#UdanUdanan bersama Sraddha

Undangan diskusi Sraddha Sala:

“Tik tik tik bunyi hujan” Halo! Apakah atas genting kawan-kawan apakah udah ada tik-tik bunyi hujan? Memasuki bulan Desember dalam sistem penanggalan Gregorian dan “mangsa kapitu” dalam sistem pranatamangsa ditandai dengan curah hujan tinggi.

Nah kali ini Sraddha Sala mengundang kawan-kawan untuk bergabung dalam diskusi #Udan-Udanan

Pemantik diskusi:
Anggita Anjani
(Alumni Sastra Jawa UI — Naskah Darmawarsa Merapi-Merbabu)

Muhammad Heno
(Alumni Sastra Jawa UI- Naskah Pangujanan dalam tradisi Bali)

Indra Agusta
(Volunteer Sraddha Sala — Fenomena Hujan dalam Alkitab dan tradisi Kekristenan-Abrahamik)

Athar Fuadi
(Pemuda NU Boyolali — Meminta hujan dalam tradisi Islam di Nusantara)

Moderator: Adi Wisnurutomo
(Volunteer Sraddha – Mahasiswa S2 PSPSR UGM)

Acara tanggal 23 Desember 2021 pukul 15.00-17.00 WIB

Link: https://uni-hamburg.zoom.us/j/62656672561?pwd=elJmU1h4YUVKMitwU0syd2lpQzVnQT09

Meeting ID: 626 5667 2561
Passcode: 02586743

Kita mengenang momen hujan-hujanan di masa kecil. Siyuuuu 👋

Design by @reginadwtr #AyoSinauManeh

Menghidupkan Skriptoria Pegunungan Jawa

Sejak naskah-naskah pegunungan ini dibawa ke Batavia pada tahun 1850, masyarakat pegunungan tidak banyak yang tahu tentang keberadaan naskah lebih-lebih konten isi naskah tersebut. Tentu dalam beberapa laporan pun juga menyatakan bahwa tradisi tulis sudah berhenti di tahun-tahun sebelum akuisisi naskah itu. Dengan tahun relatif 1600-an (1567 Ç – L 127), maka keberadaan skriptoria pegunungan ini setidaknya sudah berusia empat abad. Dari tahun akuisisi itu pula setidaknya tradisi menulis lontar di pegunungan sudah berhenti selama seratus lima puluh tahun. Romo Kuntara dalam beberapa kesempatan mengajar pun juga menginginkan tinggal di Windu Sabrang, dan mengajar masyarakat pegunungan membaca lontar.Di penghujung tahun ini, Sraddha Sala mencoba memulai kembali penulisan dan pembacaan lontar-lontar pegunungan Jawa, di mulai dari lereng timur laut gunung Merbabu. Sebuah tempat yang dikunjungi Bujangga Manik untuk belajar pengetahuan dari lontar-lontar ini. Semoga ada jalan untuk membawa lontar-lontar ini ke desa-desa yang lain, di seluruh pegunungan Jawa. #ayosinaumaneh