“Tapak tilase uripmu, uripku, ora ana dongenge nalika tanah Jawa wis dudu suket godhong sing duwe” — Iman Budhi Santosa
Tapak sisa hidupku, hidupku, tak akan ada lagi kisahnya saat tanah Jawa sudah bukan rumput dan daun lagi empunya. — sepenggal kalimat dalam geguritan “Suta Naya Dhadhap Waru” karya Romo Iman ini menjadi perenungan sepanjang laju kereta Komuter menuju Yogyakarta.
Sore-sore sedikit mendung, kami tiba di Berbah, di Pelataran Dhadhap Waru . Bersama Mas Ikhsan dan Kang Rendra Agusta, kita menyambut buku “Ajar Dadi Wong Jawa”, satu kumpulan esai dan geguritan karya Romo Iman, dalam satu dekade akhir hayat beliau.
Seperti halnya “bocah wingi sore”, kami mengenal Iman Budhi Santosa dalam situasi yang agak wingit. Diam dan tatapan teduh beliau, membuat kami canggung untuk berbicara secara langsung. Semacam ada “api besar” yang bergelora dalam diri Iman, atau dalam bahasa Jawa disebut Mahātma.
Barangkali sama seperti kawan-kawan lain, Romo Iman kami kenal dengan karya-karya yang tajam soal rekam ekologis. Hampir tak ada karya beliau yang tak menggunakan metafor tumbuhan, binatang dan lanskap alam, kehidupan manusia berada di sekitarnya “in between”.
Melalui buku ini, Romo Iman selalu berposisi membuka mata kita soal “Wong Cilik” yang kerap tak dikenal dalam nama-nama. Wong Cilik bahkan sampai akhir hayatnya sering disebut pula “Balung Peking, Bathang Walang”, seringkali tak diketahui dimana jasadnya dikubur, tak bernama dan tak dikunjungi keluarganya. — seperti idiom None Name dari Jawa, “si Suta, Si Naya, Si Dhadhap”, demikianlah Iman tajam menangkap denyut nadi wong cilik dalam kekaryaannya.
Kesadaran tertinggi setelah mencapai “jĕnang” atau “jĕnĕng”, orang Jawa akan sama berkalang tanah. — Tempatnya hanya di bawah rindang Bambu Ori, derajatnya cuma sejengkal dari tanah, sederajat dengan Jarak. — Manungsa ninggal jěnĕng, sokur-sokur piguna.
#ayosinaumaneh
