Kelas Pos-pos #2

Pada mulanya, negara, kraton, kasultanan adalah fiksi. Hanya hidup dalam gagasan para pemikirnya. Karena fiksi, maka setelah berbagai konsesi, harus ada yang merawat dan menghidupinya, ketika gagasan-gagasan itu menjadi nyata.

Kelas ini disusun kembali melihat bentuk negara dan pemerintahan, seluruh maupun sebagian Indonesia kini, dari masa ke masa. Secara temporal kelas ini akan terbagi menjadi empat babak yakni masa persentuhan nusantara dengan Tionghoa dan India, masa pertemuan dengan “barat”, era kemerdekaan, dan relasi global pasca-negara Indonesia terbentuk.

Kelas Pos-pos #2

Pada mulanya, negara, kraton, kasultanan adalah fiksi. Hanya hidup dalam gagasan para pemikirnya. Karena fiksi, maka setelah berbagai konsesi, harus ada yang merawat dan menghidupinya, ketika gagasan-gagasan itu menjadi nyata.

Kelas ini disusun kembali melihat bentuk negara dan pemerintahan, seluruh maupun sebagian Indonesia kini, dari masa ke masa. Secara temporal kelas ini akan terbagi menjadi empat babak yakni masa persentuhan nusantara dengan Tionghoa dan India, masa pertemuan dengan “barat”, era kemerdekaan, dan relasi global pasca-negara Indonesia terbentuk.

Kami mengundang kawan-kawan untuk bergabung sebagai peserta kelas dengan mengirimkan esai terbaikmu. Peserta yang terpilih akan diinkubasi selama tiga hari dan ditanggung akomodasi makan dan penginapan selama kelas berlangsung. Kami menunggu kehadiran kawan-kawan semua.

Kegiatan ini didukung penuh oleh Sraddha Institute Surakarta, Penerbit Selaklali, Komunitas Srawung Aji dan Podcast Ngglithuk.

Link pendaftaran:

https://tinyurl.com/KelasPosPos2 

Kelas Pos-pos

Sraddha Institute Surakarta akan menggelar Kelas Pos-pos untuk mengajak kalian semua berpikir ulang terhadap apa yang telah baku. Memikirkan kembali wacana kritis agar nalar tidak beku, serta menimbang ulang kedirian kita terhadap peristiwa dan beragam fenomena. Kelas ini akan digelar pada tanggal 20-21 Juli 2024. Mari bergabung.

Program Sorasem #1 Kelas Pos-Pos

Kelas Delapan

Kelas Delapan


Kelas Delapan Sraddha Sala kali ini mengangkat tema “angka”. Sejak era Jawa Kuna, angka menempati posisi penting dalam dunia kebudayaan Jawa. Angka sebagai penanda temporal yang penting untuk menjadi “panjangka” kebudayaan Jawa hari-hari ke depan. Kelas ini akan membincang bagian kecil dari penggunaan angka di Jawa, yakni Sengkalan. Kelas ini akan dilaksanakan setiap Minggu pukul 09.30-12.00 di Museum Radya Pustaka Surakarta.

 

Kelas Jawa Kuna Palawa UNS 2020

Salah satu rangkaian dalam acara Palawa 2020 kali ini adalah diadakannya berbagai kelas yang bertajuk Sinau Bareng Jawa Kuna yang membahas mengenai Jawa Kuna baik dari segi Jawa Kuna secara umum, bahasa, aksara, sastra, maupun kaitannya dengan ilmu disiplin yang lain.

Salah satu rangkaian dalam acara Palawa 2020 kali ini adalah diadakannya berbagai kelas yang bertajuk Sinau Bareng Jawa Kuna yang membahas mengenai Jawa Kuna baik dari segi Jawa Kuna secara umum, bahasa, aksara, sastra, maupun kaitannya dengan ilmu disiplin yang lain. Oleh karena itu HMP Pandawa berkolaborasi dengan Sraddha Institute mempersembahkan Sinau Bareng Jawa Kuna dengan tiga kali pertemuan.

Pertemuan Pertama bersama  Drs. Suparjo M. Hum terkait pembahasan  pengenalan Jawa Kuna secara umum. Kedua, Adi Wisnurutomo akan membahasa  Bahasa, Aksara, dan Sastra Jawa Kuna Lintas Masa Sabtu. Terakhir  Kang Rendra Agusta akan melakukan pembahasan Telaah Bahasa dan membaca Manuskrip.

Kelas Ketujuh

Kelas Ketujuh

Kelas ini dimulai awal Mei 2020 dan direncanakan sepuluh pertemuan melalui daring. Kelas ini diikuti oleh 50 peserta dari berbagai bidang keilmuan. Tema kali ini adalah kesusasteraan Jawa transisi, yakni kesusasteraan Jawa Kuna ke Jawa Baru. Salah satu naskah yang menjadi kajian bersama adalah Bratayuda Kawi dan Bratayuda Kawi Miring.

Bratayuda Kawi Miring No. CS7 (2.4) merupakan koleksi Perpustakaan Nasional RI — salah satu yang menarik dalah Maṅgěḥ sampun inaṣtwakěn śujana len dwija wara ṛsi saiwa sogata. Teks ini disalin dari babon karya Ranggawarsita di abad XIX, bahasa Jawa Kuna dalam teks ini mengalami beberapa pergeseran yang menarik diamati

#ayosinaumaneh

Kelas Lapangan Planggatan

Penutupan elas edisi kedua dengan tema Karya Sastra Jawa Kuna dan Ikonografi Candi-Candi di gunung Lawu Utara.

Kelas Lapangan Situs Palanggatan

Penutupan  Kelas edisi kedua dengan tema “Karya Sastra Jawa Kuna dan Ikonografi Candi-Candi di gunung Lawu Utara ” kali ini dipantik oleh Kang Rendra Agusta.  Selama dua hari satu malam, seluruh peserta melakukan ekplorasi di Situs Menggung, Situs Palanggatan, Candi Sukuh, Candi Cetho dan Candi Reca Kethek. Selain itu, beberpa manuskrip dan inkripsi pendukung juga ikut dibahas dalam kelas ini, seperti prasasti Sine, kakawin Sudamala, Kidung Tantri dan lain-lain.
Komunitas ini adalah salah satu “nggon srawung” semua masyarakat, baik akademisi di bidang kebudayaan maupun masyarakat umumnya. Hal ini juga terinspirasi dari buku Prof. Boechari yang menyatakan “Epigrafi, Arkelogi, Filologi dan Sejarah adalah empat ilmu serumpun”. Akhirnya terima kasih teman-teman yang sudah ikut edisi selama beberapa bulan ini, terlebih UPT Museum Kota Surakarta, Museum Radya Pustaka Surakarta, UNS, dan pihak-pihak pendukung acara ini.
Sampai ketemu di perjumpaan berikutnya. 

Kelas Tiga

Salah satu hal yang unik dan misterius dalam masa Jawa Kuna adalah Tradisi Penciptaan Karya Sastra dan Penggambaran Relief Candi
Karya sastra yang mungkin impor dari tradisi sastra India telah dikenal sejak masa Mataram, tetapi pada karya sastra lokal baru ditulis pada masa Tamwlang-Kahuripan hingga Masa Jenggala-Kadiri. Masa Singhasari mengalami penurunan dan puncak intensitas pada masa Majapahit.

Kelas Tiga

Salah satu hal yang unik dan misterius dalam masa Jawa Kuna adalah Tradisi Penciptaan Karya Sastra dan Penggambaran Relief Candi.Karya sastra yang mungkin impor dari tradisi sastra India telah dikenal sejak masa Mataram, tetapi pada karya sastra lokal baru ditulis pada masa Tamwlang-Kahuripan hingga Masa Jenggala-Kadiri. Masa Singhasari mengalami penurunan dan puncak intensitas pada masa Majapahit

Data Jawa Kuna menunjukan sekurangnya 23 jenis cerita yang terpahat pada bangunan Candi. Dari jumlah tersebut 10 diantaranya dipahatkan dilima candi msa Mataram yaitu 8 di Candi Budha dan 2 di Candi Siwa. Pada masa Tamwlang-Kahuripan hanya ada satu cerita yang terpahatkan di banguan keagamaan. Pada masa Janggala-Kadiri adalah masa “kering” dlm hal pembangunan bangunan peribadatan yang terbuat dari batu bata. Baru pada masa Singhasari sampai puncaknya di masa Majapahit banyak dijumpai relief ceritra baik dicandi Siwa ataupun Budha

Relief ceritra sepertinya tidak sepenuhnya memliki sumber tertulis. Dari 24 karya sastra pada masa Majapahit, hanya 6 tema yg dtmukan sebagai ceritera relief pada Candi (Arjunawiwaha, Kunjarakarna, Nawaruci, Partayajna, Sudamala, Sri Tanjung). Adakah kemungkinan bahwa tradisi pembuatan relief tidak berkembang atas dasar tradisi karya sastra, tetapi tradisi lisan yang diturunkan oleh generasi seterusnya.

Kelas Jawa Kuna Tiga akan segera dimulai. #ayosinaumaneh