Wungon Satu Dasa Warsa Sraddha

Maenaka adalah salah satu kadang bayu yang saya kagumi. Beberapa dalang menyebutnya juga dengan Bayu Langgeng. Maenaka adalah seorang begawan yang menjalani laku dirinya menjadi Rṣi Gunung dan atau gunung itu sendiri. Gambar Maenaka ini wayang dari Wajak Kabupaten Malang. Wayang ini adalah eks-milik Ki Raspan. Saat ini menjadi koleksi Dr. Walter Angst and Sir Henry Angest Collection of Indonesian Puppets di musium Yale University Art Gallery, A.S.

Berulang kali ke gunung, rasanya seperti Anom yang mencari kebijaksanaan kepada Maenaka, memasuki gunung adalah menghadap dan menerima ilmu seperti para Ajar pegunungan itu sendiri.

Pada tanggal sebelas yang penuh kawelasan, para cantrik akan kembali “milang-miling”, milang kala, milang kori. — mengambil jeda sejenak, untuk berhenti berkegiatan seharian.

Para cantrik akan kembali ke gunung, melakukan “wungon”, “lek-lekan”, instropeksi dan “ndedonga” sembari mengatur langkah dasawarsa Komunitas Sraddha Sala.

Perayaan semalam, sebagai “isen-isen” Wungon satu dekade Komunitas Sraddha, saya mendongeng fragmen kecil dari teks Sěrat Rama Jawa Baru di Sokolangit Desa Wisata Conto. Umumnya orang-orang di Jawa, setiap kali ada kelahiran dan atau peringatan “weton” selalu ada “lek-lekan”. Berjaga semalaman, paling tidak sampai malamnya “lingsir”.

Wungon”, kata yang lebih arkais dari “lek-lekan” ini akan diisi dengan “umbul donga”, srawung, silaturahmi, dan tentu sedikit banyak makan bersama-sama. Kadangkala, di sela-sela “wungon”, ada saja hal-hal yang bisa diceritakan mulai dari keluarga, masalah sosial, hingga cerita-cerita sastra lainnya. Umumnya orang kabupaten, kultur ini pula yang menjadi “ritual” Śraddhā Institute. Mengambil satu topik untuk direfleksikan ke diri masing-masing.

Tadi malam cerita pertemuan Hanoman dengan Rṣi Gunung Maenaka dan pertarungannya dengan Wil Kaṭaksini dipilih untuk “jaga lèk”. Hanoman, seperti namanya, adalah ksatria muda penuh semangat dan gairah dalam menjalani tugasnya. Seringkali, Hanoman juga bertemu berbagai rintangan, termasuk raksasa laut Kaṭaksini. — Yang menarik adalah “jeda paksa” yang dilakukan kadang bayu sepuh, Begawan Maenaka, agar Hanoman berhenti sejenak, makan dan menerima wejangan, sebelum menghadapi hal-hal tak terduga.

Kadang kita juga seperti Hanom-an, “kaduk wani kurang duga”. Kita butuh bertemu orang-orang sepuh tur ampuh, berguru atas segala laku hidup yang dijalaninya. Kita butuh merenung di gunung-gunung yang tua, menemui wiku-wiku gunung. Barangkali “sembur”, tutur, dan “wuwur”-nya menjadi wirid penjagaan sepanjang waktu.

Hari Radite sudah manjing surup, mari kita mengambil jeda sebelum hari Soma menjadi titi laku.

Nyuwun donga kangge pangiriding laku.
#ayosinaumaneh #10tahunSraddha #sraddhasala
Desain oleh @nestapamaya

Sambang Kadang: Seri Diskusi Naskah-Naskah Islam Awal

 

Sesi satu ft Randhu Jembagar

Selama bulan Ramlan, Sraddha Sala akan menyelenggarakan seri diskusi naskah-naskah awal di Jawa. Seri ini direncanakan terbagi menjadi tiga sesi yang akan digelar di tiga kota.
Pertama-tama, kita akan membuka diskusi di dalam acara Pakunjaran Alit #4 Randhu Jembagar di Boyolali.

Seri diskusi ini akan mengajak kawan-kawan untuk belajar dan memahami aspek material dari manuskrip-manuskrip keislaman awal di Jawa medio abad XVII awal. Perlu kawan-kawan ketahui, bahwa studi filologi juga mengedepankan kejujuran atas aspek material, bahan pustaka, sejarah teks, digitalisasi hingga lahirlah edisi teks. — tentu, dalam diskusi ini kita akan coba kembali membaca ulang sendiri atas naskah-naskahnya secara langsung. Tak hanya “jarene” atau hasil bacaan cendekiawan sebelumnya.

Diskusi pertama ini akan membincang salah satu naskah Fiqh tertua yang kita punya. Dengan dating material naskahnya setidaknya tahun 1609 Masehi, yang saat ini menjadi koleksi perpustakaan Cambridge. Diskusi akan dipantik oleh @kangrendra dan penanggap Kyai Aziz Wisanggeni, acara akan dimoderatori oleh Ki Athar Fuadi.

Sesi Dua: Bukber Sraddha

Jawa Abad XVIII adalah masa peralihan dan perpindahan ibukota kraton Mataram dari Plered ke Kartasura. Dalam catatan Ricklefs dalam buku “The Seen and Unseen World in Java, 1726-1749”, naskah-naskah keislaman hadir lebih banyak seperti Suluk Garwa Kencana karya Ratu Mas Blitar, istri mendiang Sunan Pakubuwana I.

Sementara itu, di pegunungan Jawa, masyarakat masih menulis kesusasteraan “Kabudan” dengan menggunakan aksara dan Bahasa Jawa Kuna. Di antara naskah-naskah Merapi-Merbabu yang ada, ada satu naskah yang bernafas keislaman berjudul Wejangan Seh Ba Yajid. Sesi dua membincangkan naskah ini.

Acara dimulai dengan sekapur sirih dari tetua komunitas sekaligus periset di PR-MLTL BRIN, Rama Drs.Sumarno dan mas @kukuhswd
Sesi kedua, dari rangkaian diskusi Naskah-Naskah Islam Awal di Jawa ini membincang salah satu naskah keislaman dari Merbabu yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, berjudul Wejangan Seh Ba Yajid. Ki Cantrik, @kangrendra mendedahnya dengan lanskap teks sezaman dengan sangat menarik.

Sesi Tiga feat Ngglithuk Live Podcast

Salah satu teks yang selalu disematkan kepada Walisongo terutama Sunan Bonang adalah naskah dengan kode Or. 1928. Drewes telah cukup lama merisetnya, ia juga menyebutnya dengan “The Admonitions Seh Bahri”. Naskah ini menjadi koleksi perpustakaan pribadi navigator Belanda terkemuka Bonaventura Vulcanius yang hidup sebelum tahun 1600. Lalu tahun 1614 naskah ini diakusisi, di perpustakaan Leiden (UBL).
Teks awal bertulis “caritanira sekhulbariṅ\\”.

Teks akhir yang bertulis “kaṅpakṛti paŋeran] niṅ benaṅ. Lalu mengapa teks “baring” dijadikan “bari[ṅ] atau “pangeran ing benang” dianggap “Pangeran ing Bonang atau Sunan Bonang, mengapa begitu?
Masih dalam rangka program Sambang Ramadhan Sraddha Sala yang membincang teks-teks Islam awal di Jawa?

sesi #3 ini kita akan membincangnya dalam diskusi bakda tarawih di Sanggar Bimasuci Mojogedang bersama duo host Ngglithuk Podcast, Mas Rudi Agus Hartanto dan Gus Dwi Prakoso.

Selesailah tiga sesi seri diskusi khusus Ramadhan ini. #ayosinaumaneh

Śubhakāstawa: Gubahan Nyanyian yang Megah

 

Lepas maghrib, di sepuluh hari terakhir ruwah, Mindha kembali ke Lokananta untuk #nyadran mengenang dan mendiskusi kekaryaan para pendahulu seniman di balik salah satu karya terarsip berjudul Subakastawa Rinĕngga. Karya ini adalah karya gubahan Ki Narto Sabdo, yang menjadi mata rantai penting dalam karya gubahan karawitan Jawa.

Kali ini, pemantik sesi dengan Lokananta bloc adalah Mas Kukuh, ia seorang Cantrik Sraddha yang sedang melanjutkan studi S2 Ilmu Susastra di Universitas Gadjah Mada. Dalam tinjauan arsip dan manuskrip, ia menjelaskan secara kronologis kehadiran gendhing Subakastawa, Gubahan, penggunaan, hingga potret kondisi sosial masyarakat, saat data-data ini hadir.

Seru dan menyenangkan! Kawan-kawan pernah dengan Gendhing Subakastawa Rinengga? Coba dalami liriknya? Apakah kawan-kawan mengenal beberapa makanan pokok dari lirik tersebut?
#ayosinaumaneh

Sosialisasi Naskah Kuno di Ngawi

Ngawi adalah kota yang menarik, paling tidak sejak tertulis di Prasasti Canggu era Majhapahit, masa Mataram Islam hingga kancah Republik.
Minggu lalu, Sraddhasala kembali sowan ke Ngawi untuk untuk sosialisasi inventarisasi dan pelestarian naskah Kuno.

Acara ini merupakan program  Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ngawi yang turut mengundang seluruh elemen budayawan, tokoh masyarakat, pengasuh pondok pesantren, pengelola masjid-masjid sepuh, juru kunci, perangkat desa dan civitas akademia di Ngawi.

Kang Rendra Agusta dari Komunitas Sraddhā bersama mas Wahyu D.Pramana dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Prov. Jawa Timur menyampaikan sosialisasi, pemetaan, dilanjutkan digitalisasi mushaf dari Kepatihan dan Masjid Kuno di Ngawi.

Pertemuan istimewa! Sampai jumpa kembali #ayosinaumaneh

Keseimbangan Surya-Candra dalam Semesta Jawa Kuna

 

Sebuah malam, sehabis hujan di Yogyakarta, @kangrendra, bli @sugi.lanus dan den @paksiraras, untuk satu sesi kelas yang membincang Kosmologi Jawa Kuna dari sisi yang paling material berbasis prasasti hingga penghayatan teologi, yang bagi kalangan terbatas yang tak tahu lebih dalam hal “pating cĕklĕnik”, menyebutnya dengan istilah “klĕnik” dalam asosiasi makna lain.

Kami bercerita bagaimana prasasti Jawa Kuna Abad XVIII-XV mencatat perhitungan penanggalan yang kompleks seperti warśa, masa, pakśa, we-wāra (gabungan 3 jenis wāra), wuku yang sangat khas Jawa, karaņa, yoga, nakṣatra, dewata, muhūrta, grahacāra, parwesa, maņdala, dan rāsi. Yang kesemuanya berdasarkan pengamatan panjang mengamati benda-benda langit, menuliskannya dalam tanda-tanda berpola.
Lalu di tengah-tengah diskusi ada pertanyaan yang sangat matematik soal muhūrtas, yang sangat rigid itu? Lalu jawaban singkat pak Lanus “yang lebih penting saat mengetahui muhurta atau pembagian waktu yang lain, selain debat matematis adalah memuja dan menghayati kesadaran kosmik semesta. Kita ini seperti Nandi, sesungguhnya tak tahu banyak hal tentang kosmik, kita hanya tahu yang tampak dan teraih dalam pandang saja”.

Kembali ke Nandi di kompleks Siwa Grha, perlu juga melihat arca Surya-Candra di sampingnya. Tujuh kuda yang dikusiri Aruna sebagai pralambang saptawara dan sepuluh kuda putih pralambang jnanedriya-karmendriya. Coba lihat diri kita dan Nandi. — daripada berdebat soal esoteris dengan cara matematis, ada yang lebih penting yakni menjumpai matahari dan rembulan secara langsung, menjaga kesadaran dengan pancadriya rasa dan pancadriya laku, agar seimbang hidupmu, nalar dan rasamu.
Semoga Sang Maha meneguhkanmu.

Napak Tilas Sejarah Kelurahan Jajar

 

Menggali akar budaya dan sejarah lokal menjadi langkah penting dalam merawat identitas bangsa. Bertempat di Pendopo Kelurahan Jajar, yang diselenggarakan oleh LPMK Kelurahan jajar. telah berlangsung kegiatan kajian sejarah bertajuk “Napak Tilas Sejarah Kelurahan Jajar: Menguak Cikal Bakal dan Muasal”.

​Acara ini dibuka langsung oleh PLT Lurah Jajar, Bapak Agung Prihanto, S.E., M.M. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya bagi generasi muda dan masyarakat setempat untuk memahami sejarah tanah kelahirannya agar nilai-nilai kearifan lokal tidak luntur ditelan zaman.

​”Kegiatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi bentuk upaya kita dalam memperkuat jati diri warga Jajar,” ujar beliau di hadapan para peserta.

​Diskusi berlangsung hangat dengan menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya: ​BRM Bambang Irawan (Kanjeng Lintang), yang memaparkan tinjauan budaya dan keterkaitan genealogis wilayah Jajar.​Rendra Agusta, S.S., M.Sos., peneliti sejarah yang membedah arsip serta data literasi mengenai asal-usul penamaan dan perkembangan wilayah Jajar dari masa ke masa.

​Antusiasme warga terlihat dari sesi tanya jawab yang mengupas tuntas mitos dan fakta sejarah yang selama ini berkembang di masyarakat. Diharapkan hasil kajian ini dapat menjadi pijakan literasi bagi penyusunan buku sejarah Kelurahan Jajar ke depannya.

Membaca Saduran Sutasoma

Sebuah karya sadur dari cantrik Sraddhasala Ki Indra Agusta Karya ini bersumber dari Kakawin populer di nusantara, Sutasoma. Naskah yang juga telah menjadi bagian dari ingatan dunia.
Berkisah tentang seorang yang pangeran melarikan diri dari istana, namanya Jinamurti dari kerajaan Astina.Kelahirannya yang ajaib, ramalan akan masa depannya yang gemilang justru menempatkan dasar kediriannya untuk menolak itu segala kemewahan istana. Pangeran justru ingin hidup bertapa dan mengikuti jalan para yogi. Namun, siapa sangka perjalanannya menuju Mahameru justru mengantarnya pada tokoh-tokoh, khazanah serta refleksi dari pencarian diri ditemui oleh Jinamurti. Kuasa ramalan bekerja berbalut pengajaran-pengajaran suci, teror, goda dan pertemuan tak terduga. Menemukan memang tak selalu dimulai dari mencari, tapi menjalani.
Sila baca di web SiPena Perpusnas RI atau unduh via https://press.perpusnas.go.id/ProdukDetail.aspx?id=1437.

Kuliah Publik di STHAN Jawa Dwipa Klaten

Kali ini Mindha Sraddhasala sowan dan sambang sedulur di STAHN Jawa Dwipa, satu-satunya perguruan tinggi negeri agama Hindu di wilayah Jawa Tengah.

Dalam program kelas publik “Pantang Melupakan Leluhur” yang digagas UKM Penalaran STAHN Jawa Dwipa, kami diundang untuk mengisi salah satu sesi kelasnya. Mas Kang Rendra Agusta menyampaikan materi Masyarakat Pegunungan Jawa XV-XVII melalui data-data arsip, manuskrip, prasasti dan tinggalan arkeologi yang ada.

Sejalan dengan program studi kampus ini yang lekat dengan pengajaran agama Hindu, data-data masyarakat pegunungan ini menjadi sumber inspirasi yang penting untuk dikembangkan di masa mendatang.
Mengenal leluhur kita, tentu juga upaya-upaya mengenal jati diri kita. Sampai jumpa di kampus-kampus yang lain.

 

#ayosinaumaneh

Kitab Fikih Jawa Tertua di Cambridge

“nyan hukum] sakiṅ ‘p(f)èk] sinəmpil masalahe kaṅ kala —
mpaḥ kentasa. nyan hukumiṅ bañu, sakiŋ kitab Muharař, myaṅ —
saki(ṅ) kitab hilāḥ, muwaḥ saki(ṅ) kitab Sujja’ŋi.

Nukilan teks tersebut berasal dari Naskah CUL.Gg.5.22 yang tersimpan di Cambridge University Library (CUL). Naskah ini milik Thomas Erpenius, seorang Arabis dan orientalis berkebangsaan Belanda yang wafat pada November 1624.

Setahun kemudian (1625), terutama atas permintaan George Villiers (Adipati Pertama Buckingham yang belakangan menjadi rektor Universitas Cambridge), mungkin melalui istri almarhum, Jaecquemina Buyes, naskah Erpenius jatuh ke tangan keluarga Kerajaan Britania. [6] Agustus 1628, George Villiers terbunuh. Kemudian istrinya, Katherine Villiers, menghibahkannya ke CUL pada Musim Panas 1632.

Seperti tertera dalam teks, naskah ini adalah upaya penjawaan (gubahan ke aksara dan bahasa Jawa Pertengahan?) pedoman Fiqh yang berasal dari (1) Kitab Muharar atau al-Muḥarrar; (2) Kitab Ilah atau Iḍāḥ fī al-Fiqh; dan (3) Kitab Sujjai. Kitab terakhir mungkin adalah ikhtisar dari fiqh mazhab Syafi’i yang dijuduli sesuai nama penulisnya, (Abū) Shujā’ (w. pasca-1196 M). Teks Gg.5.22 terdiri dari tiga bagian: (1) yurisprudensi Islam (fiqh), membahas ibadah/ritual wajib; (2) ulasan-ulasan singkat soal ramalan; dan (3) prinsip-prinsip iman dalam pedoman aqidah.

Catatan Pinggir: Pada folio pertama, di atas lukisan bunga, ada dibubuhkan huruf “S”; itu menunjukkan bahwa naskah ini adalah milik Joseph Justus Scaliger, mentor Erpenius. Huruf “S” mungkin merujuk pada cara “Erpenius secara konsisten membubuhkan huruf “S” sebagai karya Scaliger [Kitab al-Amthal].” Berangkat dari asumsi bahwa naskah ini sebelumnya adalah milik Scaliger, maka terminus ante quem-nya jadi diketahui, yakni 1609, tahun wafatnya Scaliger.

Yap! Walaupun belum ada uji radiokarbon atas material naskah ini. Setidaknya, kita tahu naskah penjawaan kitab Fiqh tertua yang kita punya berada di CUL, Inggris. — sejak tahun 1609(empat abad silam). Sebagai catatan, deiksis partikel “nyan” ini menarik diamati oleh peneliti linguistik Jawa Kuna dan Tengahan.

Radiocarbon, Teks Pangeran Benang dan Sumber Primer Walisongo

Sejak semula, teks-teks primer tentang Walisanga dan masa Demak yang sezaman selalu dipertanyakan. Apakah memang ada naskah yang sezaman dari internal masyarakat Jawa sendiri selain teks-teks pelawat dari Eropa. Tulisan ini dengan ringkas akan menjawab pertanyaan kawan-kawan menyoal sumber primer ini.

Radiocarbon, Teks Pangeran Benang dan Sumber Primer Walisongo

Malam minggu ini Mindha mendapat pertanyaan, lagi-lagi soal data tulis keberadaan Wali Songo. Terus terang, selalu Mindha terangkan bahwa:

“semua ilmu itu terbatas dan ada batasannya masing-masing, termasuk Filologi” —

 Filologi terbatas dan keras berpegang pada material kultur, jika data sezaman tak ada maka data lain akan dipandang lemah dalam posisi kritik sumber historiografi yang menggunakan ilmu filologi sebagai alat bantu. Pertanyaan yang muncul? Apakah ada teks Walisongo yang sezaman kita miliki?

1. Salah satu teks yang selalu disematkan kepada Walisongo terutama Sunan Bonang adalah naskah dengan kode Or.1928 koleksi Leiden ini. Drewes telah cukup lama merisetnya, ia juga menyebutnya dengan “The Admonitions Seh Bahri”. Cek https://drive.google.com/file/d/1aqP2_fyTp5kSpHd8xrI960wDG0n2DP5g/view.

2. Jika kawan-kawan tak percaya Drewes, silahkan baca naskah aslinya. Beraksara Jawa Baru dan Bahasa Jawa Baru awal. Aksara-aksara yang digunakan mirip sekali dengan inskripsi di Kategan, teks Panji Angreni awal dan prasasti Peter Everbeld di Jakarta.  Cek naskah aslinya https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/1576531#page/1/mode/1up

3. Teks awal bertulis “caritanira sekhulbariṅ\\”.Teks akhir yang bertulis “kaṅpakṛti paŋeran] niṅ benaṅ. Lalu mengapa teks “baring” dijadikan “bari[ṅ] atau “pangeran ing benang” dianggap “Pangeran ing Bonang atau Sunan Bonang, itu adalah usulan Drewes. Mengapa ia mengusulkan begitu? Cek di tesis Drewes.

4. Apakah teks ini sezaman dengan Demak?

Jawabnya: Naskah ini menjadi koleksi perpustakaan pribadi navigator Belanda terkemuka Bonaventura Vulcanius yang hidup sebelum tahun 1600. 
Lalu tahun 1614 naskah ini diakusisi dan disimpan di perpustakaan Leiden (UBL) sampai sekarang. Cek https://collectionguides.universiteitleiden.nl/resources/ubl015#

5. Kapan ditulis? sepanjang teks tak ditemukan kolofon penanda tahun. Drewes memperkirakan bahasa dan aksara yang digunakan pada masa Jawa Tengahan atau peralihan.

6. Tahun 2025, Ibu Annabel T. Gallop menerbitkan uji radio karbon atas material naskah ini. Hasilnya, ada dua kemungkinan. Pertama, dluwang ini diproduksi kemungkinan 58% dibuat pada 1456-1523 Masehi. Kedua, kemungkinan 37% dibuat tahun 1574-1626 M. Cek https://journals.sub.uni-hamburg.de/hup4/mc/article/view/9

7. Kenapa tahun penanggalan radiocarbon tidak presisi? Ada banyak hal variabelnya. Perlu kawan-kawan belajar dari kawan-kawan periset arkeometri.

8. Kapan dluwangnya mulai ditulisi teks ini? Tidak tahu.

9. Teks zaman yang memuat orang-orang suci di Demak bisa mulai baca teks lawatan Tom Pires (1512-1515), Fransisco Rodrigues (1515) dan sederet teks lain yang menyelinap di arsip-arsip Portugis dan Spanyol. Jika tak percaya dengan terbitan yg ada, bisa mulai belajar kedua bahasa itu dan baca teks aslinya, sekarang sudah mudah diakses. Cek https://archive.org/details/McGillLibrary-136385-182

10. Dalam poin sembilan nanti ada istilah “Tapas” dan “Moor”. Dua leksikon yang mengacu pada orang-orang suci di Demak. Apakah ada istilah walisongo di sana? Belum ditemukan.

11. Kembali ke naskah Pangeran Benang. — sampai saat ini ada dua mahzab, yang lunak menyamakannya dengan Pangeran/Sunan Bonang atau Seh Bakhul Baring sama dengan Bari. — ada pula peneliti yang tetap keras pada teks yang ada tertulis.

12. JIKA, kita memilih mahzab lunak (poin 11), dan keterangan umum riwayat Sunan Bonang dari teks-teks yang lebih muda (Abad XVIII-XIX) yang mengisahkan beliau hidup antara tahun 1465-1525, berdasarkan data hasil radiokarbon maka tahun ini mendekati kemungkinan masa diproduksinya kertas dluwang naskah Or.1928 itu. Lihat poin 6.

13. JIKA, anda mahzab keras, dan tetap keukeuh pada teks yang ada. Ya teks itu karya Pangeran Benang bukan Pangeran Bonang atau Sunan Bonang.

Kurang lebih begitulah keterbatasan ilmu filologi. Ilmu yang Mindha dan secuil kawan-kawan tekuni. Mindha tak ahli penerawangan yang bisa berkomunikasi dengan jim atau kembali ke masa lalu untuk mempertanyakan fakta-fakta sesungguh. Mindha dan kawan-kawan demikian terbatas.

Demikian ulasan Malming dibuat, semoga menjadi ajang perdebatan akademik berikutnyah.rdr

#ayosinaumaneh