Menjaga Telomoyo: Manusia, Alam dan Budayanya

Written by

in

Telomoyo satu kawasan pegunungan tua yang hidup selaras antara manusia dan bentang alamnya, dari masa ke masa. Gunung Telomoyo memiliki kekayaan yang menawan baik keanekaragaman hayati maupun kultural. Bulan ini, kawan-kawan Omah Cikal mengadakan Festival Lereng Telomoyo 2026. Agenda ini mengajak kita untuk menilik ulang lanskap hayati dan kebudayaan di empat desa, di lereng gunung Telomoyo mulai dari Ngrawan, Sepakung, Seloprojo dan Pandeyan. Dari desa-desa di empat penjuru mata angin, berbagai kesenian rakyat disajikan.

Dalam kesempatan tersebut, bersama Pak Lurah, Sesepuh Desa,  Rendra Agusta dari Sraddha Institute dan Galuh Ambarsasi dari Universitas Kristen Satya Wacana menyajikan paparan terkait sejarah desa yang berkaitan dengan kekayaan alam, ragam budaya, sampai dengan tutur lisan terkait bencana alam yang pernah terjadi di lereng Telomoyo. Melalui diskusi tersebut, festival ini mengajak masyarakat untuk mengenal kembali akar sejarah desa agar memperkuat jati diri bersama. Selain pentas seni, ada juga ekspresi seni rupa yang tertuang dalam pameran karya lukisan, arsip, foto-foto kuno dan karya instalasi.

Peradaban yang panjang masyarakat lereng Telomoyo tidak bisa dipisahkan dengan gunung itu sendiri, maka menjaga alamnya, menjaga dan memperkuat daya masyarakatnya melalui cara-cara yang bijak dan seimbang adalah sebuah keharusan. rdr

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *