Śubhakāstawa: Gubahan Nyanyian yang Megah

 

Lepas maghrib, di sepuluh hari terakhir ruwah, Mindha kembali ke Lokananta untuk #nyadran mengenang dan mendiskusi kekaryaan para pendahulu seniman di balik salah satu karya terarsip berjudul Subakastawa Rinĕngga. Karya ini adalah karya gubahan Ki Narto Sabdo, yang menjadi mata rantai penting dalam karya gubahan karawitan Jawa.

Kali ini, pemantik sesi dengan Lokananta bloc adalah Mas Kukuh, ia seorang Cantrik Sraddha yang sedang melanjutkan studi S2 Ilmu Susastra di Universitas Gadjah Mada. Dalam tinjauan arsip dan manuskrip, ia menjelaskan secara kronologis kehadiran gendhing Subakastawa, Gubahan, penggunaan, hingga potret kondisi sosial masyarakat, saat data-data ini hadir.

Seru dan menyenangkan! Kawan-kawan pernah dengan Gendhing Subakastawa Rinengga? Coba dalami liriknya? Apakah kawan-kawan mengenal beberapa makanan pokok dari lirik tersebut?
#ayosinaumaneh

Sosialisasi Naskah Kuno di Ngawi

Ngawi adalah kota yang menarik, paling tidak sejak tertulis di Prasasti Canggu era Majhapahit, masa Mataram Islam hingga kancah Republik.
Minggu lalu, Sraddhasala kembali sowan ke Ngawi untuk untuk sosialisasi inventarisasi dan pelestarian naskah Kuno.

Acara ini merupakan program  Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ngawi yang turut mengundang seluruh elemen budayawan, tokoh masyarakat, pengasuh pondok pesantren, pengelola masjid-masjid sepuh, juru kunci, perangkat desa dan civitas akademia di Ngawi.

Kang Rendra Agusta dari Komunitas Sraddhā bersama mas Wahyu D.Pramana dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Prov. Jawa Timur menyampaikan sosialisasi, pemetaan, dilanjutkan digitalisasi mushaf dari Kepatihan dan Masjid Kuno di Ngawi.

Pertemuan istimewa! Sampai jumpa kembali #ayosinaumaneh

Keseimbangan Surya-Candra dalam Semesta Jawa Kuna

 

Sebuah malam, sehabis hujan di Yogyakarta, @kangrendra, bli @sugi.lanus dan den @paksiraras, untuk satu sesi kelas yang membincang Kosmologi Jawa Kuna dari sisi yang paling material berbasis prasasti hingga penghayatan teologi, yang bagi kalangan terbatas yang tak tahu lebih dalam hal “pating cĕklĕnik”, menyebutnya dengan istilah “klĕnik” dalam asosiasi makna lain.

Kami bercerita bagaimana prasasti Jawa Kuna Abad XVIII-XV mencatat perhitungan penanggalan yang kompleks seperti warśa, masa, pakśa, we-wāra (gabungan 3 jenis wāra), wuku yang sangat khas Jawa, karaņa, yoga, nakṣatra, dewata, muhūrta, grahacāra, parwesa, maņdala, dan rāsi. Yang kesemuanya berdasarkan pengamatan panjang mengamati benda-benda langit, menuliskannya dalam tanda-tanda berpola.
Lalu di tengah-tengah diskusi ada pertanyaan yang sangat matematik soal muhūrtas, yang sangat rigid itu? Lalu jawaban singkat pak Lanus “yang lebih penting saat mengetahui muhurta atau pembagian waktu yang lain, selain debat matematis adalah memuja dan menghayati kesadaran kosmik semesta. Kita ini seperti Nandi, sesungguhnya tak tahu banyak hal tentang kosmik, kita hanya tahu yang tampak dan teraih dalam pandang saja”.

Kembali ke Nandi di kompleks Siwa Grha, perlu juga melihat arca Surya-Candra di sampingnya. Tujuh kuda yang dikusiri Aruna sebagai pralambang saptawara dan sepuluh kuda putih pralambang jnanedriya-karmendriya. Coba lihat diri kita dan Nandi. — daripada berdebat soal esoteris dengan cara matematis, ada yang lebih penting yakni menjumpai matahari dan rembulan secara langsung, menjaga kesadaran dengan pancadriya rasa dan pancadriya laku, agar seimbang hidupmu, nalar dan rasamu.
Semoga Sang Maha meneguhkanmu.