Komunikasi Politik Jawa

Kompleksitas bahasa membuat keniscayaan batasan lawan bicara, setiap politisi ulung di Jawa memakai bahasa pada levelnya masing-masing. Fenomena ini membuat keniscayaan derajat bahasa membatasi oleh dan kepada siapa pesan itu disampaikan.

Komunikasi Politik Jawa

Kompleksitas bahasa membuat keniscayaan batasan lawan bicara, setiap politisi ulung di Jawa memakai bahasa pada levelnya masing-masing. Fenomena ini membuat keniscayaan derajat bahasa membatasi oleh dan kepada siapa pesan itu disampaikan. 

Dalam masyarakat Jawa dikenal istilah “dhupak bujang”, “èsěm mantri”, “sěmu bupati”, dan “sasmita ratu”. Empat klaster derajat bahasa politik yang kadang-kadang makna leksikal-nya berbeda sama sekali. Sebenarnya, masyarakat Jawa mulai berlatih sejak dini dengan “cangkriman” dan “bebasan”.

Dewasa ini, secara kebetulan jumlah penduduk pulau Jawa yang masih dominan, pun juga bangsa Jawa masih menempati populasi terbesar dalam negara ini, maka sesekali kita melihat fenomena penggunaan derajat bahasa dalam komunikasi politik Jawa muncul di media digital skala nasional. Semisal menu-menu apa saja yang disajikan di meja makan para penguasa dan atau diksi-diksi bahasa Jawa, dan seterusnya. 

Yang bisa membaca akan punya daya langkah, yang tak bisa makin mudah terbawa arus. 

Misteri Aksara Rě dan Lě

Setidaknya sejak sebelum sekolah, ketika saya mulai mengenal aksara Jawa baru selalu bertanya, mengapa aksara “rĕ” ditulis dengan “pa cěrěk” pun juga “lě” ditulis dengan “nga lělět”? Jawabannya tidak mudah bukan?

Misteri Aksara Rě dan Lě:

oleh Rendra Agusta

Setidaknya sejak sebelum sekolah, ketika saya mulai mengenal aksara Jawa baru selalu bertanya, mengapa aksara “rĕ” ditulis dengan “pa cěrěk” pun juga “lě” ditulis dengan “nga lělět”? Jawabannya tidak mudah bukan?

Beberapa hari lalu, soal “rě” dan “lě” ini kembali menjadi bahasan perdebatan di sosial media. — Salah satu pendapat tentu lahir dari bapak Wijotoharjo, redaktur majalah Panjebar Semangat. Bahwa “ra” adalah rasa, yang tidak boleh di‐”pěpět” atau ditutupi. Sedangkan pendapat lain, “la” berarti “lawang” yang berarti pintu. Pendapat ini saya pikir lahir lebih lama dari paparan pak Wijoto karena sebagian komunitas juga memiliki pendapat yang sama.

Temuan

Upaya pencarian itu mungkin sudah banyak dicoba oleh para paleograf. Setidaknya, ketika saya mencoba mencarinya dalam dokumen digital Kern Institute, jelas sekali ditemukan penggunaan rě dengan dua versi yang sekarang dipertentangkan akan standarisasi penulisan. Faktanya justru kita menemukan kedua penggunaan “ra dipěpět” dan “pa cěrěk” juga.

Sekali lagi, data di masa lampau, memberi kita gambaran bahwa konsesi penulisan aksara Jawa bisa saja sesuai, ada juga varian, pun kesalahan. Ketiganya hadir dalam kajian-kajian kita hari ini.

Apakah masih mau berdebat? Atau sekedar bersandar pada “jarene“? Saya suka kawan-kawan tak percaya dengan data ini agar kawan-kawan mau mencarinya sendiri. Selamat berburu di data digital, bandingkan prasasti dan manuskrip, maka kita akan menemukan keduanya. 🔥

Naskah dan Tawaran lain di Dunia Filologi Indonesia

Tema reaktualisasi hal-hal yang dianggap kuno memang sedang trend di masyarakat. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Dekade ini, banyak forum yang mencoba membuka kembali kotak-kotak lama ‘naskah’ dan ‘cerita lama’, namun persoalannya beberapa forum hanya sekedar mengelap-ngelap kembali khasanah lama ketika sedikit lainya mulai menempuh jalan yang berbeda. 

Tawaran Lain Dunia Filologi Indonesia

Tema reaktualisasi hal-hal yang dianggap kuno memang sedang trend di masyarakat. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Dekade ini, banyak forum yang mencoba membuka kembali kotak-kotak lama ‘naskah’ dan ‘cerita lama’, namun persoalannya beberapa forum hanya sekedar mengelap-ngelap kembali khasanah lama ketika sedikit lainya mulai menempuh jalan yang berbeda. 

Dalam seminar di forum Sarasehan Imbasadi (Ikatan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Daerah Se- Indonesia) 2023 yang dihelat di UNNES Rabu lalu (31/5/2023), Sraddha Sala melalui salah satu cantriknya, Rendra Agusta, memberikan beberapa tawaran pada studi filologi—yang memang sunyi itu. 

Tawaran-tawaran yang muncul dari pemaparan Rendra Agusta bukan sekadar obrolan angkringan. Seperti beberapa tokoh senior yang sudah berkecimpung di dalam dunia filologi telah memulainya terlebih dulu. Rendra mengutip perkataan Sudibyo dan Ben Arps terkait stagnasi kajian filologi. Harus ada upaya-upaya segar agar muncul kebaruan wujud realitas budaya yang berpijak pada artefak lama. 

Dalam forum yang sama, Widodo, juga mempertegas bahwa tradisi filologi di kampus Indonesia saat ini masih bergaya filolog era ‘80-an. Kajian filologis yang hanya berkutat pada ruangan sempit naskah dan alih aksara semata.

Tawaran pertama Rendra, setiap peneliti harus meningkatkan kemampuannya dalam menguasai teknologi mutakhir. Pengkajian filologi hari ini sudah ada yang memakai program TEI (Text Encoding Initiative) atau pengenalan teks dan korpus naskah melalui penjalanan coding berbasis XML.Teknologi ini sebenarnya sudah ada sejak 1980-an, namun dalam kajian filologis baru hari-hari ini dipakai. Salah satunya dikerjakan Dharma Hypotheses pada tahun 2019, dengan konsep kerja yang hampir sama dengan Google Lens atau scanner yang dapat dengan mudah mengenali aksara yang difoto. Upaya digital lainnya ialah pendaftaran Unicode aksara-aksara di Nusantara. Di mana masyarakat pengguna aksara daerah lebih gampang menuliskannya pada piranti komputer. Dua hal tersebut merupakan contoh wujud berkembangnya digital humanities dalam budaya filologi di dunia.

Tawaran Kedua selanjutnya berupa paradigma cultural studies (bukan study of culture) sebagai opsi melihat kebudayaan dengan lebih luas. Kebudayaan yang dijadikan objek tidak melulu harus adiluhung dan dicap budaya tinggi. Cultural Studies mengajak para peneliti melihat kebudayaan lebih luas, selain kebudayaan yang dianggap adiluhung tadi, diluar sana lebih banyak kebudayaan yang banal, profan, atau bersifat sehari-hari yang kadang kala luput dari amatan para peneliti.

Tawaran ketiga, kajian filologi dapat menjangkau sektor kreatif. 

Meski industri kreatif yang bersinggungan dengan khasanah filologi sudah banyak berkembang, seperti halnya produksi kaos, totebag, dan buku-buku anak, akan tetapi inovasi masih sangat dapat dikembangkan baik dalam bentuk fisik maupun digital.

Studi mitigasi kebencanaan juga dimasukkan oleh Rendra Agusta dalam forum tersebut.  Mengingat Indonesia masuk kepulauan Cincin Api, sebuah sirkum vulkanologi dunia dimana pergerakan lempeng membuat negeri ini rawan bencana. Upaya-upaya mitigasi bencana yang bersumber dari catatan-catatan lampau dapat lakukan oleh para peneliti dan masyarakat sebagai salah satu kajian responsif dari sudut pandang tradisi historis.

Living Philology menjadi tawaran penutup oleh Rendra. Ia menyadari betul ada jarak yang sangat jauh antara filolog dan masyarakat. Jarak yang tidak hanya nama pohon, namun jarak yang benar-benar menjadi pagar tebal penghalang. Banyak filolog yang sibuk berkutat dalam meja-meja perpustakaan dan lupa pada masyarakat yang telah menghasilkan sebuah artefak bahan penelitian.

Lewat tawaran-tawaran tersebut Rendra seperti menyiratkan bahwa di masa depan geliat perubahan dalam dunia filologi akan semakin banyak. Widodo menegaskan bahwa masih banyaknya lini lain dan kapital intelektual lain yang harus ditampakkan.

Dunia filologi memang sudah mulai melihatkan perubahan dan perkembangan, dan para manusia-manusia yang ‘mencintai kata’ juga harus ikut berubah, jika tak ingin punah. Seperti konsep dasar evolusi, tiada yang kekal, keabadian itu milik perubahan itu sendiri. (SH)