Kali ini Mindha Sraddhasala sowan dan sambang sedulur di STAHN Jawa Dwipa, satu-satunya perguruan tinggi negeri agama Hindu di wilayah Jawa Tengah. Dalam program kelas publik “Pantang Melupakan Leluhur” yang digagas UKM Penalaran STAHN Jawa Dwipa, kami diundang untuk mengisi salah satu sesi kelasnya. Mas Kang Rendra Agusta menyampaikan materi Masyarakat Pegunungan Jawa XV-XVII melalui data-data arsip, manuskrip, prasasti dan tinggalan arkeologia yang ada.
Sejalan dengan program studi kampus ini yang lekat dengan pengajaran agama Hindu, data-data masyarakat pegunungan ini menjadi sumber inspirasi yang penting untuk dikembangkan di masa mendatang.
Mengenal leluhur kita, tentu juga upaya-upaya mengenal jati diri kita. Sampai jumpa di kampus-kampus yang lain. #ayosinaumaneh
Category: kegiatan
Kelas Pos-pos #2
Pada mulanya, negara, kraton, kasultanan adalah fiksi. Hanya hidup dalam gagasan para pemikirnya. Karena fiksi, maka setelah berbagai konsesi, harus ada yang merawat dan menghidupinya, ketika gagasan-gagasan itu menjadi nyata.
Kelas ini disusun kembali melihat bentuk negara dan pemerintahan, seluruh maupun sebagian Indonesia kini, dari masa ke masa. Secara temporal kelas ini akan terbagi menjadi empat babak yakni masa persentuhan nusantara dengan Tionghoa dan India, masa pertemuan dengan “barat”, era kemerdekaan, dan relasi global pasca-negara Indonesia terbentuk.
Serat Tatacara Sukowati
Bulan Sura tahun 1857 Jawa atau Agustus 1926 Masehi, Bupati Sragen, K.R.M.T Panji Sumanagara rampung menulis serat Tatacara Mantu ing Sukawati Digunakan untuk bahan ajar A.M.S (Algemeene Middelbare School Surakarta, atas saran Dr. Pigeaud. Manuskrip asli tulisan tangan ini kemudian disimpan di Perpustakaan Universitas Indonesia. September 1926, tulisan ini kemudian diterbitkan di Majalah Pusaka Jawi dikelola Java Instituut .
Dalam serat tatacara Sukawati, diceritakan ada pernikahan keluarga Demang Kertayuda di Kademangan Singgih dan Lurah Kertayuda di desa Jati Tengah.
Tatacara mantu Sukawati, terdiri dari banyak rangkaian acara diantaranya adalah nyongkog, nontoni, ningseti, sadeyan dhawet, majang tarub, klothekan, nyantri, midodareni, sampai dengan panggih dan ngundhuh mantu.
Warisan Pengetahuan dari Desa-desa di Kaki Gunung
Road To Festival Lima Gunung XXIII, kami mengundang kawan-kawan hadir di Studio Mendut untuk merayakan kebudayaan masyarakat pegunungan Jawa bagian Tengah.
Sraddhasala akan turut meramaikan diskusi menyoal rekam seni dalam naskah-naskah Merbabu-Merapi, dan pewarisannya.
Selamat Hari Aksara Internasional
Kebaruan Data Epigrafi Jawa Tengah
Diskusi Epigrafi Khusus PAEI Komisariat Jawa Tengah secara langsung di ruang lt.1 FIB Universitas Diponegoro pukul 09.00-12.00 WIB yang akan dipantik oleh Mas Tri Subekso dan Mba Tyassanti Kusumo Dewanti. Acara ini akan dimoderatori oleh mba Atika Kurnia Putri.
Mencari Tuhan pada Masa Jawa Kuna
manuk asukha-sukhan muṅgwing pang rãmya masahuran kadi papupul i saṅ wriṅ tattwādhyātmika maceṅil —
burung-burung riang gembira di atas ranting pohon, ramai bersahutan seperti perdebatan para cendekiawan untuk mencari kebenaran esoteris (tattwādhyātmika), begitu tulis Pu Tan Akung dalam teks śiwarātrikalpa.
— bahwa kebenaran dicari melalui penelusuran teks, tentu juga mencakup studi filologi adalah bagian dari pencapaian Hyang Widdhi melalui jalan Tantra.
Panji Dalam Tradisi Sastra dan Ruang Arkeologis
Panji, yang juga menjadi sastra rakyat, turut hadir dalam dongeng, folklore, hingga seni pertunjukan. Dongeng popular yang memuat cerita Panji misalnya Andhe-Andhe Lumut, Keong Mas, Cindelaras Enthit, Arumsari, dan Brambang Bawang. Adapun folklore yang memuat cerita Panji misalnya folklore goa Selomangleng di Kediri, Sedangkan Panji dalam seni pertunjukan bisa dilihat dalam wayang gedhog, wayang beber, dan tari topeng. Naskah-naskah Panji juga tersimpan di pelbagai penyimpanan naskah-naskah di luar negeri.
Membincang Raden Saleh: Menghormati Tuhan Mencintai Manusia
Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya.
