Kang palwa saengga wisma den elis den ukir-ukir ingecet sinung parada rerakite anglir loji sinekar sir-linungsir. sinekar sir-linungsir ing sutra bang kuning dhadhu mulane sinung aran. Rajamala kang cecanthik ingukiran rineka ya Rajamala (Babad Madura 8.11).
Alih wahana teks ke dalam media-media lain menjadi titik penting bagi perkembangan seni di kota Surakarta. Kali ini Young Djava Syndicate bersama Sraddha Sala mengangkat tema Rajamala sebagai narasi besar pergelaran musik. Mari bergabung berbagi cerita bersama bersama Kang Rendra Agusta (Sraddha Institute) dan Mas Titus (FSRD ISI Surakarta).
Lab Ilmu Sejarah mempersembahkan “Diskusi Senja Kilas Budaya” dengan judul “Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran Masyarakat Yogyakarta” yang akan dilaksanakan pada:
Minggu, 24 April 2022
15.30 – 17.00 WIB
Via Daring (Zoom Meeting)
Dibersamai dengan pembicara yaitu:Kukuh Setia Widodo (Sraddha Institute)
Moderator: Zaki Azmirrijali (Ketua Lab Ilmu Sejarah 2019)
Keberpihakan pada HAM menjadi biang penting terdaftarnya Reyog sebagai ICH UNESCO. Masalahnya, tarik-ulur kesejarahan masa peristiwa “Merah” masih membekas dalam perdebatan. Polarisasi kanan-kiri atau islam-komunis menyertai harum dan agungnya kesenian Reyog sampai hari ini. Tafsir kebudayaan seperti itu sangat sah dan memang harus terjadi. Karena setiap zaman punya permasalahan dan penyelesaiannya masing-masing. Namun, jika pada hari ini masalah itu masih bergulir “apakah Reyog dapat menyandang status ICH UNESCO?” Narasi alternatif Reyog Ponorogo sangat diperlukan. Untuk itu, mari berdialektika dengan kepala dingin dan pelukan hangat persaudaraan di acara Ngopi Nyore #26@mucoffesaja tanggal 23 April 2022 bersama kak Frengki Nur FP (Sraddha Institute) dan bapak Soehardo, SH, M.M.
Lan sawise Gusti Yesus wungu, wong-wong mau padha metu saka ing kubur, banjur lumebu ing kutha suci lan ngaton marang wong akeh (Matius 27:53). Selamat Paskah kawan-kawan. Berkah Dalem.
Memasuki tahun ke enam ini, kami mengajak untuk kembali menyelami Sad Darśana (Samkhya, Yoga, Nyaya,Vaisheshika, Mimamsa, Vedanta). Dari pendasaran berfikir itu, mari kita juga merasakan kembali Sad Rasa (Madhura, Amla, Lavana, Tikta, Katu, Kashaya) sebagai parameter olah rasa dan olah raga. Menjaga raga tentu juga menghindakan raga dari tindakan buruk yang tertuang dalam konsep Sad Atatayi (Agnida, Wisada, Atharwa, Sastragna, Dratikrama, dan Raha Pisuna). Tutug tutup agar sempurna, tentu juga menjaga alam dan manusianya seperti dalam konsep Sad Kerti (Atma kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti, Jagat Kerti, dan Jana Kerti).
Diskusi Rebon Lesbumi Kota Surakarta —Kali ini mengangkat tema Sastra Jarwan masa R.Ng. Yasadipura II (T.Sastranagara). Acara pada 23 Maret 2022 di Aula PCNU Surakarta. Acara diskusi ini bersama Rendra Agusta dari Sraddha Institute Surakarta.
Kesadaran mistik dan ekologi menjadi titik penting memahami Serat Centhini, hingga turunannya yang melahirkan kesadaran mistik dan ekologi yang baru. Kali ini salah satu Cantrik Komunitas Sraddha, yang saat ini sedang menempuh S2 Ilmu Susastra di UNDIP, Franky Crissz akan membincang Centhini di Madiun. Mari merapat, aa kopi dan diskusi yang hangat. #ayosinaumaneh
Ada dua “tagline” besar saat membangun komunitas Sraddha, pertama #meretasjarak, kedua #ayosinaumaneh.
Hari ini Sraddha memasuki tahun ke enam, pada intinya ada banyak hal yang membuat manuskrip itu ber- #jarak dengan manusia pewarisnya. Sampai ada pertanyaan, apa fungsi sesungguhnya kajian naskah hari ini?
Tentu komunitas ini tak punya jawaban yang “cespleng”, tetapi setidaknya ada upaya dan uji coba berulang-ulang. Kadang upaya #meretasjarak ini disambut tepuk tangan hebat di forum-forum internasionil, kadang-kadang penyimak hanya terdiam, entah mengerti atau memang tak menarik. Faktanya bisa saja keduanya. —
Malam 1 Januari 2022, komunitas mencoba menghidupkan tradisi bertutur, dalam bahasa Jawa ditemukan banyak kata gantinya, “ngecuprus” atau “nyalěmong”, dalam bahasa yang lebih halus “crita”, dan lain-lain. Malam ini kita menceritakan naskah ” Danyang Salah Kedaden”. Salah satu naskah pesanan J.L.Moens yang dibuat oleh Ki Widi Prayitna. Moens dan Mbah Widi sampun manjing kaswargan jati. Kini tinggal naskah yang disimpan di perpustakaan nasional RI.
Malam tadi program #meretasjarak berupaya mempertemukan kembali naskah Moens dengan cucu dan buyut Ki Widi Prayitna beserta lingkaran kawan-kawan sejawatnya di Randhu Jembagar. Alhasil sangat “gěr” dan membahagiakan.