Malam ini, Sraddha kembali ke dusun Sewengi, di lereng gunung Merbabu. Silaturahmi dengan kawan-kawan Sedalu sekaligus memenuhi jagongan bab makam-makam kuno di wilayah Boyolali. Malam ini begitu hangat, kawan-kawan pegiat budaya lintas daerah juga turut hadir.
Sebaran pemakaman kuno dengan langgam Demak sampai Pakubuwanan – Hamengkubuwanan tersebar di banyak titik di Boyolali. Dalam diskusi ini, Kyai M.Yaser Arafat dan Kang Rendra Agusta, mendedah ulang, bagaimana mencari informasi dari suatu makam kuno. Sembari minum teh Ginastel dan cemilan “krowotan”, menambah suasana menjadi lebih syahdu.
Makam bukan sekedar benda mati, pada nisan-nisan itu tertera nama-nama orang yg pernah hidup dan tutur lisan menghidupkannya kembali melalui “gotèk tular”. Segala perjuangan para pendahulu itulah yang memungkinkan kita ada dan hadir saat ini. — Dari kisah-kisah para empu makam inilah, kita mengambil hikmah dan kebijaksanaan hidup dalam melangkah.
