Sraddha Institute berkolaboraasi dengan Taman Baca Masyarakat Semburat Desa Temu Ireng Jatinom Klaten membincang tradisi Kenduren.
Author: sraddha
BAHASA (Bahas Apa Saja)
Topik BAHASA kali ini membincang Pelestarian Kearifan Lokal dalam Naskah Kuno Melalui Enkulturasi Nilai dan Norma Budaya.
RABU, 29 Desember 2021, 09:00 WIB
Narasumber:
Mahsruri (Balai Bahasa Jawa Timur)
Rendra Agusta (Sraddha Institute)
#UdanUdanan bersama Sraddha
Undangan diskusi Sraddha Sala:
“Tik tik tik bunyi hujan” Halo! Apakah atas genting kawan-kawan apakah udah ada tik-tik bunyi hujan? Memasuki bulan Desember dalam sistem penanggalan Gregorian dan “mangsa kapitu” dalam sistem pranatamangsa ditandai dengan curah hujan tinggi.
Nah kali ini Sraddha Sala mengundang kawan-kawan untuk bergabung dalam diskusi #Udan-Udanan
Pemantik diskusi:
Anggita Anjani
(Alumni Sastra Jawa UI — Naskah Darmawarsa Merapi-Merbabu)
Muhammad Heno
(Alumni Sastra Jawa UI- Naskah Pangujanan dalam tradisi Bali)
Indra Agusta
(Volunteer Sraddha Sala — Fenomena Hujan dalam Alkitab dan tradisi Kekristenan-Abrahamik)
Athar Fuadi
(Pemuda NU Boyolali — Meminta hujan dalam tradisi Islam di Nusantara)
Moderator: Adi Wisnurutomo
(Volunteer Sraddha – Mahasiswa S2 PSPSR UGM)
Acara tanggal 23 Desember 2021 pukul 15.00-17.00 WIB
Link: https://uni-hamburg.zoom.us/j/62656672561?pwd=elJmU1h4YUVKMitwU0syd2lpQzVnQT09
Meeting ID: 626 5667 2561
Passcode: 02586743
Kita mengenang momen hujan-hujanan di masa kecil. Siyuuuu 👋
Design by @reginadwtr #AyoSinauManeh
Menghidupkan Skriptoria Pegunungan Jawa
Sejak naskah-naskah pegunungan ini dibawa ke Batavia pada tahun 1850, masyarakat pegunungan tidak banyak yang tahu tentang keberadaan naskah lebih-lebih konten isi naskah tersebut. Tentu dalam beberapa laporan pun juga menyatakan bahwa tradisi tulis sudah berhenti di tahun-tahun sebelum akuisisi naskah itu. Dengan tahun relatif 1600-an (1567 Ç – L 127), maka keberadaan skriptoria pegunungan ini setidaknya sudah berusia empat abad. Dari tahun akuisisi itu pula setidaknya tradisi menulis lontar di pegunungan sudah berhenti selama seratus lima puluh tahun. Romo Kuntara dalam beberapa kesempatan mengajar pun juga menginginkan tinggal di Windu Sabrang, dan mengajar masyarakat pegunungan membaca lontar.Di penghujung tahun ini, Sraddha Sala mencoba memulai kembali penulisan dan pembacaan lontar-lontar pegunungan Jawa, di mulai dari lereng timur laut gunung Merbabu. Sebuah tempat yang dikunjungi Bujangga Manik untuk belajar pengetahuan dari lontar-lontar ini. Semoga ada jalan untuk membawa lontar-lontar ini ke desa-desa yang lain, di seluruh pegunungan Jawa. #ayosinaumaneh
Jejak-jejak Mataram Kuno di Sokawati
Sejak kapan sih kabupaten Sragen membranding namanya menjadi Sokawati? Apakah iya Sokawati hanya meliputi wilayah kabupaten Sragen hari ini? Pada ruang temporal apa kata Sragen mulai muncul dan dikenal?
Mari yang longgar bisa bergabung bersama diskusi bareng Pemerintah Kabupaten Sragen, bersama Ibu Bupati dan jajarannya.
Diskusi kali ini dibuka oleh Bupati Sragen Ibu dr. Kusdinar Untung Yuni Sokawati, Dedy Endrianto (mantan wakil bupati kabupaten Sragen). Selanjutnya diskusi ini dibahas oleh saudara Johny Aryawan, M.Kom selaku kabid kebudayaan Disdikbud Kab. Sragen, Andjarwati Sri Sayekti, M.Sc, dan Rendra Agusta, M.Sos.
Lounching buku Benantara
Salam dan Bahagia
Webinar Series untuk membahas Sejarah dan Alam akan segera hadir lho! Webinar ini adalah acara untuk menyambut penerbitan buku antologi esai Benantara!
Yuk… bagi yang ingin membahas kaitannya Alam Nusantara dan Sejarah Bangsa Indonesia dapat klik tautan pendaftarannya di https://bit.ly/benantara
Oh ya, untuk peserta yang terpilih akan ada buku gratis di tiap serinya loh!!
Cuuussss buruan daftar ya
Webinar ini terselenggara atas kolaborasi bersama Komunitas Edukasi Museum beserta para kontributor esai Sebuku bersama sejarahwan #1 Lihat Lebih Sedikit
Pratelan Lose Prametselar
Saur Manuk

Beberapa kali Volunteer Sraddha mendapat pertanyaan, apa peran praktis peneliti naskah kuno terhadap pengembangan ekonomi mikro dan ekonomi kreatif rumahan?
Mungkin acara ini adalah satu dari jawabannya. Bersama Majelis Jumat Kliwon Randu Jembagar Boyolali, lurah komunitas Sraddha Surakarta, Rendra Agusta akan membincangkan sebuah naskah terkait Katurangganing Manuk Kutut. Naskah ini berangka tahun 1847 Masehi ditulis di Surakarta.
Kami mengundang siapa saja yang tertarik soal perburungan ini baik pemelihara, peminat, pedagang, pemuja dan lain sebagainya. Di pasar kita mengenal berbagai tradisi lisan terkait Katuranggan ini, ada penciptaan nama-nama katuranggan baru setelah hampir 200 tahun keberadaan naskah ini. Secara ekonomi, semoga diskusi naskah kuno ini menjadi pendasaran “re-branding” untuk penjualan burung ternakan, secara khusus perkutut.
Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII
Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara XVIII diselenggarakan secara daring pada tanggal 25-26 Agustus 2021. Kali ini salah satu Volunteer Komunitas, kak Kukuh memaparkan “Perjalanan Membawa Pulang Pengetahuan ke Pedesaan”. Perjalanan Sraddha Sala selama lima tahun, suka duka, dan memori kebahagiaan tentunya. Semoga sehat dan bahagia selalu, Semoga abadi ilmu para Ajar di gunung-gunung.

Bedah Naskah Tatacara Sokawati

Diskusi tematik bulan ini kita membincang “Pengetan Tata Cara Sokawati”, sebuah naskah Jawa yang memuat tata upacara mantu di Sokawati (Sragen hari ini). Diskusi ini dipaparkan oleh kak Afiq Putra Pradana (Sastra Jawa angkatan UNS 2017) dan dimoderatori oleh kak Naufal Bahauddin Wafi (owner Hik Sempulur Gemolong).

Serat Tatacara Sokawati merupakan karya K.R.M.T Sumanagara yang juga Bupati Pangreh Praja Sragen saat itu. Naskah ini memuat berbagai perbedaan dari dua nagara agung (Panekar-Panumping) dengan serat Tatacara Pajang yang dibuat Ki Padmasusastra. Diskusi ini mengungkapkan kebudayaan Jawa yang kompleks dan memiliki keragaman tersendiri, termasuk tradisi mantu di luar patron kraton.
Bagi kawan-kawan yang kemarin belum sempat mengikuti, bisa menyimak rekaman via Youtube dan Spotify.


