
Selamat Menepi, Selamat Menyepi


Salah satu riset panjang Sraddhasala Institute berkolaborasi dengan trah Kertamanggala dusun Sewengi (Boyolali) adalah digitalisasi, alih aksara, alih bahasa, dan kajian isi dari naskah-naskah temuan di kampung-kampung. Tentu riset ini bukan riset mahabesar yang melibatkan kampus-kampus besar dan pendana besar, riset ini hanya riset kecil-kecilan yang dikelola sebuah trah keluarga dusun.Soal naskah-naskah pedesaan mungkin tidak semenarik naskah-naskah Kraton atau milik lembaga pemerintah yang besar, tetapi jika naskah padusunan itu tidak dijamah, maka yang ada hanya mistifikasi dan kembalinya naskah itu menjadi debu. Barangkali gerakan riset berbasis komunitas ini menjadi gerakan mungil di padukuhan yang membawa kesadaran baru, lebih-lebih menyoal “meretas jarak” antara kampus-kampung, akademisi-akaděmiti, museum-musoleum, dan lain sebagainya.Naskah kepunyaan Kertamenggala ini selama empat generasi dianggap “jimat”, diletakkan di sebuah nisan kayu atau dikenal sebagai “lělayaran” oleh masyarakat Merbabu. Tahun ini, keluarga besar mencoba membukanya, selain membuka ruang transformasi informasi, tentu juga membawa pengenalan sosok leluhur dan sosiokultural di zamannya. Setelah pembacaan panjang oleh beberapa volunteer śraddha (kak Kukuh Widodo dan Alfan Muhyar ), akhirnya kami beserta keluarga memberanikan diri memulai jagongan ringan pernaskahan dari kampung ke kampung.
Sejarah bukan untuk dilupakan tetapi untuk diingat sebagai pembelajaran masa depan. Rasa rasanya pada saat ini, banyak generasi muda yang abai mempelajari sejarah. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sejarah, kita sebagai bangsa besar jangan sampai melupakan sejarah.Pada tema kali ini Patungan-Ide akan membahas “Kenali Sejarah, Masa Depan Terarah”. Yuk kita diskusi santai sambil berpatungan IDE di Webinar Patungan Ide #37 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Warga pada:
Hari : Rabu, 3 Maret 2021
Waktu : 19.30 – 21.30 WIB
Patungan IDE itu Apa Sih?#patunganIDE adalah titik temu bagi orang-orang baik yang mau mendonasikan idenya untuk masyarakat yang lebih baik. #patunganIDE tidak memiliki sesi tanya-jawab. Kami memberikan kesempatan sama dan setara bagi pihak-pihak yang terlibat untuk bersuara dengan pikiran terbuka. Karena bagi kami setiap peserta adalah narasumber, dan setiap ide adalah harta karunnya.Dengan ikutan Patungan IDE, secara tidak langsung kamu sudah menjadi pemuda-pemudi yang memiliki semangat gotong-royong dalam memberikan IDE untuk kemajuan bangsa dan negara, bahkan menolong nasib sesama manusia.
Diskusi Daring Komunitas Sraddha
Lir gêsang jroning lampus/ pan mangkana ing pangraôsipun/ sang wanôdya dening tuk nugraha jati/ wus lama gyanira ngluruh/ utusanira Hyang Manon//
Bagaikan hidup dalam kematian/ demikian perasaan hatinya/ sang perempuan telah memperoleh anugrah sejati/ telah lama ia mencari/ utusan Tuhan//
Komunitas Sraddha mengajak kawan-kawan tercinta untuk bergabung dalam diskusi asyik bertema:
Serat Suluk Pawestri Samariyah: Membincang Kekristenan dalam masyarakat Jawa
Pemantik Diskusi: Kang Rendra Agusta
Moderator: Frengki Nur F.P (Cantrik Sraddha, Mahasiswa S2 Ilmu Sastra UNDIP)
Hari, Tanggal: Jumat, 26 Februari 202Pukul: 16.00 WIBVia: Google Meet
Link pendaftaran: https://docs.google.com/…/1FAIpQLSfOfMMF5UtimZ…/viewformSampai
Jumpa yaaaInfo lebih lanjut simak FB, Twitter, dan Instagram @sraddhasalawww.sraddhasala.or.id

oleh
Frengki Nur F.P
(Cantrik Komunitas Sraddha, Mahasiswa S2 Ilmu Sastra UNDIP)
Kucing hitam sangatlah identik dengan hal-hal yang berbau mitos. Di Cina, Jepang, Normandia dan Amerika Serikat kucing hitam dihubungkan dengan pertanda akan datangnnya keburukan atau kesialan. Bahkan kucing hitam pun dihubungkan dengan penjelmaan dari iblis. Hitam? Pernahkah memikiran warna apa yang dilihat penyandang Tuna Netra? Bukankah gelap itu juga hitam? Secara dikotomis, bukankah hitam atau gelap itu berlebihnya terang yang terpandang mata?
Begitu pula dalam memandang mitos kucing hitam. Di belahan dunia lain (sebut saja Inggris, Rusia dan Latvia) kucing hitam pun ada yang memandang sebagai pertanda akan datangnya kebaikan. Bahkan di Mesir Kucing hitam dianggap sebagai perwujudan Dewi Bast, Sang Dewa Matahari. Lalu, bagaimana Kebudayaan Jawa memandang kucing sebagai pertanda datangnya nasib baik atau buruk?
Khazanah historis budaya Jawa merekam kucing dalam relief beberapa candi diantaranya Candi Pawon, Candi Mendut dan Candi Prambanan. Dalam Kasusastraan Jawa abad XIX awal pun dapat ditemukan beberapa manuskrip yang membahas prihal berbagai pertanda dari Kucing. Beberapa korpus manuskrip yang dapat ditemukan antara lain: Serat Wani-Warni No RP 366 tahun 1847 dan Katurangganing Kucing Van Dorp tahun 1871 M koleksi Museum Radya Pustaka, Serat Ngalamating Kucing koleksi Kraton Yogyakarta dan Carcan Meyong koleksi Gedong Kirtya Bali.
Pertanda-pertanda itu sering disebut sebagai katuranggan dalam bahasa Jawa. Meskipun benak kita terkadang tergiring mengartikan turangga sebagai Jaran (Kuda). Namun istilah katuranggan diilhami oleh para penulis Jawa sebagai makna pengistilahan pragmatis untuk membincang tanda-tanda. Seperti halnya ditemukan dalam manuskrip Katurangganing Wanita, Katurangganing Perkutut, Katurangganing Jaran, Katurangganing Gagak lan Prenjak dan manuskrip Jawa lainnya.
Membincang Serat Katurangganing Kucing Van Dorp yang dicetak di percetakan GCT Van Dorp & Co di Semarang tahun 1871 M dapat ditemukan rentangan pemaknaan tanda dari kucing Jawa yang sering dipelihara.Entah ada angin apa, Di waktu sore hari menuju jam 4 Dyan Palguna seorang pria muda Kudus itu menulis Serat Katurangganing Kucing ini. Perihal pertanda kucing dari polah tingkah dan warna bulu itu dituliskan sebagai sebuah peringatan.
Ada 18 ciri dan pertanda kucing yang dituliskan. Ada 1) Kembang Asem 2) Berkaki pañca 3) Putra Kajĕntaka 4) Wulan Krahina 5) Ḍaḍang Sungkawa 6) Wulan Purnama 7) Durjana Kakĕṭu 8) Bujangga Hamĕngku 9) Wisa Tumama 10) Satriya Wibawa 11) Tampar Taliwangsul 12) Paṇḍita Lĕlaku 13) Kala Ngumbara 14) Songga Buwana 15) Baya Ngangsar 16) Wisnu Atonda 17) Lintang Kumukus 18) Candra Mawa. Sebagai konsensus, Putra Kajĕntaka hadir dari kebudayaan Jawa dalam konteks pembahasan mitos Kucing hitam di dunia.
Putra Kajĕntaka (Kucing hitam) dalam Serat Katurangganing Kucing disebutkan “aja sira ngingu kucing | ireng mulus buntut panjang| iya ala ing lamaté | aran Putra Kajentaka | utah ludira nira | lamun buṇḍel buntut ipun | ala nira sawetara||” Bisa muntah darah! Sedikit berkurang jika—ekornya bundel (pendek).Ternyata dalam Budaya Jawa Kucing hitam pun dianggap sebagai Kucing yang pantang dipelihara.
Itu semua hanyalah persepsi dari Dyan Palguna yang didasarkan falsafah kebudayaan Jawa. Di zaman ini, zaman biasnya kebudayaan dan globalnya arus kebudayaan, setiap individu bebas memilih dan mempercayai apa yang ingin dipercayai. Sejauh bermanfaat dan tidak merugikan diri sendiri, terlebih merugikan orang lain. Yang jelas, ada resepsi dan penyesuaian dengan dengan diri dan lingkungan atas pengetahuan yang diperolehanya. Jangan sampai sak klek!Tiru-tiru dengan apa yang dipahami tanpa komparasi pemikiran lainnya. Ujung-ujungnya pasti tidak akan menjadi dirinya sendiri.
Ilustrasinya, coba lihat pupuh Durma pada 12 Serat Katurangganing Kucingini “Lamun ana kucing turuk lambin ira| pakénak pangorok néki| temah ana wong teka| agawa raroba| marang sira iki| sukurra ing Allah| ingkang sipat rahmanni||” Gampangnya, jika ada Kucing tidur di bajumu dengan nyenyak, pertanda akan ada orang datang membawa perubahan bagi dirimu.
Pertanyaannya, jika menghendaki ada perubahan besar dalam hidupmu, apa hanya sekedar menunggu dan mengamati sampai ada Kucing tidur di bajumu? Mungkin? Dengan demikian Serat Katurangganing Kucing menjadi otokritik kebudayaan terhadap masyarakat Jawa itu sendiri.

Diskusi Daring Komunitas SraddhaWus tita lamaté kucing punika, poma paḍa anitèni, kang bêcik lawan kang ala, yèn maidoa, têmah kêna ing bilai, dèn samya waspada, kang ala ywa dèn ingoni.
Sudah selesai tanda-tanda kucing ini, maka perhatikanlah, yang baik dan yang buruk, jika menghina/memprotes, akan mendapat celaka, (maka) waspadalah, yang buruk jangan kau pelihara.
Serat Katoerangganing Koetjing, diterbitkan oleh Percetakan GCT Van Dorp & Co, di Semarang, tahun 1871. Pindaian dari koleksi Perpustakaan Nasional Belanda, No 859 B33.
———–Komunitas Sraddha mengajak kawan-kawan untuk bergabung dalam diskusi asyik bertema:”Meong-Meong: Membincang Katurangganing Kucing dalam Kebudayaan Jawa”
Narasumber: Kang Rendra Agusta
Moderator:Adi Wisnurutomo
Hari, Tanggal: Jumat, 29 Januari 2021Pukul: 15.30 WIB
Via: Google MeetPuss puss puss meong meong


Yuk! Gratis – kuota terbatas!Info lebih lanjut simak FB, Twitter, dan IG @sraddhasala www.sraddhasala.or.id
Mungkasi taun 2020 Masèhi— Sokur awit karsaning Hyang, wis jangkěp sětaun “pěgurôn amatir” iki bisa dadi kañca sinau barěng. Sak ora-orane nganti sasi Marět awake dhewe bisa srawung icip-icip kasusastran Jawa Kuna. Sarèhne ana pagěblug Covid-19 mono ora dadi ngapa, mbok manawa iku pañcèn pratandha jaman, salin jaman, supaya aku lan sliramun bisa něněpi nyěmbah raga-cipta-jiwa-rasaning pribadi.
Sajrone owah-owahan jaman iki, awake dhewe tětěp bisa andum katrěsnan mawa teknologi “daring” kuwi klěbu babagan kang kudu dèn syukuri. Tahune isih tahun bañyu, diwiwiti tandha Wrhaspati miņtuna. Muga-muga awake dhewe slamět saka bilahi, luput saka garuning jaman. Kaya Mimi lan Mintuni kang slamět nganti pirang-pirang “Katastrofi”.
Mapak 2021 taun Gregorian, pagěblug mayangkara durung sirna, gya ndonga marèng Hyang, muga aku lan sliramu tansah sinongsongan běrkahing Gusti ing mbesok těkèng těmbe.
Sěpisan manèh, pinaka sulihing Volunteer, kula ngaturakěn agunging panuwun dhumatěng sadaya kemawon kang paring biyantu dhatěng pěgurôn, komunitas, lan warung. Sajroning sětahun tamtu akèh luput, kula nyuwun pangaputěn.
Matur nuwun #ayosinaumaneh
Sungkěm kula, Cantrik
Rendra Agusta

“Perjalanan membawanya ke arah timur laut, tempat jurang-jurang memaparkan suatu pemandangan yang indah sekali bila kita melihat ke bawah. Taman-taman pesanggrahan yang melingkar, candi-candi dan pertapaan seseorang, itu semua menimbulkan rasa kagumnya. Ladang-ladang luas terhampar, tersebar pada lereng gunung, sebatang sungai besar turun dari bukit dan mengairi tanaman itu.” — Bagi masyarakat modern yang hidup pada masa kini, kondisi lanskap alam dan kompleks bangunan suci sebagaimana diceritakan dalam Kakawin Siwaratrikalpa abad ke-15 Masehi, cukup membantu penggambaran keadaan di Jawa pada masa lalu. Narasi yang dituliskan oleh penulis kakawin dan naskah-naskah kuno, baik sebagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi maupun sebagai bagian dari ekspresi imajinasi sang penulis, merupakan informasi yang berharga untuk mengetahui kehidupan sosial-budaya masyarakat kuno. Di kawasan Gunung Ungaran yang memiliki nama kuno Karungrungan, Bujangga Manik menarasikan gunung ini sebagai “tempat peninggalan para dewa ketika merindukan dewi-dewi”. — Ternyata penggambaran ini sesuai dengan data sebaran arkeologis di sepanjang kawasan Gunung Ungaran, meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Semarang, Kota Semarang, dan Kabupaten Kendal. Menariknya, keletakan situs-situs tersebut menyebar di sepanjang kontur permukaan tanah yang berupa gunung, perbukitan, daerah aliran sungai, dan tepian danau, seperti Candi Gedongsongo, Candi Ngempon, Candi Dukuh, dan berbagai jejak peradaban lainnya. Komunitas Budaya Karangjati Nyawiji Kabupaten Semarang melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) Tahun 2020 Tahap 2 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengundang rekan-rekan untuk bergabung menguak sejarah dan budaya Nusantara melalui Diskusi Daring Festival Lembah Gana 2020 :”Dunia Jawa Kuno: Bayang Imajinasi & Bentang Alam”Sabtu, 7 November 2020 | Pukul 09:00 WIBNarasumber I:*Rendra Agusta*Filolog, Sraddha InstituteNarasumber II:*Aquarina Kharisma Sari*Novelis, Malang Women Writers’ SocietyNarasumber III:*Tri Subekso*Arkeolog, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten SemarangModerator:Samantha Aditya PutriMahasiswi Magister Antropologi UGM YogyakartaLink pendaftaran: https://bit.ly/2TJk2kH atau https://forms.gle/s4rgZYBbXwai1YbFASetelah melengkapi pendaftaran, mohon dapat melakukan konfirmasi melalui WA narahubung kami: Cahyo: 0857-5557-9555Konfirmasi ini untuk keperluan grup yang akan memuat berbagai informasi termasuk tautan zoom/youtube dari kegiatan diskusi ini. Terima kasih. Rahayu.#budayasaya#diskusidaring#festivallembahgana