oleh
Frengki Nur F.P
(Cantrik Komunitas Sraddha, Mahasiswa S2 Ilmu Sastra UNDIP)
Kucing hitam sangatlah identik
dengan hal-hal yang berbau mitos. Di Cina, Jepang, Normandia dan Amerika
Serikat kucing hitam dihubungkan dengan pertanda akan datangnnya keburukan atau
kesialan. Bahkan kucing hitam pun dihubungkan dengan penjelmaan dari iblis. Hitam?
Pernahkah memikiran warna apa yang dilihat penyandang Tuna Netra? Bukankah
gelap itu juga hitam? Secara dikotomis, bukankah hitam atau gelap itu
berlebihnya terang yang terpandang mata?
Begitu pula dalam memandang mitos
kucing hitam. Di belahan dunia lain (sebut saja Inggris, Rusia dan Latvia) kucing
hitam pun ada yang memandang sebagai pertanda akan datangnya kebaikan. Bahkan
di Mesir Kucing hitam dianggap sebagai perwujudan Dewi Bast, Sang Dewa
Matahari. Lalu, bagaimana Kebudayaan Jawa memandang kucing sebagai pertanda datangnya
nasib baik atau buruk?
Khazanah historis budaya Jawa merekam
kucing dalam relief beberapa candi diantaranya Candi Pawon, Candi Mendut dan
Candi Prambanan. Dalam Kasusastraan Jawa abad XIX awal pun dapat ditemukan
beberapa manuskrip yang membahas prihal berbagai pertanda dari Kucing. Beberapa
korpus manuskrip yang dapat ditemukan antara lain: Serat Wani-Warni No
RP 366 tahun 1847 dan Katurangganing Kucing Van Dorp tahun 1871 M
koleksi Museum Radya Pustaka, Serat Ngalamating Kucing koleksi Kraton
Yogyakarta dan Carcan Meyong koleksi Gedong Kirtya Bali.
Pertanda-pertanda itu sering
disebut sebagai katuranggan dalam bahasa Jawa. Meskipun benak kita
terkadang tergiring mengartikan turangga sebagai Jaran (Kuda).
Namun istilah katuranggan diilhami oleh para penulis Jawa sebagai makna
pengistilahan pragmatis untuk membincang tanda-tanda. Seperti halnya ditemukan
dalam manuskrip Katurangganing Wanita, Katurangganing Perkutut,
Katurangganing Jaran, Katurangganing Gagak lan Prenjak dan manuskrip
Jawa lainnya.
Membincang Serat
Katurangganing Kucing Van Dorp yang dicetak di percetakan GCT Van Dorp
& Co di Semarang tahun 1871 M dapat ditemukan rentangan pemaknaan tanda
dari kucing Jawa yang sering dipelihara.Entah ada angin apa, Di waktu
sore hari menuju jam 4 Dyan Palguna seorang pria muda Kudus itu menulis Serat
Katurangganing Kucing ini. Perihal pertanda kucing dari polah tingkah
dan warna bulu itu dituliskan sebagai sebuah peringatan.
Ada 18 ciri dan pertanda kucing
yang dituliskan. Ada 1) Kembang Asem 2)
Berkaki pañca 3) Putra Kajĕntaka 4) Wulan Krahina 5) Ḍaḍang Sungkawa 6) Wulan
Purnama 7) Durjana Kakĕṭu 8) Bujangga Hamĕngku 9) Wisa Tumama 10) Satriya
Wibawa 11) Tampar Taliwangsul 12) Paṇḍita Lĕlaku 13) Kala Ngumbara 14) Songga
Buwana 15) Baya Ngangsar 16) Wisnu Atonda 17) Lintang Kumukus 18) Candra Mawa. Sebagai
konsensus, Putra Kajĕntaka hadir dari kebudayaan Jawa dalam konteks pembahasan
mitos Kucing hitam di dunia.
Putra Kajĕntaka (Kucing hitam)
dalam Serat Katurangganing Kucing disebutkan “aja sira ngingu kucing
| ireng mulus buntut panjang| iya ala ing lamaté | aran Putra Kajentaka
| utah ludira nira | lamun buṇḍel buntut ipun | ala nira sawetara||” Bisa
muntah darah! Sedikit berkurang jika—ekornya bundel (pendek).Ternyata
dalam Budaya Jawa Kucing hitam pun dianggap sebagai Kucing yang pantang
dipelihara.
Itu semua hanyalah persepsi dari
Dyan Palguna yang didasarkan falsafah kebudayaan Jawa. Di zaman ini, zaman biasnya
kebudayaan dan globalnya arus kebudayaan, setiap individu bebas memilih dan
mempercayai apa yang ingin dipercayai. Sejauh bermanfaat dan tidak merugikan
diri sendiri, terlebih merugikan orang lain. Yang jelas, ada resepsi dan
penyesuaian dengan dengan diri dan lingkungan atas pengetahuan yang
diperolehanya. Jangan sampai sak klek!Tiru-tiru dengan apa yang dipahami
tanpa komparasi pemikiran lainnya. Ujung-ujungnya pasti tidak akan menjadi
dirinya sendiri.
Ilustrasinya, coba lihat pupuh Durma pada 12 Serat Katurangganing Kucingini “Lamun ana kucing turuk lambin ira| pakénak pangorok néki| temah ana wong teka| agawa raroba| marang sira iki| sukurra ing Allah| ingkang sipat rahmanni||” Gampangnya, jika ada Kucing tidur di bajumu dengan nyenyak, pertanda akan ada orang datang membawa perubahan bagi dirimu.
Pertanyaannya, jika menghendaki ada perubahan besar dalam hidupmu, apa hanya sekedar menunggu dan mengamati sampai ada Kucing tidur di bajumu? Mungkin? Dengan demikian Serat Katurangganing Kucing menjadi otokritik kebudayaan terhadap masyarakat Jawa itu sendiri.