Mencari Tuhan pada Masa Jawa Kuna

manuk asukha-sukhan muṅgwing pang rãmya masahuran kadi papupul i saṅ wriṅ tattwādhyātmika maceṅil —
burung-burung riang gembira di atas ranting pohon, ramai bersahutan seperti perdebatan para cendekiawan untuk mencari kebenaran esoteris (tattwādhyātmika), begitu tulis Pu Tan Akung dalam teks śiwarātrikalpa.
— bahwa kebenaran dicari melalui penelusuran teks, tentu juga mencakup studi filologi adalah bagian dari pencapaian Hyang Widdhi melalui jalan Tantra.

Mencari Tuhan pada Masa Jawa Kuna

manuk asukha-sukhan muṅgwing pang rāmya masahuran kadi papupul i saṅ wriṅ tattwādhyātmika maceṅil — 

burung-burung riang gembira di atas ranting pohon, ramai bersahutan seperti perdebatan para cendekiawan untuk mencari kebenaran esoteris (tattwādhyātmika), begitu tulis Pu Tan Akung dalam teks śiwarātrikalpa. 

— bahwa kebenaran dicari melalui penelusuran teks, tentu juga mencakup studi filologi adalah bagian dari pencapaian Hyang Widdhi melalui jalan Tantra. 

Malam yang bahagia dalam program #Wruh Jawacana  ke delapan, saya dijawil mas Paksi Raras Alit  untuk menjadi pemantik bersama pak Sugi Lanus. Tentu, saya langsung “Yes! Gas!”, satu kebahagiaan tersendiri bisa menjadi pendamping beliau adalah guru saya menyoal tradisi Kawi yang berkembang di Bali utamanya.Wujud śisyabhakti ini diwujudkan dalam diskusi yang menarik menyoal “Tuhan dalam masyarakat Jawa Kuna”.

Diskusi makin menarik karena sebagian besar bukan pemeluk Siwa dan Buddha, pun juga bukan peneliti budaya Kawi pada masa lampau. — lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan yang menarik, seperti salah paham soal Tantra dalam opini publik, keberadaan hyang Taya yang dihadirkan secara serampangan dan ahistoris, simplifikasi kaum akademik terhadap ruang teologis Jawa Kuna dan berbagai pertanyaan lain yang sangat menarik.

Lalu pak Sugi Lanus hanya memberi gambaran mencapai ketuhanan dalam Jawa Kuna, ada dua jalan yang bisa ditempuh dalam mencapai “sakalaning niskala”, jalan sunyi atau jalan ramai — diskusi ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan yanf makin panjang. 

Semoga segala yang baik berbiak 🙏 Nantikan program Wruh selanjutnya ya kawan-kawan. rdr #ayosinaumaneh

Kelas Pos-pos

Sraddha Institute Surakarta akan menggelar Kelas Pos-pos untuk mengajak kalian semua berpikir ulang terhadap apa yang telah baku. Memikirkan kembali wacana kritis agar nalar tidak beku, serta menimbang ulang kedirian kita terhadap peristiwa dan beragam fenomena. Kelas ini akan digelar pada tanggal 20-21 Juli 2024. Mari bergabung.

Program Sorasem #1 Kelas Pos-Pos

Panji Dalam Tradisi Sastra dan Ruang Arkeologis

Panji, yang juga menjadi sastra rakyat, turut hadir dalam dongeng, folklore, hingga seni pertunjukan. Dongeng popular yang memuat cerita Panji misalnya Andhe-Andhe Lumut, Keong Mas, Cindelaras Enthit, Arumsari, dan Brambang Bawang. Adapun folklore yang memuat cerita Panji misalnya folklore goa Selomangleng di Kediri, Sedangkan Panji dalam seni pertunjukan bisa dilihat dalam wayang gedhog, wayang beber, dan tari topeng. Naskah-naskah Panji juga tersimpan di pelbagai penyimpanan naskah-naskah di luar negeri.

Panji dalam Tradisi Sastra dan Ruang Arkeologis

Dalam seri diskusi naskah nusantara #42 yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan Komunitas Sraddha Sala kali ini membahas Panji. Cantrik Sraddha Sala, Kukuh S. Widodo membahas Panji dalam tradisi kesusastraan Jawa dan Naskah-naskah kuno Panji dalam Tradisi Jawa di berbagai belahan dunia.Cerita Panji tidak lepas dari tradisi-tradisi sastra yang tumbuh di Nusantara, terlebih dalam tradisi sastra Jawa. Cerita Panji yang banyak termaktub dalam naskah-naskah kuno juga turut mengelana di berbagai belahan dunia. Pada masa Jawa Baru, Era Keraton Mataram Islam, Cerita Panji masuk ke dalam teks Pustaka Raja, yakni Pustaka Raja Puwara. Pembagiannya yakni Pustaka Raja Purwa, Pustaka Raja Madya, dan Pustaka Raja Puwara. Ada versi yang menyebutkan bahwa cerita Panji masuk ke dalam Pustaka Raja Antara. Hal ini didasarkan dari naskah Serat Pakem Pustaka Raja Antara di Mangkunegaran. Cerita Panji turut menjadi pewaris pemerintahan di Jawa menurut Babad Tanah Jawi. Tradisi cerita Panji di Jawa: Tengahan, Pesisiran, Kraton Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Pakualaman. Panji juga berkembang ke Tradisi Lisan atau yang kita kenal dengan Folklor Panji: Ande-ande lumut, keong mas, brambang bawang. 

Menurut Ismail Lutfi, cerita Panji adalah salah satu cerita khas Nusantara yang berkembang pesat pada masa akhir Majapahit. Cerita Panji kemudian berkembang sampai pada masa-masa yang lebih muda, baik dalam tradisi sastra, seni rupa maupun seni pertunjukkan. Cerita Panji juga berkembang di seluruh Asia Tenggara seperti rumpun kebudayaan Melayu dan Thailand. Pada tradisi formal Jawa Kuna, (m)apanji berarti memiliki atau menggunakan panji tertentu. Dalam berbagai Prasasti awalnya (m)apanji adalah sebutan kebangsawanan atau tokoh spiritual. Pada tradisi sastra panji, apanji maupun mapanji merupakan sebutan untuk anggota keluarga bangsawan. Kisah Panji artinya kisah tentang orang muda dari kalangan kraton.

Panji, yang juga menjadi sastra rakyat, turut hadir dalam dongeng, folklore, hingga seni pertunjukan. Dongeng popular yang memuat cerita Panji misalnya Andhe-Andhe Lumut, Keong Mas, Cindelaras Enthit, Arumsari, dan Brambang Bawang. Adapun folklore yang memuat cerita Panji misalnya folklore goa Selomangleng di Kediri, Sedangkan Panji dalam seni pertunjukan bisa dilihat dalam wayang gedhog, wayang beber, dan tari topeng. Naskah-naskah Panji juga tersimpan di pelbagai penyimpanan naskah-naskah di luar negeri.

Membincang Raden Saleh: Menghormati Tuhan Mencintai Manusia

Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya.

Membaca Ulang Raden Saleh

Membincang Raden Saleh bersama Dr. Werner Kraus

Raden Saleh Syarif Bustaman dikenal sebagai seorang pionir seni rupa modern di Indonesia (Hindia Belanda). Ia lahir di kalangan Arab-Jawa, putra dari Sayyid Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya. Semasa kecil ia tinggal bersama pamannya, Sura Adimenggala, Bupati Semarang yang berkedudukan di Terboyo. Kemudian ia belajar melukis di Cianjur bersama Theodorus Bik dan Antoine Auguste J. Payen. Pada usia delapan belas tahun, kemudian ia melakukan perjalanan ke Belanda, belajar melukis. Setelah itu, Saleh tinggal di Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Tahun 1851, Raden Saleh kembali ke Jawa, bekerja sebagai konservator lukisan pada pemerintah kolonial. Selain itu Raden Saleh juga melakukan perjalanan “pulang” ke Jawa. Menemui keluarganya di Semarang dan Salatiga, melukis Sultan Hamengkubuwono VI, melukis penangkapan Diponegoro,  melakukan pendakian gunung Merapi, mencari fosil dan mengkoleksi manuskrip Jawa. Raden Saleh juga mempunyai dua kali pernikahan, satu dengan orang Eropa – Nyonya Constancia Winckelhaagen, satunya dengan orang Jawa. Hidup dalam pelbagai lintasan ini tentu tidak mudah dalam diri Raden Saleh. Orang yang “sangat maju” dalam pemikiran, tetapi ia terjebak di dalam kondisi Jawa yang saat itu kurang menguntungkan bagi orang berkulit “Sawo Matang”. Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya. Selain itu, diskusi ini juga akan membahas pergolakan ruang seni pada masa akhir pemerintahan Belanda dan Masa Revolusi.

Diskusi dibuka dengan pemutaran film animasi Diponegoro 1830 karya Subiyanto, sebuah karya yang diinisiasi berbasis alih wahana lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh. Selanjutnya, Werner Kraus, Kurator dan akademisi asal Jerman ini telah lebih dari 20 tahun mempelajari dan meneliti karya-karya Raden Saleh. Salah satu karya yang pentingnya adalah buku “Raden Saleh, Kehidupan dan karyanya” yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia tahun 2018. Membincang Pengaruh lintasan keluarga Arab-Jawa, tinggal di antara Jawa dan Eropa, dalam kehidupan dan kekaryaan Raden Saleh. Selain itu, Rendra Agusta, salah satu peneliti manuskrip Sraddha Institute memberi catatan awal tentang lukisan dari Babad Pesanggrahan-Pesanggrahan Kraton Surakarta Abad XIX-XX. Diskusi dilanjutkan paparan Fatih Abdulbari mengenai perubahan dan gaya seni lukis pada masa Revolusi kemerdekaan Indonesia. 

Bagian akhir dari diskusi yang menarik adalah ketika pak Werner Kraus mengajak kita berefleksi tentang lukisan “Banjir di Jawa” — dari lukisan tersebut, Raden Saleh membuat satu pameran yang digunakan sebagai bagian galang dana untuk bencana banjir di Banyumas. Selain itu, lukisan ini juga mengisahkan ketika ada bencana melanda tanah air, maka hanya diri kitalah yang bisa menyelamatkan dan mengupayakan keselamatan diri — bukan para penguasa yang nun jauh di Belanda sana. Tentu hal ini menjadi satu refleksi, terlepas dari aturan-aturan keindahan seni lukis yang anatomik, penuh dengan eksplorasi warna, ada satu hal yang penting direnungkan, “bagaimana peran seni umat manusia untuk rasa kemanusiaan?”. Ayo sinau maneh!rdr

Manusia dan Waktu

Manusia Jawa, seperti dalam kebudayaan yang lain, memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat waktu. Waktu dipandang dari kelahiran hingga wafat.

Manusia dan Waktu

Bagaimana manusia memandang waktu? salah satunya dengan sudut pandang berikut:

Manusia Jawa, seperti dalam kebudayaan yang lain, memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat waktu. Waktu dipandang dari kelahiran hingga wafat.

Lahir-Hidup-Mati.

 

Pada masa lampau, dan sebagian manusia Jawa kini menandai hari mereka dengan istilah “weton” atau “wiyos”, yang arti harafiahnya berarti “keluar”, “metu”. Saat lahir ini, manusia Jawa akan ditandai mulai dari awan/bengi, saptawara, pasaran, wuku, hingga putaran windu.

Nah! atas dasar penanda kelahiran tersebut, maka penting sekali bagi orang Jawa ketika hari lahir dan deretannya itu kembali ke titik awalnya, satu kali siklus.

 

Biar ndak rumit, contohnya begini:

Orang yang lahir 1 Maret 1993, atau Sênèn Wage 7 Pasa Jimawal AJ 1925, măngsa Kasanga, Wuku Măndhasiya, Windu Sancaya. — Oerhatikan hari, bulan, mangsa/masa, wuku, dan windu-nya.

Maka ia akan mencapai Tumbuk Alit pada Senin 18 Maret 2024 M, Sênèn Wage 7 Pasa Jimawal AJ 1957 măngsa Kasanga, Wuku Măndhasiya, Windu. —Pada hari dalam satu siklus penanggalan Jawa. Ya kira-kira, orang itu berusia 31 tahun. Ia akan bertemu siklusnya lagi, 31 tahun kemudian.

Sederhananya Weton (0 tahun), Tumbuk Alit (31 tahun), Tumbuk Ageng (62 tahun), Adi Yuswa (93 tahun), dst hingga wafat.

Masa Wiyos- Tumbuk Alit dimaknai orang Jawa sebagai masa berproses, bertumbuh dan berkembang, belajar, melakukan pengembaraan, mencari ilmu, mengolah raga dan menemukan pola-pola pilihan.

Masa Tumbuk Alit hingga Tumbuk Ageng adalah masa pencapaian. Pada fase ini manusia Jawa akan berkarya, membangun karier, mencapai puncak-puncak duniawi, membangun kelurga, dan bertanggungjawab penuh atas pilihan-pilihan hidupnya.

Setelah Tumbuk Ageng, manusia Jawa cenderung akan mundur dari rutinitas duniawimengolah batin, menulis memoar. Pada masa lampau, fase ini banyak bangsawan yang menepi ke pesisir, pegunungan, dan ruang-ruang sepi, untuk mengolah rasa, pun sesekali memberi advice.

Pada masa kini jarang sekali manusia Jawa yang menyentuh Adi Yuswa, “kelahiran ketiganya” di dunia dalam siklus penanggalan Jawa. Pada masa lampau, orang yang mencapai derajat ini akan disebut Buyut atau Penembahan. Orang-orang yang sudah mapan dengan ruang spiritualitasnya. 

Masa Adi Yuswa, di masa lampau orang akan lebih banyak bermeditasi dan meninggal dengan tenang. Tentu penanda seperti ini hari ini dianggap sebagai satu simplifikasi, karena jalan hidup manusia begitu kompleks dan punya karakteristik pola sendiri. Paling tidak, setidaknya bagi sebagian manusia Jawa, penanda-penanda ini menjadi penting untuk mengukur diri, menandai proses diri, dan mengakhiri kisah diri pribadi dengan baik.

Apakah kawan-kawan Srddha masih mengenal pola marking ini? atau kawan-kawan punya pola penanda waktu tersendiri? selamat berakhir pekan. rdr

 #ayosinaumaneh

Workshop Aksara Kawi di Hari Amal Bakti

Workshop Aksara Kawi di Hari Amal Bakti

Dalam rangka Hari Amal Bakti ke 78, Kawi Society mengadakan workshop Aksara Kawi. Peringatan HAB ini berlangsung di Jakarta Convention Center tanggal pada tanggal 5-7 Januari 2023. Binmas Hindu Kementrian Agama RI, memamerkan beberapa hasil riset, produk terapan, Yoga massal, penampilan seni pertunjukan, dan workshop. 
 
Dalam acara ini, Kawi Society menggelar Workshop Aksara Kawi dan turunnnya yang diikuti banyak peserta dari berbagai kalangan. Acara workshop dipandegani oleh Rendra Agusta dari Sraddha Sala dan Gunayasa dari Universitas Udayana. Keduanya merupakan anggota aktif Kawi Society, sebuah komunitas yang fokus pada kajian Budaya Kawi. Workshop berlangsung dengan menyenangkan sembari diskusi-diskusi dan membaca lontar. 
 
 

Penatah Kayon Karya J.L.Moens

Malam ini ni cantrik Kesia memaparkan hasil penelitian tentang manuskrip Penatah Kayon di sirkel pengajian dan pengkajian Randhu Jembagar Boyolali. Panatah kayon adalah salah satu naskah yang diinisiasi oleh J.L. Moens. Naskah ini memuat pengetahuan tentang pembuatan wayang kulit. Moens adalah salah seorang Indonesianis yang punya cukup banyak program pencatatan kebudayaan Jawa.

Penatah Kayon Karya J.L.Moens

Malam ini ni cantrik Kesia memaparkan hasil penelitian tentang manuskrip Penatah Kayon di sirkel pengajian dan pengkajian Randhu Jembagar Boyolali. Panatah kayon adalah salah satu naskah yang diinisiasi oleh J.L. Moens. Naskah ini memuat pengetahuan tentang pembuatan wayang kulit. Moens adalah salah seorang Indonesianis yang punya cukup banyak program pencatatan kebudayaan Jawa.

Malam yang panjang sehabis hujan selalu penuh dengan tawa dan riang. Barangkali upaya-upaya yang demikian untuk #meretasjarak ilmu pengetahuan ke masyarakat. Diskusi malam ini juga dimeriahkan oleh Ki Dalang Kusnanta Riwus Ginanjar, pak guru dalang sekaligus cicit dari Mbah Widi Prayitna, seorang dalang yang bekerja sama dengan J.L.Moens dalam penyusunan manuskrip tersebut. Seru sekali bukan, cicitnya pun masih bisa bertemu dengan karya-karya eyangnya.

Mencari Nilai dan Kearifan Lokal dalam Naskah Naskah Jawa

Jumat kemarin (12/11/2023), Balai Bahasa Jawa Tengah menggelar sarasehan Sastra dan Budaya yang secara spesifik membahas nilai dan kearifan lokal dalam naskah-naskah Jawa.

Mencari Nilai-nilai yang tersisa dari naskah-naskah Jawa

Jumat kemarin (12/11/2023), Balai Bahasa Jawa Tengah menggelar sarasehan Sastra dan Budaya yang secara spesifik membahas nilai dan kearifan lokal dalam naskah-naskah Jawa.

Acara ini berlangsung dua sesi bersama akademisi dan praktisi. Sesi pertama, bersama Prof. Sahid Teguh Widodo (UNS) dan Prof. Sri Heddy Ahima Putra (UGM). Sesi pertama ini banyak membincang hal-hal teoritik mengenai perkembangan studi pernaskahan di Surakarta. Sedangkan sesi kedua Kang Rendra Agusta dari Sraddha sala dan Bandung Mawardi dari Bilik Literasi Karanganyar membincangkan kondisi terkini dari “graasroot”, bagaimana masyarakat bergerak, berkomunitas, dan membangun gerakan pernaskahan secara kolektif.

Aksara ꦯ akan dibaca seperti apa?

Aksara ꦯ ini dikenal sebagai aksara Murda Sa, sebagai huruf kapital penyebutan nama tertentu dalam Paugeran Sriwedari. Tetapi, aksara ini juga dikenal untuk menggantikan ś atau sy atau ç dalam paugeranMardikawi, sebuah pengaturan peraturan untuk menulis bahasa Jawa Kuna dengan menggunakan aksara Jawa Baru.

Aksara ꦯ akan dibaca seperti apa?

Pada hari yang panas ini, mimin mendapat pertanyaan dari kawan-kawan soal penggunaan aksara Murda dan atau Mahaprana ini.

Tentu perdebatan ini perkara dialog memperebutkan kebenaran pembacaan aksara ini dari salah satu grup guru bahasa Jawa.

Nah! pada umumnya, aksara ꦯ ini dikenal sebagai aksara Murda Sa, sebagai huruf kapital penyebutan nama tertentu dalam Paugeran Sriwedari. Tetapi, aksara ini juga dikenal untuk menggantikan ś atau sy atau ç dalam paugeranMardikawi,Sebuah pengaturan peraturan untuk menulis bahasa Jawa Kuna dengan menggunakan aksara Jawa Baru.

Tentu kedua sah-sah saja digunakan dengan pertimbangan teks apa yang kita baca. Semisal, dalam Serat Wretasancaya (gambar 1) koleksi Museum Radya Pustaka, pada teks “Sang Hyang Wāgīҫwarīndah”, aksara ꦯ sebaiknya dibaca sebagai sy atau ç, agar kemudian pembaca awam dapat memahaminya lebih lanjut. 

Sedangkan pada teks yang lain, seperti Serat Prajangjen Dalem Nata (gambar 2), aksara ꦯ sebaiknya tetap dibaca sebagai Sa biasa, pengunaan aksara tersebut digunakan untuk penghormatan kepada nama Raja di Kraton Surakarta.

Yuk sudah perdebatan! toh keduanya juga bisa digunakan dalam teks dan konteks tertentu. Keduanya juga termaktub dalam manuskrip-manuskrip karya leluhur kita.

#ayosinaumaneh

Kawi Society: Pertemuan para peneliti Jawa Kuna dari berbagai penjuru dunia

International Kawi Culture Festival merupakan upaya untuk memperkenalkan konsep Budaya Kawi di kalangan umum maupun di kalangan ahli. Tujuan acara ini sesuai dengan semboyan festival: “melepas sekat, memperluas jarak, meniti puncak”. Melepas sekat berarti membebaskan pikiran dari segala keterbatasan berdasarkan identitas suku, disiplin maupun lembaga, agar budaya Kawi dapat ditelaah secara keseluruhan. Memperluas jarak berarti memperbesar wawasan dan ruang lingkup pemahaman budaya Kawi, baik secara geografis maupun historis.

Kawi Society: Pertemuan para peneliti Jawa Kuna dari berbagai penjuru dunia

Anggota Kawi Society

International Kawi Culture Festival merupakan upaya untuk memperkenalkan konsep Budaya Kawi di kalangan umum maupun di kalangan ahli. Tujuan acara ini sesuai dengan semboyan festival: “melepas sekat, memperluas jarak, meniti puncak”. Melepas sekat berarti membebaskan pikiran dari segala keterbatasan berdasarkan identitas suku, disiplin maupun lembaga, agar budaya Kawi dapat ditelaah secara keseluruhan. Memperluas jarak berarti memperbesar wawasan dan ruang lingkup pemahaman budaya Kawi, baik secara geografis maupun historis. Meniti puncak berarti mencapai nilai-nilai ilmu dan budaya yang tinggi, melalui pembangkitan sumber daya penelitian, kesenian, dan komunitas. Visi ini diwujudkan dalam beberapa tema yang merupakan titik pokok dari ceramah umum dan seminar.

Festival ini terdiri atas beberapa kegiatan ilmiah dan budaya yang menampilkan warisan budaya Kawi dalam segala bentuknya: ceramah umum, seminar penelitian, lokakarya, pertunjukan, pameran, dan kunjungan lapangan. Pembicara dan peserta akan diundang ke Bali dari seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam festival yang akan berlangsung selama 4 hari. Sasaran kegiatan ini adalah para peneliti, mahasiswa, penggerak kebudayaan, dan umum. Festival ini akan dipasarkan kepada himpunan dan kelompok yang terlibat dan tertarik dalam kajian budaya Kawi. Ceramah Umum disampaikan oleh peneliti senior dalam bidang Jawa Kuna seperti Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M. Hum. (Udayana, Denpasar),Dr. Dwi Puspitorini (Universitas Indonesia, Depok) ,Prof. Dr. Willem van der Molen (KITLV, Leiden),Prof. Arlo Griffiths (EFEO, Jakarta) ,Dr. Andrea Acri (EPHE, Paris),John Sihar Simanjuntak, M.M. (Pandi),Agung Kriswanto (Perustakaan Nasional Jakarta),Dr. Titi Surti Nastiti (BRIN, Jakarta) ,Hadi Sidomulyo (Peneliti Independen, Bali),Dr. Sofwan Noerwidi (BRIN, Jakarta),Drs. I Gusti Made Suarbhawa (BRIN, Denpasar) dan Prof. Dr. Timothy Lubin (Washington & Lee, Lexington). 

Sedangkan Seminar penelitian disampaikan oleh para peneliti Jawa Kuna yang lebih muda seperti Dr. Abimardha Kurniawan (Universitas Airlangga, Surabaya), Dr. Aditia Gunawan (Perpustakaan Nasional, Jakarta). Anggita Anjani, S.Hum. (Universitas Indonesia, Depok), Dr. Atin Fitriana (Universitas Indonesia, Depok), Dr. David Moeljadi (Universitas Kanda, Jepang), Dewa Ayu Carma Citrawati, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Dewa Gede Windhu Sancaya, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Eko Bastiawan, M.A. (Universitas Padjadjaran, Bandung), Evi Fuji Fauziyah, M.Hum. (Badan Bahasa, Jakarta), Goenawan A. Sambodo, M.T. (Peneliti independen, Yogyakarta), Ghis Nggar, M.Hum. (Universitas Negeri Yogyakarta), I Gde Agus Darma Putra, M.Pd. (Universitas Hindu Indonesia), Ilham Nurwansah, M.Pd. (PPIM UIN Jakarta), Kezia Permata, M.A. (Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada), Dr. Mekhola Gomes (Amherst College, USA), Nicholas Lua Swee Yang, M.A. (Singapura), Nurmalia Habibah, S.S., M.A. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Rendra Agusta, S.S., M.Sos. (Sraddha Institute, Surakarta), Salfia Rahmawati, M.A. (Universitas Indonesia, Depok), Styan Lintang, S.S. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Tri Subekso, M.Hum. (Tim Ahli Cagar Budaya, Kabupaten Semarang), Tyassanti Kusumo Dewanti, M.Sc. (Pura Mangkunegaran, Surakarta). Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, M.A. (Ecole française d’Extrême-Orient, Jakarta).Dr. Yosephine Apriastuti Rahayu (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) dan Zakariya Aminullah, S.S., M.A. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta/Universitas Hamburg).
Selain itu, ada pula workshop penulisan aksara Jawa Kuna dalam tiga tradisi yakni Sunda, Jawa, dan Bali. Ada pula fieldtrip ke beberapa tempat yang terkait dengan budaya Kawi di masa Bali Kuno seperti Gunung Kawi, Museum, dan pura-pura klasik. Acara ditutup dengan berbagai pertunjukan seperti Mabasan Kakawin, pertunjukan Calon Arang, Tari Topeng, dan Fragmen Pangajaran oleh Atmaja Timur (Damalung Blueprint). Sampai jumpa pada festival Kawi berikutnya di Jawa Tengah!