Jalan Panjang Budaya Mataram Sokawati – Yogyakarta

Diskusi “Jalan Panjang Budaya Mataraman: Sokawati – Yogyakarta” —

Dalam rangka menyambut Muhibah Budaya dan Kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono X ke Sragen tanggal 9 Juli 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen beserta Dinas Kebudayaan DIY menggelar diskusi urgensi hubungan Daerah Istimewa Yogyakarta – Sragen dalam koneksi historis dan budaya Mataraman.

Diskusi ini dipantik oleh Dr. Sri Margana (Pengajar Prodi Sejarah UGM) dan @kangrendra (Sraddha Institut), acara ini dimoderatori Andjarwati Sri Sayekti, M.Sc.

Simak selengkapnya https://www.youtube.com/live/Hm0WqLDffzE?si=FyS6mcw3fr_XxVde

Gagasan Kemerdekaan Berpikir dari Taman Siswa

Hari Selasa, masih sela-selaning Manungsa, prodi Ilmu Sejarah UNY, Museum Dewantara Kirti Griya,  @sraddhasala akan membincangkan hasil digitalisasi majalah Poesara, satu majalah penting dari Peguron Taman Siswa sejak 1934.
Membaca Poesara adalah membaca kemerdekaan berpikira kaum pergerakan dari poros Tamsis seperti Soewardi Suryaningrat, Ki Sarmidi Mangunsarkoro, Ki Ageng Suryamataram, dan tokoh-tokoh lainnya.
Diskusi ini akan dipantik bersama Ki Agus Purwanto, Kang Rendra Agusta dan Mas Kuncoro Hadi, tentu akan dimoderatori oleh Mba Ekaningtyas. Mari ke Taman Siswa, Selasa 7 Juli 2026 pukul 09.00 pagi sampai selesai.
Salam dan Bahagia.

Wonogiri dalam Lintasan Masa Mangkunegaran 1757-1946

Setelah beberapa waktu tidak merayakan Selasa, hari selasa terakhir dibulan juni nanti kami mengajak teman-teman semua untuk mendengar cerita dari @kangrendra dan berdiskusi perihal Wonogiri dalam Lintasan Masa Mangkunegaran

Riwayat Wonogiri tak bisa dilepaskan dari masa kekuasaan Mangkunegaran. Selama hampir 200 tahun, sejak 1757 pengaruh Mangkunegaran menancap kuat di daerah ini.

Sebuah periode panjang yang membentuk wajah sosial, ekonomi, dan politik lokal. Dari perubahan wilayah, desa-desa tua yang masih bertahan, hingga praktik ekonomi berbasis komoditas dan tenaga kerja.

Siapa yang diuntungkan dari sistem yang pernah berjalan? bagaimana posisi masyarakat lokal saat itu?
dan mengapa gerakan anti-swapraja bisa muncul?

Diskusi ini tidak hanya akan berbicara tentang masa lalu, tetapi juga mencoba mengaitkannya dengan Wonogiri hari ini. Apakah pola-pola lama masih bertahan dalam bentuk baru? Apakah pengaruh Mangkunegaran di Wonogiri benar-benar sudah selesai, atau justru masih hidup di sekitar kita?

Selasa kali ini kita akan menelusuri Wonogiri dalam lintasan kekuasaan Mangkunegaran pada era 1757-1946.

Antara Nilamaya dan Lembahrawa

Masih dalam rangkaian Festival Lereng Telomoyo, kali ini Mindha bersama para Cantrik akan ke desa-desa di antara gunung Telomoyo dan Lembah Rawa-Rawa.

Sabtu Malam, 27 Juni 2026, @kangrendra bersama Ki Lurah Ahmad Nuri, akan bincang-bincang cerita-cerita dari masa lalu masyarakat desa sekitar Telomoyo hingga Rawa Pening.

Sampai jumpa di desa @wisata.sepakung

Ajar Bali dadi Wong Jawa

“Tapak tilase uripmu, uripku, ora ana dongenge nalika tanah Jawa wis dudu suket godhong sing duwe” — Iman Budhi Santosa

Tapak sisa hidupku, hidupku, tak akan ada lagi kisahnya saat tanah Jawa sudah bukan rumput dan daun lagi empunya. — sepenggal kalimat dalam geguritan “Suta Naya Dhadhap Waru” karya Romo Iman ini menjadi perenungan sepanjang laju kereta Komuter menuju Yogyakarta.

Sore-sore sedikit mendung, kami tiba di Berbah, di Pelataran Dhadhap Waru . Bersama Mas Ikhsan dan Kang Rendra Agusta, kita menyambut buku “Ajar Dadi Wong Jawa”, satu kumpulan esai dan geguritan karya Romo Iman, dalam satu dekade akhir hayat beliau.

Seperti halnya “bocah wingi sore”, kami mengenal Iman Budhi Santosa dalam situasi yang agak wingit. Diam dan tatapan teduh beliau, membuat kami canggung untuk berbicara secara langsung. Semacam ada “api besar” yang bergelora dalam diri Iman, atau dalam bahasa Jawa disebut Mahātma.

Barangkali sama seperti kawan-kawan lain, Romo Iman kami kenal dengan karya-karya yang tajam soal rekam ekologis. Hampir tak ada karya beliau yang tak menggunakan metafor tumbuhan, binatang dan lanskap alam, kehidupan manusia berada di sekitarnya “in between”.

Melalui buku ini, Romo Iman selalu berposisi membuka mata kita soal “Wong Cilik” yang kerap tak dikenal dalam nama-nama. Wong Cilik bahkan sampai akhir hayatnya sering disebut pula “Balung Peking, Bathang Walang”, seringkali tak diketahui dimana jasadnya dikubur, tak bernama dan tak dikunjungi keluarganya. — seperti idiom None Name dari Jawa, “si Suta, Si Naya, Si Dhadhap”, demikianlah Iman tajam menangkap denyut nadi wong cilik dalam kekaryaannya.

Kesadaran tertinggi setelah mencapai “jĕnang” atau “jĕnĕng”, orang Jawa akan sama berkalang tanah. — Tempatnya hanya di bawah rindang Bambu Ori, derajatnya cuma sejengkal dari tanah, sederajat dengan Jarak. — Manungsa ninggal jěnĕng, sokur-sokur piguna.

#ayosinaumaneh

Ikon Pernaskahan Jawa Tengah

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah mengundang Anda untuk berpartisipasi dalam kegiatan:

“Penggalian Potensi Naskah Kuno Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) di Provinsi Jawa Tengah”
Jawa Tengah memiliki kekayaan naskah kuno yang luar biasa, mulai dari tradisi Jawa Kuna, naskah keraton, hingga naskah-naskah keagamaan dalam tradisi pesantren.Melalui kegiatan ini, para pakar akan bersama-sama menggali potensi naskah unggulan di Jawa Tengah yang berpeluang diusulkan sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional (IKON).

Sosialisasi Naskah Kuno Nusantara di Sragen

Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen menyelenggarakan Sosialisasi Naskah Kuno Nusantara di Kabupaten Sragen. Acara ini dipantik oleh Kang Rendra Agusta dan Mas Ahmad Wahyu Sudrajat.
Sosialisasi ini bertujuan untuk memperluas potensi temuan naskah kuno di Kabupaten Sragen. Semoga naskah kuno kita lestari dan tetap menjadi sumber inspirasi kita.

Sedalu Sinau: Jejak Sunyi Nisan-Nisan Kuno di Boyolali

Malam ini, Sraddha kembali ke dusun Sewengi, di lereng gunung Merbabu. Silaturahmi dengan kawan-kawan Sedalu sekaligus memenuhi jagongan bab makam-makam kuno di wilayah Boyolali. Malam ini begitu hangat, kawan-kawan pegiat budaya lintas daerah juga turut hadir.

Sebaran pemakaman kuno dengan langgam Demak sampai Pakubuwanan – Hamengkubuwanan tersebar di banyak titik di Boyolali. Dalam diskusi ini, Kyai M.Yaser Arafat dan Kang Rendra Agusta, mendedah ulang, bagaimana mencari informasi dari suatu makam kuno. Sembari minum teh Ginastel dan cemilan “krowotan”, menambah suasana menjadi lebih syahdu.
Makam bukan sekedar benda mati, pada nisan-nisan itu tertera nama-nama orang yg pernah hidup dan tutur lisan menghidupkannya kembali melalui “gotèk tular”. Segala perjuangan para pendahulu itulah yang memungkinkan kita ada dan hadir saat ini. — Dari kisah-kisah para empu makam inilah, kita mengambil hikmah dan kebijaksanaan hidup dalam melangkah.

Manuskrip Tari dari Pasar Loak


Beberapa tahun lalu, Mindha membeli setumpuk arsip dan buku bekas dari ex-libris bongkaran rumah di Yogyakarta. Kondisinya sudah tidak utuh, terpenggal-penggal dan rawan patah kertasnya.

Salah satu lembarnya, pada halaman 168 terdapat tulisan menarik:

“Punika lampahipun kagungan dalĕm srimpi, yasan dalĕm ingkang Sinuwun kaping 7, karsa dalĕm ingkang kalaras mundhut cariyôsipun kagungan dalĕm sěrat purwa. Nalika putri Cĕmpala, Sang Dyah Srikandhi tandhing prang, patih Simbar Manyura, dewi Suradiwati.

Gěndhing Jakamulya”

Formula pengarsipan tari sampai masa Sultan Hamengkubuwana VII, rerata hanyalah teks. Tidak ada visual dalam manuskrip secara langsung. Hal-hal seperti ini yang memungkinkan gubahan-gubahan terjadi dalam pergelaran tari.

Kawan-kawan ada yg mau mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia? Tulis di kolom komentar yak!

Selamat hari Tari sedunia!

Amenang ing Jaman Edan

Paseduluran Alumni Sastra Daerah UNSkapang.rinasa mengadakan Macapatan dengan topik Keadiluhungan Sěrat Kalatidha karya R.Ng.Ranggawarsita.

Macapatan dan diskusi ini akan dipantik oleh K.R.A.T Supardjo Dwijo Hadinagoro, M.Hum, abdi dalam Sasana Pustaka Kraton Surakarta Hadiningrat. Acara ini akan dimoderatori oleh @kangrendra, cantrik @sraddhasala.

Acara akan dilaksanakan hari Minggu, 26 April 2026 di ndalem.djojokoesoeman Surakarta pukul 08.00 WIB sampai selesai.Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, milu edan ora tahan, yèn tan milu anglakoni, boya kĕduman melik, kalirĕn wĕkasanipun. Ndilalah karsa Allah, bĕgja-begjane kang lali, luwih bĕgja kang eling lawan waspada.
Menjumpai zaman kegilaan, serba rikuh bertindak. Ikut menggila tidak tahan, tetapi jika tak ikut-ikutan dan kebagian, kepengin juga. Akhirnya kelaparan.

Barangkali sudah menjadi kehendak Allah.
“seberuntung-beruntungya orang yang “lupa”, lebih beruntung orang yang selalu “ingat” dan penuh kewaspadaan.
Serat Kalatidha, Raden Ngabei Ranggawarsita III, Pujôngga Karaton Surakarta Hadiningrat.