Meretas Jarak
(Otokritik Limangtahunan Sraddha Sala)[1]
Oleh
Rendra
Agusta
Selamat malam kawan-kawan,
Malam ini agaknya saya tidak perlu
menyampaikan salam dengan banyak versi, selain bikin repot pastinya juga memperpanjang renungan malam ini. Maka
dari itu, sebaiknya saya menyampaikan “selamat malam” saja, semoga semesta dan
sesama masih mencintai raga yang didiami jiwa ini. Malam ini ijinkan saya
membaca tulisan ini, mengingat saya adalah orang yang imajinatif, agaknya
merasa perlu saya membaca tulisan saja, agar renungan menjadi lebih terarah dan
terukur. Semoga bisa menjadi bahan perenungan kita bersama, atau setidaknya
menjadi dongeng pengantar tidur kawan-kawan yang hadir malam ini.
Paparan ini saya buat persis pada
tanggal 2 April, tepat lima tahun yang lalu peringatan seribu hari guru saya,
dan agaknya menjadi guru kita semua, Romo I. Kuntara Wiryamartana, S.J. Pada
peringatan seribu hari itulah kami membuat komunitas ini.
Saya sering menyebut beliau Romo
Kun, beberapa senior dan guru-guru saya menyebut beliau dengan Romo Petruk. Seorang
Romo yang membawa Petruk selama menjalani sidang disertasi “Arjunawiwaha”-nya
di Leiden. Disertasi yang menjadi jembatan bagi peneliti berikutnya, disertasi
yang menjembatani karya sastra pegunungan dan kraton, tentu juga disertasi yang
menjembatani kehidupan kita hari ini dengan kehidupan para Ajar di pegunungan
di masa lampau.
Romo Kun adalah sosok yang mengubah
pandangan akademik saya yang “sangat menara gading” menjadi “pengetahuan untuk
masyarakat”. Sebagai murid dari seberang kali Oya, yang harus melewati sungai
Gajah Wong untuk sampai di Peguron Sastra tertua di Indonesia (tempat Mas Zaki
menjadi guru saat ini), saya menempuh jarak
limapuluh kilometer, begitu juga jauhnya jarak pengetahuan saya saat itu
tentang Sastra Jawa Kuna. Mungkin jika kami tidak bertemu beliau, saya akan
menjadi peneliti sangkar ayam, hidup di dalam kuil-kuil sastra tanpa peduli
kanan-kiri dan terus berjarak dengan masyarakat pamengku kebudayaan itu.
Sering
saya berceloteh kepada kawan-kawan di kereta Jakarta-Bandung, tentang ucapan
Pidi Baiq (Novelis Dilan yang terkenal itu).
“Jangan takut pada jarak, karena jarak hanya nama pohon” – Pidi Baiq
Saya
sepakat dengan kata-kata Pidi Baiq ini, tetapi ketakutan pada jarak juga tidak
bisa dianggap hal yang remeh begitu saja. Untuk hal-hal sederhana, jarak bisa
membuat rindu rindu yang mendalam bagi sepasang sejoli. Tetapi jarak jugalah
berpeluang untuk seseorang “mangrwa” – mendua, tumbuh kebosanan, hingga
kandasnya sebuah hubungan percintaan. Tentunya malam ini kita tidak hanya akan
membincang soal roman picisan dan problematika remaja di era informatika, lebih
dari itu kita akan sedikit demi sedikit masuk dalam perbincangan kebudayaan.
Tidak
jauh dari dunia roman picisan anak muda, saya pernah mengalami peristiwa
menarik ketika saya jatuh cinta dengan
seorang perempuan dari tatar sunda. Sebagai seorang keturunan Jawa yang nomaden
banyak juga yang menasehati saya. “Jangan nikah dengan orang sunda, nanti bla bla bla” inti nasehat dari teman
saya yang orang Jawa adalah menjelekkan orang Sunda. Hal serupa juga terjadi
sebaliknya, ketika saya berteman dengan orang Sunda, tak sedikit yang bilang
orang Jawa munafik, banyak perbuatan yang berbeda dengan ucapan bla bla bla. Hal yang mencengangkan
terjadi ketika saya mengenal beberapa orang dari kedua belah pihak, Jawa dan
Sunda, yang mengkukuhkan permusuhan berbasis pengetahuan masa tentang peristiwa
Bubat.
“… Tumuli
Pasunda Bubat. Bhre Prabhu ayun ing Putri ring Suṇḍa. Patih Maḍu ingutus anguṇḍangeng
wong Suṇḍa, ahiděp wong Suṇḍa yan awawarangana
…”
“… The start
(cause) of Pasunda Bubat. Bhre Prabu who desires the Princess of Sunda sent
Patih Madhu, a senior mantri (minister), to invite the Sundanese. Did not mind
being a besan (in-law),[iv] came (Prabu Maharaja King of) Sunda (to Majapahit).
Instead of being welcomed with a welcoming party, they face the harsh attitude
of Mahapatih Gajah Mada who demands the Princess of Sunda as an offering.
Sundanese parties disagree and are determined
to war.” – Pararaton
Jarak
yang jauh antara masyarakat umum dan pengetahuan ini membuat mitos
berkepanjangan tentang cerita Bubat. Jarak yang jauh ini akhirnya membuat produksi
ulang bacaan-bacaan rakyat dengan berbagai wahana. Hal ini yang menjadi
masalah-masalah baru dikemudian hari bahkan masih bisa dirasakan sampai hari
ini seperti kisah cinta saya tadi.
Populisme tentang Pa-sunda Bubat
mungkin satu fragmen kecil dari masalah bangsa yang tidak tuntas. Di kemudian
hari kita masih menemukan Pa-Giyanti, pertarungan budaya yang tidak kunjung
selesai sejak 1755. Sambung menyambung tentang narasi nasionalisme yang sempit,
dengan ditandai narasi sejarah pada puncak-puncak revolusi hingga isu
militeristik dan rasial? Apakah benar ini kebudayaan kita? Jawabannya pasti
iya, intrik politik adalah bagian kecil dari kebudayaan kita. Tetapi kalau kita
bertanya? Apakah ini peradaban Jawa? Jika peradaban digunakan untuk menata adab
manusia agar lebih manusiawi, jawabannya tidak. Kita punya ruang-ruang cinta-cita
yang lebih menyejukkan dari sekedar mengurus chauvinisme berbasis teks dan
konteks.
Dua tahun yang lalu, saya berkala
berkunjung bulanan ke wilayah Kedu sampai Wonosobo untuk mencatat
parikan-parikan dalam Lenggeran dan Bundengan. Salah satu lirik yang saya
temukan adalah teks Sularsih-Sulanjana. Sebuah anomali, di wilayah Jawa Tengah
saya menemukan konteks Sularsih-Sulanjana lebih dikenal daripada Sri-Sadana,
lebih dekat dengan kebudayaan tatar Sunda Cirebonan. Tentu saja kisah kelindan
kebudayaan antara Sunda-Jawa ini mendasar dan historis dalam teks-teks Jawa
Pertengahan, semisal teks Bujangga Manik.
Bujangga Manik merupakan karya sastra
beraksara dan berbahasa Sunda Kuna, hibah Thomas James yang disimpan di Bodlean
Library UK sejak tahun 1627 Masehi. Setidaknya dalam naskah tersebut perjalanan
Bujangga Manik ke Merbabu berhenti di dua tempat yakni Pajaran (Pamrihan,
Mriyan?) dan Pantaran (tempat kita duduk bersama malam ini). Bujangga Manik
belajar bahasa, aksara, ajaran Jawa dengan mengunjungi Ajar-Ajar pegunungan
Jawa.
Kakara cunduk ti gunung, kakara datang ti wetan,
cunduk di gunung Damalung, datangna ti Pamrihan, datang ti lurah pajaran.
Aku baru datang dari gunung, aku baru saja tiba dari timur,
tiba dari gunung Damalung, datang dari Pamrihan, datang dari wilayah aliran agama.
(BM 593-597)
Asak beunang ngajar warah,
asak meunang maca siksa
pageuh beunang maleh pateh
tuhu beunang nu mitutur
asak beunang pangguruan
Matang
setelah digembleng,
matang
setelah membaca pegangan,
kuat
setelah (?) aturan,
setia terhadap apa yang dinasihatkan,
matang
setelah mendapat ajaran.
ti kidul gunung Damalung
inya na lurah Pantaran
di
selatan adalah Gunung Damalung,
termasuk
ke daerah Pantaran,
(BJ
770)
Petikan
ini memberi narasi lain tentang hubungan Sunda-Jawa yang lebih harmonis. Begitu
juga malam ini, komunitas memilih Pantaran sebagai ruang renung untuk mengenang
keberadaan gunung di depan kita ini. Malam ini kita sangat dekat dengan
Merbabu, tetapi apakah benar kita benar-benar mengenal Merbabu sebagai Puja
Mandala? Sebagai Sastra Mandala?
Relasi
antar Pangajaran antar gunung juga bisa ditemukan dalam Suluk Tambang Raras.
Jayengresmi melakukan pengembaraan ke ujung Jawa bagian Barat, berguru pada
orang-orang suci di pegunungan, sampai menetap di gunung Karang. Ia mendalami
ilmu keislaman bersama Syaikh Karang, setelah dianggap cukup, ia berganti nama
menjadi Syaikh Amongraga. Pengembaraaan orang-orang antar pengajaran abad
XV-XVII menjadi salah satu prototype yang menginspirasi komunitas ini sejak
dari pendiriannya. Pertanyaannya apakah kita dari semua yang hadir ini,
mengenal dengan baik masyarakat pegunungan? Kebudayaan yang lahir di dalamnya?
Atau ruang-ruang esoteris dalam Wanasrama yang ditinggalkan? Bahkan perubahan
kebudayaan dan keagamaan di pegunungan yang lekat dengan hal-hal sosio-ekonomi
kadang kita tidak tahu menahu?
Dalam
babad pasranggrahan Madusita, satu dari belasan Pasanggrahan yang didirikan
kraton Surakarta. Di balik cerita kemegahan kunjungan Sunan, tentu yang tidak
tercatat adalah kehidupan masyarakat desa sehari-hari. Kehidupan masyarakat
yang harmonis di dalam tekanan “culture stelsel”. Faktanya memang benar wilayah
Vorstenlanden ini tidak ada tanam paksa, tetapi para pangeran menyewakan tanah
kepada expatriate untuk penanaman tanaman komoditi sejenis, memberi gaji kepada
masyarakatnya. Tentu perlu kita renungkan kembali definisi “culture stelsel”,
tidak sesederhana tanam paksa, tetapi dengan melihat apa yang ditanam, sistem
kerja, sistem penggajian, akan berdampak kepada masyarakat, lagi lagi
memunculkan kebudayaan baru. Yang menyesuaikan diri, dia akan selamat,
sedangkan yang lainnya akan hilang tergilas arus zaman.
Sesungguhnya
hari ini pun kita mengalami hal yang sama. Sebelum pandemi ruang-ruang gerak
masyarakat teratur dan diatur dalam sistem kebudayaan besar. Kebudayaan ini
bermuara kepada hal-hal besar juga, pada bidang material praktis kita berpacu
dalam sosio-ekonomi, sedangkan bidang i-material kita berpacu pada bidang
religio-mistika. Dua hal yang agaknya hari-hari ini menjadi jalur besar, dan
kadang-kadang mewarnai bidang-bidang lain seperti politik, pangan, kesenian,
dan pendidikan.
Pendidikan
Indonesia sejak dilengserkannya Ki Hajar Dewantara dari Menteri Pendidikan,
sebenernya kita mengacu pada sistem pendidikan gaya Landa. Berseragam, penuh
doktrin, diarahkan pada hal-hal material, dll. Hal ini juga merambah ke dunia
perguruan tinggi, keberadaan AI, sistem-sistem penangkap plagiasi seperti
Ratmin dan kawan-kawannya. Saya masih teringat pidato Mas Pujo Semedi beberapa
waktu lalu saat peringatan Dies Natalies Fakultas Ilmu Budaya UGM, “Mari
kembalikan kecerdasan akademik kepada akademisinya, bukan pada kecerdasan
buatan.” Jika hal ini tetap berlangsung mungkin ilmu budaya tetap ada, ilmu
humaniora tetap ada, tetapi sarjana humaniora ini akan semakin jauh dari
kemanusiaan itu sendiri.
Secara
khusus, dalam bidang pendidikan yang kami geluti, Filologi berkembang begitu
pesat, mulai dari digitalisasi naskah, dating karbon, pengembangan font aksara
nusantara, tampilan-tampilan tiga dimensi yang serba canggih. Komunitas ini
hanya mengambil peran kecil dari perkembangan digital itu, yakni membawa pulang
pengetahuan naskah-naskah kepada masyarakat pamengkunya. Secara luas membawa
“ilmu humaniora” kembali kepada masyarakat pamengkunya. Mungkin ini dianggap
kegiatan yang jadul dan kuno, tetapi jalan ini memiliki arti penting untuk
meretas jarak pengetahuan. Sekolah formal kini bersaing ketat dengan “Kyai
Hologram”, kadang-kadang yang terlupa adalah kesadaran diri akan bijak
berdijital. Hal-hal itu yang perlu kita renungkan bersama. Mengapa narasi yang
harmonis ini tidak mencapai puncak-puncak peradaban kita? Peradaban yang kita
sebut 4.0?
Limatahunan
Sraddha
itu berarti keyakinan.
Kira-kira
begitulah kata yang paling sederhana untuk menerangkan kelahiran dari komunitas
ini. Komunitas Sraddha tidak terlepas dari lalu lalang kawan-kawan yang pernah
bertemu Rama Kuntara, ikut diskusi-kelasnya, dan sampai pembacaan karya-karya
untuk mengenang kematiannya. Kumpulan geguritan berjudul panglocita merupakan sisi lain dari Romo Kun yang juga memberikan
gambaran kehidupan kita. Salah satu geguritan yang sangat menginspirasi saya
saat itu adalah Brajangan. Saya dan kawan-kawan seperti Branjangan yang
berteduh mencecap air, lalu sekelebat melanjutkan perjalanannya. Saya merasa
begitu cepatnya waktu, hingga sekejap saja mencecap ilmu, lalu sekejap itu pula
kita akan kembali kepada Hyang, lengkap bersama ilmu yang kita cecap.
Awal-awal
perjalanan sunyi ini dilapaskan perpustakaan Kolose Saint Ignasius Yogyakarta
dan Pustaka Artati perpustakaan Sanata Dharma. Dua tempat yang menjadi titik
temu kawan-kawan yang sempat dan pernah belajar Jawa Kuna di Yogyakarta,
ditempat itulah saya bertemu Romo Kun. Di dua tempat itu pula saya mendapatkan
istilah ilmu pecothotan, mungkin
sejenis jiwa katon yang lahir dalam banyak karya-karya besar,
secara khusus Sastra Jawa. Romo Kun dan Ibu Kartika pun seperti Branjangan,
sekejap menjadi guru saya, lalu keduanya kapundhut
disaat saya baru saja mencecap ilmu dari beliau berdua.
Sepeninggal
mereka berdua, saya seperti Ekalawya, lalu timbulah hasrat untuk menghidupkan
kembali mereka dalam pembelajaran-pembelajaran alternatif. Tentunya hal ini
berlanjut ketika saya bertemu Mbah Mitro, penunggu lontar terakhir Dakan, yang
juga menjadi informan banyak peneliti Merapi-Merbabu. Sejak saat itu saya sering
bermain ke desa-desa di lereng-lereng gunung, alih-alih lelah dengan dunia
perkotaan dan akademis, sebenarnya saya berguru pada orang-orang bijak di
pegunungan. Lebih-lebih saat ruwah seperti saat ini, desa-desa di kaki pegunungan
masih menyelenggarakan Nyadran untuk
mengenang leluhur. Dari perjalanan itu membukakan mata saya tentang jarak
pengetahuan ketika lontar-lontar itu dibawa ke Batavia. Masyarakat
Merapi-Merbabu tidak banyak lagi yang tahu tentang keberadaan lontar
lebih-lebih isi di dalamnya. Jarak masyarakat sangat jauh dengan museum-museum
yang ada di Kuthanagara. Dengan
keterbatasan pengetahuan saya, sedikit “keyakinan” saya, maka saya nekat membuat ruang mungil ini di
Sala.
Tahun-tahun
awal tentunya tidak mudah, pertama saya mengucapkan terima kasih kepada
Volunteer yang dengan suka-duka tetap meluangkan waktu demi keberlangsungan
komunitas ini. Saya tentu tidak bisa untuk tidak menyebut Universitas Sebelas
Maret dan Taman Budaya Jawa Tengah yang mengijinkan pemakaian ruangan untuk
diskusi rutin. Setelah itu pastinya Museum Radya Pustaka yang hingga saat ini
menjadi ruang tetap diskusi Sraddha Sala. Lima tahun banyak kenangan yang tak
bisa dilupakan, mulai antusiasime peserta dari seluruh Jawa, bahkan dari semua
kampus yang memiki prodi sastra Jawa dan Jawa Kuna (UNS, UGM, UI, UNNES,
UDAYANA, dll). Ada seorang perangkat desa dari Pati yang setiap minggu datang
ke Solo, ada pula mahasiswa dari Surabaya yang juga demikian. Rasanya, saya
harus menaruh hormat kepada kawan-kawan yang berkenan menjadi bagian dari
komunitas ini. Selain antusiasisme peserta, tentujuga dukungan baik moral dan
material. Saat komunitas berkunjung ke Wonosobo, ada orang bijak yang tiba-tiba
membelikan segerobak Mie Ongklok. Begitu juga ketika kami ke Tulungagung,
tiba-tiba ada seorang guru yang memberikan kami satu keranjang Jeruk utuh, luar
biasa. Tentunya kami tidak bisa menyebut satu demi satu kawan-kawan (baik
secara pribadi, kelompok, maupun instansi) yang pernah dan akan mengambil peran
dalam program amatir ini.
Kawan-kawan
yang berbahagia semoga belum didera kantuk.
Sekedar
untuk mengakhiri paparan saya, tentu saya juga tidak hanya akan mengajak
kawan-kawan untuk mengenang yang indah-indah dalam kerja budaya amatir ini. Di
luar sana, di luar lingkaran kecil kita malam ini, jarak ilmu pengetahuan
begitu jauh, dan agaknya kita bersama perlu bergerak bersama-sama.Bekerja sama
pribadi lintas pribadi, komunitas, hingga instansi Negara. Kita perlu
mengenalkan kembali perangai ilmiah dalam bentuk yang sesederhana mungkin
kepada masyarakat, sehingga pseudosains dan populisme tidak makin menggelapkan
mata kita.
Fakta
dari sejarah kebudayaan harus kita terima dengan hati terbuka. Tentu kita tidak
akan mempelajari Majapahit atau Sriwijaya karena kejayaannya saja, tetapi juga
mempelajari mengapa kerajaan sebesar itu bisa hancur? Tentu kita juga masih
ingat kekuatan Mataram Islam yang menguasai hamper seluruh Jawa, dibalik itu kita
juga harus belajar tentang kehancuran-kehancuran yang ada. Secara khusus, kita
punya Pangajaran yang hebat sejak abad VII-XVII. Tetapi kita juga perlu
berpikir sejenak akan keberadaan sekolah dan universitas di masa kini. Benarkah
pendidikan ini adalah hak segala bangsa? Benarkah pendidikan ini memerdekakan?
Bukankah kita juga perlu duduk diam sejenak dan terjaga sembari merenungkan
bentuk transformasi pengetahuan yang pas untuk segala bangsa. Sudahkah kita
berupaya meretas jarak ilmu pengetahuan untuk kemashlatan umat manusia?
Memang jalan ini adalah jalan yang sunyi, jalan iman yang sunyi, jalan sraddha yang sunyi, semoga kita semua diteguhkan.
Bukan tidak mungkin paparan singkat ini hanya akan menjadi tutur lisan bagi setiap yang ada di sini, lalu dituturkan ke sesama kawan dari angkringan ke restoran-restoran. Paparan ini mungkin juga hanya akan disimpan di awan yang diciptakan raksasa-raksasa, yang bisa dibaca oleh setiap makhluk sebelum katastrofi dimulai. Dari itu semua saya masih berharap paparan ini disimpan dalam Rahim Semesta yang energinya bisa dinikmati oleh siapapun nantinya.
Semoga
dengan Wungon Lima Tahunan Sraddha Sala ini kita bisa saling asah, asih, dan
asih sebagai manusia di Bumi Allah sekaligus Bumi Manusia ini. Akhir kata,
mewakili semua Volunteer, saya mohon maaf jika program amatiran ini tidak mampu
memuaskan ingin dan angan kawan-kawan semua.
Selamat malam, selamat merenung, selamat berenang dalam renung.
#ayosinaumaneh Matur nuwun.
[1] Disampaikan pada Wungon Sraddha Sala pada 3 April 2021 di Pantaran, Gladhagsari, Boyolali.