahasa sinematik, dan idiom-idiom yang diciptakan. Film Simpang Masa diproduksi sebagai prasyarat kelulusan program penciptaan seni, S2 ISI Surakarta pada 2021 memiliki durasi 90 menit, menggunakan bahasa Jawa Krama dan Ngoko yang mungkin digunakan oleh kalangan aristokrat atas Jawa sekitar tahun 1860-an, dipenuhi dialog, menggunakan dua lokasi dan 3 karakter utama. 

Simpang Masa (SM) bermula dari ide sederhana bagaimana tiga tokoh sejarah Jawa abad XIX merespon keadaan sosial atau zaman ketika mereka hidup. Abad XIX adalah abad yang sulit bagi pulau Jawa khususnya orang Jawa[i]. Abad yang penuh gejolak, terutama bagi penduduk Jawa yang baru saja selamat dari konflik dahsyat yang dikenal sebagai Perang Jawa[ii] (1825-1830). Setelah Perang Jawa berakhir, Jawa memasuki tatanan baru, kekuasaan kolonial Hindia Belanda mengontrol wilayah Vorstenlanden  (Surakarta dan Yogyakarta) dengan lebih leluasa. Dengan kondisi seperti itu hadirlah sosok Raden Ngabehi (R.Ng.)Ronggowarsito[iii] (1802-1873), Mangkunegara IV[iv] (1811-1881), dan Raden Saleh (sekitar 1811-1880). Keberadaan ketiga tokoh tersebut sungguh menarik dalam peta intelektual Jawa. Mereka bertiga bisa disebut sebagai intelektual/jenius Jawa ataupun seniman Jawa. Mereka hidup pada masa ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda sangat berkuasa, karena itu sangat mencampuri urusan rumah tangga keraton-keraton di Jawa, khususnya keraton-keraton bekas taklukan Kerajaan Mataram. Ketiga tokoh tersebut mengalami transisi zaman dari tatanan Jawa lama ke tatanan Jawa ‘baru’ sekaligus era ‘modern’, ketika ide-ide dan hal-hal baru tumbuh subur di Jawa pada saat itu.

Pertemuan

Muncul pertanyaan, bagaimana ketiga tokoh tersebut bisa bertemu sementara belum ada data sejarah yang mencatat ketiganya bertemu secara bersama-sama? Sebagai film fiksi, sah-sah saja menghadirkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, tergantung bagaimana sineas menciptakan semesta dan logika baru dalam film garapanya. Seperti film Inglourious Basterds arahan sutradara Quentin Tarantino, yang mengisahkan Hitler dibunuh di gedung bioskop di Prancis, yang tentunya jauh dari sejarah yang tercatat. Tetapi SM tidak beranjak sejauh itu, pertemuan ketiga tokoh memang tidak tercatat dalam sejarah, tetapi ada data-data sejarah yang membuat kita bisa mengimajinasikan pertemuan tersebut, karena ada persimpangan waktu, ruang dan kepentingan dari ketiganya.

Pertemuan imajiner dibuat seolah-olah terjadi pada tahun 1866. Antara tahun 1865 dan 1868, Raden Saleh mengunjungi Yogyakarta sebanyak dua kali (Kraus & Irina Vogelsang, 2018, 144). Kunjungan ke Yogyakarta ini membuka kemungkinan Raden Saleh juga mengunjungi Surakarta (Werner Kraus, wawancara, 14 Oktober 2019). Keterhubungan ketiga tokoh tersebut adalah sebagai berikut.

a.  Raden Saleh bertemu dengan saudara sepupu laki-laki Ronggowarsito, Raden Ngabehi Poespowilogo di Den Haag pada 1837 yang sedang bekerja membantu Perkumpulan Injil Belanda membuat huruf cetak Bahasa Jawa dengan mengecor logam; huruf cetak yang menjadi landasan pembuatan injil (Kraus & Irina Vogelsang, 2018, 130-131).

b.  Raden Saleh pernah melukis saudara perempuan Ronggowarsito, Raden Ayu Muning Kasari[v] (Kraus & Irina Vogelsang, 2018, 374)

c.  Paman sekaligus ayah angkat Raden Saleh, Bupati Semarang Suro-adimenggolo V beristrikan Ratu Angger yang tidak lain adalah putri bungsu dari Mangkunegoro I (Peter Carey, wawancara, 13 Juni 2020).

d.   Mangkunegoro IV dan Ronggowarsito menetap di Surakarta. Mangkunegoro IV sebelum bertahta sudah memiliki hubungan dengan Ronggowarsito. Kemahiran Mangkunegoro IV dalam sastra Jawa terpengaruh oleh sastra Ronggowarsito (Kamajaya, 1980, 24). Ronggowarsito dan Mangkunegoro IV berkolaborasi dalam menulis Serat Paramayoga (digubah kira-kira 1861) dan Serat Pustakaraja (Ricklefs, 2018, 105-106).

e.   Pada 1831, didirikan Instituut voor de Javaansche taal te Soerakarta, institut penelitian Bahasa Jawa di Surakarta (yang bertahan sampai 1842) yang diurus oleh Dr. J.F.C Gericke (1798-1857) dan C.F Winter (1800-1859). Dalam hal ini, Mangkunegoro IV dan Ronggowarsito berhubungan baik dengan C.F Winter (Tsuchiya, 2019, 103).

Bahasa

Draft awal Skenario SM menggunakan Bahasa Indonesia dan disaat bersamaan  dibuat terjemahan skenario ke dalam Bahasa Jawa. Penerjemahan dilakukan oleh Bayun Marsiwi Permata dan Aji Bagianana Mulia, keduanya adalah pustakawan Rekso Pustoko Mangkunegaran dan lulusan sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS). Hasil terjemahan dari penerjemah utama   selanjutnya disupervisi oleh Drs. K.R.T. Supardjo Hadinagoro, M.Hum,  dosen sastra Jawa Universitas Sebelas Maret (UNS). Skenario berbahasa Jawa inilah yang menjadi skenario final untuk SM.

Keputusan menggunakan bahasa Jawa tidak ditentukan sedari awal, karena proses yang membuat akhirnya memakai bahasa Jawa. Sebelumnya perlu dipastikan kepada para aktor bahwa penggunaan bahasa Jawa lebih cocok dan mampu dilatih dengan sisa waktu yang dipunyai hingga hari syuting yang telah ditetapkan. Sadar dengan tantangan yang akan dihadapi para aktor, kami mempersiapkan workshop untuk mendalami skenario sekaligus memutuskan bahasa apa yang akan digunakan. Workshop difokuskan pada pemahaman skenario, konteks cerita, dan karakter. Awalnya workshop menggunakan skenario berbahasa Indonesia, proses reading-nya berjalan lancar, cepat, tetapi kami tidak bisa merasakan kedekatan dengan zaman dan sosok yang kami angkat dalam SM. Pada pertengahan workshop, skenario yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa mulai diberikan ke aktor, lalu dicoba untuk dibaca. Dalam menerjemahkan skenario dari Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Jawa, penerjemah mengambil serat-serat kumpulan ndalem KGPAA Mangkunegara IV sebagai rujukan tata bahasa, dan kamus Bausastra Jawa karangan Poerwadarminta, W.J.S. dkk (tahun 1939) sebagai panduan penerjemahan setiap kosa kata. Ketika aktor mulai membaca skenario berbahasa Jawa, semua merasakan bahwa Bahasa Jawa lebih cocok untuk film ini. Meskipun begitu semua sadar bahwa penggunaan Bahasa Jawa krama dan ngoko yang kemungkinan dipakai pada rentang tahun 1866 bukan hal yang mudah, menghadirkan tembok tantangan yang tinggi dengan waktu persiapan yang hanya tersisa satu bulan. Semua aktor cenderung menghendaki menggunakan Bahasa Jawa, tetapi tetap ditawarkan ke para aktor apakah akan menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, karena intensitas kerja para aktor akan berlipat tiga kali jika menggunakan Bahasa Jawa. Akhirnya semua sepakat untuk menggunakan bahasa Jawa dengan segala konsekuensinya.

 

Seni Peran

Pemilihan aktor diadakan sebelum workshop. Setelah melakukan casting terpilih tiga aktor utama sesuai dengan kriteria utama, yaitu: kemiripan dan kualitas keaktoran. Ketiga aktor yang terpilih adalah: Sosiawan Leak yang memerankan Raden Saleh, Turah Hananto sebagai Mangkunegoro IV, dan Yustinus Popo sebagai Ronggowarsito. Ketiganya adalah aktor teater di Surakarta.

Skenario menggunakan Bahasa Jawa membuat aktor harus bekerja lebih keras. Jadwal latihan yang sebelumnya dijadwalkan 2 minggu sekali dalam sebulan sebelum syuting dirasa tidak cukup. Untuk itu para aktor menambah jadwal latihan menjadi tiga kali seminggu bahkan ketika jadwal syuting tersisa dua pekan, para aktor hampir berlatih tiap hari untuk menghafal skenario bersama, mematangkan acting, karakter, dan blocking.

Pemilihan Bahasa Jawa memberikan tantangan tersendiri, yaitu bagaimana Bahasa Jawa diangkat sebagai dialog dalam sebuah film. Acuan penggunaan Bahasa Jawa dalam seni peran yang dipunyai para aktor terpilih, umumnya adalah pengucapan yang biasa digunakan dalam drama ketoprak maupun wayang wong. Padahal yang ingin dicapai dalam SM bukanlah teknik dialog seperti dalam ketoprak ataupun wayang wong. Pada awal latihan, para aktor lebih banyak menggunakan gaya pengucapan seperti dalam ketoprak, dengan suara lantang dan penekanan pada akhir kalimat. Oleh karena itu, perlu kerja extra untuk mengingatkan  para aktor untuk tidak memakai gaya dialog ketoprak ataupun wayang wong. Ketika suara meninggi, aktor harus diingatkan terus menerus dengan menurunkan tangan yang menandakan tempo dan volume perlu diturunkan. Dialog dan pengucapan yang ingin dicapai adalah penggunaan bahasa Jawa yang realis seperti halnya dalam percakapan sehari-hari, memang membuat terkesan lirih dan kurang greget. Bahasa juga telah membentuk olah peran para akot, bagaimana para aktor harus berjalan, duduk, dan bahkan bernafas.

Pemilihan bahasa yang dipakai adalah bahasa yang mungkin dipakai sekitar tahun 1866, yang membuat para aktor harus mempelajari banyak kosakata baru. Banyak kata yang digunakan dalam skenario, saat ini sudah jarang sekali digunakan, dan juga banyak kata yang pelafalannya sudah berevolusi, berbeda dengan pelafalan saat ini. Untuk mendapatkan pelafalan yang benar, para aktor dibantu oleh Drs. K.R.T. Supardjo Hadinagoro, M.Hum (Pak Parjo). Awalnya Pak Parjo hanya membantu sebagai supervisi penerjemahan skenario ke dalam Bahasa Jawa, tetapi ketika mendapatkan rekaman proses latihan, Pak Parjo menemukan kesalahan pelafalan. Sebagai ahli sastra Jawa beliau tergoda untuk membantu para aktor mengoreksi setiap pelafalan kata, Pak Parjo pun ikut bergabung saat aktor berlatih.

Penggunaan bahasa Jawa, tidak dalam bahasa Indonesia maupun Belanda menjadi proses yang menarik. Bahasa Jawa Krama yang halus awalnya seperti tidak cocok untuk membangun dramatik sesuai keilmuan dramaturgi yang penulis pelajari. Bagaimana penggunaan bahasa Jawa bisa masuk dalam bingkai sinematik, bukan bingkai panggung. Penulis berjumpa dengan beberapa hal yang membuat berani menggunakan bahasa Jawa. Pertama, proses membuat film SM adalah saat dimana penulis mulai berjumpa dengan sastra Jawa terutama karangan Ranggawarsita dan keluarganya yang bisa diakses di perpustakaan ISI Surakarta. Dari situ penulis menemukan keindahan sekaligus mata air pengetahuan Jawa; Kedua, dibalik kehalusan bahasa Jawa, yang seakan membuat sedikit sekali kesempatan mengumpat atau berkata kasar saat menggunakan bahasa Jawa krama, disaat yang sama terdapat jejak kekerasan sekaligus kekejaman dalam sejarah Jawa. Ketika perang terjadi, tak sedikit orang Jawa akan memenggal kepala lawan lalu menancapkannya dengan tombak dan memasangnya di depan benteng. Memotong telinga semua lawan lalu memakannya dan lain sebagainya. Bagaimana bahasa yang begitu halus bisa berjalan lurus dengan kekejaman yang begitu dahsyat. Ketiga, dalam talkshow yang diakses di youtube[vi] dengan pembicara penyair Sapardi Djoko Damono dan Seno Gumira Ajidarma, Sapardi mengatakan bahwa tahun 50-an di Solo masih digunakan bahasa Jawa krama. Sapardi sampai SMA belum bisa berbicara lancar menggunakan bahasa Indonesia, karena di sekolahnya saat itu semua pelajaran disampaikan dengan bahasa Jawa meskipun yang diajarkan adalah bahasa Indonesia.

Produksi

SM tidak memiliki budget produksi yang besar karena memang ini diperuntukkan untuk kelulusan di Pascasarjana ISI Surakarta. Nilai produksi tentunya akan menentukan pilihan estetik dan teknis yang digunakan. Budget yang kita miliki hanya memungkinkan untuk memiliki empat hari syuting, dengan rincian tiga hari syuting indoor di kediaman Mangkunegara IV dan satu hari syuting outdoor di hutan.

Lalu muncul pertanyaan dengan sumber daya yang ada bagaimana membuat film berdurasi 90 menit. Pertama dimulai dari skenario karena konteks, konsepnya menekankan pada dialog memungkinkan sekali membuat film 90 menit dengan penuh dialog. Akhir-akhir ini kita menemukan banyak podcast, disitu orang-orang berbincang dengan durasi 30 menit hingga dua jam, jadi kita andaikan SM semacam podcast. Tentu secara estetis kami tidak ingin SM seperti podcast yang kebanyakan hanya duduk saja. Nilai produksi, waktu syuting yang dimiliki, dan penggunaan skenario berbahasa Jawa membuat penulis harus menyesuaikan jumlah shot. Berpikirnya sederhana saja kalau kami membuat shot dengan durasi 8-9 menit berjumlah 11 shot kami akan memiliki film dengan durasi 90 menit. Rencana awalnya memang seperti itu menggunakan 11 shot. Akan tetapi, dengan skenario berbahasa Jawa yang tempo pelafalannya lebih lambat, maka jumlah shot bertambah menjadi 22 shot. Penambahan jumlah shot ini juga untuk mempermudah aktor dalam melakukan hafalan dan latihan. Jumlah shot yang tidak banyak juga akan menghemat waktu syuting. Tantangan bagi aktor karena bahasa yang digunakan dan waktu syuting yang dipunya adalah hanya diberikan tiga kali pengambilan gambar untuk setiap shot kalau lebih dari itu waktu yang dipunyai akan tidak cukup dan pengambilan lebih tiga kali akan membuat hafalan dan konsentrasi aktor berkurang.

Penutup

Film Simpang Masa selesai diproduksi (tentu dengan berbagai kekurangan dan catatan), lolos dari ujian di ISI Surakarta, lalu bertemu dengan khalayak umum di beberapa kesempatan pemutaran. Dari sini terpikir tentang bagaimana bahasa Jawa dan idiomnya dialirkan dalam sinema. Idiom kemarahan/kesenangan/kesedihan manusia urban di Jakarta tentu berbeda dengan kemarahan/kesenangan/kesedihan dalam film James Bond, pun berbeda dengan manusia Jawa masa lalu maupun saat ini. Akan menarik untuk mengeksplorasi kemungkinan penggunaan bahasa, idiom, gerak tubuh “Jawa” dalam sinema. Kemarahan manusia Jawa yang mungkin sangat tidak sesuai dengan ilmu dramatik atau bahasa sinema pada umumnya, agar mampu dipahami oleh manusia dari berbagai kebudayaan melalui sinema. 

catatan kaki:


[i] Jawa yang dimaksud di sini adalah pulau Jawa terutama yang penduduknya menggunakan Bahasa Jawa.

[ii] Selama perang terjadi, 200.000 penduduk Jawa tewas, dan dua juta (separuh total penduduk) Jawa Tengah dan Jawa Timur terdampak Perang. Sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi. (M.C Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta: Serambi, 257)

[iii] Ronggowarsito yang dimaksud disini adalah Raden Ng. Ronggowarsito III yang semasa kecil bernama Bagus Burhan, Kakek buyutnya adalah Yosodipuro 1 (1729-1803), Kakeknya adalah Yosodipuro II (meninggal 1844) yang juga menggunakan gelar Ronggowarsito I, lalu bapaknya RM. Ng Panjangswara yang menggunakan gelar Ronggowarsito II. Sejatinya Ronggowarsito adalah gelar dari Kasunanan Surakarta untuk pujangga keraton. Selanjutnya hanya digunakan Ronggowarsito.

[iv] Mangkunegoro IV bertahta 1853-1881, semasa kecil bernama Raden Mas Sudiro, setelah diangkat menjadi Pangeran namanya berubah menjadi KPH Gandakusumo.

[v] Pada 2012, lukisan ini dipamerkan pada pameran monograf bertajuk “Raden Saleh, Pelopor seni lukis Indonesia”. Tetapi saat ini (2020) lukisan ini disaksikan keasliannya karena tidak adanya paraf Raden Saleh pada lukisan. Werner Kraus selaku kurator pada pameran tersebut, meralat keterangan tentang subyek lukisan “Saya yakin lukisan tersebut adalah lukisan Raden Saleh, tetapi saya tidak yakin bahwa subjek dalam lukisan tersebut adalah adik perempuan Ranggawarsita, ketika lukisan itu pertama kali saya lihat seseorang mengatakan bahwa itu saudara perempuan Ronggowarsito, Raden Ayu Muning Kasari (Werner Kraus, Wawancara, 19 April 2024) .

Penulis ditunjukkan foto dari lukisan tersebut sebelum di restorasi, kain beludru yang dipakai subyek lukisan begitu detail, sementara lukisan hasil restorasi merusak detail keindahan tersebut.

Manusia dan Waktu

Manusia Jawa, seperti dalam kebudayaan yang lain, memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat waktu. Waktu dipandang dari kelahiran hingga wafat.

Manusia dan Waktu

Bagaimana manusia memandang waktu? salah satunya dengan sudut pandang berikut:

Manusia Jawa, seperti dalam kebudayaan yang lain, memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat waktu. Waktu dipandang dari kelahiran hingga wafat.

Lahir-Hidup-Mati.

 

Pada masa lampau, dan sebagian manusia Jawa kini menandai hari mereka dengan istilah “weton” atau “wiyos”, yang arti harafiahnya berarti “keluar”, “metu”. Saat lahir ini, manusia Jawa akan ditandai mulai dari awan/bengi, saptawara, pasaran, wuku, hingga putaran windu.

Nah! atas dasar penanda kelahiran tersebut, maka penting sekali bagi orang Jawa ketika hari lahir dan deretannya itu kembali ke titik awalnya, satu kali siklus.

 

Biar ndak rumit, contohnya begini:

Orang yang lahir 1 Maret 1993, atau Sênèn Wage 7 Pasa Jimawal AJ 1925, măngsa Kasanga, Wuku Măndhasiya, Windu Sancaya. — Oerhatikan hari, bulan, mangsa/masa, wuku, dan windu-nya.

Maka ia akan mencapai Tumbuk Alit pada Senin 18 Maret 2024 M, Sênèn Wage 7 Pasa Jimawal AJ 1957 măngsa Kasanga, Wuku Măndhasiya, Windu. —Pada hari dalam satu siklus penanggalan Jawa. Ya kira-kira, orang itu berusia 31 tahun. Ia akan bertemu siklusnya lagi, 31 tahun kemudian.

Sederhananya Weton (0 tahun), Tumbuk Alit (31 tahun), Tumbuk Ageng (62 tahun), Adi Yuswa (93 tahun), dst hingga wafat.

Masa Wiyos- Tumbuk Alit dimaknai orang Jawa sebagai masa berproses, bertumbuh dan berkembang, belajar, melakukan pengembaraan, mencari ilmu, mengolah raga dan menemukan pola-pola pilihan.

Masa Tumbuk Alit hingga Tumbuk Ageng adalah masa pencapaian. Pada fase ini manusia Jawa akan berkarya, membangun karier, mencapai puncak-puncak duniawi, membangun kelurga, dan bertanggungjawab penuh atas pilihan-pilihan hidupnya.

Setelah Tumbuk Ageng, manusia Jawa cenderung akan mundur dari rutinitas duniawimengolah batin, menulis memoar. Pada masa lampau, fase ini banyak bangsawan yang menepi ke pesisir, pegunungan, dan ruang-ruang sepi, untuk mengolah rasa, pun sesekali memberi advice.

Pada masa kini jarang sekali manusia Jawa yang menyentuh Adi Yuswa, “kelahiran ketiganya” di dunia dalam siklus penanggalan Jawa. Pada masa lampau, orang yang mencapai derajat ini akan disebut Buyut atau Penembahan. Orang-orang yang sudah mapan dengan ruang spiritualitasnya. 

Masa Adi Yuswa, di masa lampau orang akan lebih banyak bermeditasi dan meninggal dengan tenang. Tentu penanda seperti ini hari ini dianggap sebagai satu simplifikasi, karena jalan hidup manusia begitu kompleks dan punya karakteristik pola sendiri. Paling tidak, setidaknya bagi sebagian manusia Jawa, penanda-penanda ini menjadi penting untuk mengukur diri, menandai proses diri, dan mengakhiri kisah diri pribadi dengan baik.

Apakah kawan-kawan Srddha masih mengenal pola marking ini? atau kawan-kawan punya pola penanda waktu tersendiri? selamat berakhir pekan. rdr

 #ayosinaumaneh

Aksara ꦯ akan dibaca seperti apa?

Aksara ꦯ ini dikenal sebagai aksara Murda Sa, sebagai huruf kapital penyebutan nama tertentu dalam Paugeran Sriwedari. Tetapi, aksara ini juga dikenal untuk menggantikan ś atau sy atau ç dalam paugeranMardikawi, sebuah pengaturan peraturan untuk menulis bahasa Jawa Kuna dengan menggunakan aksara Jawa Baru.

Aksara ꦯ akan dibaca seperti apa?

Pada hari yang panas ini, mimin mendapat pertanyaan dari kawan-kawan soal penggunaan aksara Murda dan atau Mahaprana ini.

Tentu perdebatan ini perkara dialog memperebutkan kebenaran pembacaan aksara ini dari salah satu grup guru bahasa Jawa.

Nah! pada umumnya, aksara ꦯ ini dikenal sebagai aksara Murda Sa, sebagai huruf kapital penyebutan nama tertentu dalam Paugeran Sriwedari. Tetapi, aksara ini juga dikenal untuk menggantikan ś atau sy atau ç dalam paugeranMardikawi,Sebuah pengaturan peraturan untuk menulis bahasa Jawa Kuna dengan menggunakan aksara Jawa Baru.

Tentu kedua sah-sah saja digunakan dengan pertimbangan teks apa yang kita baca. Semisal, dalam Serat Wretasancaya (gambar 1) koleksi Museum Radya Pustaka, pada teks “Sang Hyang Wāgīҫwarīndah”, aksara ꦯ sebaiknya dibaca sebagai sy atau ç, agar kemudian pembaca awam dapat memahaminya lebih lanjut. 

Sedangkan pada teks yang lain, seperti Serat Prajangjen Dalem Nata (gambar 2), aksara ꦯ sebaiknya tetap dibaca sebagai Sa biasa, pengunaan aksara tersebut digunakan untuk penghormatan kepada nama Raja di Kraton Surakarta.

Yuk sudah perdebatan! toh keduanya juga bisa digunakan dalam teks dan konteks tertentu. Keduanya juga termaktub dalam manuskrip-manuskrip karya leluhur kita.

#ayosinaumaneh

Centhini Sekali Lagi!

Centhini adalah karya sastra yang diprakarsai oleh Amangkunagara III, putra Sunan Pakubuwono IV di Kraton Surakarta. Karya ini memuat semua pengetahuan Jawa pada abad XIX. 

Centhini Sekali Lagi!

Apa yang kawan-kawan ketahui jika mendengar kata Centhini?
Centhini adalah karya sastra yang diprakarsai oleh Amangkunagara III, putra Sunan Pakubuwono IV di Kraton Surakarta. Karya ini memuat semua pengetahuan Jawa pada abad XIX. 

Radya Pustaka dan Centhini 

Sejak tahun 2015 museum Radya Pustaka memulai diskusi Centhini dari berbagai sisi. Tahun ini, 2023, museum Radya Pustaka kembali menggelar Festival Centhini. Pameran imersif ini diramaikan dengan Art Market & Culinary Classic Centhini, Gamelan Ageng Radya Pustaka, Workshop, Fashion Show, Cameron Imersifa Centhini, Shadow Batik Perform, Jazz In The Museum, Performing Art of Centhini, Live Music, dan Talkshow Pawukon Jawa.

Komunikasi Politik Jawa

Kompleksitas bahasa membuat keniscayaan batasan lawan bicara, setiap politisi ulung di Jawa memakai bahasa pada levelnya masing-masing. Fenomena ini membuat keniscayaan derajat bahasa membatasi oleh dan kepada siapa pesan itu disampaikan.

Komunikasi Politik Jawa

Kompleksitas bahasa membuat keniscayaan batasan lawan bicara, setiap politisi ulung di Jawa memakai bahasa pada levelnya masing-masing. Fenomena ini membuat keniscayaan derajat bahasa membatasi oleh dan kepada siapa pesan itu disampaikan. 

Dalam masyarakat Jawa dikenal istilah “dhupak bujang”, “èsěm mantri”, “sěmu bupati”, dan “sasmita ratu”. Empat klaster derajat bahasa politik yang kadang-kadang makna leksikal-nya berbeda sama sekali. Sebenarnya, masyarakat Jawa mulai berlatih sejak dini dengan “cangkriman” dan “bebasan”.

Dewasa ini, secara kebetulan jumlah penduduk pulau Jawa yang masih dominan, pun juga bangsa Jawa masih menempati populasi terbesar dalam negara ini, maka sesekali kita melihat fenomena penggunaan derajat bahasa dalam komunikasi politik Jawa muncul di media digital skala nasional. Semisal menu-menu apa saja yang disajikan di meja makan para penguasa dan atau diksi-diksi bahasa Jawa, dan seterusnya. 

Yang bisa membaca akan punya daya langkah, yang tak bisa makin mudah terbawa arus. 

Misteri Aksara Rě dan Lě

Setidaknya sejak sebelum sekolah, ketika saya mulai mengenal aksara Jawa baru selalu bertanya, mengapa aksara “rĕ” ditulis dengan “pa cěrěk” pun juga “lě” ditulis dengan “nga lělět”? Jawabannya tidak mudah bukan?

Misteri Aksara Rě dan Lě:

oleh Rendra Agusta

Setidaknya sejak sebelum sekolah, ketika saya mulai mengenal aksara Jawa baru selalu bertanya, mengapa aksara “rĕ” ditulis dengan “pa cěrěk” pun juga “lě” ditulis dengan “nga lělět”? Jawabannya tidak mudah bukan?

Beberapa hari lalu, soal “rě” dan “lě” ini kembali menjadi bahasan perdebatan di sosial media. — Salah satu pendapat tentu lahir dari bapak Wijotoharjo, redaktur majalah Panjebar Semangat. Bahwa “ra” adalah rasa, yang tidak boleh di‐”pěpět” atau ditutupi. Sedangkan pendapat lain, “la” berarti “lawang” yang berarti pintu. Pendapat ini saya pikir lahir lebih lama dari paparan pak Wijoto karena sebagian komunitas juga memiliki pendapat yang sama.

Temuan

Upaya pencarian itu mungkin sudah banyak dicoba oleh para paleograf. Setidaknya, ketika saya mencoba mencarinya dalam dokumen digital Kern Institute, jelas sekali ditemukan penggunaan rě dengan dua versi yang sekarang dipertentangkan akan standarisasi penulisan. Faktanya justru kita menemukan kedua penggunaan “ra dipěpět” dan “pa cěrěk” juga.

Sekali lagi, data di masa lampau, memberi kita gambaran bahwa konsesi penulisan aksara Jawa bisa saja sesuai, ada juga varian, pun kesalahan. Ketiganya hadir dalam kajian-kajian kita hari ini.

Apakah masih mau berdebat? Atau sekedar bersandar pada “jarene“? Saya suka kawan-kawan tak percaya dengan data ini agar kawan-kawan mau mencarinya sendiri. Selamat berburu di data digital, bandingkan prasasti dan manuskrip, maka kita akan menemukan keduanya. 🔥

Manuskrip dari Ponorogo

Beberapa waktu lalu mimin mendapat kiriman sepotong foto manuskrip dari Ponorogo, kota ki cantrik Franky Crissz Sampai hari ini belum diketahui keberadaan pasti di mana dan siapa pemilik manuskrip ini. Namun, tentu fenomena dunia digital hari ini menjadi menarik bukan, adanya informasi-informasi baru menyoal manuskrip-manuskrip kita.

Manuskrip di Dunia Maya

Beberapa waktu lalu mimin mendapat kiriman sepotong foto manuskrip dari Ponorogo, kota ki cantrik Franky Crissz Sampai hari ini belum diketahui keberadaan pasti di mana dan siapa pemilik manuskrip ini. Namun, tentu fenomena dunia digital hari ini menjadi menarik bukan, adanya informasi-informasi baru menyoal manuskrip-manuskrip kita.

Nah, pembacaan awal datang dari Mas Alfan Muhyar Faza, cantrik istimewa dari Bumiayu.

“lan iya iku ingaranan lunga kalilun wakhid lan têgêse ingkang ngandika iku ingkang (kêrsa ?) lan trêp ing lunga kalilun wakhid”

Dari sepotong pembacaan tersebut, agaknya kita tahu bahwa manuskrip tersebut merupakan bagian dari Ilmu Hikmah. Menarik bukan?

Foto Manuskrip dari Ponorogo