Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran Masyarakat Yogyakarta

[DENJAKA 2022]

Lab Ilmu Sejarah mempersembahkan “Diskusi Senja Kilas Budaya” dengan judul “Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran Masyarakat Yogyakarta” yang akan dilaksanakan pada:

Minggu, 24 April 2022

🕓 15.30 – 17.00 WIB 📍

Via Daring (Zoom Meeting)

Dibersamai dengan pembicara yaitu:Kukuh Setia Widodo (Sraddha Institute)

Moderator: Zaki Azmirrijali (Ketua Lab Ilmu Sejarah 2019)

Link join grup WA: https://bit.ly/WaGDenjaka2022Informasi lebih lanjut hubungi:CP: +6282313707374 (Asyraf)

Menyoal Reog: Keindahan yang Diperebutkan

Keberpihakan pada HAM menjadi biang penting terdaftarnya Reyog sebagai ICH UNESCO. Masalahnya, tarik-ulur kesejarahan masa peristiwa “Merah” masih membekas dalam perdebatan. Polarisasi kanan-kiri atau islam-komunis menyertai harum dan agungnya kesenian Reyog sampai hari ini. Tafsir kebudayaan seperti itu sangat sah dan memang harus terjadi. Karena setiap zaman punya permasalahan dan penyelesaiannya masing-masing. Namun, jika pada hari ini masalah itu masih bergulir “apakah Reyog dapat menyandang status ICH UNESCO?” Narasi alternatif Reyog Ponorogo sangat diperlukan. Untuk itu, mari berdialektika dengan kepala dingin dan pelukan hangat persaudaraan di acara Ngopi Nyore #26 @mucoffesaja tanggal 23 April 2022 bersama kak Frengki Nur FP (Sraddha Institute) dan bapak Soehardo, SH, M.M.  

Mari bersua dengan ceria!

6 Tahun Sraddha Sala

Ngěnam yang juga berarti menganyam,

Memasuki tahun ke enam ini, kami mengajak untuk kembali menyelami Sad Darśana (Samkhya, Yoga, Nyaya,Vaisheshika, Mimamsa, Vedanta). Dari pendasaran berfikir itu, mari kita juga merasakan kembali Sad Rasa (Madhura, Amla, Lavana, Tikta, Katu, Kashaya) sebagai parameter olah rasa dan olah raga. Menjaga raga tentu juga menghindakan raga dari tindakan buruk yang tertuang dalam konsep Sad Atatayi (Agnida, Wisada, Atharwa, Sastragna, Dratikrama, dan Raha Pisuna). Tutug tutup agar sempurna, tentu juga menjaga alam dan manusianya seperti dalam konsep Sad Kerti (Atma kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti, dan Jana Kerti).

Serat Centhini dan Ekologi Mistik

Kesadaran mistik dan ekologi menjadi titik penting memahami Serat Centhini, hingga turunannya yang melahirkan kesadaran mistik dan ekologi yang baru. Kali ini salah satu Cantrik Komunitas Sraddha, yang saat ini sedang menempuh S2 Ilmu Susastra di UNDIP, Franky Crissz akan membincang Centhini di Madiun. Mari merapat, aa kopi dan diskusi yang hangat. #ayosinaumaneh