Membincang Raden Saleh: Menghormati Tuhan Mencintai Manusia

Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya.

Membaca Ulang Raden Saleh

Membincang Raden Saleh bersama Dr. Werner Kraus

Raden Saleh Syarif Bustaman dikenal sebagai seorang pionir seni rupa modern di Indonesia (Hindia Belanda). Ia lahir di kalangan Arab-Jawa, putra dari Sayyid Husen bin Alwi bin Awal bin Yahya. Semasa kecil ia tinggal bersama pamannya, Sura Adimenggala, Bupati Semarang yang berkedudukan di Terboyo. Kemudian ia belajar melukis di Cianjur bersama Theodorus Bik dan Antoine Auguste J. Payen. Pada usia delapan belas tahun, kemudian ia melakukan perjalanan ke Belanda, belajar melukis. Setelah itu, Saleh tinggal di Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Tahun 1851, Raden Saleh kembali ke Jawa, bekerja sebagai konservator lukisan pada pemerintah kolonial. Selain itu Raden Saleh juga melakukan perjalanan “pulang” ke Jawa. Menemui keluarganya di Semarang dan Salatiga, melukis Sultan Hamengkubuwono VI, melukis penangkapan Diponegoro,  melakukan pendakian gunung Merapi, mencari fosil dan mengkoleksi manuskrip Jawa. Raden Saleh juga mempunyai dua kali pernikahan, satu dengan orang Eropa – Nyonya Constancia Winckelhaagen, satunya dengan orang Jawa. Hidup dalam pelbagai lintasan ini tentu tidak mudah dalam diri Raden Saleh. Orang yang “sangat maju” dalam pemikiran, tetapi ia terjebak di dalam kondisi Jawa yang saat itu kurang menguntungkan bagi orang berkulit “Sawo Matang”. Sejak lahir, Raden saleh menjadi “Manusia di Antara”, lahir dari keturunan Arab-Jawa, hidup di antara Kebudayaan Sunda, Jawa, dan tentu Eropa. Seperti ucapan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing “Cina wurung, Jawa Nanggung, Landa Durung”. Tentu kehidupan demikian sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan, pemikiran, dan kekaryaan Raden Saleh. Dalam Program Diskusi #SakMadya 2 ini kita membahas bagaimana kehidupan Raden Saleh, kehidupan dan karyanya. Selain itu, diskusi ini juga akan membahas pergolakan ruang seni pada masa akhir pemerintahan Belanda dan Masa Revolusi.

Diskusi dibuka dengan pemutaran film animasi Diponegoro 1830 karya Subiyanto, sebuah karya yang diinisiasi berbasis alih wahana lukisan Penangkapan Diponegoro karya Raden Saleh. Selanjutnya, Werner Kraus, Kurator dan akademisi asal Jerman ini telah lebih dari 20 tahun mempelajari dan meneliti karya-karya Raden Saleh. Salah satu karya yang pentingnya adalah buku “Raden Saleh, Kehidupan dan karyanya” yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia tahun 2018. Membincang Pengaruh lintasan keluarga Arab-Jawa, tinggal di antara Jawa dan Eropa, dalam kehidupan dan kekaryaan Raden Saleh. Selain itu, Rendra Agusta, salah satu peneliti manuskrip Sraddha Institute memberi catatan awal tentang lukisan dari Babad Pesanggrahan-Pesanggrahan Kraton Surakarta Abad XIX-XX. Diskusi dilanjutkan paparan Fatih Abdulbari mengenai perubahan dan gaya seni lukis pada masa Revolusi kemerdekaan Indonesia. 

Bagian akhir dari diskusi yang menarik adalah ketika pak Werner Kraus mengajak kita berefleksi tentang lukisan “Banjir di Jawa” — dari lukisan tersebut, Raden Saleh membuat satu pameran yang digunakan sebagai bagian galang dana untuk bencana banjir di Banyumas. Selain itu, lukisan ini juga mengisahkan ketika ada bencana melanda tanah air, maka hanya diri kitalah yang bisa menyelamatkan dan mengupayakan keselamatan diri — bukan para penguasa yang nun jauh di Belanda sana. Tentu hal ini menjadi satu refleksi, terlepas dari aturan-aturan keindahan seni lukis yang anatomik, penuh dengan eksplorasi warna, ada satu hal yang penting direnungkan, “bagaimana peran seni umat manusia untuk rasa kemanusiaan?”. Ayo sinau maneh!rdr

Manusia dan Waktu

Manusia Jawa, seperti dalam kebudayaan yang lain, memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat waktu. Waktu dipandang dari kelahiran hingga wafat.

Manusia dan Waktu

Bagaimana manusia memandang waktu? salah satunya dengan sudut pandang berikut:

Manusia Jawa, seperti dalam kebudayaan yang lain, memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat waktu. Waktu dipandang dari kelahiran hingga wafat.

Lahir-Hidup-Mati.

 

Pada masa lampau, dan sebagian manusia Jawa kini menandai hari mereka dengan istilah “weton” atau “wiyos”, yang arti harafiahnya berarti “keluar”, “metu”. Saat lahir ini, manusia Jawa akan ditandai mulai dari awan/bengi, saptawara, pasaran, wuku, hingga putaran windu.

Nah! atas dasar penanda kelahiran tersebut, maka penting sekali bagi orang Jawa ketika hari lahir dan deretannya itu kembali ke titik awalnya, satu kali siklus.

 

Biar ndak rumit, contohnya begini:

Orang yang lahir 1 Maret 1993, atau Sênèn Wage 7 Pasa Jimawal AJ 1925, măngsa Kasanga, Wuku Măndhasiya, Windu Sancaya. — Oerhatikan hari, bulan, mangsa/masa, wuku, dan windu-nya.

Maka ia akan mencapai Tumbuk Alit pada Senin 18 Maret 2024 M, Sênèn Wage 7 Pasa Jimawal AJ 1957 măngsa Kasanga, Wuku Măndhasiya, Windu. —Pada hari dalam satu siklus penanggalan Jawa. Ya kira-kira, orang itu berusia 31 tahun. Ia akan bertemu siklusnya lagi, 31 tahun kemudian.

Sederhananya Weton (0 tahun), Tumbuk Alit (31 tahun), Tumbuk Ageng (62 tahun), Adi Yuswa (93 tahun), dst hingga wafat.

Masa Wiyos- Tumbuk Alit dimaknai orang Jawa sebagai masa berproses, bertumbuh dan berkembang, belajar, melakukan pengembaraan, mencari ilmu, mengolah raga dan menemukan pola-pola pilihan.

Masa Tumbuk Alit hingga Tumbuk Ageng adalah masa pencapaian. Pada fase ini manusia Jawa akan berkarya, membangun karier, mencapai puncak-puncak duniawi, membangun kelurga, dan bertanggungjawab penuh atas pilihan-pilihan hidupnya.

Setelah Tumbuk Ageng, manusia Jawa cenderung akan mundur dari rutinitas duniawimengolah batin, menulis memoar. Pada masa lampau, fase ini banyak bangsawan yang menepi ke pesisir, pegunungan, dan ruang-ruang sepi, untuk mengolah rasa, pun sesekali memberi advice.

Pada masa kini jarang sekali manusia Jawa yang menyentuh Adi Yuswa, “kelahiran ketiganya” di dunia dalam siklus penanggalan Jawa. Pada masa lampau, orang yang mencapai derajat ini akan disebut Buyut atau Penembahan. Orang-orang yang sudah mapan dengan ruang spiritualitasnya. 

Masa Adi Yuswa, di masa lampau orang akan lebih banyak bermeditasi dan meninggal dengan tenang. Tentu penanda seperti ini hari ini dianggap sebagai satu simplifikasi, karena jalan hidup manusia begitu kompleks dan punya karakteristik pola sendiri. Paling tidak, setidaknya bagi sebagian manusia Jawa, penanda-penanda ini menjadi penting untuk mengukur diri, menandai proses diri, dan mengakhiri kisah diri pribadi dengan baik.

Apakah kawan-kawan Srddha masih mengenal pola marking ini? atau kawan-kawan punya pola penanda waktu tersendiri? selamat berakhir pekan. rdr

 #ayosinaumaneh

Workshop Aksara Kawi di Hari Amal Bakti

Workshop Aksara Kawi di Hari Amal Bakti

Dalam rangka Hari Amal Bakti ke 78, Kawi Society mengadakan workshop Aksara Kawi. Peringatan HAB ini berlangsung di Jakarta Convention Center tanggal pada tanggal 5-7 Januari 2023. Binmas Hindu Kementrian Agama RI, memamerkan beberapa hasil riset, produk terapan, Yoga massal, penampilan seni pertunjukan, dan workshop. 
 
Dalam acara ini, Kawi Society menggelar Workshop Aksara Kawi dan turunnnya yang diikuti banyak peserta dari berbagai kalangan. Acara workshop dipandegani oleh Rendra Agusta dari Sraddha Sala dan Gunayasa dari Universitas Udayana. Keduanya merupakan anggota aktif Kawi Society, sebuah komunitas yang fokus pada kajian Budaya Kawi. Workshop berlangsung dengan menyenangkan sembari diskusi-diskusi dan membaca lontar. 
 
 

Penatah Kayon Karya J.L.Moens

Malam ini ni cantrik Kesia memaparkan hasil penelitian tentang manuskrip Penatah Kayon di sirkel pengajian dan pengkajian Randhu Jembagar Boyolali. Panatah kayon adalah salah satu naskah yang diinisiasi oleh J.L. Moens. Naskah ini memuat pengetahuan tentang pembuatan wayang kulit. Moens adalah salah seorang Indonesianis yang punya cukup banyak program pencatatan kebudayaan Jawa.

Penatah Kayon Karya J.L.Moens

Malam ini ni cantrik Kesia memaparkan hasil penelitian tentang manuskrip Penatah Kayon di sirkel pengajian dan pengkajian Randhu Jembagar Boyolali. Panatah kayon adalah salah satu naskah yang diinisiasi oleh J.L. Moens. Naskah ini memuat pengetahuan tentang pembuatan wayang kulit. Moens adalah salah seorang Indonesianis yang punya cukup banyak program pencatatan kebudayaan Jawa.

Malam yang panjang sehabis hujan selalu penuh dengan tawa dan riang. Barangkali upaya-upaya yang demikian untuk #meretasjarak ilmu pengetahuan ke masyarakat. Diskusi malam ini juga dimeriahkan oleh Ki Dalang Kusnanta Riwus Ginanjar, pak guru dalang sekaligus cicit dari Mbah Widi Prayitna, seorang dalang yang bekerja sama dengan J.L.Moens dalam penyusunan manuskrip tersebut. Seru sekali bukan, cicitnya pun masih bisa bertemu dengan karya-karya eyangnya.

Mencari Nilai dan Kearifan Lokal dalam Naskah Naskah Jawa

Jumat kemarin (12/11/2023), Balai Bahasa Jawa Tengah menggelar sarasehan Sastra dan Budaya yang secara spesifik membahas nilai dan kearifan lokal dalam naskah-naskah Jawa.

Mencari Nilai-nilai yang tersisa dari naskah-naskah Jawa

Jumat kemarin (12/11/2023), Balai Bahasa Jawa Tengah menggelar sarasehan Sastra dan Budaya yang secara spesifik membahas nilai dan kearifan lokal dalam naskah-naskah Jawa.

Acara ini berlangsung dua sesi bersama akademisi dan praktisi. Sesi pertama, bersama Prof. Sahid Teguh Widodo (UNS) dan Prof. Sri Heddy Ahima Putra (UGM). Sesi pertama ini banyak membincang hal-hal teoritik mengenai perkembangan studi pernaskahan di Surakarta. Sedangkan sesi kedua Kang Rendra Agusta dari Sraddha sala dan Bandung Mawardi dari Bilik Literasi Karanganyar membincangkan kondisi terkini dari “graasroot”, bagaimana masyarakat bergerak, berkomunitas, dan membangun gerakan pernaskahan secara kolektif.

Aksara ꦯ akan dibaca seperti apa?

Aksara ꦯ ini dikenal sebagai aksara Murda Sa, sebagai huruf kapital penyebutan nama tertentu dalam Paugeran Sriwedari. Tetapi, aksara ini juga dikenal untuk menggantikan ś atau sy atau ç dalam paugeranMardikawi, sebuah pengaturan peraturan untuk menulis bahasa Jawa Kuna dengan menggunakan aksara Jawa Baru.

Aksara ꦯ akan dibaca seperti apa?

Pada hari yang panas ini, mimin mendapat pertanyaan dari kawan-kawan soal penggunaan aksara Murda dan atau Mahaprana ini.

Tentu perdebatan ini perkara dialog memperebutkan kebenaran pembacaan aksara ini dari salah satu grup guru bahasa Jawa.

Nah! pada umumnya, aksara ꦯ ini dikenal sebagai aksara Murda Sa, sebagai huruf kapital penyebutan nama tertentu dalam Paugeran Sriwedari. Tetapi, aksara ini juga dikenal untuk menggantikan ś atau sy atau ç dalam paugeranMardikawi,Sebuah pengaturan peraturan untuk menulis bahasa Jawa Kuna dengan menggunakan aksara Jawa Baru.

Tentu kedua sah-sah saja digunakan dengan pertimbangan teks apa yang kita baca. Semisal, dalam Serat Wretasancaya (gambar 1) koleksi Museum Radya Pustaka, pada teks “Sang Hyang Wāgīҫwarīndah”, aksara ꦯ sebaiknya dibaca sebagai sy atau ç, agar kemudian pembaca awam dapat memahaminya lebih lanjut. 

Sedangkan pada teks yang lain, seperti Serat Prajangjen Dalem Nata (gambar 2), aksara ꦯ sebaiknya tetap dibaca sebagai Sa biasa, pengunaan aksara tersebut digunakan untuk penghormatan kepada nama Raja di Kraton Surakarta.

Yuk sudah perdebatan! toh keduanya juga bisa digunakan dalam teks dan konteks tertentu. Keduanya juga termaktub dalam manuskrip-manuskrip karya leluhur kita.

#ayosinaumaneh

Kawi Society: Pertemuan para peneliti Jawa Kuna dari berbagai penjuru dunia

International Kawi Culture Festival merupakan upaya untuk memperkenalkan konsep Budaya Kawi di kalangan umum maupun di kalangan ahli. Tujuan acara ini sesuai dengan semboyan festival: “melepas sekat, memperluas jarak, meniti puncak”. Melepas sekat berarti membebaskan pikiran dari segala keterbatasan berdasarkan identitas suku, disiplin maupun lembaga, agar budaya Kawi dapat ditelaah secara keseluruhan. Memperluas jarak berarti memperbesar wawasan dan ruang lingkup pemahaman budaya Kawi, baik secara geografis maupun historis.

Kawi Society: Pertemuan para peneliti Jawa Kuna dari berbagai penjuru dunia

Anggota Kawi Society

International Kawi Culture Festival merupakan upaya untuk memperkenalkan konsep Budaya Kawi di kalangan umum maupun di kalangan ahli. Tujuan acara ini sesuai dengan semboyan festival: “melepas sekat, memperluas jarak, meniti puncak”. Melepas sekat berarti membebaskan pikiran dari segala keterbatasan berdasarkan identitas suku, disiplin maupun lembaga, agar budaya Kawi dapat ditelaah secara keseluruhan. Memperluas jarak berarti memperbesar wawasan dan ruang lingkup pemahaman budaya Kawi, baik secara geografis maupun historis. Meniti puncak berarti mencapai nilai-nilai ilmu dan budaya yang tinggi, melalui pembangkitan sumber daya penelitian, kesenian, dan komunitas. Visi ini diwujudkan dalam beberapa tema yang merupakan titik pokok dari ceramah umum dan seminar.

Festival ini terdiri atas beberapa kegiatan ilmiah dan budaya yang menampilkan warisan budaya Kawi dalam segala bentuknya: ceramah umum, seminar penelitian, lokakarya, pertunjukan, pameran, dan kunjungan lapangan. Pembicara dan peserta akan diundang ke Bali dari seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam festival yang akan berlangsung selama 4 hari. Sasaran kegiatan ini adalah para peneliti, mahasiswa, penggerak kebudayaan, dan umum. Festival ini akan dipasarkan kepada himpunan dan kelompok yang terlibat dan tertarik dalam kajian budaya Kawi. Ceramah Umum disampaikan oleh peneliti senior dalam bidang Jawa Kuna seperti Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M. Hum. (Udayana, Denpasar),Dr. Dwi Puspitorini (Universitas Indonesia, Depok) ,Prof. Dr. Willem van der Molen (KITLV, Leiden),Prof. Arlo Griffiths (EFEO, Jakarta) ,Dr. Andrea Acri (EPHE, Paris),John Sihar Simanjuntak, M.M. (Pandi),Agung Kriswanto (Perustakaan Nasional Jakarta),Dr. Titi Surti Nastiti (BRIN, Jakarta) ,Hadi Sidomulyo (Peneliti Independen, Bali),Dr. Sofwan Noerwidi (BRIN, Jakarta),Drs. I Gusti Made Suarbhawa (BRIN, Denpasar) dan Prof. Dr. Timothy Lubin (Washington & Lee, Lexington). 

Sedangkan Seminar penelitian disampaikan oleh para peneliti Jawa Kuna yang lebih muda seperti Dr. Abimardha Kurniawan (Universitas Airlangga, Surabaya), Dr. Aditia Gunawan (Perpustakaan Nasional, Jakarta). Anggita Anjani, S.Hum. (Universitas Indonesia, Depok), Dr. Atin Fitriana (Universitas Indonesia, Depok), Dr. David Moeljadi (Universitas Kanda, Jepang), Dewa Ayu Carma Citrawati, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Dewa Gede Windhu Sancaya, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Eko Bastiawan, M.A. (Universitas Padjadjaran, Bandung), Evi Fuji Fauziyah, M.Hum. (Badan Bahasa, Jakarta), Goenawan A. Sambodo, M.T. (Peneliti independen, Yogyakarta), Ghis Nggar, M.Hum. (Universitas Negeri Yogyakarta), I Gde Agus Darma Putra, M.Pd. (Universitas Hindu Indonesia), Ilham Nurwansah, M.Pd. (PPIM UIN Jakarta), Kezia Permata, M.A. (Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada), Dr. Mekhola Gomes (Amherst College, USA), Nicholas Lua Swee Yang, M.A. (Singapura), Nurmalia Habibah, S.S., M.A. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Dr. Ni Ketut Puji Astiti Laksmi, M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Putu Eka Guna Yasa, S.S., M.Hum. (Universitas Udayana, Denpasar), Rendra Agusta, S.S., M.Sos. (Sraddha Institute, Surakarta), Salfia Rahmawati, M.A. (Universitas Indonesia, Depok), Styan Lintang, S.S. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), Tri Subekso, M.Hum. (Tim Ahli Cagar Budaya, Kabupaten Semarang), Tyassanti Kusumo Dewanti, M.Sc. (Pura Mangkunegaran, Surakarta). Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, M.A. (Ecole française d’Extrême-Orient, Jakarta).Dr. Yosephine Apriastuti Rahayu (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) dan Zakariya Aminullah, S.S., M.A. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta/Universitas Hamburg).
Selain itu, ada pula workshop penulisan aksara Jawa Kuna dalam tiga tradisi yakni Sunda, Jawa, dan Bali. Ada pula fieldtrip ke beberapa tempat yang terkait dengan budaya Kawi di masa Bali Kuno seperti Gunung Kawi, Museum, dan pura-pura klasik. Acara ditutup dengan berbagai pertunjukan seperti Mabasan Kakawin, pertunjukan Calon Arang, Tari Topeng, dan Fragmen Pangajaran oleh Atmaja Timur (Damalung Blueprint). Sampai jumpa pada festival Kawi berikutnya di Jawa Tengah!  

Nafas Intelektual kembali Sumirat di Surakarta

Pada masa pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara VII, sebuah ruang intelektual gaya barat dimulai di Surakarta, bernama Algemeene Middelbare School (AMS). Bagi peneliti filologi Jawa, kita tentu tidak bisa melepaskan diri dari guru-guru Jawa Kuna seperti W.F. Stutterheim, yang pada masa itu menjadi direktur AMS di Surakarta pada tahun 1926. Hampir seratus tahun berikutnya, hari ini, atas perkenanan K.G.P.A.A Mangkunegara X, kembali berbagai peneliti kebudayaan Jawa berkumpul dalam sebuah simposium di Pura Mangkunegaran, berbincang kebaruan-kebaruan kajian kebudayaan Jawa.

Nafas Intetelektual kembali Sumirat di Surakarta

Pada masa pemerintahan K.G.A.A Mangkunegara VII, sebuah ruang intelektual gaya barat dimulai di Surakarta, bernama Algemeene Middelbare School (AMS). Bagi peneliti filologi Jawa, kita tentu tidak bisa melepaskan diri dari guru-guru Jawa Kuna seperti W.F. Stutterheim, yang pada masa itu menjadi direktur AMS di Surakarta pada tahun 1926. Hampir seratus tahun berikutnya, hari ini, atas perkenanan K.G.P.A.A Mangkunegara, kembali berbagai peneliti kebudayaan Jawa berkumpul dalam sebuah simposium di Pura Mangkunegaran.

Secara khusus, pada sesi satu, Komunitas Sraddha yang diwakili @kangrendra turun serta dalam simposium tersebut. Topik bahasan kali ini masih mengenai Siti Dhusun Praja Mangkunegaran berbasis penelitian manuskrip koleksi Reksa Pustaka. 

Manuskrip dengan nomor MN.17 adalah salah satu manuskrip yang memuat administrasi tanah di wilayah Mangkunegaran pada awal pemerintahan K.G.P.A.A Mangkunegara IV, tahun 1781 Jimawal. Tentu, berbicara desa-desa wilayah Mangkunegaran juga memotret lanskap kebudayaan secara menyeluruh dari istana sampai dengan batas-batas wilayah paling tepi.

Terima kasih kepada mas @adrianperkasa dan Maaten Manse yang mengijikan tulisan ini disampaikan dalam acara istimewa. Tentu juga seluruh panitia dari UIN Raden Mas Said Surakarta @uin_rmsaid, Universitas Leiden @universiteitleiden, KITLV, dan SLC. Tentu semua para guru-guru kajian Jawa yang sangat menginspirasi. Sampai jumpa pada pertemuan-pertemuan mendatang. 

 

Foto oleh Permata Aji BM

 

Melacak Holing di Jawa Tengah

Malam tadi, Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang menyelenggarakan Seri Diskusi Gedung SI #6 dengan tema “Melacak Jejak Ho-ling di Jawa Tengah”.berlangsung dengan meriah. Prof.Agus Aris Munandar, guru besar Arkeologi UI memaparkan bukti-bukti arkeologis abad IV-VII Masehi, pun juga catatan berita Tionghoa tentang keberadaan Holing. Secara garis besar, simpulan sementara, dugaan keberadaan Holing ada di Jawa Tengah dan Utara Jawa. Tentu bukti ini diperkuat dengan adanya kajian situs Bototumpang, sebuah situs yang secara karakteristik dekat sekali dengan Situs Batujaya.

Melacak Holing di Jawa Tengah

Kisah tentang Kerajaan Kalingga dengan pemimpinnya yang bijaksana, Ratu Shima, telah menjadi memori kolektif masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Pulau Jawa. Kisah ini terus hidup dalam ruang imajinasi mereka dan terejawantah melalui cerita tutur, sendratari, teater tradisional, karya sastra, hingga seni rupa. 

Namun, kisah Kalingga dan Ratu Shima seolah berada di antara mitos dan fakta. Seperti kita ketahui, Sejarah Baru Dinasti Tang (618-907 Masehi) Buku 222, bagian 2 mencatat keberadaan sebuah negeri bernama Ho-ling atau Kaling yang terletak di antara Sumatera dan Bali. Di sisi selatan negeri ini terdapat lautan, sedangkan di sisi utaranya terletak negeri Kamboja. Penduduk Ho-ling membuat pertahanan dari kayu. Mereka memiliki balai-balai dari gading dan tikar kulit bambu. Penduduknya sudah mengenal huruf dan astronomi, namun mereka masih makan dengan menggunakan tangan, bukan sendok atau sumpit. Pada tahun 674, Ho-ling diperintah oleh seorang ratu bernama Xi-ma. Ia termasyhur dengan ketegasannya, yakni memotong jempol kaki sang putra mahkota yang tanpa sengaja telah menyentuh tas berisi uang emas di jalan perbatasan negara. Mengetahui ketegasan sang ratu, pangeran dari negeri Da-zi (Arab) yang sengaja meletakkan tas berisi uang emas itu, merasa gentar hingga urung menyerang Ho-ling.

Namun faktual, hingga kini jejak-jejak sejarah dan arkeologis yang menunjukkan keberadaan Kerajaan Ho-ling atau Kalingga tak kunjung dapat dipastikan. Sebagian orang meyakini Ho-ling berada di Jepara. Keyakinan ini didasarkan pada keberadaan sebuah wilayah bernama Keling dan temuan sejumlah arca di puncak Gunung Muria. Meski demikian, hal itu belumlah cukup untuk dijadikan bukti sahih mengenai keberadaan Ho-ling di sana.

Di tengah kesimpangsiuran itu, beberapa waktu lalu warga Dusun Bototumpang, Desa Karangsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, menemukan struktur batu bata yang wujudnya menyerupai bangunan candi berlanggam Hindu-Buddha. Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas) memperkirakan struktur tersebut berasal dari era pra-Mataram Kuno, antara abad ke-6 hingga ke-7 Masehi. Temuan ini pun segera memunculkan spekulasi baru mengenai lokasi Kerajaan Ho-ling atau Kalingga. 

Malam tadi, Komunitas Pegiat Sejarah (KPS) Semarang menyelenggarakan Seri Diskusi Gedung SI #6 dengan tema “Melacak Jejak Ho-ling di Jawa Tengah”.berlangsung dengan meriah. Prof.Agus Aris Munandar, guru besar Arkeologi UI memaparkan bukti-bukti arkeologis abad IV-VII Masehi, pun juga catatan berita Tionghoa tentang keberadaan Holing. Secara garis besar, simpulan sementara, dugaan keberadaan Holing ada di Jawa Tengah dan Utara Jawa. Tentu bukti ini diperkuat dengan adanya kajian situs Bototumpang, sebuah situs yang secara karakteristik dekat sekali dengan Situs Batujaya.

Kang Rendra Agusta, Filolog Sraddha Institute mengambil sisi yang lain, justru dari manuskrip abad XVIII-XIX, jelas manuskrip ini tidak sahih, mengingat konteks isi dan temporalnya jauh sekali dengan yang diceritakan. Salah satu karya sastra abad XIX yang memuat geneaologi Jawa Kuna adalah Serat Pustakaraja Purwa karya R.Ng. Ranggawarsita III. Pada naskah ini cerita Kalinggapura justru tidak ditemukan di abad VII melainkan IX. Yang menarik, justru tahun-tahun pembuatan  ini hadir saat sarjana barat sudah sangat dekat dengan Ranggawarsita.

Pertanyaanya, mengapa justru Ranggawarsita tidak menuliskan cerita seperti fakta-fakta kajian barat? Apakah ia tak diberi akses akan data Jawa Kuna? Atau ada pelarangan dan pembenahan isi sesuai keingingan pemrakarsanya? Atau sebenarnya ada nilai-nilai tersendiri dalam penceritaan kronik serat Pustakaraja Purwa gaya Ranggawarsita ini? Ayosinaumaneh!

 

Centhini Sekali Lagi!

Centhini adalah karya sastra yang diprakarsai oleh Amangkunagara III, putra Sunan Pakubuwono IV di Kraton Surakarta. Karya ini memuat semua pengetahuan Jawa pada abad XIX. 

Centhini Sekali Lagi!

Apa yang kawan-kawan ketahui jika mendengar kata Centhini?
Centhini adalah karya sastra yang diprakarsai oleh Amangkunagara III, putra Sunan Pakubuwono IV di Kraton Surakarta. Karya ini memuat semua pengetahuan Jawa pada abad XIX. 

Radya Pustaka dan Centhini 

Sejak tahun 2015 museum Radya Pustaka memulai diskusi Centhini dari berbagai sisi. Tahun ini, 2023, museum Radya Pustaka kembali menggelar Festival Centhini. Pameran imersif ini diramaikan dengan Art Market & Culinary Classic Centhini, Gamelan Ageng Radya Pustaka, Workshop, Fashion Show, Cameron Imersifa Centhini, Shadow Batik Perform, Jazz In The Museum, Performing Art of Centhini, Live Music, dan Talkshow Pawukon Jawa.