Penatah Kayon Karya J.L.Moens

Malam ini ni cantrik Kesia memaparkan hasil penelitian tentang manuskrip Penatah Kayon di sirkel pengajian dan pengkajian Randhu Jembagar Boyolali. Panatah kayon adalah salah satu naskah yang diinisiasi oleh J.L. Moens. Naskah ini memuat pengetahuan tentang pembuatan wayang kulit. Moens adalah salah seorang Indonesianis yang punya cukup banyak program pencatatan kebudayaan Jawa.

Penatah Kayon Karya J.L.Moens

Malam ini ni cantrik Kesia memaparkan hasil penelitian tentang manuskrip Penatah Kayon di sirkel pengajian dan pengkajian Randhu Jembagar Boyolali. Panatah kayon adalah salah satu naskah yang diinisiasi oleh J.L. Moens. Naskah ini memuat pengetahuan tentang pembuatan wayang kulit. Moens adalah salah seorang Indonesianis yang punya cukup banyak program pencatatan kebudayaan Jawa.

Malam yang panjang sehabis hujan selalu penuh dengan tawa dan riang. Barangkali upaya-upaya yang demikian untuk #meretasjarak ilmu pengetahuan ke masyarakat. Diskusi malam ini juga dimeriahkan oleh Ki Dalang Kusnanta Riwus Ginanjar, pak guru dalang sekaligus cicit dari Mbah Widi Prayitna, seorang dalang yang bekerja sama dengan J.L.Moens dalam penyusunan manuskrip tersebut. Seru sekali bukan, cicitnya pun masih bisa bertemu dengan karya-karya eyangnya.

Mencari Nilai dan Kearifan Lokal dalam Naskah Naskah Jawa

Jumat kemarin (12/11/2023), Balai Bahasa Jawa Tengah menggelar sarasehan Sastra dan Budaya yang secara spesifik membahas nilai dan kearifan lokal dalam naskah-naskah Jawa.

Mencari Nilai-nilai yang tersisa dari naskah-naskah Jawa

Jumat kemarin (12/11/2023), Balai Bahasa Jawa Tengah menggelar sarasehan Sastra dan Budaya yang secara spesifik membahas nilai dan kearifan lokal dalam naskah-naskah Jawa.

Acara ini berlangsung dua sesi bersama akademisi dan praktisi. Sesi pertama, bersama Prof. Sahid Teguh Widodo (UNS) dan Prof. Sri Heddy Ahima Putra (UGM). Sesi pertama ini banyak membincang hal-hal teoritik mengenai perkembangan studi pernaskahan di Surakarta. Sedangkan sesi kedua Kang Rendra Agusta dari Sraddha sala dan Bandung Mawardi dari Bilik Literasi Karanganyar membincangkan kondisi terkini dari “graasroot”, bagaimana masyarakat bergerak, berkomunitas, dan membangun gerakan pernaskahan secara kolektif.

Kawi Society: Pertemuan para peneliti Jawa Kuna dari berbagai penjuru dunia

International Kawi Culture Festival merupakan upaya untuk memperkenalkan konsep Budaya Kawi di kalangan umum maupun di kalangan ahli. Tujuan acara ini sesuai dengan semboyan festival: “melepas sekat, memperluas jarak, meniti puncak”. Melepas sekat berarti membebaskan pikiran dari segala keterbatasan berdasarkan identitas suku, disiplin maupun lembaga, agar budaya Kawi dapat ditelaah secara keseluruhan. Memperluas jarak berarti memperbesar wawasan dan ruang lingkup pemahaman budaya Kawi, baik secara geografis maupun historis.

Kawi Society: Pertemuan para peneliti Jawa Kuna dari berbagai penjuru dunia

Anggota Kawi Society

International Kawi Culture Festival merupakan upaya untuk memperkenalkan konsep Budaya Kawi di kalangan umum maupun di kalangan ahli. Tujuan acara ini sesuai dengan semboyan festival: “melepas sekat, memperluas jarak, meniti puncak”. Melepas sekat berarti membebaskan pikiran dari segala keterbatasan berdasarkan identitas suku, disiplin maupun lembaga, agar budaya Kawi dapat ditelaah secara keseluruhan. Memperluas jarak berarti memperbesar wawasan dan ruang lingkup pemahaman budaya Kawi, baik secara geografis maupun historis. Meniti puncak berarti mencapai nilai-nilai ilmu dan budaya yang tinggi, melalui pembangkitan sumber daya penelitian, kesenian, dan komunitas. Visi ini diwujudkan dalam beberapa tema yang merupakan titik pokok dari ceramah umum dan seminar.

Festival ini terdiri atas beberapa kegiatan ilmiah dan budaya yang menampilkan warisan budaya Kawi dalam segala bentuknya: ceramah umum, seminar penelitian, lokakarya, pertunjukan, pameran, dan kunjungan lapangan. Pembicara dan peserta akan diundang ke Bali dari seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam festival yang akan berlangsung selama 4 hari. Sasaran kegiatan ini adalah para peneliti, mahasiswa, penggerak kebudayaan, dan umum. Festival ini akan dipasarkan kepada himpunan dan kelompok yang terlibat dan tertarik dalam kajian budaya Kawi. Ceramah Umum disampaikan oleh peneliti senior dalam bidang Jawa Kuna seperti Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M. Hum. (Udayana, Denpasar),Dr. Dwi Puspitorini (Universitas Indonesia, Depok) ,Prof. Dr. Willem van der Molen (KITLV, Leiden),Prof. Arlo Griffiths (EFEO, Jakarta) ,Dr. Andrea Acri (EPHE, Paris),John Sihar Simanjuntak, M.M. (Pandi),Agung Kriswanto (Perustakaan Nasional Jakarta),Dr. Titi Surti Nastiti (BRIN, Jakarta) ,Hadi Sidomulyo (Peneliti Independen, Bali),Dr. Sofwan Noerwidi (BRIN, Jakarta),Drs. I Gusti Made Suarbhawa (BRIN, Denpasar) dan Prof. Dr. Timothy Lubin (Washington & Lee, Lexington). 

Sedangkan Seminar penelitian disampaikan oleh para peneliti Jawa Kuna yang lebih muda seperti Dr. Abimardha Kurniawan (Universitas Airlangga, Surabaya), Dr. Aditia Gunawan (Perpustakaan Nasional, Jakarta). Anggita Anjani, S.Hum. (Universitas Indonesia, Depok), Dr. Atin Fitriana (Universitas Indonesia, Depok), Dr. David Moeljadi (Universitas Kanda, Jepang), Dewa Ayu Carma Citrawati, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Dewa Gede Windhu Sancaya, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Eko Bastiawan, M.A. (Universitas Padjadjaran, Bandung), Evi Fuji Fauziyah, M.Hum. (Badan Bahasa, Jakarta), Goenawan A. Sambodo, M.T. (Peneliti independen, Yogyakarta), Ghis Nggar, M.Hum. (Universitas Negeri Yogyakarta), I Gde Agus Darma Putra, M.Pd. (Universitas Hindu Indonesia), Ilham Nurwansah, M.Pd. (PPIM UIN Jakarta), Kezia Permata, M.A. (Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada), Dr. Mekhola Gomes (Amherst College, USA), Nicholas Lua Swee Yang, M.A. (Singapura), Nurmalia Habibah, S.S., M.A. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Rendra Agusta, S.S., M.Sos. (Sraddha Institute, Surakarta), Salfia Rahmawati, M.A. (Universitas Indonesia, Depok), Styan Lintang, S.S. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Tri Subekso, M.Hum. (Tim Ahli Cagar Budaya, Kabupaten Semarang), Tyassanti Kusumo Dewanti, M.Sc. (Pura Mangkunegaran, Surakarta). Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, M.A. (Ecole française d’Extrême-Orient, Jakarta).Dr. Yosephine Apriastuti Rahayu (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) dan Zakariya Aminullah, S.S., M.A. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta/Universitas Hamburg).
Selain itu, ada pula workshop penulisan aksara Jawa Kuna dalam tiga tradisi yakni Sunda, Jawa, dan Bali. Ada pula fieldtrip ke beberapa tempat yang terkait dengan budaya Kawi di masa Bali Kuno seperti Gunung Kawi, Museum, dan pura-pura klasik. Acara ditutup dengan berbagai pertunjukan seperti Mabasan Kakawin, pertunjukan Calon Arang, Tari Topeng, dan Fragmen Pangajaran oleh Atmaja Timur (Damalung Blueprint). Sampai jumpa pada festival Kawi berikutnya di Jawa Tengah!  

Nafas Intelektual kembali Sumirat di Surakarta

Pada masa pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara VII, sebuah ruang intelektual gaya barat dimulai di Surakarta, bernama Algemeene Middelbare School (AMS). Bagi peneliti filologi Jawa, kita tentu tidak bisa melepaskan diri dari guru-guru Jawa Kuna seperti W.F. Stutterheim, yang pada masa itu menjadi direktur AMS di Surakarta pada tahun 1926. Hampir seratus tahun berikutnya, hari ini, atas perkenanan K.G.P.A.A Mangkunegara X, kembali berbagai peneliti kebudayaan Jawa berkumpul dalam sebuah simposium di Pura Mangkunegaran, berbincang kebaruan-kebaruan kajian kebudayaan Jawa.

Nafas Intetelektual kembali Sumirat di Surakarta

Pada masa pemerintahan K.G.A.A Mangkunegara VII, sebuah ruang intelektual gaya barat dimulai di Surakarta, bernama Algemeene Middelbare School (AMS). Bagi peneliti filologi Jawa, kita tentu tidak bisa melepaskan diri dari guru-guru Jawa Kuna seperti W.F. Stutterheim, yang pada masa itu menjadi direktur AMS di Surakarta pada tahun 1926. Hampir seratus tahun berikutnya, hari ini, atas perkenanan K.G.P.A.A Mangkunegara, kembali berbagai peneliti kebudayaan Jawa berkumpul dalam sebuah simposium di Pura Mangkunegaran.

Secara khusus, pada sesi satu, Komunitas Sraddha yang diwakili @kangrendra turun serta dalam simposium tersebut. Topik bahasan kali ini masih mengenai Siti Dhusun Praja Mangkunegaran berbasis penelitian manuskrip koleksi Reksa Pustaka. 

Manuskrip dengan nomor MN.17 adalah salah satu manuskrip yang memuat administrasi tanah di wilayah Mangkunegaran pada awal pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara IV, tahun 1781 Jimawal. Tentu, berbicara desa-desa wilayah Mangkunegaran juga memotret lanskap kebudayaan secara menyeluruh dari istana sampai dengan batas-batas wilayah paling tepi.

Terima kasih kepada mas @adrianperkasa dan Maaten Manse yang mengijikan tulisan ini disampaikan dalam acara istimewa. Tentu juga seluruh panitia dari UIN Raden Mas Said Surakarta @uin_rmsaid, Universitas Leiden @universiteitleiden, KITLV, dan SLC. Tentu semua para guru-guru kajian Jawa yang sangat menginspirasi. Sampai jumpa pada pertemuan-pertemuan mendatang. 

 

Foto oleh Permata Aji BM

 

Melacak Holing di Jawa Tengah

Malam tadi, Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang menyelenggarakan Seri Diskusi Gedung SI #6 dengan tema “Melacak Jejak Ho-ling di Jawa Tengah”.berlangsung dengan meriah. Prof.Agus Aris Munandar, guru besar Arkeologi UI memaparkan bukti-bukti arkeologis abad IV-VII Masehi, pun juga catatan berita Tionghoa tentang keberadaan Holing. Secara garis besar, simpulan sementara, dugaan keberadaan Holing ada di Jawa Tengah dan Utara Jawa. Tentu bukti ini diperkuat dengan adanya kajian situs Bototumpang, sebuah situs yang secara karakteristik dekat sekali dengan Situs Batujaya.

Melacak Holing di Jawa Tengah

Kisah tentang Kerajaan Kalingga dengan pemimpinnya yang bijaksana, Ratu Shima, telah menjadi memori kolektif masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Pulau Jawa. Kisah ini terus hidup dalam ruang imajinasi mereka dan terejawantah melalui cerita tutur, sendratari, teater tradisional, karya sastra, hingga seni rupa. 

Namun, kisah Kalingga dan Ratu Shima seolah berada di antara mitos dan fakta. Seperti kita ketahui, Sejarah Baru Dinasti Tang (618-907 Masehi) Buku 222, bagian 2 mencatat keberadaan sebuah negeri bernama Ho-ling atau Kaling yang terletak di antara Sumatera dan Bali. Di sisi selatan negeri ini terdapat lautan, sedangkan di sisi utaranya terletak negeri Kamboja. Penduduk Ho-ling membuat pertahanan dari kayu. Mereka memiliki balai-balai dari gading dan tikar kulit bambu. Penduduknya sudah mengenal huruf dan astronomi, namun mereka masih makan dengan menggunakan tangan, bukan sendok atau sumpit. Pada tahun 674, Ho-ling diperintah oleh seorang ratu bernama Xi-ma. Ia termasyhur dengan ketegasannya, yakni memotong jempol kaki sang putra mahkota yang tanpa sengaja telah menyentuh tas berisi uang emas di jalan perbatasan negara. Mengetahui ketegasan sang ratu, pangeran dari negeri Da-zi (Arab) yang sengaja meletakkan tas berisi uang emas itu, merasa gentar hingga urung menyerang Ho-ling.

Namun faktual, hingga kini jejak-jejak sejarah dan arkeologis yang menunjukkan keberadaan Kerajaan Ho-ling atau Kalingga tak kunjung dapat dipastikan. Sebagian orang meyakini Ho-ling berada di Jepara. Keyakinan ini didasarkan pada keberadaan sebuah wilayah bernama Keling dan temuan sejumlah arca di puncak Gunung Muria. Meski demikian, hal itu belumlah cukup untuk dijadikan bukti sahih mengenai keberadaan Ho-ling di sana.

Di tengah kesimpangsiuran itu, beberapa waktu lalu warga Dusun Bototumpang, Desa Karangsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, menemukan struktur batu bata yang wujudnya menyerupai bangunan candi berlanggam Hindu-Buddha. Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) memperkirakan struktur tersebut berasal dari era pra-Mataram Kuno, antara abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Temuan ini pun segera memunculkan spekulasi baru mengenai lokasi Kerajaan Ho-ling atau Kalingga. 

Malam tadi, Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang menyelenggarakan Seri Diskusi Gedung SI #6 dengan tema “Melacak Jejak Ho-ling di Jawa Tengah”.berlangsung dengan meriah. Prof.Agus Aris Munandar, guru besar Arkeologi UI memaparkan bukti-bukti arkeologis abad IV-VII Masehi, pun juga catatan berita Tionghoa tentang keberadaan Holing. Secara garis besar, simpulan sementara, dugaan keberadaan Holing ada di Jawa Tengah dan Utara Jawa. Tentu bukti ini diperkuat dengan adanya kajian situs Bototumpang, sebuah situs yang secara karakteristik dekat sekali dengan Situs Batujaya.

Kang Rendra Agusta, Filolog Sraddha Institute mengambil sisi yang lain, justru dari manuskrip abad XVIII-XIX, jelas manuskrip ini tidak sahih, mengingat konteks isi dan temporalnya jauh sekali dengan yang diceritakan. Salah satu karya sastra abad XIX yang memuat geneaologi Jawa Kuna adalah Serat Pustakaraja Purwa karya R.Ng. Ranggawarsita III. Pada naskah ini cerita Kalinggapura justru tidak ditemukan di abad VII melainkan IX. Yang menarik, justru tahun-tahun pembuatan  ini hadir saat sarjana barat sudah sangat dekat dengan Ranggawarsita.

Pertanyaanya, mengapa justru Ranggawarsita tidak menuliskan cerita seperti fakta-fakta kajian barat? Apakah ia tak diberi akses akan data Jawa Kuna? Atau ada pelarangan dan pembenahan isi sesuai keingingan pemrakarsanya? Atau sebenarnya ada nilai-nilai tersendiri dalam penceritaan kronik serat Pustakaraja Purwa gaya Ranggawarsita ini? Ayosinaumaneh!

 

Centhini Sekali Lagi!

Centhini adalah karya sastra yang diprakarsai oleh Amangkunagara III, putra Sunan Pakubuwono IV di Kraton Surakarta. Karya ini memuat semua pengetahuan Jawa pada abad XIX. 

Centhini Sekali Lagi!

Apa yang kawan-kawan ketahui jika mendengar kata Centhini?
Centhini adalah karya sastra yang diprakarsai oleh Amangkunagara III, putra Sunan Pakubuwono IV di Kraton Surakarta. Karya ini memuat semua pengetahuan Jawa pada abad XIX. 

Radya Pustaka dan Centhini 

Sejak tahun 2015 museum Radya Pustaka memulai diskusi Centhini dari berbagai sisi. Tahun ini, 2023, museum Radya Pustaka kembali menggelar Festival Centhini. Pameran imersif ini diramaikan dengan Art Market & Culinary Classic Centhini, Gamelan Ageng Radya Pustaka, Workshop, Fashion Show, Cameron Imersifa Centhini, Shadow Batik Perform, Jazz In The Museum, Performing Art of Centhini, Live Music, dan Talkshow Pawukon Jawa.

Naskah dan Tawaran lain di Dunia Filologi Indonesia

Tema reaktualisasi hal-hal yang dianggap kuno memang sedang trend di masyarakat. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Dekade ini, banyak forum yang mencoba membuka kembali kotak-kotak lama ‘naskah’ dan ‘cerita lama’, namun persoalannya beberapa forum hanya sekedar mengelap-ngelap kembali khasanah lama ketika sedikit lainya mulai menempuh jalan yang berbeda. 

Tawaran Lain Dunia Filologi Indonesia

Tema reaktualisasi hal-hal yang dianggap kuno memang sedang trend di masyarakat. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Dekade ini, banyak forum yang mencoba membuka kembali kotak-kotak lama ‘naskah’ dan ‘cerita lama’, namun persoalannya beberapa forum hanya sekedar mengelap-ngelap kembali khasanah lama ketika sedikit lainya mulai menempuh jalan yang berbeda. 

Dalam seminar di forum Sarasehan Imbasadi (Ikatan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Daerah Se- Indonesia) 2023 yang dihelat di UNNES Rabu lalu (31/5/2023), Sraddha Sala melalui salah satu cantriknya, Rendra Agusta, memberikan beberapa tawaran pada studi filologi—yang memang sunyi itu. 

Tawaran-tawaran yang muncul dari pemaparan Rendra Agusta bukan sekadar obrolan angkringan. Seperti beberapa tokoh senior yang sudah berkecimpung di dalam dunia filologi telah memulainya terlebih dulu. Rendra mengutip perkataan Sudibyo dan Ben Arps terkait stagnasi kajian filologi. Harus ada upaya-upaya segar agar muncul kebaruan wujud realitas budaya yang berpijak pada artefak lama. 

Dalam forum yang sama, Widodo, juga mempertegas bahwa tradisi filologi di kampus Indonesia saat ini masih bergaya filolog era ‘80-an. Kajian filologis yang hanya berkutat pada ruangan sempit naskah dan alih aksara semata.

Tawaran pertama Rendra, setiap peneliti harus meningkatkan kemampuannya dalam menguasai teknologi mutakhir. Pengkajian filologi hari ini sudah ada yang memakai program TEI (Text Encoding Initiative) atau pengenalan teks dan korpus naskah melalui penjalanan coding berbasis XML.Teknologi ini sebenarnya sudah ada sejak 1980-an, namun dalam kajian filologis baru hari-hari ini dipakai. Salah satunya dikerjakan Dharma Hypotheses pada tahun 2019, dengan konsep kerja yang hampir sama dengan Google Lens atau scanner yang dapat dengan mudah mengenali aksara yang difoto. Upaya digital lainnya ialah pendaftaran Unicode aksara-aksara di Nusantara. Di mana masyarakat pengguna aksara daerah lebih gampang menuliskannya pada piranti komputer. Dua hal tersebut merupakan contoh wujud berkembangnya digital humanities dalam budaya filologi di dunia.

Tawaran Kedua selanjutnya berupa paradigma cultural studies (bukan study of culture) sebagai opsi melihat kebudayaan dengan lebih luas. Kebudayaan yang dijadikan objek tidak melulu harus adiluhung dan dicap budaya tinggi. Cultural Studies mengajak para peneliti melihat kebudayaan lebih luas, selain kebudayaan yang dianggap adiluhung tadi, diluar sana lebih banyak kebudayaan yang banal, profan, atau bersifat sehari-hari yang kadang kala luput dari amatan para peneliti.

Tawaran ketiga, kajian filologi dapat menjangkau sektor kreatif. 

Meski industri kreatif yang bersinggungan dengan khasanah filologi sudah banyak berkembang, seperti halnya produksi kaos, totebag, dan buku-buku anak, akan tetapi inovasi masih sangat dapat dikembangkan baik dalam bentuk fisik maupun digital.

Studi mitigasi kebencanaan juga dimasukkan oleh Rendra Agusta dalam forum tersebut.  Mengingat Indonesia masuk kepulauan Cincin Api, sebuah sirkum vulkanologi dunia dimana pergerakan lempeng membuat negeri ini rawan bencana. Upaya-upaya mitigasi bencana yang bersumber dari catatan-catatan lampau dapat lakukan oleh para peneliti dan masyarakat sebagai salah satu kajian responsif dari sudut pandang tradisi historis.

Living Philology menjadi tawaran penutup oleh Rendra. Ia menyadari betul ada jarak yang sangat jauh antara filolog dan masyarakat. Jarak yang tidak hanya nama pohon, namun jarak yang benar-benar menjadi pagar tebal penghalang. Banyak filolog yang sibuk berkutat dalam meja-meja perpustakaan dan lupa pada masyarakat yang telah menghasilkan sebuah artefak bahan penelitian.

Lewat tawaran-tawaran tersebut Rendra seperti menyiratkan bahwa di masa depan geliat perubahan dalam dunia filologi akan semakin banyak. Widodo menegaskan bahwa masih banyaknya lini lain dan kapital intelektual lain yang harus ditampakkan.

Dunia filologi memang sudah mulai melihatkan perubahan dan perkembangan, dan para manusia-manusia yang ‘mencintai kata’ juga harus ikut berubah, jika tak ingin punah. Seperti konsep dasar evolusi, tiada yang kekal, keabadian itu milik perubahan itu sendiri. (SH)

Naskah Nusantara Sumber Inspirasi Bangsa

Naskah Nusantara adalah Sumber Inspirasi Bangsa

 Oleh Frangki N.F. Pratama
Edwin Paul Wieringa berpendapat kajian manuskrip harus berjuang muncul dunia digital. Manuskrip harus mampu mengikuti dan menjawab isu-isu sosial termutakhir, tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu. Kabar dari Londo yang sering digaungkan itu pun mencengangkan, kajian filologi tak lagi jadi fokus. Namunnkajian filologi (ilmu sastra dan ilmu bahasa) tetap diterima majalah BKI (Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde) asalkan mengarah pada segi sosiologi, politikologi dan ilmu lain yang dianggap masih relevan dengan permasalahan modern. Prihal relevansi barang tentu menjadi persoalan yang harus segera terselesaikan. 
Kalau dipikir-pikir, mengapa banyak yang ndak suka, bahkan ndak tau manuskrip? Ya mungkin ndak lagi dibutuhkan, kurang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal itu pula yang beberapa waktu lalu diungkapkan bapak/ibu guru, pejabat pemerintahan, anak muda, dan masyarakat umum saat acara bertema Naskah Nusantara: Sumber Inspirasi Bangsa yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan Kota Madiun . Masa lalu seolah terlalu berjarak dengan masyarakat. Bagai menengok benda yang berada di awang-awang. Tak nampak nilai fungsi praktis keseharian. 
Namun, apakah benar manuskrip sama sekali tak berpotensi di era kiwari? Barangkali hanya perlu memperluas perspektif. Naskah bukan sekadar romantisasi masa lalu yang bercokol pada keberadaan tokoh, pengaruh kewilayahan dalam sebuah suksesi. Waktunya mendekatkan dengan era modern. Berpikir formulasi dari sebuah aktivasi naskah secara kolaboratif. 
Kerja-kerja filologi yang konon sekadar berada di rak berdebu butuh dibuka kembali. Butuh langkah strategis memaksimalkan sekecil apapun potensi naskah. Transformasi menjadi penting di era kini. Entah apapun bentuknya nanti. Jika selama ini masyarakat umum menjadi kambing hitam keterpenggalan/peseudo historis, jangan-jangan para penggiat yang keliru. Kurang strategis memilah metode distribusi/aktivasi ke masyarakat. Apalagi naskah dapat menginspirasi terbentuknya gerakan ekraf. Dengan begitu sangat nyata naskah dapat menginspirasi bangsa.

Damalung Blueprint

Damalung BluePrint

 

Dalam Damalung Blueprint ini, salah satu tugas tim riset adalah mencari rekomendasi tempat pergelaran. Tim riset yang terdiri dari Rendra Agusta (Sraddha Institute), mas Tri Subekso (Ketua TACB Kab. Semarang), bung Akhriyadi Sofian (Dosen UIN Walisongo Seamrang, dan mba Dewi Wulansari (ISI Surakarta) mulai mencari data sebanyak mungkin terkait usulan-usulan tempat. Akhirnya disepakati memilih delapan tempat pergelaran.

Pertama adalah prasasti Sarungga, prasasti terkait pertapaan ini merupakan data awal prasasti berangka tahun di gunung Merbabu. Prasasti ini berangka tahun 823 Saka atau 901 Masehi. 

 

Kedua, situs Windu Sabrang, dalam salah satu lontar MM disebutkan keberadaan pangajaran Windu Pepet, diduga terkait dengan Windu Sabrang dan Windu Sabrang kini. Di desa ini dipercaya hidup seorang Ajar bernama Windusana, sosok penyimpan ratusan lontar yang menjadi basis riset ini. Secara arkeologis juga ditemukan reruntuhan bangunan.
Ketiga, Kedakan. Desa ini merupakan tempat penyimpanan naskah sampai pada tahun 1850-an, secara berkala, naskah-naskah ini dimaharkan dan dibawa ke Batavia. Di desa ini masih menyimpan wayang, gamelan, dan satu kropak lontar.

Keempat, Ngaduman. Di desa ini, dalam laporan tahun 1870, ditemukan prasasti di tengah perkebunan. Prasasti ini kemudian dibawa ke negeri Belanda.

Kelima, Timboa. Lereng timboa menjadi titik penting ditemukan reruntuhan tempat pengajaran dan prasasti angka tahun termuda, 1449 tahun Saka.

Keenam, Sokowolu, di desa ini tercantum sebagai tempat penulisan lontar 315. Di desa ini juga masih dijumpai reruntuhan candi.

Ketujuh, prasasti Watu Lawang, sebuah prasasti dengan tanda pungtuasi khas pegunungan berangka tahun 1393 Saka.

Kedelapan, Candi Klero, lereng timur laut yang memiliki bangun candi bergaya Jawa Tengahan.

Kedelapan (asta) Mandala ini menjadi saksi sebuah peradaban Jawa Kuna ribuan tahun yang lalu. Ruang-riang baru kita mulai, mugi arum asmane pra Ajar ing redi-redi.

Apakah memisahkan Sastra dan Sejarah masih relevan?

Sejarah dan Sastra sebagai salah satu jangka zaman. Sastra klasik tentunya menjadi “milestone”, panjangka hari ini dan esok.

Kali ini cantrik Sraddha Sala, kak Frengki Fariya Pratama berbincang dengan kawan-kawan IAIN Ponorogo menyoal relasi sejarah dan sastra dalam ruang bingkai keislaman. 

Memang cukup sulit menerka rentetan ke-islam-an dalam rentang peradaban. Apalagi dalam lingkup lokal. Minimal ada kehendak untuk belajar mengorelasikan antara ilmu sejarah dengan filologi. Agar tak saling bertumpuk dan bertolakbelakang. Karena, gagalnya satu struktur paradigma perencanaan akan menggagalkan seluruh asumsi yang telah terwacanakan.