Sambang Kadang: Seri Diskusi Naskah-Naskah Islam Awal

 

Sesi satu ft Randhu Jembagar

Selama bulan Ramlan, Sraddha Sala akan menyelenggarakan seri diskusi naskah-naskah awal di Jawa. Seri ini direncanakan terbagi menjadi tiga sesi yang akan digelar di tiga kota.
Pertama-tama, kita akan membuka diskusi di dalam acara Pakunjaran Alit #4 Randhu Jembagar di Boyolali.

Seri diskusi ini akan mengajak kawan-kawan untuk belajar dan memahami aspek material dari manuskrip-manuskrip keislaman awal di Jawa medio abad XVII awal. Perlu kawan-kawan ketahui, bahwa studi filologi juga mengedepankan kejujuran atas aspek material, bahan pustaka, sejarah teks, digitalisasi hingga lahirlah edisi teks. — tentu, dalam diskusi ini kita akan coba kembali membaca ulang sendiri atas naskah-naskahnya secara langsung. Tak hanya “jarene” atau hasil bacaan cendekiawan sebelumnya.

Diskusi pertama ini akan membincang salah satu naskah Fiqh tertua yang kita punya. Dengan dating material naskahnya setidaknya tahun 1609 Masehi, yang saat ini menjadi koleksi perpustakaan Cambridge. Diskusi akan dipantik oleh @kangrendra dan penanggap Kyai Aziz Wisanggeni, acara akan dimoderatori oleh Ki Athar Fuadi.

Sesi Dua: Bukber Sraddha

Jawa Abad XVIII adalah masa peralihan dan perpindahan ibukota kraton Mataram dari Plered ke Kartasura. Dalam catatan Ricklefs dalam buku “The Seen and Unseen World in Java, 1726-1749”, naskah-naskah keislaman hadir lebih banyak seperti Suluk Garwa Kencana karya Ratu Mas Blitar, istri mendiang Sunan Pakubuwana I.

Sementara itu, di pegunungan Jawa, masyarakat masih menulis kesusasteraan “Kabudan” dengan menggunakan aksara dan Bahasa Jawa Kuna. Di antara naskah-naskah Merapi-Merbabu yang ada, ada satu naskah yang bernafas keislaman berjudul Wejangan Seh Ba Yajid. Sesi dua membincangkan naskah ini.

Acara dimulai dengan sekapur sirih dari tetua komunitas sekaligus periset di PR-MLTL BRIN, Rama Drs.Sumarno dan mas @kukuhswd
Sesi kedua, dari rangkaian diskusi Naskah-Naskah Islam Awal di Jawa ini membincang salah satu naskah keislaman dari Merbabu yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, berjudul Wejangan Seh Ba Yajid. Ki Cantrik, @kangrendra mendedahnya dengan lanskap teks sezaman dengan sangat menarik.

Sesi Tiga feat Ngglithuk Live Podcast

Salah satu teks yang selalu disematkan kepada Walisongo terutama Sunan Bonang adalah naskah dengan kode Or. 1928. Drewes telah cukup lama merisetnya, ia juga menyebutnya dengan “The Admonitions Seh Bahri”. Naskah ini menjadi koleksi perpustakaan pribadi navigator Belanda terkemuka Bonaventura Vulcanius yang hidup sebelum tahun 1600. Lalu tahun 1614 naskah ini diakusisi, di perpustakaan Leiden (UBL).
Teks awal bertulis “caritanira sekhulbariṅ\\”.

Teks akhir yang bertulis “kaṅpakṛti paŋeran] niṅ benaṅ. Lalu mengapa teks “baring” dijadikan “bari[ṅ] atau “pangeran ing benang” dianggap “Pangeran ing Bonang atau Sunan Bonang, mengapa begitu?
Masih dalam rangka program Sambang Ramadhan Sraddha Sala yang membincang teks-teks Islam awal di Jawa?

sesi #3 ini kita akan membincangnya dalam diskusi bakda tarawih di Sanggar Bimasuci Mojogedang bersama duo host Ngglithuk Podcast, Mas Rudi Agus Hartanto dan Gus Dwi Prakoso.

Selesailah tiga sesi seri diskusi khusus Ramadhan ini. #ayosinaumaneh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *