Kajian Dharmasunya Merapi-Merbabu

Minggu (1/3/2020) Pemerintah Kabupaten Semarang bersama Komunitas Salatiga Heritage, Komunitas Reracik, dan Kopi Bumbung menyelenggarakan diskusi bertajuk “Merapi-Merbabu: Pusat Penulisan Naskah-Naskah Kuno Abad XVII” di Museum Pandanaran Semarang. Pematik diskusi kali ini adalah Rendra Agusta dan Styan Lintang Sumiwi, dipandu oleh Tri Subekso, yang juga ketua tim ahli cagar budaya kabupaten Semarang.

Rendra memaparkan pemahaman umum tentang penelitian naskah-naskah Merapi-Merbabu, sedangkan Lintang memaparkan kakawin Dharmasunya dalam tradisi Merapi-Merbabu. Kajian Styan Lintang ini juga telah diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sehingga kajian Dharmasunya ini bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Diskusi ini diikuti lebih dari seratus orang peserta dari berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, mahasiswa, dan masyarakat umum. Domisili peserta juga sangat bervariasi mulai dari wilayah Semarang, Saatiga, Sidoarjo, Yogyakarta, dan Solo. Diskusi berlangsung sangat hangat dan penuh antusias, dimulai pukul 13.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB.

Selain sebagai pengembangan ilmu pengetahuan, diskusi ini bertujuan untuk sosialisasi tentang pentingnya manuskrip sebagai benda cagar budaya yang harus dilindungi, dilestarikan, dan diwariskan pengetahuannya pada generasi milenial.

Kelas Filoarkeologi

Kelas Filo-Arkeologi

Kelas Lapangan Planggatan

Penutupan elas edisi kedua dengan tema Karya Sastra Jawa Kuna dan Ikonografi Candi-Candi di gunung Lawu Utara.

Kelas Lapangan Situs Palanggatan

Penutupan  Kelas edisi kedua dengan tema “Karya Sastra Jawa Kuna dan Ikonografi Candi-Candi di gunung Lawu Utara ” kali ini dipantik oleh Kang Rendra Agusta.  Selama dua hari satu malam, seluruh peserta melakukan ekplorasi di Situs Menggung, Situs Palanggatan, Candi Sukuh, Candi Cetho dan Candi Reca Kethek. Selain itu, beberpa manuskrip dan inkripsi pendukung juga ikut dibahas dalam kelas ini, seperti prasasti Sine, kakawin Sudamala, Kidung Tantri dan lain-lain.
Komunitas ini adalah salah satu “nggon srawung” semua masyarakat, baik akademisi di bidang kebudayaan maupun masyarakat umumnya. Hal ini juga terinspirasi dari buku Prof. Boechari yang menyatakan “Epigrafi, Arkelogi, Filologi dan Sejarah adalah empat ilmu serumpun”. Akhirnya terima kasih teman-teman yang sudah ikut edisi selama beberapa bulan ini, terlebih UPT Museum Kota Surakarta, Museum Radya Pustaka Surakarta, UNS, dan pihak-pihak pendukung acara ini.
Sampai ketemu di perjumpaan berikutnya. 

Kelas Tiga

Salah satu hal yang unik dan misterius dalam masa Jawa Kuna adalah Tradisi Penciptaan Karya Sastra dan Penggambaran Relief Candi
Karya sastra yang mungkin impor dari tradisi sastra India telah dikenal sejak masa Mataram, tetapi pada karya sastra lokal baru ditulis pada masa Tamwlang-Kahuripan hingga Masa Jenggala-Kadiri. Masa Singhasari mengalami penurunan dan puncak intensitas pada masa Majapahit.

Kelas Tiga

Salah satu hal yang unik dan misterius dalam masa Jawa Kuna adalah Tradisi Penciptaan Karya Sastra dan Penggambaran Relief Candi.Karya sastra yang mungkin impor dari tradisi sastra India telah dikenal sejak masa Mataram, tetapi pada karya sastra lokal baru ditulis pada masa Tamwlang-Kahuripan hingga Masa Jenggala-Kadiri. Masa Singhasari mengalami penurunan dan puncak intensitas pada masa Majapahit

Data Jawa Kuna menunjukan sekurangnya 23 jenis cerita yang terpahat pada bangunan Candi. Dari jumlah tersebut 10 diantaranya dipahatkan dilima candi msa Mataram yaitu 8 di Candi Budha dan 2 di Candi Siwa. Pada masa Tamwlang-Kahuripan hanya ada satu cerita yang terpahatkan di banguan keagamaan. Pada masa Janggala-Kadiri adalah masa “kering” dlm hal pembangunan bangunan peribadatan yang terbuat dari batu bata. Baru pada masa Singhasari sampai puncaknya di masa Majapahit banyak dijumpai relief ceritra baik dicandi Siwa ataupun Budha

Relief ceritra sepertinya tidak sepenuhnya memliki sumber tertulis. Dari 24 karya sastra pada masa Majapahit, hanya 6 tema yg dtmukan sebagai ceritera relief pada Candi (Arjunawiwaha, Kunjarakarna, Nawaruci, Partayajna, Sudamala, Sri Tanjung). Adakah kemungkinan bahwa tradisi pembuatan relief tidak berkembang atas dasar tradisi karya sastra, tetapi tradisi lisan yang diturunkan oleh generasi seterusnya.

Kelas Jawa Kuna Tiga akan segera dimulai. #ayosinaumaneh

Kelas Dua

Kelas Dua

Komunitas Sraddha Membuka Kelas Jawa Kuna #2 Tema kelas kita kali ini membahas karya sastra Jawa Kuna Apa saja si karya sastra Jawa Kuna? Aksaranya seperti apa aja ya ?Penasaran? Yuk catat tanggal pendaftarannya:

25-30 Maret 2017 Di Museum Radya Pustaka, Jl. Slamet Riyadi Hari : selasa-minggu ( pada jam kerja ya).