Komunikasi Politik Jawa

Kompleksitas bahasa membuat keniscayaan batasan lawan bicara, setiap politisi ulung di Jawa memakai bahasa pada levelnya masing-masing. Fenomena ini membuat keniscayaan derajat bahasa membatasi oleh dan kepada siapa pesan itu disampaikan.

Komunikasi Politik Jawa

Kompleksitas bahasa membuat keniscayaan batasan lawan bicara, setiap politisi ulung di Jawa memakai bahasa pada levelnya masing-masing. Fenomena ini membuat keniscayaan derajat bahasa membatasi oleh dan kepada siapa pesan itu disampaikan. 

Dalam masyarakat Jawa dikenal istilah “dhupak bujang”, “èsěm mantri”, “sěmu bupati”, dan “sasmita ratu”. Empat klaster derajat bahasa politik yang kadang-kadang makna leksikal-nya berbeda sama sekali. Sebenarnya, masyarakat Jawa mulai berlatih sejak dini dengan “cangkriman” dan “bebasan”.

Dewasa ini, secara kebetulan jumlah penduduk pulau Jawa yang masih dominan, pun juga bangsa Jawa masih menempati populasi terbesar dalam negara ini, maka sesekali kita melihat fenomena penggunaan derajat bahasa dalam komunikasi politik Jawa muncul di media digital skala nasional. Semisal menu-menu apa saja yang disajikan di meja makan para penguasa dan atau diksi-diksi bahasa Jawa, dan seterusnya. 

Yang bisa membaca akan punya daya langkah, yang tak bisa makin mudah terbawa arus. 

Misteri Aksara Rě dan Lě

Setidaknya sejak sebelum sekolah, ketika saya mulai mengenal aksara Jawa baru selalu bertanya, mengapa aksara “rĕ” ditulis dengan “pa cěrěk” pun juga “lě” ditulis dengan “nga lělět”? Jawabannya tidak mudah bukan?

Misteri Aksara Rě dan Lě:

oleh Rendra Agusta

Setidaknya sejak sebelum sekolah, ketika saya mulai mengenal aksara Jawa baru selalu bertanya, mengapa aksara “rĕ” ditulis dengan “pa cěrěk” pun juga “lě” ditulis dengan “nga lělět”? Jawabannya tidak mudah bukan?

Beberapa hari lalu, soal “rě” dan “lě” ini kembali menjadi bahasan perdebatan di sosial media. — Salah satu pendapat tentu lahir dari bapak Wijotoharjo, redaktur majalah Panjebar Semangat. Bahwa “ra” adalah rasa, yang tidak boleh di‐”pěpět” atau ditutupi. Sedangkan pendapat lain, “la” berarti “lawang” yang berarti pintu. Pendapat ini saya pikir lahir lebih lama dari paparan pak Wijoto karena sebagian komunitas juga memiliki pendapat yang sama.

Temuan

Upaya pencarian itu mungkin sudah banyak dicoba oleh para paleograf. Setidaknya, ketika saya mencoba mencarinya dalam dokumen digital Kern Institute, jelas sekali ditemukan penggunaan rě dengan dua versi yang sekarang dipertentangkan akan standarisasi penulisan. Faktanya justru kita menemukan kedua penggunaan “ra dipěpět” dan “pa cěrěk” juga.

Sekali lagi, data di masa lampau, memberi kita gambaran bahwa konsesi penulisan aksara Jawa bisa saja sesuai, ada juga varian, pun kesalahan. Ketiganya hadir dalam kajian-kajian kita hari ini.

Apakah masih mau berdebat? Atau sekedar bersandar pada “jarene“? Saya suka kawan-kawan tak percaya dengan data ini agar kawan-kawan mau mencarinya sendiri. Selamat berburu di data digital, bandingkan prasasti dan manuskrip, maka kita akan menemukan keduanya. 🔥

Naskah dan Tawaran lain di Dunia Filologi Indonesia

Tema reaktualisasi hal-hal yang dianggap kuno memang sedang trend di masyarakat. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Dekade ini, banyak forum yang mencoba membuka kembali kotak-kotak lama ‘naskah’ dan ‘cerita lama’, namun persoalannya beberapa forum hanya sekedar mengelap-ngelap kembali khasanah lama ketika sedikit lainya mulai menempuh jalan yang berbeda. 

Tawaran Lain Dunia Filologi Indonesia

Tema reaktualisasi hal-hal yang dianggap kuno memang sedang trend di masyarakat. Jagat dunia filologi tak luput dari gelombang tersebut. Dekade ini, banyak forum yang mencoba membuka kembali kotak-kotak lama ‘naskah’ dan ‘cerita lama’, namun persoalannya beberapa forum hanya sekedar mengelap-ngelap kembali khasanah lama ketika sedikit lainya mulai menempuh jalan yang berbeda. 

Dalam seminar di forum Sarasehan Imbasadi (Ikatan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Daerah Se- Indonesia) 2023 yang dihelat di UNNES Rabu lalu (31/5/2023), Sraddha Sala melalui salah satu cantriknya, Rendra Agusta, memberikan beberapa tawaran pada studi filologi—yang memang sunyi itu. 

Tawaran-tawaran yang muncul dari pemaparan Rendra Agusta bukan sekadar obrolan angkringan. Seperti beberapa tokoh senior yang sudah berkecimpung di dalam dunia filologi telah memulainya terlebih dulu. Rendra mengutip perkataan Sudibyo dan Ben Arps terkait stagnasi kajian filologi. Harus ada upaya-upaya segar agar muncul kebaruan wujud realitas budaya yang berpijak pada artefak lama. 

Dalam forum yang sama, Widodo, juga mempertegas bahwa tradisi filologi di kampus Indonesia saat ini masih bergaya filolog era ‘80-an. Kajian filologis yang hanya berkutat pada ruangan sempit naskah dan alih aksara semata.

Tawaran pertama Rendra, setiap peneliti harus meningkatkan kemampuannya dalam menguasai teknologi mutakhir. Pengkajian filologi hari ini sudah ada yang memakai program TEI (Text Encoding Initiative) atau pengenalan teks dan korpus naskah melalui penjalanan coding berbasis XML.Teknologi ini sebenarnya sudah ada sejak 1980-an, namun dalam kajian filologis baru hari-hari ini dipakai. Salah satunya dikerjakan Dharma Hypotheses pada tahun 2019, dengan konsep kerja yang hampir sama dengan Google Lens atau scanner yang dapat dengan mudah mengenali aksara yang difoto. Upaya digital lainnya ialah pendaftaran Unicode aksara-aksara di Nusantara. Di mana masyarakat pengguna aksara daerah lebih gampang menuliskannya pada piranti komputer. Dua hal tersebut merupakan contoh wujud berkembangnya digital humanities dalam budaya filologi di dunia.

Tawaran Kedua selanjutnya berupa paradigma cultural studies (bukan study of culture) sebagai opsi melihat kebudayaan dengan lebih luas. Kebudayaan yang dijadikan objek tidak melulu harus adiluhung dan dicap budaya tinggi. Cultural Studies mengajak para peneliti melihat kebudayaan lebih luas, selain kebudayaan yang dianggap adiluhung tadi, diluar sana lebih banyak kebudayaan yang banal, profan, atau bersifat sehari-hari yang kadang kala luput dari amatan para peneliti.

Tawaran ketiga, kajian filologi dapat menjangkau sektor kreatif. 

Meski industri kreatif yang bersinggungan dengan khasanah filologi sudah banyak berkembang, seperti halnya produksi kaos, totebag, dan buku-buku anak, akan tetapi inovasi masih sangat dapat dikembangkan baik dalam bentuk fisik maupun digital.

Studi mitigasi kebencanaan juga dimasukkan oleh Rendra Agusta dalam forum tersebut.  Mengingat Indonesia masuk kepulauan Cincin Api, sebuah sirkum vulkanologi dunia dimana pergerakan lempeng membuat negeri ini rawan bencana. Upaya-upaya mitigasi bencana yang bersumber dari catatan-catatan lampau dapat lakukan oleh para peneliti dan masyarakat sebagai salah satu kajian responsif dari sudut pandang tradisi historis.

Living Philology menjadi tawaran penutup oleh Rendra. Ia menyadari betul ada jarak yang sangat jauh antara filolog dan masyarakat. Jarak yang tidak hanya nama pohon, namun jarak yang benar-benar menjadi pagar tebal penghalang. Banyak filolog yang sibuk berkutat dalam meja-meja perpustakaan dan lupa pada masyarakat yang telah menghasilkan sebuah artefak bahan penelitian.

Lewat tawaran-tawaran tersebut Rendra seperti menyiratkan bahwa di masa depan geliat perubahan dalam dunia filologi akan semakin banyak. Widodo menegaskan bahwa masih banyaknya lini lain dan kapital intelektual lain yang harus ditampakkan.

Dunia filologi memang sudah mulai melihatkan perubahan dan perkembangan, dan para manusia-manusia yang ‘mencintai kata’ juga harus ikut berubah, jika tak ingin punah. Seperti konsep dasar evolusi, tiada yang kekal, keabadian itu milik perubahan itu sendiri. (SH)

Manuskrip dari Ponorogo

Beberapa waktu lalu mimin mendapat kiriman sepotong foto manuskrip dari Ponorogo, kota ki cantrik Franky Crissz Sampai hari ini belum diketahui keberadaan pasti di mana dan siapa pemilik manuskrip ini. Namun, tentu fenomena dunia digital hari ini menjadi menarik bukan, adanya informasi-informasi baru menyoal manuskrip-manuskrip kita.

Manuskrip di Dunia Maya

Beberapa waktu lalu mimin mendapat kiriman sepotong foto manuskrip dari Ponorogo, kota ki cantrik Franky Crissz Sampai hari ini belum diketahui keberadaan pasti di mana dan siapa pemilik manuskrip ini. Namun, tentu fenomena dunia digital hari ini menjadi menarik bukan, adanya informasi-informasi baru menyoal manuskrip-manuskrip kita.

Nah, pembacaan awal datang dari Mas Alfan Muhyar Faza, cantrik istimewa dari Bumiayu.

“lan iya iku ingaranan lunga kalilun wakhid lan têgêse ingkang ngandika iku ingkang (kêrsa ?) lan trêp ing lunga kalilun wakhid”

Dari sepotong pembacaan tersebut, agaknya kita tahu bahwa manuskrip tersebut merupakan bagian dari Ilmu Hikmah. Menarik bukan?

Foto Manuskrip dari Ponorogo

Piagam Palembang

Piagam Palembang

Dalam studi paleografi, kekhasan karakter aksara menjadi penting untuk diketahui lebih banyak. Salah satu prasasti yang menarik pada abad XVII-XVIII. Prasasti-prasasti Palembang ini umumnya menggunakan material Timah atau Stannum (Sn). Bentuk aksara juga mendekati aksara Jawa awal Mataraman seperti dalam prasasti Mantingan.Prasasti piagam dari kasultanan Palembang umumnya mengatur “public policy” di beberapa bidang.

Nah, mimin tampilkan sandingan dengan font Javanese dari Microsoft, coba mari kita perhatikan dengan baik. Apa perbedaan karakter aksara dari kedua jenis tampilan berikut!

Poin kedua, secara kebahasaan, kira-kira dari satu kalimat tersebut ada kata apa ya, yang jarang sekali kita temukan di dalam inskripsi Mataram Islam?

#ayosinaumaneh

Bakdan dan Pareden

Bakdan dan Pareden

oleh Rendra Agusta

Syawal tanggal dua saya kembali ke Merbabu, selepas bakdan dengan kerabat di kota, saya kembali ke desa. Saya menginap semalam di kampung paling ujung, yang berbatasan langsung dengan hutan.

Saat bangun tidur cuaca sangat cerah, di belakang rumah terhampar pemandangan desa-kota yang seolah rumpun tinggalnya dibatasi dua gunung, di kanan dan kiri. Merenung serba cepat, saya berpikir akrab dengan hal demikian, yah! Pakeliran wayang kulit.

Bagi masyarakat Jawa pergelaran wayang kulit adalah salah satu ruang komunal yang menyimpan segala lingkup hidup. Pagi itu saya seperti melihat pakeliran wayang. Ada dua gunungan atau parědèn yang membatasi ruang dan waktu. Secara tradisional, agaknya memang gunung menjadi batasan kultural satu wilayah dengan wilayah yang lain. Pagi itu saya berada di pertemuan tiga kawasan kultural, Mataraman, Kedhu, dan Semarangan.

Di antara dua gunung itu, saya melihat pemukiman warga, desa, kampung, kota, yang pasti sebenarnya saya juga melihat sebuah bangsa. Seperti pewayangan, di antara dua gunungan itu ada lakon manusia. Sangat antroposentrisme memang, tetapi agaknya memang pandangan kebudayaan dunia sedang demikian. Di antara dua gunung, manusia lengkap dengan masalah hidup, suka-cita, duka-lara, pun juga rahasia-rahasia. Rahasia yang mereka simpan sampai mati hingga dikubur di palemahan atau rahasia yang hanya diketahui oleh dia dan Tuhan. Demikian hidup harus berjalan.

Saya pikir, saya sendiri juga seperti penonton pagelaran wayang. Melihat sengkarut manusia di hadapan saya dari kejauhan, kadang-kadang hanya terdengar bisik-bisik suara aja, atau sekedar debaran rasa dari bising dentam Cempala. Saya pun sebenarnya juga menjalani lakon saya sendiri.

Seperti kisah pewayangan, kita hanya mampu bercerita, mengingat cerita, baik dan buruk, suka dan duka, pesta dan cintanya. Wayang-wayang yang sudah mati dalam pementasan akan kembali ke kotak, menanti dihidupkan lagi. Sedangkan para penonton akan menjadi pencerita dalam universe yang lain, tentang “wayangan” dan “walulang”.

Mau membuat cerita apa? Yang akan luber dalam setiap lebaran? Dimulai dari diri kita sendiri, bukan nama-nama besar leluhur kita. Barangkali kisah-kisah besar leluhur, hanya soal pewarisan cerita yang baik dan megah saja. Barangkali seperti wayang, leluhur kita juga punya bayangan gelap, yang hanya bisa dilihat dari sisi kain kelir yang lain.

Demikianlah hukum menanam dalam “mendhem jero” dan menjunjung tinggi “mikul dhuwur” sebuah nama tokoh berdampak dalam cerita-cerita kita.

Dalang, imaji penonton, dan lakon wayang punya universe yang berbeda. Mungkin manusia satu dan lainnya juga sama halnya, semua punya laku lakon-nya masing-masing, yang pasti tak serupa. Kesamaannya, Dalang, Penonton, dan Wayang akan kembali pada kematian, kembali ke dalam kotak masing-masing, kenal dalam ingatan sebuah nama.

Nama yang hanya bentukan fonem, dan atau hanya susunan vokal-konsonan, menjadi satu titik awal dan akhir ingatan manusia. Tancep kayon.

Sarirasastra Mataraman: Mengenal Skriptoria Surakarta

Sarira Sastra Mataraman: Skriptoria Surakarta

oleh Rendra Agusta

Overview!

            Tanggal empat belas April tahun dua ribu empat belas adalah tanggal keramat bagi saya, karena tanggal itu pula saya diwisuda sebagai sarjana sastra pada bidang filologi. Beberapa jam berselang setelah saya diwisuda, saya dikabari oleh salah seorang Sentana Dalem, bahwa perpustakaan Sasana Pustaka Kraton Surakarta ditutup total dengan alasan konflik. Sore itu, di tengah rasa gembira saya menjadi sarjana, ada sekelebat bayangan, penelitian filologi yang membutuhkan akses langsung ke Sasana Pustaka akan terhenti, entah sampai kapan. Tiga tahun setelahnya, empat April dua tahun ribu tujuh belas, kabar buruk mangkin andadra, museum dan kompleks utama Kraton Surakarta ditutup total. Lengkap sudah, mungkin saya dan segelintir teman filologi lainnya, menjadi mahasiswa terakhir yang sempat melihat kondisi terakhir perpustakaan Sasana Pustaka yang tertutup hingga diskusi sore ini dibuat.

Skriptorium di Kota Surakarta

            Barangkali belum tahu, Surakarta merupakan kota kecil di propinsi Jawa Tengah. Pada masa pra kemerdekaan, Surakarta adalah kuthagara Mataram yang secara de jure resmi menjadi ibukota yang baru pada 17 Februari 1745 pasca gègèr Pacina di ibukota Mataram, Kartasura. Pada tanggal 17 Maret 1757, Sebagian wilayah kuthagara Surakarta kemudian diserahkan kepada Praja Mangkunegaran, untuk ditempati sebagai ibukota Kadipaten Mardika. Praktis, sesudah itu Surakarta menjadi ibukota Kraton Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Kelengkapan lain dalam struktur bernegara tentu ada pula ndalem kapengeranan, kepatihan, hingga desa-desa untuk tinggal abdi dalem.

            Sependek pengetahuan saya tentang pernaskahan di Surakarta, wa bil khusus di wilayah kuthagara, tidak semua wilayah mempunyai “ruang kepenulisan”. Salah satu yang jelas ada tentunya perpustakaan yang ada di dalam kraton dan pura, hari ini kita mengenalnya sebagai Sasana Pustaka Kraton Pustaka dan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran. Selain itu sebenarnya kita juga bisa menemukan ruang kepenulisan di Kepatihan, Dalem Pangeran, Masjid Agung Surakarta, dan desa-desa yang menjadi wilayah abdi dalem Carik dan Pujangga. Sebagian lainnya berada di koleksi Lembaga Penerjemahan Alkitab, rumah Ndoro-ndoro Walandi, dan tentu saja kantor-kantor percetakan yang marak pada abad dua puluh awal. Sayangnya tidak semua yang disebutkan di atas masih terawat dengan baik, bahkan sebagian bangunan sudah runtuh atau digantikan bangunan baru. Lima belas tahun terakhir, sejak kehancuran Kepatihan, rumah para pangeran, ndoro walandi, dan percetakan, kita masih bisa mengakses sedikit yang tersisa di perpustakaan Museum Radya Pustaka dan Yayasan Sastra Lestari.

 

Sasana Pustaka dan Reksa Pustaka

            Sejak katalogisasi yang dilakukan ibu Nancy K. Florida[1] atas naskah-naskah di Surakarta, agaknya belum ada lagi upaya cek dan ricek. Menurut ibu Nancy, Sasana Pustaka Kraton Surakarta memiliki 625 naskah yang meliputi 1.450 judul bahasan. Sedangkan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran 727 naskah yang meliputi 2.200 judul bahasan. Kedua tempat penyimpanan naskah memuat banyak bahasan, mulai dari babad, primbon, wayang, anggêr-anggêr, piwulang, gêndhing, beksan, kawruh-kawruh, mantra, agama, Salinan serat perjanjian, arsip-arsip dan catatan pribadi. Material naskah juga terdiri dari berbagai jenis mulai dari dluwang, kertas eropa, HVS (Hout Vrij Schrift), merang, dan folio bergaris. Tahun penulisan naskah-naskah di Sasana Pustaka, paling tua bertarikh 1788-1820 Masehi (KS 62A), sedangkan di Reksa Pustaka bertarikh 1769-1777 Masehi (MN 222A), konon ditulis oleh Kanjeng Gusti yang pertama. Di luar kedua penyimpanan tersebut, naskah tertua justru ditemukan di koleksi Museum Radya Pustaka, bertarikh 1729-1730 Masehi (RP 348), menurut pak Ricklefs, naskah ini sangat dimungkinkan berasal dari Kraton Mataram saat beribukota di Kartasura.

 

Siapa penulisnya?

            Tentu tidak banyak penelitian yang membincangkan siapa penulis naskah-naskah itu. Sebagian besar yang kita ketahui, naskah-naskah itu ditulis oleh abdi dalem Juru Tulis, Carik dan Kapujanggan. Di keraton Surakarta setidaknya tiga golongan tersebut, sekarang ini sering salah kaprah disamakan. Abdi Dalem Juru Tulis umumnya pandherek para Pangeran atau Bupati, sedangkan Carik memiliki peran strategis seperti sekretaris pada Lembaga tertentu. Carik disebut cukup banyak dalam berbagai naskah dengan pangkat mulai dari Panewu Carik, Mantri Carik, Rangga Carik, Hingga Jajar Carik (umumnya masih dipisah lagi dalam nem dan sêpuh).  Golongan terakhir, Pujangga, memiliki peran yang sangat tinggi, seorang yang mencapai derajat pujangga harus memenuhi kriteria tertentu, dan dianggap sebagai “perangkat dan pengangkat kewibawaan raja secara magis”. Pujangga yang kita kenal berasal dari trah Pengging, mulai dari Yasadipura I dan II, Sastradipura, hingga R.Ng.Ranggawarsita.

            Di Pura Mangkunegaran, kurang lebih juga ditemukan istilah abdi dalem carik dan juru tulis. Sebagai pembeda, di Mangkunegran kita mengenal abdi dalem Juru Carita dan dan abdi dalem prajurit Carik Estri.  Dalam babad Pakunegaran dan Kemalon kita mengenal prajurit-prajurit perempuan yang selalu mendampingi Raden Mas Said (kemudian menjadi Mangkunegara I), juga sekaligus pencatat peristiwa-peristiwa penting selama perjalanan Pangeran.

 

Abangan dan Mutihan: Relasi dengan para penulis di luar kraton

Soemarsaid dan Soegijanto, dua sejarawan yang menyatakan kraton memiliki wilayah kuthagara, nagaragung, mancanagari wetan-kulon, pasisir, dan sabrang. Ulang-alik hubungan para penulis (dalam berbagai golongan) ini juga menarik untuk dibaca kembali. Dalam arsip-arsip Siti Dhusun, salah satu sub karya sastra yang saya geluti selama ini, memuat adanya daerah-daerah bebas, umumnya dikenal dengan pardikan dalem. Pradikan Dalem umumnya memiliki fungsi-fungsi tertentu, jika dilihat dari penamaan desa-desa tersebut akan di-claster menjadi tanah mutihan, irêngan, dan abangan. Tanah Mutihan atau pamêthakan akan meliputi kajèn, pangulon, kauman, kabudan, mijèn dan parêdèn. Tanah Irêngan meliputi narawita dalêm, narasuwita dalêm, kebon dalêm, sawah dalêm, gaga dalêm dan patêdhan dalêm,  Sedangkan Tanah Abangan memuat tegalan, tanah bera yang lain.

Secara khusus, lêmah mutihan, diberikan untuk abdi dalem urusan keagamaan yang juga berada lingkungan dalam maupun di luar kraton. Abdi dalem yang berada di wilayah Mutihan ini umumnya memberikan korespodensi berkala dengan abdi dalem yang ada di istana. Abdi Dalem Kanca Kaji, Kaum, Pangulu, pada umumnya berjejaring dengan ulama-ulama di luar kraton. Lalu lintas pengetahuan itu juga mewarnai khazanah karya sastra di Surakarta terkait tafsir Quran, hadits, mushaf-mushaf, cerita-cerita Persia dan Timur Tengah. Selain itu, relasi yang lain juga kita temukan dengan keberadaan Ajar-ajar pegunungan. Disertasi Romo Kuntara Wirya Martana, memuat kolofon yang bertulis kokonane dalêm brajakapana, jelas sekali masih ada relasi Pujangga Kraton dan Ajar-Ajar Pegunungan terkait pengetahuan pada masa Siwa-Buddha. Relasi ini juga kemudian diwariskan melalui pakem-pakem pewayangan, secara khusus yang kita kenal dengan pakem parêden.

 

Wasana Pada

 

          Hari-hari ini angin segar sepertinya sudah kembali berhembus di lingkungan kraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Penataan dan pembangunan kedua Kawasan cagar budaya ini sedang gencar digelorakan. Kawan-kawan bisa berkunjung ke perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran pada jam kerja.  Upaya digitalisasi naskah-naskah koleksi Reksa Pustaka dan pemuatan program-program terkait pernaskahan juga tengah berlangsung. Sampai tulisan ini dibuat, perpustakaan Sana Pustaka belum bisa diakses. Beberapa naskah koleksi Sana Pustaka masih bisa diakses melalui microfilm koleksi laboratorium Filologi UNS. Yen kurang tembuhêna, yen luwih dèn kurangana, selamat berdiskusi.



[1] Javanese Literature in Surakarta Manuscript Volume I, terbit tahun 1993. 

Naskah Nusantara Sumber Inspirasi Bangsa

Naskah Nusantara adalah Sumber Inspirasi Bangsa

 Oleh Frangki N.F. Pratama
Edwin Paul Wieringa berpendapat kajian manuskrip harus berjuang muncul dunia digital. Manuskrip harus mampu mengikuti dan menjawab isu-isu sosial termutakhir, tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu. Kabar dari Londo yang sering digaungkan itu pun mencengangkan, kajian filologi tak lagi jadi fokus. Namunnkajian filologi (ilmu sastra dan ilmu bahasa) tetap diterima majalah BKI (Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde) asalkan mengarah pada segi sosiologi, politikologi dan ilmu lain yang dianggap masih relevan dengan permasalahan modern. Prihal relevansi barang tentu menjadi persoalan yang harus segera terselesaikan. 
Kalau dipikir-pikir, mengapa banyak yang ndak suka, bahkan ndak tau manuskrip? Ya mungkin ndak lagi dibutuhkan, kurang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal itu pula yang beberapa waktu lalu diungkapkan bapak/ibu guru, pejabat pemerintahan, anak muda, dan masyarakat umum saat acara bertema Naskah Nusantara: Sumber Inspirasi Bangsa yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan Kota Madiun . Masa lalu seolah terlalu berjarak dengan masyarakat. Bagai menengok benda yang berada di awang-awang. Tak nampak nilai fungsi praktis keseharian. 
Namun, apakah benar manuskrip sama sekali tak berpotensi di era kiwari? Barangkali hanya perlu memperluas perspektif. Naskah bukan sekadar romantisasi masa lalu yang bercokol pada keberadaan tokoh, pengaruh kewilayahan dalam sebuah suksesi. Waktunya mendekatkan dengan era modern. Berpikir formulasi dari sebuah aktivasi naskah secara kolaboratif. 
Kerja-kerja filologi yang konon sekadar berada di rak berdebu butuh dibuka kembali. Butuh langkah strategis memaksimalkan sekecil apapun potensi naskah. Transformasi menjadi penting di era kini. Entah apapun bentuknya nanti. Jika selama ini masyarakat umum menjadi kambing hitam keterpenggalan/peseudo historis, jangan-jangan para penggiat yang keliru. Kurang strategis memilah metode distribusi/aktivasi ke masyarakat. Apalagi naskah dapat menginspirasi terbentuknya gerakan ekraf. Dengan begitu sangat nyata naskah dapat menginspirasi bangsa.

Sejarah, Identitas, Tanggal Lahir Kota, dan Kebijakan Politik

Sejarah, Identitas, Tanggal Lahir Kota, dan Kebijakan Politik

oleh Rendra Agusta

Hari ini Harian Kompas kembali mengulas perdebatan Sejarah Samarinda. Salah satu yang menarik banyaknya deretan perdebatan berujung pada pengkajian perda penetapan hari jadi kota. Sudah sejak lama memang, perdebatan atas penetapan hari jadi berlangsung di berbagai kota. Rata-rata umumnya ingin kota mereka menjadi lebih tua dari hari lahir sebelumnya. Ada juga yang mengkritisi sebuah sejarah kota karena akar kota berasal dari berbagai suku dan atau gabungan beberapa kota. Bagaimanapun perdebatannya, umumnya goal akhirnya adalah merevisi Peraturan Daerah yang memuat penetapan hari jadi sebuah kota atau kabupaten.

Perbedaan Klausul Kalau kawan-kawan sempat baca tahun penetapan hari jadi kota atau kabupaten, pada umumnya hadir saat orde baru. Saat itu kota atau kabupaten diinstruksikan membuat kajian sejarah daerah dan penetapan hari jadi kota atau kabupaten. Lompatan kedua, banyakknya penetapan pada rentang dasawarsa pertama pasca reformasi 1998. Ada dua klausul “hari jadi” dan “hari lahir” atau “hari ulang tahun”. Agaknya keduanya harus dimaknai berbeda, “hari jadi” nuansanya politik, saat kota/kabupaten mendapat legitimasi untuk memulai pemerintahan pada jenjang kabupaten. Sedangkan “hari lahir” akan memicu bias temporal, bisa saja acuannya sejak zaman purba, klasik, era kolonial, bahkan era republik. Lebih lagi jika “hari lahir” didasarkan pada lahirnya sebuah wilayah tertentu, bukan mulainya pemerintahan pada level kota atau kabupaten.

Kebijakan politik dan historiositas parsial Salah satu ciri khas mendewasanya kesadaran bersejarah adalah banyaknya upaya bersama menggali sejarah. Penggalian data sejarah secara kolektif ini kadang-kadang sesegera dipublis tanpa melalui uji historiografi. Kadang-kadang gerakan kolektif ini juga tidak dilakukan oleh semua orang yang memiliki kesadaran metode penyusunan sejarah (yang hari ini metode historiografi ini sangat berkembang). Sialnya jika data yang belum diuji itu menjadi satu rasa “waham” pada spasial dan temporal tertentu. – Rebut Bener.

Akhirnya perdebatan tak kunjung usai. Kedua adalah tetapan peraturan daerah atau perda, bagaimanapun juga produk tetapan politik, dipilih untuk kepentingan yang lebih luas dari kepentingan sejarah. Ada kepentingan asas nasionalisme, ada kepentingan branding daerah, ada juga kepentingan peningkatan ekonomi, “et cetera et cetera.” Sukar untuk mendamaikan keduanya, jika tidak sama-sama menekan ego masing-masing. Berdewasa dan mendewasa dengan kedua hal tadi menjadi hal penting. Berdewasa dengan data-data baru kesejarahan, membuka segala macam kemungkinan sejarah. Mendewasa bersama pilihan politik yang memungkinkan kemashahatan rakyat. Historiografi itu parsial, sedang tetapan politik itu absolut mengikat. Mari kawan-kawan yang sudah dewasa, mari berdewasa dan mendewasa, tak sekedar tua dengan berebut tua. #ayosinaumaneh

 

Sarwa Winates: Disiplin dan Batasan Ilmu Filologi

Sarwa Winates: Disiplin dan Batasan Ilmu Filologi

 oleh Rendra Agusta

Bagaimanapun juga setiap ilmu dalam ranah akademik, punya batas-batas, baik ilmu-ilmu klasik hingga pasca modern. Ilmu filologi yang saya geluti sementara ini hanya fokus pada naskah-naskah Indonesia, secara khusus Jawa.

Saya mungkin menjadi kawan anda yang menjengkelkan ketika selalu menjawab pertanyaan dengan kalimat “barangkali perlu ada data pendukung”, “mungkin harus disandingkan data lain”. Bahkan sering juga saya selalu menambahkan pertanyaan “darimana naskahnya”, “disimpan di mana?”, “apakaah sudah dibaca keseluruhan teksnya?”, “bagaimana struktur bahasanya? ada ketidaklaziman atau tidak?”, “apa material tulisnya?”, “apakah sudah ada uji laboratorium atas material tulisnya?” dan seterusnya. Pasti saya selalu menjadi kawan diskusi yang menyebalkan. Akhir-akhir ini, ketika ada arus “digital humanities” merengkuh dunia pernaskahan, digitalisasi terjadi di mana-mana, saya selalu tanya “sejarah teks atau manuskripnya bagaimana?”, “sudah pernah tinggal di lingkungan manuskrip itu ditemukan?” dan seterusnya.

Alih-alih hanya untuk sekedar mengambil simpulan, sederet pertanyaan itu saya lontarkan kepada kawan-kawan semua, itu murni karena keterbatasan saya. Bagi saya, ilmu filologi mengajari saya untuk disiplin, setia, dan hati-hati dalam pengambilan kesimpulan. Lebih-lebih data-data yang akan dimanfaatkan ke dalam “nilai intersubjektif” kelompok tertentu, agaknya perlu berhati-hati. Saya tentu bukan sarjana teologi, yang umumnya memandang sebuah teks keagamaan sebagai satu hal yang absolut, kemudian diambil ranah hermeneutikanya atau tafsirnya untuk fungsi komunitas keagamaan tertentu.

Saya juga bukan sarjana filsafat, yang banyak memahami pemikiran, pun punya kecenderungan terkait kemungkinan-kemungkinan wacana. Walaupun, kedua ilmu itu, juga saya dudukkan sebagai ilmu bantu filologi untuk melengkapi. Saya juga bukan orang yang punya “ketajaman batin” atau “indra ketujuh yang mampu berpendapat hanya dengan merasakan energi ruang sekitar. Ilmu filologi mengajarkan adanya bukti material, untuk landasan imaterial. Ilmu yang saya tekuni sangat terbatas, ditambah lagi keterbatasan pemahaman saya, semata-mata agar bisa dipertanggungjawabkan kejujurannya di ranah akademik pun juga diuji publik.

Mohon maaf, seringkali saya menjadi kawan diskusi yang menyebalkan, bahkan sesekali pendapat saya yang memuat kejujuran teks yang fakta yang paling menyakitkan dan atau menyebalkan. Tak jarang pendapat dari kajian filologi cenderung dianggap berlawanan dengan apa yang diyakini kawan-kawan, saya mohon maaf. Makaten, renungan dan permohonan maaf saya di musim hujan Februari ini. Barangkali, ke depan, kita akan jumpa, dalam situasi yang menyebalkan kembali.