Klinik Klenik, Ruwat semua Ruwetmu, begitulah tag-line program Sraddha yang sedang riuh ini. Program ini merupakan upaya pembacaan kembali naskah-naskah kuno Jawa yang berkaitan dengan Pawukon, salah satu bagian dari sistem penanggalan tradisional kita. Pawukon dikenal paling tidak sejak aabad IX dalam wewaran prasasti-prasasti era Medang, biasanya saptawara, sadwara, dan pancawara selalu didampingi dengan perhitungan wuku. Wuku sendiri artinya ruas-ruas, ya semacam ruas bambu atau tebu. Istilah ini kemudian dipakai untuk membagi siklus tujuh harian Jawa, yang dimulai hari Raditya dan berakhir hari Saniscara atau Tumpak.

Pada perkembangannya, gubahan-gubahan Pawukon pada masa Mataram Baru mulai menggunakan visual gambar, pohon, burung, senjata, bendera, dan benda-benda lainnya yang menjadi tanda tertentu di setiap kelahiran manusia Jawa. Program eksperimental mengajak kawan-kawan untuk berdiskusi kembali dengan menilik data-data berbasis manuskrip kuno, pendekatan nalar logika, perkembangan psikologis dan basic lanskap kultural yang menjadi penyerta tiap peserta. Kompilasi data ini yang menarik untuk menjadi refleksi manusia Jawa berabad-abad lalu.
Pawukon adalah karya matematis yang juga menjadi penanda pencatatan biodiversitas alam Jawa di masa lalu. Program Klinik-Klenik dipandegani oleh kawan-kawan periset naskah-naskah Jawa seperti kak Septian Haryanto dan Prastowo Budi, keduanya adalah sarjana sastra Jawa terbaik bidang filologi dari Universitas Sebelas Maret dan Universitas Gajah Mada. Oleh karena itu, kawan-kawan bisa bertanya lebih lengkap terkait seluk beluk data manuskrip dan tutur lisan yang dipakai dalam program ini.
Klinik Klenik akan berpendar dari tempat ke tempat lain, nantikan di desa dan kota kesayangan kawan-kawan semua. Jangan lupa follow akun instragram @clinicclenic untuk memantau perpendaran program. Ayo Sinau Maneh!


Leave a Reply