Damalung Blueprint

Damalung BluePrint

 

Dalam Damalung Blueprint ini, salah satu tugas tim riset adalah mencari rekomendasi tempat pergelaran. Tim riset yang terdiri dari Rendra Agusta (Sraddha Institute), mas Tri Subekso (Ketua TACB Kab. Semarang), bung Akhriyadi Sofian (Dosen UIN Walisongo Seamrang, dan mba Dewi Wulansari (ISI Surakarta) mulai mencari data sebanyak mungkin terkait usulan-usulan tempat. Akhirnya disepakati memilih delapan tempat pergelaran.

Pertama adalah prasasti Sarungga, prasasti terkait pertapaan ini merupakan data awal prasasti berangka tahun di gunung Merbabu. Prasasti ini berangka tahun 823 Saka atau 901 Masehi. 

 

Kedua, situs Windu Sabrang, dalam salah satu lontar MM disebutkan keberadaan pangajaran Windu Pepet, diduga terkait dengan Windu Sabrang dan Windu Sabrang kini. Di desa ini dipercaya hidup seorang Ajar bernama Windusana, sosok penyimpan ratusan lontar yang menjadi basis riset ini. Secara arkeologis juga ditemukan reruntuhan bangunan.
Ketiga, Kedakan. Desa ini merupakan tempat penyimpanan naskah sampai pada tahun 1850-an, secara berkala, naskah-naskah ini dimaharkan dan dibawa ke Batavia. Di desa ini masih menyimpan wayang, gamelan, dan satu kropak lontar.

Keempat, Ngaduman. Di desa ini, dalam laporan tahun 1870, ditemukan prasasti di tengah perkebunan. Prasasti ini kemudian dibawa ke negeri Belanda.

Kelima, Timboa. Lereng timboa menjadi titik penting ditemukan reruntuhan tempat pengajaran dan prasasti angka tahun termuda, 1449 tahun Saka.

Keenam, Sokowolu, di desa ini tercantum sebagai tempat penulisan lontar 315. Di desa ini juga masih dijumpai reruntuhan candi.

Ketujuh, prasasti Watu Lawang, sebuah prasasti dengan tanda pungtuasi khas pegunungan berangka tahun 1393 Saka.

Kedelapan, Candi Klero, lereng timur laut yang memiliki bangun candi bergaya Jawa Tengahan.

Kedelapan (asta) Mandala ini menjadi saksi sebuah peradaban Jawa Kuna ribuan tahun yang lalu. Ruang-riang baru kita mulai, mugi arum asmane pra Ajar ing redi-redi.

Apakah memisahkan Sastra dan Sejarah masih relevan?

Sejarah dan Sastra sebagai salah satu jangka zaman. Sastra klasik tentunya menjadi “milestone”, panjangka hari ini dan esok.

Kali ini cantrik Sraddha Sala, kak Frengki Fariya Pratama berbincang dengan kawan-kawan IAIN Ponorogo menyoal relasi sejarah dan sastra dalam ruang bingkai keislaman. 

Memang cukup sulit menerka rentetan ke-islam-an dalam rentang peradaban. Apalagi dalam lingkup lokal. Minimal ada kehendak untuk belajar mengorelasikan antara ilmu sejarah dengan filologi. Agar tak saling bertumpuk dan bertolakbelakang. Karena, gagalnya satu struktur paradigma perencanaan akan menggagalkan seluruh asumsi yang telah terwacanakan.


Lawatan Masa Lampau Sebagai Sumber Narasi Pariwisata di Indonesia

Rekam lawatan masa lampau untuk pengembangan wisata kini: Sejak awal Jawa memiliki daya tarik wisata yang luar biasa, menyoal keindahan alam dan kebudayaannya. Program pameran foto Jawimajinasi ini sangat menarik, melihat Jawa dari bidikan lensa. Tentu kita tahu, fungsi ilmu-ilmu “masa lampau” selalu menyediakan cerita ber-arti penting untuk masa kini. Salah satu terapannya adalah dunia pariwisata.

Pada tanggal 30 September 2022, Badan Otorita Borobudur pameran foto bertajuk Jawimajinasi. Salah agenda Talk Show bertajuk Imajinasi Bentang Alam Dalam Catatan Pelawat Masa Lampau. Talkshow ini peneliti dari Sraddha Institute Surakarta, memaparkan lawatan pelancong pada lampau dari prasasti, arsip, dan manuskrip. Dari data-data inilah pariwisata masa kini mampu menyusun narasi agar bernilai tinggi.

Sejengkal tanah dan Semekarnya Payung: Sebuah Catatan Diskusi Publik FKY 2022

Dua konsep pengelolaan dan penguasaan tanah yang awam kita ketahui dalam masyarakat Jawa. “Sak dhumuk bathuk, sanyari bumi, bakal dilabuhi nganti mati”. Tanah menjadi hal yang sangat krusial sejak manusia memiliki kesadaran spasial. Berangsur-angsur pandangan tersebut memicu privatisasi tanah, bahkan penguasaan mutlak tanah dimiliki oleh satu penguasa. Raja sebagai patron, membagi-bagi tanah sebagai bentuk kuasanya kepada rakyat (client).

Zaman berubah, pengelolaan tanah tak lagi menjadi milik privat melainkan milik “state”, diawasi pengelolaannya oleh lembaga tertentu semisal Buminata sampai Reksasiti.Secara khusus, di Jawa juga bergeser pengelolaannya dari cacah ke tanah, lengkap dengan perubahan aturan-aturan. Salah satu yang menarik dalam penguasaan tanah di Jawa justru berangkat dari mitos semisal Ajisaka meminta tanah selebar ikat kepalanya, Murjangkung meminta tanah selebar kulit lembu, dan kisah “babad-babad lainnya”.

Diskusi Enam Tahun Sraddha Sala – The Fall of Kartasura

"The Fall of Kartasura"

Undangan Diskusi Daring Bulanan Edisi Spesial #6 Tahun Komunitas SraddhaBeberapa waktu yang lalu, tembok benteng Keraton Kartasura tepatnya kawasan Gedhong Obat diruntuhkan menggunakan alat berat oleh beberapa orang. Mereka mengaku tak tahu jika yang dirobohkan adalah situs bersejarah. Peristiwa tersebut berawal dari klaim atas tanah di dalam tembok yang dibeli dari pemilik tanah sebelumnya. Hingga kini, kasus tersebut masih dalam proses oleh pihak berwenang.Kartasura menempati bagian penting dalam kekuasaan kerajaan di Jawa abad XVII. Bagaimana tidak, pusat ibu kota yang dibangun Amangkurat II itu menyimpan memori jatuh bangun dinasti Mataram Islam. Krisis di Kraton Kartasura sejak 1741-1743 memuncak dengan ditandai didudukinya Kraton olah Sunan Kuning yang menjadi bagian dari gerakan perlawanan Tionghoa pasca pembantaian Batavia tahun 1740. Kartasura hancur, Sunan Pakubuwana II mengungsi ke Ponorogo, situasi politik kerajaan tidak menentu, hingga memicu perang saudara pada masa-masa berikutnya. Gaung Kartasura tak hanya terdengar di Jawa, namun juga sampai di Tlatah Sabrang-Mancanegara seperti Lontara di Sulawesi Selatan, Bali, dan Arsip-Arsip Kolonial.

Kali ini, Sraddha Sala mengundang kawan-kawan untuk bergabung dalam Diskusi Daring Bulanan Edisi Spesial 6 Tahun Komunitas Sraddha bertajuk

 

Pemantik Diskusi:Louie Buana(Phd candidate, Institute for History Leiden University, Founder Lontara Project)”Kraton Kartasura dalam arsip dan manuskrip tanah Sabrang (Sulawesi Selatan)

Rendra Agusta(Alumni S2 Kajian Budaya Universitas Sebelas Maret, Founder Sraddha Institute)”Kraton Kartasura dalam arsip dan manuskrip Jawa”

Moderator:Muhammad Aprianto(S2 Sejarah, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Storyteller Soerakarta Walking Tour)

Diskusi diselenggarakan pada Sabtu Wage jelang malam Minggu Kliwon, 28 Mei 2022, pukul 15.00-17.00 WIB.

Narahubung: Kukuh Widodo (+6285876216266)

Kelas Delapan

Kelas Delapan


Kelas Delapan Sraddha Sala kali ini mengangkat tema “angka”. Sejak era Jawa Kuna, angka menempati posisi penting dalam dunia kebudayaan Jawa. Angka sebagai penanda temporal yang penting untuk menjadi “panjangka” kebudayaan Jawa hari-hari ke depan. Kelas ini akan membincang bagian kecil dari penggunaan angka di Jawa, yakni Sengkalan. Kelas ini akan dilaksanakan setiap Minggu pukul 09.30-12.00 di Museum Radya Pustaka Surakarta.

 

Membincang Ulang Penataan Tanah Pasca Perang Jawa 1830

Membincang Ulang Penataan Tanah Pasca Perang Jawa 1830

Pasca perang Jawa 1825-1830, tatanan kehidupan masyarakat berubah. Pemerintah kolonial Belanda melakukan intervensi terhadap ruang agraria kraton Surakarta dan Yogyakarta. Intervensi itu berakhir dengan penandatanganan perjanjian Klaten pada tanggal 27 September 1830. Salah satu arsip pertanahan yang penting terkait peristiwa tersebut adalah naskah Siti Dhusun.

SIGARDA INDONESIA bersama Kang Rendra Agusta dari SRADDHA INSTITUTE dalam Beranda #15 akan membincangkan SITI DHUSUN PASCA 1830 MASEHI. Dipandu oleh Linda Tiya Wati dan Mochammad Ghufron, mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Waktu: Jul 6, 2022 18:45 WIB

Diskusi Candik Rajamala: Sebuah potret kebudayaan sungai abad XIX

Kang palwa saengga wisma den elis den ukir-ukir ingecet sinung parada rerakite anglir loji sinekar sir-linungsir. sinekar sir-linungsir ing sutra bang kuning dhadhu mulane sinung aran. Rajamala kang cecanthik ingukiran rineka ya Rajamala (Babad Madura 8.11).

Alih wahana teks ke dalam media-media lain menjadi titik penting bagi perkembangan seni di kota Surakarta. Kali ini Young Djava Syndicate bersama Sraddha Sala mengangkat tema Rajamala sebagai narasi besar pergelaran musik. Mari bergabung berbagi cerita bersama bersama Kang Rendra Agusta (Sraddha Institute) dan Mas Titus (FSRD ISI Surakarta).

Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran Masyarakat Yogyakarta

[DENJAKA 2022]

Lab Ilmu Sejarah mempersembahkan “Diskusi Senja Kilas Budaya” dengan judul “Grebeg Syawal: Tradisi Lebaran Masyarakat Yogyakarta” yang akan dilaksanakan pada:

Minggu, 24 April 2022

🕓 15.30 – 17.00 WIB 📍

Via Daring (Zoom Meeting)

Dibersamai dengan pembicara yaitu:Kukuh Setia Widodo (Sraddha Institute)

Moderator: Zaki Azmirrijali (Ketua Lab Ilmu Sejarah 2019)

Link join grup WA: https://bit.ly/WaGDenjaka2022Informasi lebih lanjut hubungi:CP: +6282313707374 (Asyraf)

Menyoal Reog: Keindahan yang Diperebutkan

Keberpihakan pada HAM menjadi biang penting terdaftarnya Reyog sebagai ICH UNESCO. Masalahnya, tarik-ulur kesejarahan masa peristiwa “Merah” masih membekas dalam perdebatan. Polarisasi kanan-kiri atau islam-komunis menyertai harum dan agungnya kesenian Reyog sampai hari ini. Tafsir kebudayaan seperti itu sangat sah dan memang harus terjadi. Karena setiap zaman punya permasalahan dan penyelesaiannya masing-masing. Namun, jika pada hari ini masalah itu masih bergulir “apakah Reyog dapat menyandang status ICH UNESCO?” Narasi alternatif Reyog Ponorogo sangat diperlukan. Untuk itu, mari berdialektika dengan kepala dingin dan pelukan hangat persaudaraan di acara Ngopi Nyore #26 @mucoffesaja tanggal 23 April 2022 bersama kak Frengki Nur FP (Sraddha Institute) dan bapak Soehardo, SH, M.M.  

Mari bersua dengan ceria!