Kuliah Publik di STHAN Jawa Dwipa Klaten

Kali ini Mindha Sraddhasala sowan dan sambang sedulur di STAHN Jawa Dwipa, satu-satunya perguruan tinggi negeri agama Hindu di wilayah Jawa Tengah. Dalam program kelas publik “Pantang Melupakan Leluhur” yang digagas UKM Penalaran STAHN Jawa Dwipa, kami diundang untuk mengisi salah satu sesi kelasnya. Mas Kang Rendra Agusta menyampaikan materi Masyarakat Pegunungan Jawa XV-XVII melalui data-data arsip, manuskrip, prasasti dan tinggalan arkeologia yang ada.
Sejalan dengan program studi kampus ini yang lekat dengan pengajaran agama Hindu, data-data masyarakat pegunungan ini menjadi sumber inspirasi yang penting untuk dikembangkan di masa mendatang.
Mengenal leluhur kita, tentu juga upaya-upaya mengenal jati diri kita. Sampai jumpa di kampus-kampus yang lain. #ayosinaumaneh

Kelas Pos-pos #2

Pada mulanya, negara, kraton, kasultanan adalah fiksi. Hanya hidup dalam gagasan para pemikirnya. Karena fiksi, maka setelah berbagai konsesi, harus ada yang merawat dan menghidupinya, ketika gagasan-gagasan itu menjadi nyata.

Kelas ini disusun kembali melihat bentuk negara dan pemerintahan, seluruh maupun sebagian Indonesia kini, dari masa ke masa. Secara temporal kelas ini akan terbagi menjadi empat babak yakni masa persentuhan nusantara dengan Tionghoa dan India, masa pertemuan dengan “barat”, era kemerdekaan, dan relasi global pasca-negara Indonesia terbentuk.

Kelas Pos-pos #2

Pada mulanya, negara, kraton, kasultanan adalah fiksi. Hanya hidup dalam gagasan para pemikirnya. Karena fiksi, maka setelah berbagai konsesi, harus ada yang merawat dan menghidupinya, ketika gagasan-gagasan itu menjadi nyata.

Kelas ini disusun kembali melihat bentuk negara dan pemerintahan, seluruh maupun sebagian Indonesia kini, dari masa ke masa. Secara temporal kelas ini akan terbagi menjadi empat babak yakni masa persentuhan nusantara dengan Tionghoa dan India, masa pertemuan dengan “barat”, era kemerdekaan, dan relasi global pasca-negara Indonesia terbentuk.

Kami mengundang kawan-kawan untuk bergabung sebagai peserta kelas dengan mengirimkan esai terbaikmu. Peserta yang terpilih akan diinkubasi selama tiga hari dan ditanggung akomodasi makan dan penginapan selama kelas berlangsung. Kami menunggu kehadiran kawan-kawan semua.

Kegiatan ini didukung penuh oleh Sraddha Institute Surakarta, Penerbit Selaklali, Komunitas Srawung Aji dan Podcast Ngglithuk.

Link pendaftaran:

https://tinyurl.com/KelasPosPos2 

Serat Tatacara Sukowati

Bulan Sura tahun 1857 Jawa atau Agustus 1926 Masehi, Bupati Sragen, K.R.M.T Panji Sumanagara rampung menulis serat Tatacara Mantu ing Sukawati Digunakan untuk bahan ajar A.M.S (Algemeene Middelbare School Surakarta, atas saran Dr. Pigeaud. Manuskrip asli tulisan tangan ini kemudian disimpan di Perpustakaan Universitas Indonesia. September 1926, tulisan ini kemudian diterbitkan di Majalah Pusaka Jawi dikelola Java Instituut .
Dalam serat tatacara Sukawati, diceritakan ada pernikahan keluarga Demang Kertayuda di Kademangan Singgih dan Lurah Kertayuda di desa Jati Tengah.

Tatacara mantu Sukawati, terdiri dari banyak rangkaian acara diantaranya adalah nyongkog, nontoni, ningseti, sadeyan dhawet, majang tarub, klothekan, nyantri, midodareni, sampai dengan panggih dan ngundhuh mantu.

Serat Tatacara Sukowati

Warisan Pengetahuan dari Desa-desa di Kaki Gunung

Road To Festival Lima Gunung XXIII, kami mengundang kawan-kawan hadir di Studio Mendut untuk merayakan kebudayaan masyarakat pegunungan Jawa bagian Tengah.
Sraddhasala akan turut meramaikan diskusi menyoal rekam seni dalam naskah-naskah Merbabu-Merapi, dan pewarisannya.

Desa-desa Skriptoria dan Festival Lima Gunung

Dalam rangka Road To Festival Lima Gunung XXIII, kawan-kawan Sraddha turut ke Studio Mendut untuk merayakan kebudayaan masyarakat pegunungan Jawa bagian Tengah.  Sraddha Institute akan turut meramaikan diskusi menyoal rekam seni dalam naskah-naskah Merbabu-Merapi, dan pewarisannya. 

Diskusi kali ini bersama Kang Rendra Agusta (Sraddha Institute Surakarta), Dr. Sudibyo Prawirotmodjo (FIB UGM) dan Pak Ismanto (Komunitas Lima Gunung). Jalannya acara dimoderatori oleh mbak Novian (Sedalu Art Boyolali). Diskusi ini penting untuk mengingat kembali desa-desa yang menjadi lokasi penulisan naskah-naskah Merapi-Merbabu abad XV-XVII. Desa-desa tersebut adalah desa-desa yang secara berkala menjadi lokasi Festival Lima Gunung dari tahun ke tahun.

Selamat Hari Aksara Internasional

Selamat hari Aksara Internasional

Jelang peringatan hari aksara Internasional, kawan-kawan pegiat aksara bertemu dalam program Temu Aksara di Lifepacth Yogyakarta. Acara ini merupakan titik temu beberapa komunitas pegiat aksara nusantara seperti Banyu Mangsi, Jagongan Naskah Nusantara, Jawacana, Kawan Pustaha, Komunitas kandang kebo, Lifepatch, Pecinta aksara Ulu, Sraddha institute dan Tridhatu. Dalam Temu Aksara ini, kawan-kawan berdiskusi, mengenal kembali program-program komunitas, dan merumuskan manifesto pegiat aksara nusantara. 

Kebaruan Data Epigrafi Jawa Tengah

Diskusi Epigrafi Khusus PAEI Komisariat Jawa Tengah secara langsung di ruang lt.1 FIB Universitas Diponegoro pukul 09.00-12.00 WIB yang akan dipantik oleh Mas Tri Subekso dan Mba Tyassanti Kusumo Dewanti. Acara ini akan dimoderatori oleh mba Atika Kurnia Putri.

Kebaruan-kebaruan Data Epigrafi Jawa Tengah

Diskusi Epigrafi Khusus Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) Komisariat Jawa Tengah di ruang lt.1 FIB Universitas Diponegoro pukul 09.00-12.00 WIB yang akan dipantik oleh Mas Tri Subekso dan Mba Tyassanti Kusumo Dewanti dimoderatori oleh mba Atika Kurnia Putri.

Tata Kelola Pamer (display) melewati serangkaian proses dari pemilihan benda dari tempat penyimpanan (storage) hingga pertimbangan teknis yang memungkinkan keterbacaan dan atau ketertangkapan mata. Pertimbangan-pertimbangan itu juga terjadi pada proses pemajangan prasasti di museum dan atau ruang pajang temporer yang lain.

Kedua, prasasti juga sangat lekat dengan temuan-temuan arkeologis yang lain pada masa klasik di Jawa bagian Tengah. Prasasti memberi petunjuk penting untuk memberi penanggalan pada kompleks temuan arkeologi yang dimungkinkan terkait atau masih menjadi satu bagian dari temuan kompleks secara in-situ.

Mencari Tuhan pada Masa Jawa Kuna

manuk asukha-sukhan muṅgwing pang rãmya masahuran kadi papupul i saṅ wriṅ tattwādhyātmika maceṅil —
burung-burung riang gembira di atas ranting pohon, ramai bersahutan seperti perdebatan para cendekiawan untuk mencari kebenaran esoteris (tattwādhyātmika), begitu tulis Pu Tan Akung dalam teks śiwarātrikalpa.
— bahwa kebenaran dicari melalui penelusuran teks, tentu juga mencakup studi filologi adalah bagian dari pencapaian Hyang Widdhi melalui jalan Tantra.

Mencari Tuhan pada Masa Jawa Kuna

manuk asukha-sukhan muṅgwing pang rāmya masahuran kadi papupul i saṅ wriṅ tattwādhyātmika maceṅil — 

burung-burung riang gembira di atas ranting pohon, ramai bersahutan seperti perdebatan para cendekiawan untuk mencari kebenaran esoteris (tattwādhyātmika), begitu tulis Pu Tan Akung dalam teks śiwarātrikalpa. 

— bahwa kebenaran dicari melalui penelusuran teks, tentu juga mencakup studi filologi adalah bagian dari pencapaian Hyang Widdhi melalui jalan Tantra. 

Malam yang bahagia dalam program #Wruh Jawacana  ke delapan, saya dijawil mas Paksi Raras Alit  untuk menjadi pemantik bersama pak Sugi Lanus. Tentu, saya langsung “Yes! Gas!”, satu kebahagiaan tersendiri bisa menjadi pendamping beliau adalah guru saya menyoal tradisi Kawi yang berkembang di Bali utamanya.Wujud śisyabhakti ini diwujudkan dalam diskusi yang menarik menyoal “Tuhan dalam masyarakat Jawa Kuna”.

Diskusi makin menarik karena sebagian besar bukan pemeluk Siwa dan Buddha, pun juga bukan peneliti budaya Kawi pada masa lampau. — lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan yang menarik, seperti salah paham soal Tantra dalam opini publik, keberadaan hyang Taya yang dihadirkan secara serampangan dan ahistoris, simplifikasi kaum akademik terhadap ruang teologis Jawa Kuna dan berbagai pertanyaan lain yang sangat menarik.

Lalu pak Sugi Lanus hanya memberi gambaran mencapai ketuhanan dalam Jawa Kuna, ada dua jalan yang bisa ditempuh dalam mencapai “sakalaning niskala”, jalan sunyi atau jalan ramai — diskusi ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan yanf makin panjang. 

Semoga segala yang baik berbiak 🙏 Nantikan program Wruh selanjutnya ya kawan-kawan. rdr #ayosinaumaneh

Panji Dalam Tradisi Sastra dan Ruang Arkeologis

Panji, yang juga menjadi sastra rakyat, turut hadir dalam dongeng, folklore, hingga seni pertunjukan. Dongeng popular yang memuat cerita Panji misalnya Andhe-Andhe Lumut, Keong Mas, Cindelaras Enthit, Arumsari, dan Brambang Bawang. Adapun folklore yang memuat cerita Panji misalnya folklore goa Selomangleng di Kediri, Sedangkan Panji dalam seni pertunjukan bisa dilihat dalam wayang gedhog, wayang beber, dan tari topeng. Naskah-naskah Panji juga tersimpan di pelbagai penyimpanan naskah-naskah di luar negeri.

Panji dalam Tradisi Sastra dan Ruang Arkeologis

Dalam seri diskusi naskah nusantara #42 yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan Komunitas Sraddha Sala kali ini membahas Panji. Cantrik Sraddha Sala, Kukuh S. Widodo membahas Panji dalam tradisi kesusastraan Jawa dan Naskah-naskah kuno Panji dalam Tradisi Jawa di berbagai belahan dunia.Cerita Panji tidak lepas dari tradisi-tradisi sastra yang tumbuh di Nusantara, terlebih dalam tradisi sastra Jawa. Cerita Panji yang banyak termaktub dalam naskah-naskah kuno juga turut mengelana di berbagai belahan dunia. Pada masa Jawa Baru, Era Keraton Mataram Islam, Cerita Panji masuk ke dalam teks Pustaka Raja, yakni Pustaka Raja Puwara. Pembagiannya yakni Pustaka Raja Purwa, Pustaka Raja Madya, dan Pustaka Raja Puwara. Ada versi yang menyebutkan bahwa cerita Panji masuk ke dalam Pustaka Raja Antara. Hal ini didasarkan dari naskah Serat Pakem Pustaka Raja Antara di Mangkunegaran. Cerita Panji turut menjadi pewaris pemerintahan di Jawa menurut Babad Tanah Jawi. Tradisi cerita Panji di Jawa: Tengahan, Pesisiran, Kraton Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Pakualaman. Panji juga berkembang ke Tradisi Lisan atau yang kita kenal dengan Folklor Panji: Ande-ande lumut, keong mas, brambang bawang. 

Menurut Ismail Lutfi, cerita Panji adalah salah satu cerita khas Nusantara yang berkembang pesat pada masa akhir Majapahit. Cerita Panji kemudian berkembang sampai pada masa-masa yang lebih muda, baik dalam tradisi sastra, seni rupa maupun seni pertunjukkan. Cerita Panji juga berkembang di seluruh Asia Tenggara seperti rumpun kebudayaan Melayu dan Thailand. Pada tradisi formal Jawa Kuna, (m)apanji berarti memiliki atau menggunakan panji tertentu. Dalam berbagai Prasasti awalnya (m)apanji adalah sebutan kebangsawanan atau tokoh spiritual. Pada tradisi sastra panji, apanji maupun mapanji merupakan sebutan untuk anggota keluarga bangsawan. Kisah Panji artinya kisah tentang orang muda dari kalangan kraton.

Panji, yang juga menjadi sastra rakyat, turut hadir dalam dongeng, folklore, hingga seni pertunjukan. Dongeng popular yang memuat cerita Panji misalnya Andhe-Andhe Lumut, Keong Mas, Cindelaras Enthit, Arumsari, dan Brambang Bawang. Adapun folklore yang memuat cerita Panji misalnya folklore goa Selomangleng di Kediri, Sedangkan Panji dalam seni pertunjukan bisa dilihat dalam wayang gedhog, wayang beber, dan tari topeng. Naskah-naskah Panji juga tersimpan di pelbagai penyimpanan naskah-naskah di luar negeri.

Membincang Raden Saleh: Menghormati Tuhan Mencintai Manusia

Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya.

Membaca Ulang Raden Saleh

Membincang Raden Saleh bersama Dr. Werner Kraus

Raden Saleh Syarif Bustaman dikenal sebagai seorang pionir seni rupa modern di Indonesia (Hindia Belanda). Ia lahir di kalangan Arab-Jawa, putra dari Sayyid Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya. Semasa kecil ia tinggal bersama pamannya, Sura Adimenggala, Bupati Semarang yang berkedudukan di Terboyo. Kemudian ia belajar melukis di Cianjur bersama Theodorus Bik dan Antoine Auguste J. Payen. Pada usia delapan belas tahun, kemudian ia melakukan perjalanan ke Belanda, belajar melukis. Setelah itu, Saleh tinggal di Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Tahun 1851, Raden Saleh kembali ke Jawa, bekerja sebagai konservator lukisan pada pemerintah kolonial. Selain itu Raden Saleh juga melakukan perjalanan “pulang” ke Jawa. Menemui keluarganya di Semarang dan Salatiga, melukis Sultan Hamengkubuwono VI, melukis penangkapan Diponegoro,  melakukan pendakian gunung Merapi, mencari fosil dan mengkoleksi manuskrip Jawa. Raden Saleh juga mempunyai dua kali pernikahan, satu dengan orang Eropa – Nyonya Constancia Winckelhaagen, satunya dengan orang Jawa. Hidup dalam pelbagai lintasan ini tentu tidak mudah dalam diri Raden Saleh. Orang yang “sangat maju” dalam pemikiran, tetapi ia terjebak di dalam kondisi Jawa yang saat itu kurang menguntungkan bagi orang berkulit “Sawo Matang”. Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya. Selain itu, diskusi ini juga akan membahas pergolakan ruang seni pada masa akhir pemerintahan Belanda dan Masa Revolusi.

Diskusi dibuka dengan pemutaran film animasi Diponegoro 1830 karya Subiyanto, sebuah karya yang diinisiasi berbasis alih wahana lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh. Selanjutnya, Werner Kraus, Kurator dan akademisi asal Jerman ini telah lebih dari 20 tahun mempelajari dan meneliti karya-karya Raden Saleh. Salah satu karya yang pentingnya adalah buku “Raden Saleh, Kehidupan dan karyanya” yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia tahun 2018. Membincang Pengaruh lintasan keluarga Arab-Jawa, tinggal di antara Jawa dan Eropa, dalam kehidupan dan kekaryaan Raden Saleh. Selain itu, Rendra Agusta, salah satu peneliti manuskrip Sraddha Institute memberi catatan awal tentang lukisan dari Babad Pesanggrahan-Pesanggrahan Kraton Surakarta Abad XIX-XX. Diskusi dilanjutkan paparan Fatih Abdulbari mengenai perubahan dan gaya seni lukis pada masa Revolusi kemerdekaan Indonesia. 

Bagian akhir dari diskusi yang menarik adalah ketika pak Werner Kraus mengajak kita berefleksi tentang lukisan “Banjir di Jawa” — dari lukisan tersebut, Raden Saleh membuat satu pameran yang digunakan sebagai bagian galang dana untuk bencana banjir di Banyumas. Selain itu, lukisan ini juga mengisahkan ketika ada bencana melanda tanah air, maka hanya diri kitalah yang bisa menyelamatkan dan mengupayakan keselamatan diri — bukan para penguasa yang nun jauh di Belanda sana. Tentu hal ini menjadi satu refleksi, terlepas dari aturan-aturan keindahan seni lukis yang anatomik, penuh dengan eksplorasi warna, ada satu hal yang penting direnungkan, “bagaimana peran seni umat manusia untuk rasa kemanusiaan?”. Ayo sinau maneh!rdr

Workshop Aksara Kawi di Hari Amal Bakti

Workshop Aksara Kawi di Hari Amal Bakti

Dalam rangka Hari Amal Bakti ke 78, Kawi Society mengadakan workshop Aksara Kawi. Peringatan HAB ini berlangsung di Jakarta Convention Center tanggal pada tanggal 5-7 Januari 2023. Binmas Hindu Kementrian Agama RI, memamerkan beberapa hasil riset, produk terapan, Yoga massal, penampilan seni pertunjukan, dan workshop. 
 
Dalam acara ini, Kawi Society menggelar Workshop Aksara Kawi dan turunnnya yang diikuti banyak peserta dari berbagai kalangan. Acara workshop dipandegani oleh Rendra Agusta dari Sraddha Sala dan Gunayasa dari Universitas Udayana. Keduanya merupakan anggota aktif Kawi Society, sebuah komunitas yang fokus pada kajian Budaya Kawi. Workshop berlangsung dengan menyenangkan sembari diskusi-diskusi dan membaca lontar.