Manuskrip Tari dari Pasar Loak


Beberapa tahun lalu, Mindha membeli setumpuk arsip dan buku bekas dari ex-libris bongkaran rumah di Yogyakarta. Kondisinya sudah tidak utuh, terpenggal-penggal dan rawan patah kertasnya.

Salah satu lembarnya, pada halaman 168 terdapat tulisan menarik:

“Punika lampahipun kagungan dalĕm srimpi, yasan dalĕm ingkang Sinuwun kaping 7, karsa dalĕm ingkang kalaras mundhut cariyôsipun kagungan dalĕm sěrat purwa. Nalika putri Cĕmpala, Sang Dyah Srikandhi tandhing prang, patih Simbar Manyura, dewi Suradiwati.

Gěndhing Jakamulya”

Formula pengarsipan tari sampai masa Sultan Hamengkubuwana VII, rerata hanyalah teks. Tidak ada visual dalam manuskrip secara langsung. Hal-hal seperti ini yang memungkinkan gubahan-gubahan terjadi dalam pergelaran tari.

Kawan-kawan ada yg mau mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia? Tulis di kolom komentar yak!

Selamat hari Tari sedunia!

Amenang ing Jaman Edan

Paseduluran Alumni Sastra Daerah UNSkapang.rinasa mengadakan Macapatan dengan topik Keadiluhungan Sěrat Kalatidha karya R.Ng.Ranggawarsita.

Macapatan dan diskusi ini akan dipantik oleh K.R.A.T Supardjo Dwijo Hadinagoro, M.Hum, abdi dalam Sasana Pustaka Kraton Surakarta Hadiningrat. Acara ini akan dimoderatori oleh @kangrendra, cantrik @sraddhasala.

Acara akan dilaksanakan hari Minggu, 26 April 2026 di ndalem.djojokoesoeman Surakarta pukul 08.00 WIB sampai selesai.Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi, milu edan ora tahan, yèn tan milu anglakoni, boya kĕduman melik, kalirĕn wĕkasanipun. Ndilalah karsa Allah, bĕgja-begjane kang lali, luwih bĕgja kang eling lawan waspada.
Menjumpai zaman kegilaan, serba rikuh bertindak. Ikut menggila tidak tahan, tetapi jika tak ikut-ikutan dan kebagian, kepengin juga. Akhirnya kelaparan.

Barangkali sudah menjadi kehendak Allah.
“seberuntung-beruntungya orang yang “lupa”, lebih beruntung orang yang selalu “ingat” dan penuh kewaspadaan.
Serat Kalatidha, Raden Ngabei Ranggawarsita III, Pujôngga Karaton Surakarta Hadiningrat.

Wungon Satu Dasa Warsa Sraddha

Maenaka adalah salah satu kadang bayu yang saya kagumi. Beberapa dalang menyebutnya juga dengan Bayu Langgeng. Maenaka adalah seorang begawan yang menjalani laku dirinya menjadi Rṣi Gunung dan atau gunung itu sendiri. Gambar Maenaka ini wayang dari Wajak Kabupaten Malang. Wayang ini adalah eks-milik Ki Raspan. Saat ini menjadi koleksi Dr. Walter Angst and Sir Henry Angest Collection of Indonesian Puppets di musium Yale University Art Gallery, A.S.

Berulang kali ke gunung, rasanya seperti Anom yang mencari kebijaksanaan kepada Maenaka, memasuki gunung adalah menghadap dan menerima ilmu seperti para Ajar pegunungan itu sendiri.

Pada tanggal sebelas yang penuh kawelasan, para cantrik akan kembali “milang-miling”, milang kala, milang kori. — mengambil jeda sejenak, untuk berhenti berkegiatan seharian.

Para cantrik akan kembali ke gunung, melakukan “wungon”, “lek-lekan”, instropeksi dan “ndedonga” sembari mengatur langkah dasawarsa Komunitas Sraddha Sala.

Perayaan semalam, sebagai “isen-isen” Wungon satu dekade Komunitas Sraddha, saya mendongeng fragmen kecil dari teks Sěrat Rama Jawa Baru di Sokolangit Desa Wisata Conto. Umumnya orang-orang di Jawa, setiap kali ada kelahiran dan atau peringatan “weton” selalu ada “lek-lekan”. Berjaga semalaman, paling tidak sampai malamnya “lingsir”.

Wungon”, kata yang lebih arkais dari “lek-lekan” ini akan diisi dengan “umbul donga”, srawung, silaturahmi, dan tentu sedikit banyak makan bersama-sama. Kadangkala, di sela-sela “wungon”, ada saja hal-hal yang bisa diceritakan mulai dari keluarga, masalah sosial, hingga cerita-cerita sastra lainnya. Umumnya orang kabupaten, kultur ini pula yang menjadi “ritual” Śraddhā Institute. Mengambil satu topik untuk direfleksikan ke diri masing-masing.

Tadi malam cerita pertemuan Hanoman dengan Rṣi Gunung Maenaka dan pertarungannya dengan Wil Kaṭaksini dipilih untuk “jaga lèk”. Hanoman, seperti namanya, adalah ksatria muda penuh semangat dan gairah dalam menjalani tugasnya. Seringkali, Hanoman juga bertemu berbagai rintangan, termasuk raksasa laut Kaṭaksini. — Yang menarik adalah “jeda paksa” yang dilakukan kadang bayu sepuh, Begawan Maenaka, agar Hanoman berhenti sejenak, makan dan menerima wejangan, sebelum menghadapi hal-hal tak terduga.

Kadang kita juga seperti Hanom-an, “kaduk wani kurang duga”. Kita butuh bertemu orang-orang sepuh tur ampuh, berguru atas segala laku hidup yang dijalaninya. Kita butuh merenung di gunung-gunung yang tua, menemui wiku-wiku gunung. Barangkali “sembur”, tutur, dan “wuwur”-nya menjadi wirid penjagaan sepanjang waktu.

Hari Radite sudah manjing surup, mari kita mengambil jeda sebelum hari Soma menjadi titi laku.

Nyuwun donga kangge pangiriding laku.
#ayosinaumaneh #10tahunSraddha #sraddhasala
Desain oleh @nestapamaya