Matahari belum terbit sempurna ketika mobil yang kami tumpangi melaju dari kota Bengawan. Hari ini, malam Senin Kliwon bulan Sapar kami bergegas menuju lereng Merbabu, ke sebuah desa di mana sisa-sisa peradaban akhir Majapahit terekam, lanskap spasial-scriptoria ada, dan warisan pengetahuan serta peninggalan cagar budaya saling hadir dengan manusia yang bermukim di dalamnya.

Desa ini bernama Kedakan, dekat Kopeng masuk kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Berketinggian 1800-an mdpl, dengan lanskap tepat berada di punggungan bukit dikelilingi ladang dan hutan. Kedakan juga merupakan desa terakhir menuju pendakian Merbabu via Wekas. Jalur ini merupakan jalur lama, setidaknya sejak berbagai ekspedisi kolonial masuk ke pegunungan Jawa, Merbabu menjadi penting.
Pada bulan Sapar, desa-desa di lereng utara Merbabu ini mengadakan semacam ruwatan desa, mereka menamainya dengan istilah saparan. Tiap-tiap desa selama tiga puluh lima hari penuh bergantian mengadakan open house. Siapa yang melintas boleh mampir, wajib mencicipi kudapan tuan rumah. Peristiwa ini tidak sekedar jamuan, tradisi ini juga berbanding lurus dengan berlangsungnya tali silaturahmi antar keluarga di kampung, yang beda desa, bahkan lintas wilayah. Ritus kemudian berkembang dari yang semula sebatas tradisi, kini sekaligus sebagai upaya menjaga sebuah kohesi sosial. Wujudnya memang makan bersama, namun dialog, tanya kabar, curhat, dan suasana yang terbangun menjadi daya dorong penting penjagaan tersebut.
Kisah Lontar Budo
Kedakan menjadi spesial, selain open house desa juga mengadakan pagelaran wayang jimat. Pagelaran wayang ini dilakukan setelah matahari lewat tengah hari, hingga jelang tenggelam. Tahun ini adalah pementasan ketiga dari Mbah Poyo, dalang ruwat yang baru saja terpilih setelah bertahun-tahun mengalami kekosongan dalang.
23 Mei 2005, Majalah Tempo sempat merekam dalang sebelumnya, ialah Mbah Mitro. Beliau inilah yang ditemui seorang Romo Katolik sekaligus pengajar Sastra Jawa, Ignatius Kuntara Wiryamartana atau yang biasa kami panggil dengan nama Rama Kun.
Awal Mei 2005 dalam sebuah simposium di Perpustakaan Nasional, Rama Kun mengingatkan kembali pada peneliti soal ekspedisi Belanda pada tahun 1885.
Ekspedisi itu menyusuri lereng barat daya gunung Merbabu hingga ke sebuah desa bernama Windusabrang lalu menemui seorang bernama Ki Ajar Windusana, yang menyimpan lontar-lontar berisi pelbagai pengajaran. Lontar-lontar itu kemudian diambil oleh tim ekspedisi dan dijadikan koleksi di Koninklijk Bataviaasch Genootschap (Perpusnas sekarang). Dan ada satu lontar lagi yang masih ditinggal di Merbabu, naskah inilah yang direkam oleh Majalah Tempo.
Naskah itu masih ada dan diwariskan turun-temurun dari dalang ke dalang berikutnya. Karena muatan spiritualitas dan segala perbendaharaan ilmu di dalamnya, maka, tidak semua orang diperbolehkan melihat isi dari naskah tersebut. Hanya kepada yang Mbah Dalang berkenan, pada bulan Sapar seperti ini bisa beruntung melihat naskah tersebut.
Hal ini menurutku penting, kita harus selalu menghormati kepercayaan Masyarakat setempat atas apa yang disakralkan sekaligus jika ditelisik lebih dalam ini adalah metode pengarsipan yang baik. Karena usia, serta lontar yang bahannya mudah rapuh memang baiknya tak semua orang boleh melihat apalagi memegang. Spiritualitas juga berdampak terhadap pelestarian naskah-naskah kuna ini.
Hal ini senada dengan Rama Kuntara, di akhir hidupnya, Ia bercita-cita kalau pension ingin kembali ke Merbabu untuk mengajar penduduk desa setempat supaya naskah-naskah itu juga dipelajari oleh Masyarakat di tempat dimana naskah itu ditemukan. Hal inilah yang membuat kami selalu senang kembali ke Merbabu.
Saparan Wayang Jimat
Setelah sarapan dan menembus tol Solo-Salatiga, mulailah memasuki jalan berkelok Kopeng-Wekas. Bersama beberapa peneliti dari BRIN pada pukul 10.00 WIB lebih sedikit kami sampai di Kedakan. Cuaca sangat cerah dan mulai berdebu di sekitar ladang, maklum, saparan kali ini terjadi di bulan Juli tepat di puncak musim kemarau dan gelombang El-Nino. Langit sangat biru dan matahari terasa sangat terik ketika kami sampai di padukuhan. Umbul-umbul sudah terpasang berjajar di sepanjang jalan tanda bahwa hari itu memang puncak perhelatan.
Rombongan kami langsung menuju ke rumah Mbah Poyo, dalang wayang jimat, namun beliau tidak ada, sedang mempersiapkan pagelaran kata istrinya. Kami melangkahkan kaki ke atas, berjarak berapa rumah dari kediaman beliau. Karena sudah purna saparan kali ini tidak digelar di rumah pak Kadus seperti tahun kemarin. Begitu kami sampai lokasi Mbah dalang langsung mempersilakan kami untuk mendekat.
Di depan wayang-wayang yang telah dijajar, beliau tengah membenahi satu sambungan tangan wayang yang putus. Beliau menggamitku untuk lebih mendekat, salim, bertanya kabar dan saling memberi warta lalu beliau bercerita beberapa hal yang terjadi selama setahun ini. Aku harus sedikit menunduk karena volume bicara beliau sangat lirih.
Dialek khas ‘gunung’ terdengar sangat kental, ada beberapa kata yang terdengar lesap tapi maknanya tetap terpahami.
Setelah membenahi wayang jimat yang rusak, dan siap dipentaskan, Mbah Poyo kemudian mengajak kami semua untuk ke rumahnya. Seperti pada umumnya saparan, ruang tamu tengah penuh aneka macam camilan. Kami dipersilakan duduk, hingga orang terakhir duduk Mbah Poyo baru turut duduk.
Ada peran lain yang kutangkap pagi itu, di dapur istrinya telah menyiapkan makan dan menjerang air. Tak menunggu lama akhirnya sajian teh hangat itu diedarkan, semua kebagian. Dialog dibuka lagi, kali ini Pak Marno dari BRIN dan Pak Agus dari Manassa yang kulanuwun. Hal yang bagi orang modern mungkin terasa seperti basa-basi tetapi pagi ini kurasa khidmat.
Mbah Poyo menyapa satu-satu, dan bertanya asal kami. Aku sangat kagum dengan daya ingat beliau, sembari berjabat tangan beliau mengingat satu demi satu wajah, ia tahu persis mana yang pernah ke rumahnya mana yang belum. Dan ia juga bertanya jika ada kawan-kawan kami yang dulu pernah ikut saparan, tetapi kali ini berhalangan hadir. Suasananya makin hangat ketika masakan sudah matang dan kami dipaksa untuk makan. “Ngge syarat” kata Mbah Poyo. Semua wajib makan meskipun hanya sedikit. Hal ini bukan semata kewajiban, melainkan juga memberi arti dan menghargai tuan rumah yang telah menyiapkan segalanya. Nglegani, paling tidak.

Setelah tengah hari perhelatan wayang jimat pun dimulai. Lakonnya tentu saja carangan, tidak ada yang baku dalam pementasan di Kedakan. Ada satu hal yang terus saya temui dari waktu ke waktu, pementasannya terus menjadi sarana pengajaran, kerap untuk memperkuat daya hidup, peringatan, saran dan segalanya yang berujung untuk kebaikan bersama di desa, dan alam sekitarnya.
Di tengah pementasan, kami bergeser naik ke atas, ke Basecamp Pendakian milik Kang Lasin. Basecamp hari itu berubah menjadi rumah open house, sama seperti rumah-rumah lain di desa ini. Kami mampir barang sebentar untuk beristirahat sekaligus bertegur sapa karena lama tak ketemu. Aku sendiri bertanya tentang pendakian Merbabu secara spesifik mengingat bulan-bulan ini adalah musim yang baik untuk melakukan pendakian.
Di rumah Kang Lasin kami melihat tamu silih berganti, salaman, ngobrol sebentar lalu bergeser ke rumah lainnya dan disusul rombongan berikutnya. Ada perasaan menyenangkan, hawanya mirip Idul Fitri di desa-desa agraris. Tuan rumah tetap tersenyum, berkali-kali memaksa kami untuk makan berat dst. Setelah sekitar satu jam-an, dan langit sudah tak begitu terik kami mulai naik ke atas.
Makam Mbah Ajar Daka

Jaraknya memang tak jauh, sekitar satu kilometer dari desa, tapi karena fisik yang mulai menua dan tanjakan yang gak habis-habis rasanya pengap juga di dada. Kurang lebih 20 menit kami sampai di sebuah petilasan yang dulu konon ditemukannya lontar-lontar yang dibawa ke Batavia. Cerita ini memang menjadi tutur lisan yang diwarisan turun-temurun. Naik beberapa ratus jengkal sampailah kami di makam Mbah Daka.
Terdapat dua makam yang dicungkup. Satu milik Mbah Daka atau Ajar Daka, yang satunya dipercaya sebagai makam Ajar Windusana. Tak hanya itu, satu teras di bawah makam ini, ada kumpulan makam yang nampaknya berusia lebih muda, terlihat dari langgam nisannya. Karena ruangannya sempit, kami tidak bisa sekali jalan masuk ke cungkup tersebut. Satu persatu dengan kusyuk melangitkan doa, setelah itu kami ngobrol sejenak dan berfoto bersama.
Aku turun paling akhir setelah beberapa peneliti yang lebih sepuh turun. Setelah sekali lagi mengutarakan salam lalu ikut turun. Suasana sejenak jadi melankolis, lanskap bentang alam yang indah membuat saya termenung. Teringat ekspedisi Belanda itu, Romo Kun dan para peneliti yang lebih dulu menginjakkan kaki di tempat ini, dan, tentu saja adalah soal lontar-lontar itu. Bagaimana ia ditulis di tempat sesunyi ini, yang tentu saja ratusan tahun lalu bentang alamnya lebih sukar dan lebat. Apakah justru dari kesunyian itu kebijaksanaan bisa lebih mudah ditulis/disalin, atau memang ada sebuah situasi tertentu yang mengakibatkan para penganut “agama budo” ini bertahan di pinggir gunung. Sejenak kami menghabiskan waktu di tempat yang kini dinamai “MERBABU PASS” itu sebelum akhirnya turun untuk kembali menonton wayang jimat.
Setelah dirasa cukup kami akhirnya turun, ada pemandangan yang jarang kutemui, ada anjing penjaga di dekat ladang. Tidak ingat kapan ladang ditunggui sekaligus ada anjing yang menginap di situ. Apakah ada ancaman satwa lain yang turun ke pategalan? Seperti di lereng Merbabu sisi timur yang kerap ada serangan monyet sampai ke desa, entahlah tapi cukup menyimpan misteri.
Kami mampir lagi ke kediaman Kang Lasin, bercakap sebentar lalu pamit turun untuk nonton wayang ruwat sekaligus pamit ke Kang Lasin karena kami akan bablas pulang setelah itu. Beliau mempersilakan kami sekal lagi untuk makan besar, meski sudah ditampik berkali-kali. Satu dua kami makan dan memakan camilan lalu turun. Angin gunung berangsur dingin seiring senja datang. Beberapa peneliti mulai masuk ke ruangan di samping pementasan wayang jimat, aku sendiri memilih menggunakan jaket dan terus menonton pementasan itu sampai selesai.
Mbah Dalang menutup pakeliran dengan mantra dan doa-doa keselamatan. Tidak begitu jelas terdengar detailnya, tetapi ia mendoakan semua yang hadir, yang terlibat dan siapapun yang mendengar cerita tentang pagelaran ini diberikan banyak kekuatan dan keberkahan dalam hidup. Gunungan lalu ditancapkan tanda perhelatan itu selesai.
Mbah Poyo sempat diwawancarai oleh beberapa orang, saya memilih menjauh meski beliau terus menggamit agar tetap di sampingnya. Lalu kami ke rumah beliau bersama semua rombongan peneliti. Sebelum pamitan, kami mendengar pengajaran dari beliau. Tidak lama, tapi ada beberapa poin yang penting menurutku. Seperti tali persaudaraannya jangan terputus, tahun depan ke sini lagi, serta semoga kami semua diberkahi lantaran Ajar Daka dan Ajar Windusana. Segala niatan baik pasti berbuah baik, begitu pula sebaliknya. Lalu kami mengajak beliau untuk foto bersama, sebagai rekam kenang. Isteri beliau enggan diajak swafoto, malu katanya meski Mbah Poyo mengajaknya ke ruang tamu.

Setelah mengulur waktu cukup lama, dan obrolan tak habis-habis, akhirnya kami diijinkan untuk pulang. Satu persatu sungkem dan disalami, Aku melihat beliau memandangi satu persatu mata yang datang malam itu. Mata tua yang kenyang akan banyak hal, dan yang muncul hanyalah kebijaksanaan.
Aku sengaja terakhir pamit, barangkali ada hal-hal penting yang ingin dibicarakan empat mata. Firasatku benar, beliau menyampaikan beberapa hal lagi. Menjulurkan tangan, dan beliau memeluk dan menepuk-nepuk punggungku. Perpisahan selalu berat, meskipun itu sering terjadi. Kepada Mbah Poyo, Aku hanya bilang untuk menyampaikan salamku kepada lontar-lontar itu, bahwa kami telah berkunjung saparan kali ini, dan semoga tahun depan bisa berkunjung lagi.
Segera menyusul ke mobil dan turun kembali ke Solo. Kota-kota di bawah sana, sekali lagi saya teringat Rama Kuntara, Romo Petruk itu. Benar, ada kedamaian yang khas di lereng-lereng pegunungan. Bau kabut, debu dan tanah berembun, rumput, pinus. Sesuatu yang terus cintai sejak SMP, hingga bertahun-tahun kemudian, hingga hari ini ketika tenaga jauh surut dan rambut mulai beruban.
Sala, 19 Sapar 1960 be
Indra Agusta, Cantrik di Sraddha Sala


Leave a Reply