“Perjalanan membawanya ke arah timur laut, tempat jurang-jurang memaparkan suatu pemandangan yang indah sekali bila kita melihat ke bawah. Taman-taman pesanggrahan yang melingkar, candi-candi dan pertapaan seseorang, itu semua menimbulkan rasa kagumnya. Ladang-ladang luas terhampar, tersebar pada lereng gunung, sebatang sungai besar turun dari bukit dan mengairi tanaman itu.” — Bagi masyarakat modern yang hidup pada masa kini, kondisi lanskap alam dan kompleks bangunan suci sebagaimana diceritakan dalam Kakawin Siwaratrikalpa abad ke-15 Masehi, cukup membantu penggambaran keadaan di Jawa pada masa lalu. Narasi yang dituliskan oleh penulis kakawin dan naskah-naskah kuno, baik sebagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi maupun sebagai bagian dari ekspresi imajinasi sang penulis, merupakan informasi yang berharga untuk mengetahui kehidupan sosial-budaya masyarakat kuno. Di kawasan Gunung Ungaran yang memiliki nama kuno Karungrungan, Bujangga Manik menarasikan gunung ini sebagai “tempat peninggalan para dewa ketika merindukan dewi-dewi”. — Ternyata penggambaran ini sesuai dengan data sebaran arkeologis di sepanjang kawasan Gunung Ungaran, meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Semarang, Kota Semarang, dan Kabupaten Kendal. Menariknya, keletakan situs-situs tersebut menyebar di sepanjang kontur permukaan tanah yang berupa gunung, perbukitan, daerah aliran sungai, dan tepian danau, seperti Candi Gedongsongo, Candi Ngempon, Candi Dukuh, dan berbagai jejak peradaban lainnya. Komunitas Budaya Karangjati Nyawiji Kabupaten Semarang melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Tahun 2020 Tahap 2 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengundang rekan-rekan untuk bergabung menguak sejarah dan budaya Nusantara melalui Diskusi Daring Festival Lembah Gana 2020 :”Dunia Jawa Kuno: Bayang Imajinasi & Bentang Alam”Sabtu, 7 November 2020 | Pukul 09:00 WIBNarasumber I:*Rendra Agusta*Filolog, Sraddha InstituteNarasumber II:*Aquarina Kharisma Sari*Novelis, Malang Women Writers’ SocietyNarasumber III:*Tri Subekso*Arkeolog, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten SemarangModerator:Samantha Aditya PutriMahasiswi Magister Antropologi UGM YogyakartaLink pendaftaran: https://bit.ly/2TJk2kH atau https://forms.gle/s4rgZYBbXwai1YbFASetelah melengkapi pendaftaran, mohon dapat melakukan konfirmasi melalui WA narahubung kami: Cahyo: 0857-5557-9555Konfirmasi ini untuk keperluan grup yang akan memuat berbagai informasi termasuk tautan zoom/youtube dari kegiatan diskusi ini. Terima kasih. Rahayu.#budayasaya#diskusidaring#festivallembahgana
Romansa Rempah di Jawa
#KancaBudaya sedaya, dahulu kala perdagangan pribumi di wilayah pelabuhan Laut Jawa sebagian besar didominasi oleh pengumpul rempah-rempah. Mereka mendapatkan rempah-rempah dengan menukar beras Jawa. Proses barter tersebut dilakukan oleh kapal pembawa rempah-rempah untuk melengkapi bahan logistik atau persediaan perbekalan kapal.
Sejatinya Rempah-rempah menjadi komoditas berharga dan banyak dicari oleh bangsa Barat seperti halnya emas. Kebanyakan rempah-rempah berasal dari daerah tropis atau subtropis. Orang orang Eropa mencari rempah-rempah hingga ke wilayah asal rempah-rempah yaitu Asia Tenggara. Peradaban kuno, seperti India, Timur Tengah, dan Tionghkok, telah menggunakan rempah-rempah sejak dahulu.
Salah satu upaya sosialisasi atau diseminasi berkaitan dengan sejarah dan budaya jalur rempah khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan melalui seminar daring ataupun webinar. Kegiatan ini dilakukan untuk mengantisipasi pengumpulan massa sekaligus melaksanakan protokol kesehatan mengingat resiko yang tinggi jika dilaksanakan dengan pengumpulan massa dalam satu tempat.
Yuk #KancaBudaya sedaya, daftar dan ikuti “Webinar Jalur Rempah” dengan tema “Romansa Kekayaan Rempah Jawa”, yang diselenggarakan oleh Direktorat pengembangan dan pemanfaatan kebudayaan bekerjasama dengan BPNB D.I. Yogyakarta pada hari Rabu, 21 Oktober 2020, pukul 10.00
– 12.00 WIB.
– Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia) – Drs. H. Tavip Supriyanto, M. Si (Pjs Walikota Semarang)- Dra. Dwi Ratna N, M. Hum (BPNB DIY) – Rendra Agusta (Peneliti di Sraddhasala)
Salam Budaya 🙏
Kelas Jawa Kuna Palawa UNS 2020
Salah satu rangkaian dalam acara Palawa 2020 kali ini adalah diadakannya berbagai kelas yang bertajuk Sinau Bareng Jawa Kuna yang membahas mengenai Jawa Kuna baik dari segi Jawa Kuna secara umum, bahasa, aksara, sastra, maupun kaitannya dengan ilmu disiplin yang lain.
Banten dalam Manuskrip Jawa
Selamat siang, Sobat Girang. Apa kabar? Ada yang berbeda dari Seri Diskusi Girang ke-19, nih. Pada Senin, 19 Oktober 2020, kita akan mulai lebih awal, pukul 14.0p s.d selesai.
Kali ini ada Rendra Agusta, peneliti dan filolog dari Sraddha Institute (@sraddhasala) yang akan mendedah tentang “Banten dalam Manuskrip Jawa”.
Hmm? Bagaimana rupa Banten dalam manuskrip Jawa, ya?
Yuk, langsung daftar aja ke tautan bit.ly/seridiskusigirang19
Kalau kesulitan saat mendaftar, bisa hubungi @jafra30 atau langsung DM kami.
#seridiskusigirang#diskusidaring#banten, #perpusdabanten, #labbantengirang, #biemco, #diakusi, #free
Geomitologi Pesisir Selatan Jawa: Pertemuan Lintas Disiplin Geologi dan Foklore.
Macak Intelek #2
Membincang Mitos bersama dua peneliti Sraddha InstituteMas Adi Wisnurutomo dan Mas Franky Crissz
Membincang Cagar Budaya di Surakarta
Kajian Awal Wayang Dupara
Wayang Dupara — sebuah lapis jagad pewayangan yang jarang dikenal masyarakat. Alih wahana dari Babad Tanah Jawa ke dalam wayang. Bagaimana perkembangannya? Kenapa tidak dikenal? Di mana artefaknya?
Mari bergabung dalam bincang-bincang di IG @java_pustaka bersama Rendra Agusta (Sraddha Institute) dan Rudy Wiratama (Pepadi Surakarta)
WEBINAR IMBASADI #3 2020
Tema:
“Lulusan Bahasa dan Sastra Daerah jadi Dukun?”
.Pembicara:
Taufiq Hakim
– Co-Founder Komunitas Jagongan Naskah
– Alumni Sastra Nusantara UGM
Kang Rendra Agusta
– Cantrik Sraddha Institute
– Alumni Sastra Daerah UNS
Latif Nur Hasan
– Sekretaris Prodi Pend.Bahasa dan Sastra Jawa UNESA
– Alumni Pend.Bahasa dan Sastra Jawa UNESA
Moderator:
Luh Eka Wahyuni
-Putri IMBASADI 2019
-Mahasiswa Pend.Bahasa Bali UNDIKSHA
Waktu & Tempat Pelaksanaan:
: Jumat, 18 September 2020 : 13.30WIB

Eko-mistisisme Centhini

Ngebel dan telaga memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Tapi taukah kita bahwa di masa lalu Ngebel juga menjadi salah satu tempat yang memiliki daya tarik tersendiri? Bukan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai tempat yang disinggahi oleh salah seorang tokoh besar spiritual Jawa dan tercatat dengan baik di Serat Centhini. Tokoh siapakah yang dimaksud dan apa yang dilakukan di sana? Semua akan dikupas oleh Bung Frengki dari Sraddha Institute @sraddhasala dalam Dialog Jumat Pahing yang dipersembahkan oleh Kedai Dialog Nusantara pada Jumat, 18 September 2020. Terbatas pada 20 peserta. Dont miss it!
Reservasi via whatsapp 0823 2424 0913 (Alif)

