Sebuah malam, sehabis hujan di Yogyakarta, @kangrendra, bli @sugi.lanus dan den @paksiraras, untuk satu sesi kelas yang membincang Kosmologi Jawa Kuna dari sisi yang paling material berbasis prasasti hingga penghayatan teologi, yang bagi kalangan terbatas yang tak tahu lebih dalam hal “pating cĕklĕnik”, menyebutnya dengan istilah “klĕnik” dalam asosiasi makna lain.
Kami bercerita bagaimana prasasti Jawa Kuna Abad XVIII-XV mencatat perhitungan penanggalan yang kompleks seperti warśa, masa, pakśa, we-wāra (gabungan 3 jenis wāra), wuku yang sangat khas Jawa, karaņa, yoga, nakṣatra, dewata, muhūrta, grahacāra, parwesa, maņdala, dan rāsi. Yang kesemuanya berdasarkan pengamatan panjang mengamati benda-benda langit, menuliskannya dalam tanda-tanda berpola.
Lalu di tengah-tengah diskusi ada pertanyaan yang sangat matematik soal muhūrtas, yang sangat rigid itu? Lalu jawaban singkat pak Lanus “yang lebih penting saat mengetahui muhurta atau pembagian waktu yang lain, selain debat matematis adalah memuja dan menghayati kesadaran kosmik semesta. Kita ini seperti Nandi, sesungguhnya tak tahu banyak hal tentang kosmik, kita hanya tahu yang tampak dan teraih dalam pandang saja”.
Kembali ke Nandi di kompleks Siwa Grha, perlu juga melihat arca Surya-Candra di sampingnya. Tujuh kuda yang dikusiri Aruna sebagai pralambang saptawara dan sepuluh kuda putih pralambang jnanedriya-karmendriya. Coba lihat diri kita dan Nandi. — daripada berdebat soal esoteris dengan cara matematis, ada yang lebih penting yakni menjumpai matahari dan rembulan secara langsung, menjaga kesadaran dengan pancadriya rasa dan pancadriya laku, agar seimbang hidupmu, nalar dan rasamu.
Semoga Sang Maha meneguhkanmu.
