Wonogiri dalam Lintasan Masa Mangkunegaran 1757-1946

Setelah beberapa waktu tidak merayakan Selasa, hari selasa terakhir dibulan juni nanti kami mengajak teman-teman semua untuk mendengar cerita dari @kangrendra dan berdiskusi perihal Wonogiri dalam Lintasan Masa Mangkunegaran

Riwayat Wonogiri tak bisa dilepaskan dari masa kekuasaan Mangkunegaran. Selama hampir 200 tahun, sejak 1757 pengaruh Mangkunegaran menancap kuat di daerah ini.

Sebuah periode panjang yang membentuk wajah sosial, ekonomi, dan politik lokal. Dari perubahan wilayah, desa-desa tua yang masih bertahan, hingga praktik ekonomi berbasis komoditas dan tenaga kerja.

Siapa yang diuntungkan dari sistem yang pernah berjalan? bagaimana posisi masyarakat lokal saat itu?
dan mengapa gerakan anti-swapraja bisa muncul?

Diskusi ini tidak hanya akan berbicara tentang masa lalu, tetapi juga mencoba mengaitkannya dengan Wonogiri hari ini. Apakah pola-pola lama masih bertahan dalam bentuk baru? Apakah pengaruh Mangkunegaran di Wonogiri benar-benar sudah selesai, atau justru masih hidup di sekitar kita?

Selasa kali ini kita akan menelusuri Wonogiri dalam lintasan kekuasaan Mangkunegaran pada era 1757-1946.

Antara Nilamaya dan Lembahrawa

Masih dalam rangkaian Festival Lereng Telomoyo, kali ini Mindha bersama para Cantrik akan ke desa-desa di antara gunung Telomoyo dan Lembah Rawa-Rawa.

Sabtu Malam, 27 Juni 2026, @kangrendra bersama Ki Lurah Ahmad Nuri, akan bincang-bincang cerita-cerita dari masa lalu masyarakat desa sekitar Telomoyo hingga Rawa Pening.

Sampai jumpa di desa @wisata.sepakung

Ajar Bali dadi Wong Jawa

“Tapak tilase uripmu, uripku, ora ana dongenge nalika tanah Jawa wis dudu suket godhong sing duwe” — Iman Budhi Santosa

Tapak sisa hidupku, hidupku, tak akan ada lagi kisahnya saat tanah Jawa sudah bukan rumput dan daun lagi empunya. — sepenggal kalimat dalam geguritan “Suta Naya Dhadhap Waru” karya Romo Iman ini menjadi perenungan sepanjang laju kereta Komuter menuju Yogyakarta.

Sore-sore sedikit mendung, kami tiba di Berbah, di Pelataran Dhadhap Waru . Bersama Mas Ikhsan dan Kang Rendra Agusta, kita menyambut buku “Ajar Dadi Wong Jawa”, satu kumpulan esai dan geguritan karya Romo Iman, dalam satu dekade akhir hayat beliau.

Seperti halnya “bocah wingi sore”, kami mengenal Iman Budhi Santosa dalam situasi yang agak wingit. Diam dan tatapan teduh beliau, membuat kami canggung untuk berbicara secara langsung. Semacam ada “api besar” yang bergelora dalam diri Iman, atau dalam bahasa Jawa disebut Mahātma.

Barangkali sama seperti kawan-kawan lain, Romo Iman kami kenal dengan karya-karya yang tajam soal rekam ekologis. Hampir tak ada karya beliau yang tak menggunakan metafor tumbuhan, binatang dan lanskap alam, kehidupan manusia berada di sekitarnya “in between”.

Melalui buku ini, Romo Iman selalu berposisi membuka mata kita soal “Wong Cilik” yang kerap tak dikenal dalam nama-nama. Wong Cilik bahkan sampai akhir hayatnya sering disebut pula “Balung Peking, Bathang Walang”, seringkali tak diketahui dimana jasadnya dikubur, tak bernama dan tak dikunjungi keluarganya. — seperti idiom None Name dari Jawa, “si Suta, Si Naya, Si Dhadhap”, demikianlah Iman tajam menangkap denyut nadi wong cilik dalam kekaryaannya.

Kesadaran tertinggi setelah mencapai “jĕnang” atau “jĕnĕng”, orang Jawa akan sama berkalang tanah. — Tempatnya hanya di bawah rindang Bambu Ori, derajatnya cuma sejengkal dari tanah, sederajat dengan Jarak. — Manungsa ninggal jěnĕng, sokur-sokur piguna.

#ayosinaumaneh